ME And GHOST

ME And GHOST
Kenyataan Yang Terungkap 72



 


 


Setelah keluar dari kantor polisi pengacara yang bernama Dave yang menangani kasus Yoga dan yang lainnya, dia langsung menelpon bos besar untuk mengabarinya.


 


"Sepertinya kedua polisi itu sangat jujur dan akan sulit jika untuk di ajak bekerjasama, aku harus melapor kepada nyonya saat ini," ucap Pengacara itu.


 


 


Lalu dia mengeluarkan handphonenya dan menelpon bos besar itu.


 


"Kring kring kring" suara telpon berdering.


 


"Halo"


 


"Halo nyonya, maaf mengganggu anda malam malam begini."


 


"Tidak apa apa, bagaimana apa kau sudah menyelesaikan semuanya disana?"


 


 


"Tentu nyonya aku sudah menyelesaikan semuanya, Yoga juga sudah mengakui semuanya jika dia yang bekerja sendiri tanpa ada orang lain yang terlibat, sepertinya dia tidak akan mungkin berkhianat pada anda nyonya," ucap Pengacara itu.


 


 


"Tentu saja, jika dia berani mengkhianatiku aku tak akan membiarkan dia hidup dengan mengirimkannya ke neraka," ucap Bos besar itu.


 


"Tapi nyonya kedua polisi yang menangani kasus ini, sepertinya mereka polisi yang cukup jujur dan sepertinya tidak akan mungkin dia mau bekerjasama dengan kita," ucap Pengacara itu.


 


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu, kita akan mengurusnya di pengadilan saja, kau cari tahu siapa hakim yang akan menangani kasus ini, lalu kau temui dia dan bernegosiasi dengannya agar memberikan hukuman yang tidak terlalu berat untuk Yoga dan yang lainnya," ucap Bos besar.


 


 


"Baik nyonya akan saya lakukan semua perintah anda," ucap Pengacara itu.


 


"Baguslah aku suka dengan cara kerjamu yang sangat cepat dan tanggap, baiklah terimakasih untuk semuanya," ucap Bos besar itu.


 


"Sama sama nyonya, saya akan segera menemui anda jika telah selesai mengurus semua ini," ucap pengacara itu.


 


 


"Tentu lakukan semua yang terbaik, aku mengandalkanmu Dave," ucap Bos besar itu.


 


 


"Baik nyonya," ucap Pengacara itu.


 


Lalu Dave menutup telponnya dan berjalan menuju ke mobilnya dan pergi dari kantor polisi menuju ke kota. Bos besar itu yang merasa penasaran dengan Erica dan Evan dia berniat ingin mencari tahu tentang Erica dan Evan dengan menyuruh anak buahnya untuk menyelidikinya.


 


"Zio! apa kau masih di luar!" teriak Bos besar itu.


 


"Iya bos."


 


Lalu laki laki asisten pribadi dari bos besar itu masuk kedalam ruang kerjanya.


 


"Zio, besok kau cari tahu tentang anak sekolah yang bernama Erica dan juga Evan yang telah terlibat dalam penangkapan Yoga dan yang lainnya, aku ingin tahu siapa mereka sebenarnya, setelah kau mendapatkan semua informasi tentang mereka langsung kau laporkan padaku."


 


"Siap bos, akan saya laksnakan perintah anda," jawab Zio.


 


 


"Baiklah kau boleh pergi, aku juga akan pergi tidur hari sudah malam, entah kenapa malam ini menjadi malam yang betul betul panjang bagiku," ucap Bos besar itu.


 


"Baik bos, selamat malam saya permisi dulu," ucap Zio.


 


 


Keesokan harinya seperti biasa Erica pergi ke sekolah dan pada saat dia sarapan bersama ayah dan ibunya, tanpa sengaja ibunya menyentuh tangan Erica yang terluka.


 


"Aah sakit," ucap Erica sambil memegang tangannya yang terluka.


 


"Erica kenapa denganmu? kenapa ibu memegang tanganmu kau merasa kesakitan?" tanya Ibunya Erica penasaran.


 


 


"Aku tidak apa apa bu, hanya terluka sedikit saja kemarin," jawab Erica.


 


"Bagaimana kau bisa terluka kemarin?" tanya Ibunya Erica.


 


"Erica hanya terjatuh kemarin saat berada di rumah temanku," jawab Erica.


 


"Apa kau tidak berbohong pada ibu?"


 


 


"Bagaimana kau bisa terjatuh Erica? apa sudah kau obati dan di periksa ke dokter?" tanya Ayahnya Erica khawatir.


 


"Aku tidak berbohong, kemarin juga Erica sudah di obati, lagi pula lukanya hanya luka kecil," jawab Erica.


 


"Ibu ingin melihat lukamu Erica," ucap Ibunya Erica penasaran.


 


Lalu Ibunya Erica membuka baju dan melihat tangannya Erica yang terluka.


 


"Sayang ini lukanya lumayan cukup dalam, apa mungkin kau hanya terjatuh bisa luka seperti ini?" tanya Ibunya Erica tidak percaya dengan ucapan Erica.


 


"Erica hanya terjatuh bu, dan terluka karena terkena pecahan kaca," jawab Erica.


 


"Apa kau terkena pecahan kaca sayang!" teriak Ibunya Erica terkejut.


 


 


 


"Erica ini lukanya tidak kecil, kau harus dibawa ke rumah sakit untuk di periksa oleh dokter, nanti bisa terjadi infeksi jika tidak di obati dengan benar, ayah akan membawamu kerumah sakit sekarang," ucap Ayahnya Erica khawatir.


 


"Betul kata ayahmu sayang, kau harus di periksa dan dibawa kerumah sakit, ibu tidak ingin jika terjadi apa apa padamu," ucap Ibunya Erica.


 


 


"Benar benar anak emas, luka kecil saja sudah sangat khawatir dan ingin di bawa kerumah sakit untuk di periksa," ucap Maya sambil menatap Erica dan orang tuanya.


 


 


"Erica tidak apa apa, dan tidak perlu harus kerumah sakit, sebentar lagi luka ini juga akan segera sembuh sendiri," ucap Erica.


 


 


"Kali ini kau harus menuruti ucapan ayah dan ibu," ucap Ibunya Erica.


 


"Baiklah setelah pulang sekolah Erica akan pergi ke dokter untuk mengobati luka ini, lagi pula sekarang Erica harus pergi ke sekolah," ucap Erica.


 


"Kau berjanji pada ayah dan juga ibu jika akan pergi ke dokter untuk mengobatinya?" tanya Ibunya Erica.


 


"Erica berjanji, jadi sekarang ayah dan ibu tak perlu khawatir lagi, Erica akan pergi ke dokter keluarga kita," ucap Erica.


 


"Baiklah ibu akan memastikan jika kau pergi kesana setelah pulang sekolah, ibu akan menanyakan pada dokternya jika kau kesana atau tidak."


 


"Baik bu, Erica akan melakukannya, Erica harus pergi sekarang ke sekolah karena hari sudah siang nanti Erica bisa terlambat."


 


"Pak Darmin yang akan mengantarmu dan menjemputmu hari ini dan juga mengantarmu ke dokter nanti," ucap Ayahnya Erica.


 


"Baik yah, Erica berangkat dulu ke sekolah."


 


"Hati hati sayang, jangan sampai lukamu berdarah lagi," ucap Ibunya Erica khawatir.


 


"Iya bu."


 


Lalu Erica pergi dengan mobil dan menuju ke sekolahnya, setelah sampai di sekolah Erica turun dari mobil dan bertemu dengan Rey dan juga Putri yang saat itu juga baru sampai di sekolah.


 


"Erica!" teriak Rey dan Putri.


 


"Kalian, apa baru juga sampai di sekolah?" tanya Erica.


 


 


"Tentu saja Erica, kemarin kenapa kau tidak masuk ke sekolah?" tanya Putri.


 


"Apa kau sedang sakit Erica?" tanya Rey sambil menatap Erica.


 


"Ah tidak, aku baik baik saja, kemarin aku hanya izin untuk menghadiri acara bersama orang tuaku," jawab Erica.


 


"Ooo begitu, aku pikir jika kau sedang sakit atau telah terjadi sesuatu padamu, kami sangat mencemaskan dirimu," ucap Putri.


 


"Kalian tidak perlu mengkhawatirkan diriku, ayo kita masuk kedalam kelas sebentar lagi kelas akan di mulai," ucap Erica.


 


 


"Ayo Erica," ucap Putri sambil memegang tangannya Erica.


 


Saat Putri memegang tangannya Erica dia kesakitan dan membuat Putri menjadi khawatir.


 


 


"Aah!" ucap Erica.


 


"Ada apa Erica? kenapa kau seperti kesakitan saat aku memegang tanganmu?" tanya Putri.


 


 


Rey juga terkejut melihat darah yang ada di tangannya Erica.


 


"Erica tanganmu berdarah!" teriak Rey panik.


 


"Kenapa kau bisa terluka Erica? ayo kita keruang UKS untuk mengobati lukamu," ucap Putri.


 


"Kami akan mengantarmu ke ruang UKS Erica," ucap Rey.


 


"Baiklah terimakasih," ucap Erica.


 


"Tapi bagaimana kau bisa terluka seperti ini Erica?" tanya Putri penasaran.


 


"Kemarin aku terjatuh dan terkena pecahan kaca," jawab Erica.


 


"Kau harus berhati hati Erica, kenapa bisa kau terluka seperti ini," ucap Rey.


 


 


Melihat Erica yang tangannya masih sakit dan berdarah membuat Maya menjadi khawatir padanya.


 


"Apa luka yang ada di tangannya Erica menjadi parah karena infeksi? lagi pula itu adalah sebuah peluru, aku harus menyuruh Erica agar segera memeriksa lukanya sebelum terjadi sesuatu yang buruk," ucap Maya khawatir.


 


 


Erica dibawa ke ruang UKS oleh Putri dan juga Rey, karena khawatir dengan luka yang ada di tangannya Erica yng tiba tiba berdarah. Maya yang melihat itupun menjadi sangat khawatir dengan keadaan Erica saat itu.