ME And GHOST

ME And GHOST
Kenyataan Yang Terungkap 60



Jenni menjelaskan rencana mereka pada Riki dan Heru, dan dia meminta bantuan dari mereka agar bisa menjalankan rencana itu.


"Apa kau benar benar yakin akan menjadikan mereka sebagai umpan untuk menangkap para penjahat itu?" tanya Riki khawatir.


"Mereka masih remaja, apa kita harus melibatkan mereka?" ucap Heru.


"Ehm, kalian jangan meremehkan kemampuan anak anak muda ini, mereka sudah sangat terlatih apalagi adikku Evan, dia juga sangat pintar berkelahi," ucap Jenni.


"Bagaimana dengan Erica, apa dia juga bisa berkelahi atau semacamnya?" tanya Riki.


"Erica bagaimana, apa kau bisa berkelahi atau yang semacamnya?" tanya Jenni sambil menatap Erica.


"Bilang saja kau bisa Erica, aku akan membantumu nanti," ucap Maya.


"Ya tentu saja aku bisa berkelahi, aku sangat pandai dalam hal itu, tanya saja pada Evan kalau tidak percaya," jawab Erica.


"Benarkah itu Evan?" tanya Jenni.


Erica mengedipkan matanya pada Evan memberikan kode padanya.


"Ah iya betul apa yang dikatakan Erica, dia sangat pintar dalam hal berkelahi, aku saja kalah darinya," jawab Evan.


"Apa kalian sudah mendapatkan semua jawaban?" tanya Jenni sambil menatap Riki dan Heru.


"Baiklah kami percaya dengan kalian," jawab Heru.


"Ok sekarang kita jalankan rencana tadi, lebih cepat akan lebih baik," ucap Jenni.


"Dimana kami bisa menemukan para pengedar itu?" tanya Erica.


"Sangat mudah, apalagi kalian yang masih anak sekolahan sangat di incar oleh mereka," jawab Heru.


"Kalian pergi ke tempat karaoke yang cukup terkenal disini, lalu kalian berpura pura dari kota untuk mencari narkotika yang akan kalian gunakan disini, biasanya para pemandu lagu akan menawarkan itu pada kalian nanti," jawab Riki.


"Kalian harus membuat mereka mempertemukan kalian dengan pengedar utama mereka di kota ini, bilang saja jika kalian berniat untuk menjadi pelanggan dan mengedarkannya di kota," ucap Jenni.


"Saat kalian akan di ajak bertemu dengan bos mereka, kami akan mengikuti kalian dan menangkap mereka semua," ucap Riki.


"Tapi kita perlu bukti kuat untuk menahan mereka," ucap Evan.


"Maka dari itu kalian harus membuat mereka mengeluarkan stok narkotika yang mereka punya dari persembunyian mereka, dengan begitu kita akan mempunyai bukti untuk menahan mereka di kantor polisi," ucap Riki.


"Tapi bagaimana cara membuat mereka agar menunjukkan itu pada kita, pasti itu tak akan mudah," ucap Evan.


"Bagaimana jika kita memancing mereka dengan menunjukkan banyak uang?" ucap Jenni.


"Itu sangat jelas pasti uang yang sangat banyak bagaimana kita mendapatkannya dalam waktu sekejab," ucap Heru.


"Bagaimana jika memakai uangku saja?" ucap Erica.


"Apa kau punya uang yang cukup banyak?" tanya Jenni.


"Seberapa banyak kita butuh uang untuk memancing mereka?" ucap Erica.


"Mungkin sekitar 500 juta sampai 1 milyar jika kita ingin bertemu dengan bos mereka di wilayah ini," jawab Riki.


"Apa kau punya sebanyak itu?" tanya Heru.


"Tentu aku punya," jawab Erica.


Semua orang yang ada disana terkejut saat Erica mengatakan jika dia mempunyai uang sebanyak itu.


"Erica, apa kau benar benar mempunyai uang sebanyak itu?" tanya Jenni sambil menatap Erica.


"Iya Kak Jenni, aku selalu menabung uang yang di berikan oleh ayah dan ibuku di tabungan pribadi milikku, mungkin tabunganku sekarang ada sekitar beberapa milyar," jawab Erica.


"Apa beberapa milyar! apa kau anak orang yang sangat kaya?" ucap Riki.


"Ayahnya Erica pemilik sebuah perusahaan yang cukup terkenal, apa kalian pernah mendengar pengusaha sukses yang bernama Daniel dan istrinya yang bernama Rosa?" ucap Evan.


"Iya tentu saja kami mengenalnya mereka pengusaha yang sangat sukses dan terkenal," jawab Riki.


"Erica adalah putri tunggal mereka," ucap Jenni.


"Apa! jadi dia adalah putri tunggalnya Pak Daniel dan Bu Rosa!" ucap Heru terkejut.


"Wah, wajar saja kalau dia mempunyai uang sebanyak itu," ucap Riki.


"Apa kita perlu mengambil uangnya sekarang?" tanya Erica.


"Tentu kita butuh uangnya sekarang, baiklah ayo kita bergerak sekarang," ucap Jenni.


"Mau kemana kita Kak Jenni?" tanya Evan.


Riki dan Heru berjalan mendekati Erica.


"Erica, apa kami nanti kapan kapan bisa bertemu dengan ayah dan ibumu?" tanya Heru.


"Kami sangat ingin bertemu langsung dengan mereka, kami sangat mengidolakan ayah dan ibumu," ucap Riki.


"Baiklah nanti akan ku atur waktu agar bisa bertemu dengan ayah dan ibuku," ucap Erica.


"Terimakasih Erica, kau tenang saja kami pasti akan melindungimu dengan segenap jiwa dan raga," ucap Heru senang.


"Betul, kami akan menjagamu dengan sangat hati hati," ucap Riki.


"Terimakasih," ucap Erica.


"Haah dasar penjilat! mendengar Erica anak dari orang kaya mereka langsung perhatian pada Erica," ucap Maya.


"Ayo cepat kita berangkat!" teriak Jenni.


"Siap!" teriak Heru dan Riki.


"Kenapa tiba tiba mereka menjadi sangat bersemangat sekali?" ucap Jenni penasaran.


Kemudian mereka masuk ke dalam mobil dan menuju ke bank untuk mengambil uang tunai disana. Setelah sampai disana hanya Erica dan Jenni yang turun dari mobil dan masuk ke dalam bank agar tidak di curigai oleh orang lain.


"Permisi kami ingin mengambil uang tunai," ucap Jenni.


"Silahkan duduk," ucap Pegawai bank.


Lalu Erica dan Jenni duduk di hadapan pegawai bank itu.


"Siapa yang akan mengambil uang tunai dan berapa banyak yang akan diambil?" tanya Pegawai bank itu.


"Saya yang akan mengambil uangnya," jawab Erica.


"Bisa minta tanda pengenal, kartu ATM dan buku tabungannya?"


"Ini ATM, buku tabungan, dan tanda pengenal saya," ucap Erica sambil memberikannya.


Pegawai itu memeriksa semua yang di berikan Erica.


"Apa anda masih seorang siswa?"


"Iya betul, tapi umur saya sudah 17 tahun dan bisa mempunyai tabungan sendiri," jawab Erica.


"Berapa banyak yang akan diambil?"


"Satu milyar," jawab Erica.


"Apa satu milyar! uang sebanyak itu kalian harus meminta persetujuan dari orang tua karena statusnya masih seorang pelajar," ucap Pegawai bank itu.


"Maaf jika saya memotong pembicaraan anda, saya mohon bantuan anda saat ini karena kami sedang melakukan hal yang sangat penting," ucap Jenni.


"Tapi tetap saja kami tidak bisa."


Jenni mengeluarkan kartu tanda pengenal miliknya dan menunjukkan pada pegawai bank itu.


"Apa kau benar seorang polisi?" ucap Pegawai itu sambil melihat kartu pengenal Jenni


"Tentu saja, apa ini kurang membuktikannya," ucap Jenni.


"Tentu saja tidak bu, baiklah kami akan mencoba membantu kalian."


"Cepatlah kami harus segera pergi dari sini," ucap Jenni.


"Baiklah, tunggu sebentar disini," ucap Pegawai bank itu.


"Erica, apa kau tidak akan dimarahi ayah dan ibumu mengambil uang sebanyak ini?" tanya Jenni.


"Jika hanya satu milyar aku rasa mereka tidak akan memarahiku, apalagi ini memang uang pribadi milikku," jawab Erica.


"Wah, Erica kau benar benar sangat kaya," ucap Jenni.


"Aku tidak kaya Kak Jenni, yang kaya itu ayah dan ibuku," ucap Erica.


"Kau sangat rendah hati, aku menyukai itu walau kau sangat kaya tapi kau tidak sombong seperti orang kaya yang lainnya," ucap Jenni.


Erica tersenyum mendengar ucapan Jenni padanya, Sementara itu pegawai bank menyiapkan semua uang yang akan di ambil oleh Erica dan Jenni.


"Iya betul saya seorang siswa