
Erica setelah mendengar cerita maya yang mengatakan jika rio menjadi depresi karena sering ketakutan dengan hantu tasya. Dia menceritakan semuanya pada ibu dan ayahnya.
"Pagi ayah ibu!!" Erica menghampiri mereka di meja makan.
"Pagi sayang!" ucap ibunya erica.
"Sudah mau berangkat sekolah erica?" tanya ayahnya erica.
"Iya ayah! erica ingin langsung berangkat ke sekolah!"
"Kenapa tidak sarapan dulu sayang?" ucap ibunya erica.
"Erica masih kenyang bu! nanti saja erica makan di kantin sekolah!"
"Ehm baiklah kalau begitu!" ucap ibunya erica.
"Bu kapan kasusnya rio akan naik ke pengadilan?" tanya erica.
"Ibu juga belum tahu pasti kapan! apalagi sekarang rio masih dirumah sakit mungkin kasusnya akan ditunda!"
"Ehm sepertinya akan lama bu, kasus ini akan berjalan! apalagi sekarang erica dengar jika rio mengalami depresi di rumah sakit!" ucap erica.
"Apa benar itu erica? jika rio mengalami depresi!" tanya ibunya erica penasaran.
"Begitulah yang erica dengar bu!"
"Biar saja dia sekalian depresi dan menjadi gila! biar tahu rasa ibu dan ayahnya rio! ucap ibunya erica senang.
" Kemungkinan memang kasus ini akan lama bisa ke pengadilan bu! apalagi rio sekarang mengalami depresi!" ucap ayahnya erica.
"Dia telah di hukum oleh tuhan!" ucap ibunya erica.
"Lebih tepatnya dihukum oleh maya dan tasya!" ucap erica di dalam hati.
"Mungkin benar erica kata ibumu! jika rio mengalami depresi yang berat dia bisa menjadi gila!" bisik maya pada erica.
"Ehm mungkin itu hukuman yang terbaik untuknya!" ucap erica.
"Kau bicara dengan siapa erica?" tanya ayahnya erica.
"Ah tidak yah, erica hanya berbicara sendiri saja."
"Ayah pikir kau sedang berbicara dengan seseorang!"
"Erica harus berangkat sekarang nanti terlambat ke sekolah! daa ibu ayah!" Erica berlari keluar rumah menuju mobil.
"Daaa sayang!" teriak ibunya erica.
"Bu! apa erica masih bisa melihat sesuatu yang tak bisa kita lihat?"
"Heem, sepertinya begitu yah! anak kita punya kelebihan bisa melihat sesuatu yang tak bisa kita lihat."
"Ayah pikir dia tidak mempunyai lagi kemampuan itu!"
"Sepertinya sekarang dia sudah terbiasa dengan itu! dan tak ketakutan seperti dulu lagi!" ucap ibunya erica tersenyum.
"Kita kembali ke kasusnya rio! sepertinya orang tua rio menyembunyikan kasus rio, sehingga wartawan tak ada yang tahu!" ucap ayahnya erica.
"Betul juga kata ayah! apalagi sekarang rio dirawat bukan di rumah sakit tempat ayahnya bekerja, melainkan di rumah sakit yang lain."
"Ayah berpikir mereka sengaja menyembunyikan semuanya!"
"Sampai kapan mereka akan menyembunyikannya! pasti semua orang akan mengetahui kebenarannya!" ucap ibunya erica.
"Bagaimana jika memang kasus ini akan di tunda dalam waktu lama! karena keadaan rio yang seperti itu!" ucap ayahnya erica khawatir.
"Biarkan saja yah! walaupun dia tidak bisa di adili di pengadilan, tetapi dia depresi dan menjadi gila! itu juga sudah menyiksa mereka!"
"Heem kita akan lihat dulu bagaimana kedepannya kasus ini!" ucap ayahnya erica.
Setelah sampai di sekolah erica mendapatkan telpon dari ibunya tasya.
"Kring kring kring" Suara handphone erica berbunyi.
Erica mengambil handphone di sakunya dan mengangkatnya.
"Halo!!"
"Halo erica! ini ibunya tasya!"
"Iya bu ada apa?"
"Erica! tadi ibu mendapatkan telpon dari rumah sakit jika hasil autopsi tasya sudah keluar, dan ibu bisa melihat jasadnya tasya untuk yang terakhir kali sebelum di kuburkan!"
"Baik bu! tapi kalau sekarang erica masih sekolah, paling siang nanti baru bisa menemani ibu kesana!"
"Iya erica tidak apa apa! kita pergi ke rumah sakit siang nanti!"
"Baiklah bu, nanti erica juga akan bilang ke evan!"
"Terimakasih erica! sudah mau menemani ibu!"
"Sama sama bu, nanti siang erica akan langsung kerumah ibu!"
"Iya erica!!"
Lalu erica menutup telpon dari ibunya tasya, dan erica berjalan menuju kelas evan untuk memberitahunya.
"Evan!!" teriak erica memanggil dari luar kelas.
Evan melihat erica dan menghampirinya di luar kelas.
"Ada apa erica?"
"Tentu bisa! apa ibunya tasya baik baik saja?"
"Dia baik baik saja, hanya dia ingin kita menemaninya kerumah sakit! hasil autopsi tasya sudah keluar dan dia juga ingin melihat tasya untuk yang terakhir kalinya!"
"Baiklah erica kita akan kesana sepulang sekolah nanti!"
"Aku masuk ke kelas dulu evan sampai jumpa nanti!"
"Daa erica!!" Evan tersenyum menatap erica.
"Hemmm, so sweet sekali sih kalian!" ucap maya tersenyum menatap erica.
"Ah maya! jangan menggodaku!" ucap erica malu.
Cindy yang tak sengaja mendengar percakapan erica dan evan berencana untuk mengikuti mereka lagi. Cindy ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tasya.
"Jika aku mengikuti mereka, aku akan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tasya!" ucap cindy.
Setelah pulang sekolah evan dan erica pergi menuju kerumah ibunya tasya. Cindy mengikuti mereka dengan taksi sampai kerumah ibunya tasya.
"Ternyata mereka kerumah ini lagi!" ucap cindy dari dalam taksi.
Tak lama kemudian erica dan evan keluar dari rumah ibunya tasya. Dan cindy melihat ibunya tasya bersama mereka dan masuk ke dalam mobil.
"Apa sekarang mereka akan kerumah sakit tampat tasya di autopsi?" ucap cindy.
"Pak ikuti mobil itu dari belakang!" ucap cindy menunjuk ke arah mobil evan.
"Baik non!" jawab supir taksi.
"Aku harus mengetahui semuanya!" ucap cindy dalam hati.
Setelah sampai dirumah sakit, Erica, evan dan ibunya tasya turun dari mobil. Disana sudah menunggu polisi yang menyelidiki kasusnya tasya.
"Selamat siang pak!" ucap erica menghampiri polisi.
"Siang! apa kau erica saksi dan korban juga di kasus ini?" tanya pak polisi menatap erica.
"Betul pak! dan ini ibu dari korban tasya!"
"Perkenalkan pak, saya ibunya tasya!"
"Saya turut berduka cita atas apa yang menimpa anak ibu!" ucap pak polisi.
Tiba tiba intan datang menghampiri erica, evan dan ibunya tasya.
"Erica!!" teriak intan sambil berjalan menghampiri mereka.
"Intan! kau sudah datang!" ucap erica.
"Aku juga baru di telpon oleh ibunya tasya dan langsung kemari!"
"Iya kita juga kemari untuk mengetahui hasil autopsi tasya!" ucap evan.
"Baiklah kita akan menemui dokter yang melakukan autopsi tasya," ucap pak polisi.
"Baik pak!" ucap ibunya tasya.
"Saya harap ibu tetap sabar dan tegar setelah mendengar semua hasil autopsi dari putri anda!" ucap pak polisi.
"Iya pak, saya akan berusaha untuk ikhlas dan sabar!"
"Baiklah ayo kita temui dokternya," Pak polisi berjalan menuju ke ruangan dokter yang melakukan autopsi.
Erica, evan, intan dan ibunya tasya berjalan mengikuti pak polisi untuk menemui dokter yang melakukan autopsi pada tasya.
"Permisi dok!" ucap pak polisi.
"Silahkan masuk!" ucap pak dokter.
"Siang dok! saya polisi yang bertugas untuk menyelidiki kasus ini, dan ini ibunya korban! dan yang lainnya adalah teman dekat korban."
"Salam kenal saya dokter yang melakukan autopsi pada korban! dan saya akan menjelaskan hasilnya, saya harap ibu dan teman teman korban akan ikhlas dan sabar setelah mendengar semua yang saya katakan!"
"Iya dok, saya akan sabar dan ikhlas!" ucap ibunya tasya.
"Baiklah saya akan menjelaskan semuanya! Korban bernama tasya berumur 21 tahun penyebab kematiannya karena kehabisan darah dan ada retakan di kepala korban, Kemungkinan korban di pukul dengan benda keras serta korban juga dalam keadaan keguguran! kami menduganya jika korban berusaha menggugurkan kandungannya dengan menggunakan bantuan obat penggugur janin! dan dia mengalami pendarahan yang hebat," ucap pak dokter.
"Maksud dokter jika korban berusaha menggugurkan kandungan dengan obat dan mengalami pendarahan, kemudian dia dibunuh dengan kepalanya dipukul oleh benda keras?" tanya pak polisi.
"Betul! begitu hasil autopsi kami dan kami mengira jika janin korban berkisar 12 minggu, janin itu sudah cukup besar dan di paksa untuk di gugurkan makanya korban mengalami pendarahan yang hebat!"
"Apa semua itu benar dok? jika anak saya meninggal dalam keadaan ingin menggugurkan kandungannya?"
"Betul bu! kita tidak mungkin salah!"
"Mengapa tasya melakukan itu semua!" Mata ibunya tasya berkaca kaca menahan air mata.
"Dan ada kemungkinan jika korban di kubur oleh tersangka masih dalam keadaan hidup!" ucap pak dokter.
"Benarkah itu dok!" ucap ibunya tasya.
"Menurut hasil pemeriksaan seperti itu bu!"
"Mengapa anakku bisa meninggal dengan begitu mengenaskan, hiks hiks hiks!" Ibunya tasya menangis.
"Yang sabar bu!" Intan mencoba menenangkan
Tiba tiba tasya muncul di dekat ibunya, Erica dan maya yang melihat tasya berada di dekat ibunya merasa sangat sedih. Ibunya tasya benar benar terpukul setelah mendengar hasil autopsi tasya dari dokter yang melakukan autopsi padanya.