ME And GHOST

ME And GHOST
Kenyataan Yang Terungkap 92



Erica yang mengatakan niatnya untuk menemui Rian agar dapat membantu mereka untuk menemukan wanita yang bernama Dian. Lalu Evan menyetujui niat Erica dan akan membantunya.


"Baiklah jika dengan bertemu dengan Rian, kita dapat menemukan wanita yang bernama Dian dan mendapatkan petunjuk lainnya tentang Maya, aku akan selalu menemanimu Erica, kita harus membantu Maya agar dia bisa pergi dengan tenang dan tidak menjadi hantu gentayangan lagi," ucap Evan.


"Enak saja dia bilang aku hantu gentayangan," ucap Maya kesal.


"Tapi aku memang hantu yang gentayangan Maya, ucapan Evan tidak ada yang salah," ucap Erica sambil tersenyum.


"Apa Maya mendengar ucapanku?" tanya Evan.


"Tentu saja, karena Maya ada di sampingmu," jawab Erica.


"Aduh aku lupa jika dia selalu berada di dekat Erica, malah aku mengatakan sesuatu yang tidak dia sukai lagi," ucap Evan di dalam hati.


"Maaf Maya, jika aku menyinggung perasaanmu," ucap Evan.


"Ya sudahlah, aku memaafkannya karena dia akan membantu kita jadi aku tidak akan mempermasalahkannya," ucap Maya.


"Apa Maya masih marah padaku?" tanya Evan pada Erica.


"Maya sudah memaafkanmu, kalian berdua selalu saja saling menyinggung satu sama lain," ucap Erica sambil tersenyum.


Melihat Erica dan Evan yang sedang berbicara dan saling tersenyum satu sama lain, membuat Rey bertambah cemburu dan kesal.


"Rey!" teriak Putri.


"Iya Put, ada apa?"


"Kau dari tadi aku perhatikan hanya menatap Erica dan Evan saja, dan tidak membaca atau mengambil satu buku pun disini, apa kau merasa cemburu melihat kedekatan Erica dan Evan?" tanya Putri.


"Aku sedang tidak ingin membaca apapun saat ini, dan aku juga tidak cemburu melihat mereka, kau jangan asal berbicara saja," ucap Rey sambil mengambil salah satu buku di perpustakaan itu.


"Jika kau tidak cemburu, berarti kau tidak lagi menyukai Erica?" tanya Putri.


"Kata siapa aku tidak menyukai Erica!" teriak Rey.


"Kau ketahuan, berarti benar dugaanku selama ini kau juga menyukai Erica, Ehm saingan cukup berat Rey, apalagi Erica sudah lama memang menyukai Evan, keluarga mereka juga sudah saling mengenal satu sama lain," ucap Putri.


"Husst, diam Putri! jangan berbicara terlalu keras nanti di dengar oleh yang lainnya, nanti mereka bisa salah paham," ucap Rey.


"Tak salah jika kau juga suka dengan Erica, tapi kau tidak boleh menjadi orang ketiga untuk mereka Rey," ucap Putri.


"Aku sedang tak ingin membahas itu sekarang Putri," ucap Rey.


Ternyata Maya mendengar percakapan Rey dan Putri saat itu, karena mencurigai Rey yang selalu menatap Erica jadi Maya mendekatinya.


"Ehm, ternyata memang betul dugaanku jika anak ini juga menyukai Erica, sebenarnya dia tampan juga dan kaya, tapi Erica sudah menjadi pacarnya Evan, semoga kau bisa mendapatkan gadis lain yang juga menyukaimu," ucap Maya sambil menatap Rey.


Erica berjalan mendekati Rey dan juga Putri yang masih memilih milih buku di sana.


"Apa kalian suka dengan perpustakaan milikku?" tanya Erica.


"Tentu Erica, perpustakaanmu sangat bagus sekali, bolehkah aku meminjam beberapa bukumu?" tanya Putri.


"Tentu saja silahkan pilih saja sesukamu," jawab Erica.


"Terimakasih Erica, kau memang teman terbaikku," ucap Putri.


"Rey, kenapa kuperhatikan hari ini kau banyak diam, tidak seperti biasanya?" tanya Erica sambil menatap Rey.


"Ah tidak, aku masih seperti biasanya kok, mungkin hanya perasaanmu saja Erica," jawab Rey sambil tersenyum.


Tak lama kemudian Jenni juga memasuki ruang perpustakaan milik Erica.


"Ruang perpustakaan milikmu sangat besar Erica," ucap Jenni.


"Kak Jenni, silahkan masuk kemari," ucap Erica sambil berjalan mendekati Jenni.


"Kau tidak hanya cantik dan kaya, ternyata kau juga gadis yang sangat pintar, kau sangat cocok dengan adikku," ucap Jenni.


"Apaan sih Kak Jenni, kenapa mengatakan itu disini," ucap Evan.


"Memangnya kenapa? bukankah memang kalian berpacaran, tidak masalah jika aku mengatakan itu," ucap Jenni.


"Erica, kakak ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Jenni.


"Ada apa Kak Jenni?" tanya Erica penasaran.


Maya langsung mendekati Erica saat Jenni ingin membicarakan sesuatu yang penting padanya.


"Erica, aku merasa jika kau sedang di awasi oleh seseorang saat ini," ucap Jenni.


"Apa maksud Kak Jenni?" tanya Evan penasaran.


"Maksud kakak, Erica saat ini sedang di awasi oleh seseorang, bisa jadi dia mengikuti kau juga Evan, kakak mengira jika orang itu bisa jadi suruhan dari bos besar, karena kalian terlibat dengan kasus kemarin, tidak kakak pungkiri jika dia juga pasti sekarang juga menyelidiki kita semua saat ini," jawab Jenni.


"Bisa saja yang dikatakan Jenni itu benar Erica, apalagi bos besar itu telah di buat gelisah dengan tertangkapnya Yoga kemarin, dia pasti akan membalas kita," ucap Maya.


"Apa bos besar itu berniat akan mencelakai kita?" tanya Erica.


"Aku tidak tahu apa rencana mereka, tetapi kita harus tetap berhati hati mulai sekarang, kalian harus memperhatikan di sekitar kalian mulai saat ini, jika ada orang yang mencurigai mengikuti kalian, cepatlah berlari pergi menghindarinya jika kalian merasa terancam, jika dia tidak melakukan apapun dan hanya mengawasi kalian saja, lebih baik kalian pura pura tidak mengetahui demi keamanan kalian saat ini, karena kita belum tahu rencana dari bis besar itu," jawab Jenni.


"Baiklah Kak Jenni, kami akan berhati hati mulai sekarang, tapi besok kami akan menemui pacarnya Maya untuk menanyakan sesuatu padanya," ucap Erica.


"Apa yang ingin kalian tanyakan padanya?" tanya Jenni.


"Ini berkaitan dengan bos besar itu," jawab Erica.


"Apa dia mengetahui tentang bos besar itu?" tanya Jenni.


"Kami belum tahu pasti, tapi setidaknya kita menanyakan itu padanya, siapa tahu kita mendapatkan sedikit informasi darinya," jawab Erica.


"Betul Kak, karena dia adalah pacarnya Maya setidaknya dia pasti mengetahui sedikit informasi," ucap Evan.


"Baiklah kalau begitu, tapi kalian harus tetap berhati hati karena sekarang kita sedang diawasi oleh bos besar itu, jika terjadi sesuatu kalian harus segera menghubungi kakak," ucap Jenni.


"Baik Kak Jenni," ucap Erica.


"Kita biarkan saja untuk sementara ini orang yang mengawasi kalian, jika kita menangkapnya sekarang pasti bos besar akan melakukan sesuatu yang lebih berbahaya, lebih baik jika kita mendapatkan petunjuk tentang Maya dan bukti semua kejahatannya agar bisa segera memasukkannya ke dalam penjara, aku merasa jika dia sangat berbahaya, jadi kita tidak boleh bertindak gegabah untuk menghadapinya," ucap Jenni.


Rey dan Putri berjalan mendekati Erica dan yang lainnya dengan membawa beberapa buku.


"Erica!" ucap Putri.


"Apa kalian sudah selesai memilih bukunya?" tanya Erica.


"Kami sudah selesai, sebaiknya kami pulang sekarang karena hari sudah hampir malam," ucap Rey.


"Erica, aku meminjam semua buku ini," ucap Putri.


"Baiklah silahkan saja Put," ucap Erica.


"Terimakasih Erica, benar kata Rey hari sudah hampir malam lebih baik kami pulang sekarang," ucap Putri.


"Kakak juga harus segera kembali ke kantor ada sesuatu yang harus kakak kerjakan," ucap Jenni.


"Rey dan Putri, apa kalian perlu diantar oleh supirku?" tanya Erica.


"Tak perlu Erica, biar mereka pulang bersamaku saja," ucap Evan.


"Aku akan pulang sendiri saja, supirku mungkin sekarang sudah berada diluar untuk menjemputku," ucap Rey.


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantar Putri kerumahnya," ucap Evan.


"Terimakasih untuk hari ini Erica," ucap Kak Jenni.


"Kami juga mengucapkan terimakasih Erica," ucap Putri.


"Sama sama, aku sangat senang karena kita bisa berkumpul dirumahku," ucap Erica.


"Sampai jumpa besok di sekolah," ucap Putri.


"Iya Put," ucap Erica.


Lalu Erica dan yang lainnya berjalan keluar dari perpustakaan dan menuju keluar dari rumahnya Erica. Semuanya naik mobil masing masing dan pergi pulang dari rumahnya Erica.