ME And GHOST

ME And GHOST
Kenyataan Yang Terungkap 113



Setelah alat perekam itu di letakkan di dekat Irfan dan Dian, alat itu mulai merekam semua pembicaraan mereka. Saat itu Irfan dan juga Dian bertengkar, Dian berniat tak ingin menuruti semua keinginan Irfan lagi.


"Aku tidak mengancammu lebih dulu, tapi hanya membalasmu saja, aku sangat tahu dengan dirimu yang selalu mengharapkan harta dari kakakmu, kau tidak punya apa apa selain itu, dan juga bantuan dari bos besar," ucap Dian.


"Kenapa kau bisa mengenal bos besar? apa kau pernah bertemu langsung dengannya?" tanya Irfan.


"Bisa di katakan aku sangat mengenalnya dengan baik," jawab Dian.


"Benarkah kau mengenalnya dengan sangat baik? kau pasti berbohong padaku," ucap Irfan tidak percaya dengan ucapan Dian.


"Aku adalah adik kandung dari bos besar," jawab Dian.


"Hahahahaha, kau berbohong terlalu jauh, bagaimana mungkin seorang pelayan biasa sepertimu adik dari seorang bos besar yang sangat kaya itu," ucap Irfan sambil menunjuk wajah Dian yang ada di hadapannya.


"Apa kau tidak menyadari jika wajahku, cukup mirip dengannya?" ucap Dian sambil tersenyum.


Irfan memperhatikan wajahnya Dian dengan teliti.


"Jika kupikir pikir, memang dia cukup mirip dengan bos besar, apa memang dia adik dari bos besar? tapi bagaimana mungkin itu benar?" ucap Irfan di dalam hati.


"Kau masih tidak percaya dengan ucapanku? kau bisa tanyakan sendiri pada bos besarmu itu," ucap Dian.


"Anggap saja itu memang benar kau adalah adik kandungnya, bagaimana mungkin kau bekerja sebagai seorang pelayan? padahal saudaramu sangat kaya raya dan terkenal di kota ini," ucap Irfan.


"Karena aku tak ingin terlibat dengan semua kejahatannya, dan juga tidak mau menikmati hasil uang dari semua kejahatan yang telah dia hasilkan dengan menyakiti orang lain," jawab Dian.


"Haah, jangan sok suci kau, bukankah kau juga membantuku untuk membunuh orang tuanya Rian dengan merusak rem mobil mereka saat itu," ucap Irfan.


"Itu karena kau mengancamku! kau juga bilang hanya akan membuat mereka terluka saja, bukannya membunuh mereka, dengan menyuruh orang lain menabrak mereka dengan truk sampai mereka mati di tempat itu, kau telah membohongiku," ucap Dian marah.


"Salah kau sendiri karena terlalu percaya padaku," ucap Irfan.


"Jika Tuan Rian mengetahui semua yang telah kau perbuat, dia pasti akan membalas semua perbuatanmu," ucap Dian.


"Dia tak akan mungkin berani melawanku, karena aku sekarang adalah keluarga satu satunya, lagi pula dia juga tidak lama lagi akan menyusul orang tuanya ke alam baka, bukankah sekarang dia sedang mengidap kanker yang sangat parah," ucap Irfan.


"Kau jangan menganggap remeh Tuan Rian, bisa saja di balik diam dia selama ini, dia mempunyai rencana tersembunyi untuk mencari kebenaran atas terbunuhnya orang tua dan pacarnya yang secara misterius," ucap Dian.


"Apa yang bisa di lakukan oleh anak itu? dia tidak bisa apa apa selain mengandalkan sekretaris dan pelayannya," ucap Irfan.


"Terserah padamu, mulai sekarang aku tidak akan menuruti semua perintahmu lagi," ucap Dian.


"Awas saja jika kau berani membongkar semua masalah ini pada orang lain terutama Rian, jika kau melakukannya aku pasti akan melenyapkanmu juga seperti yang lainnya," ucap Irfan.


"Coba saja jika kau bisa melenyapkanku, walau aku bertentangan dengan kakakku selama ini, tapi dia pasti akan membalas orang yang mencoba menyakiti adiknya, dan juga bagaimana jika dia tahu selama ini ternyata adiknya telah di ancam oleh orang lain yaitu dirimu, apa kau yakin jika kau akan selamat dari kakakku?" ucap Dian.


Irfan terdiam mendengar ucapan Dian padanya.


"Tunggu! awas saja jika kau berbohong padaku soal kau adalah adik dari bos besar, jika kau ternyata membohongiku, aku tak akan segan segan melakukan hal buruk padamu," ucap Irfan.


"Aku tak berbohong padamu, silahkan saja kau tanya pada bos besarmu itu untuk mengetahui kebenarannya," jawab Dian.


"Tentu saja aku akan menanyainya pada bos besar," ucap Irfan.


"Kalau begitu aku permisi dulu, sampai jumpa lagi," ucap Dian.


Kemudian Dian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari cafe, dan masuk ke sebuah taksi dan pergi dari sana. Tak lama kemudian Irfan juga pergi dari sana dan masuk ke dalam mobilnya. Bu Vira kemudian mengambil alat perekam itu, lalu pergi keluar dari cafe dan masuk ke dalam mobilnya.


"Sial! aku kehilangan wanita itu lagi, apa mungkin sekarang dia menuju ke rumahnya?" ucap Bu Vira.


Lalu dia mengendarai mobilnya menuju ke rumahnya Dian. Bu Vira mengendarai mobilnya dengan sangat cepat agar bisa menyusul Dian yang telah lebih dulu pergi dengan taksi saat itu.


"Jangan sampai aku kehilangan dia hari ini, aku tak ingin Tuan Rian kecewa padaku," ucap Bu Vira.


Setelah sampai di rumahnya Dian, ternyata dia juga baru sampai di sana dengan membawa banyak barang belanjaan saat turun dari taksi itu.


"Ternyata dia benar kemari, sepertinya dia belanja dulu sebelum datang kemari," ucap Bu Vira.


Muncul seorang wanita dari dalam rumah dan membantu Dian membawakan semua barang itu dan mereka masuk ke dalam rumah itu. Bu Vira tidak bisa begitu jelas melihat wajah wanita yang ada di rumah itu karena terlalu jauh.


"Ternyata memang benar ada seorang wanita yang juga tinggal di dalam rumah itu, tapi aku tak bisa melihatnya dengan jelas karena terlalu jauh, lebih baik aku menunggunya disini sampai mereka keluar dari rumah itu," ucap Bu Vira.


Setelah berada di dalam rumahnya Dian dan wanita itu berbicara berdua. Wanita yang tinggal di rumah itu bernama Sinta dan ternyata dia adalah seorang perawat yang sedang merawat seseorang di dalam rumah itu.


"Sinta, bagaimana dengan keadaannya saat ini? apakah ada kemajuan?" tanya Dian.


"Sama seperti biasanya tidak ada kemajuan sama sekali, entah sampai kapan dia seperti ini," jawab Sinta.


"Apa ada kemungkinan dia akan sembuh?" tanya Dian.


"Harapan itu selalu ada, selama dia masih bernafas masih ada kemungkinan dia akan sembuh," jawab Sinta.


"Aku sangat mengharapkan jika dia bisa segera sembuh, aku benar benar merasa sangat berdosa karena telah membohongi banyak orang selama ini," ucap Dian.


"Tak apa apa Bu Dian, anda berbohong untuk kebaikan semua orang, dan telah menyelamatkan orang lain juga, menurutku kau tidak salah malah ini benar," ucap Sinta.


"Terimakasih, karena kau telah membantuku selama ini dengan merawatnya," ucap Dian.


"Sudah kewajibanku sebagai seorang perawat untuk merawat seorang pasien yang membutuhkan," ucap Sinta sambil tersenyum.


Sinta adalah seorang perawat yang bekerja membantu Dian untuk merawat seseorang di dalam rumah itu, Sinta juga adalah teman dekat dari Dian. Mereka berdua merahasiakan orang yang sedang di rawat agar dia bisa selamat dari orang orang yang ingin membunuhnya selama ini.