
Keesokan harinya Erica seperti biasa berangkat ke sekolah, sesampai di sekolah Cindy menghampiri Erica yang baru saja datang dan duduk di kelas.
"Praak" suara Cindy memukul meja.
"Erica kau tak tahu malu ya! gara gara dirimu Evan harus di rawat di rumah sakit!" teriak Cindy marah.
"Kenapa kau menyalahkanku? semua ini bukan karena salahku, bukankah ini karena perbuatan orang lain yang seharusnya kau tahu siapa dia," jawab Erica.
"Hem, kau mulai berani melawanku sekarang! seharusnya kau yang terbaring di rumah sakit bukannya Evan!"
"Kenapa kau mengharap itu aku?"
"Tentu aku sangat senang jika melihatmu sengsara! dan Evan pasti akan kembali padaku jika kau tidak ada disini lagi," ucap Cindy.
"Hei Cindy! kau benar benar tidak tahu malu ya! Evan tidak mencintaimu tapi kau memaksanya, Evan hanya mencintai Erica bukannya dirimu," ucap Putri sambil mendekati Erica.
"Jangan ikut campur urusanku dan urusan Erica jika kau tidak tahu permasalahannya!"
"Tenu aku sangat tahu Cindy! bahkan semua orang yang ada di sekolah ini juga tahu, kau memaksakan cintamu pada Evan, kau hanya mengganggu hubungan cinta Evan dan Erica saja!" teriak Putri.
"Dasar mulutmu benar benar berani mengatakan itu padaku!"
"Paaaaak" suara Cindy menampar pipinya Putri.
Melihat Cindy yang menampar Putri, Erica langsung berdiri dan balik menampar Cindy untuk membalasnya.
"Paaaak" Erica menampar pipinya Cindy.
"Berani sekali kau menamparku!" teriak Cindy marah.
"Kau duluan yang memulainya! kenapa kau menampar Putri?' ucap Erica.
"Kalian berdua akan menyesal telah melakukan ini padaku!" teriak Cindy.
"Aku tidak akan pernah menyesal jika apa yang aku lakukan adalah kebenaran," ucap Erica.
"Kau saja yang tidak pernah menyadari kesalahanmu sendiri Cindy!" teriak Putri.
Mendengar ucapan Erica dan Putri membuat Cindy sangat marah dan berkelahi dengan Erica dan Putri, mereka saling menjambak rambut satu sama lain. Mereka semua menjadi tontonan siswa lain di kelas dan membuat keributan di dalam kelas. Mendengar suara keributan di dalam ruang kelas Pak guru langsung berlari menuju ke kelas.
"Kalian semua hentikan ini!" teriak Pak guru.
Mendengar teriakan Pak guru yang berada di dalam kelas, lalu Cindy, Erica, dan Putri berhenti berkelahi.
"Kalian bertiga kenapa berkelahi di dalam kelas?"
"Cindy yang memulainya Pak!" ucap Putri.
"Kau yang membuatku marah terlebih dulu!" teriak Cindy.
"Maafkan kami Pak," ucap Erica.
"Kalian bertiga ikut Pak guru ke kantor!"
"Baik Pak," ucap mereka bertiga.
Lalu Erica, Putri, dan Cindy pergi menuju kantor guru.
"Kalian bertiga kemari berdiri disana!" ucap Pak guru.
"Baik Pak" ucap Mereka bertiga.
Kepala sekolah melihat Erica, Putri, dan Cindy yang berdiri di depan Pak guru di dalam ruang kantor merasa penasaran, dia lalu masuk kesana dan menanyakan pada Pak gurunya.
"Ada apa ini? kenapa mereka bertiga di panggil ke kantor? kenapa penampilan kalian berantakan sekali padahal ini masih pagi?" tanya Pak Kepala Sekolah.
"Mereka bertiga berkelahi di dalam kelas Pak," jawab Pak guru.
"Erica kenapa kau juga ikut berkelahi dengan mereka berdua?"
"Maaf Pak, saya tidak sengaja terlibat perkelahian," jawab Erica.
"Ibumu pasti akan marah jika mengetahui kau berkelahi di sekolah Erica," ucap Pak Kepala Sekolah.
"Mohon jangan beritahu ibuku Pak," ucap Erica.
"Baiklah kalau begitu, beritahu alasan kalian kenapa bisa berkelahi di dalam kelas?"
Mereka bertiga hanya diam saja ketika Pak Kepala Sekolah bertanya pada mereka.
"Kenapa kalian tidak menjawabnya?" tanya Pak Kepala Sekolah.
"Masalah cinta Pak," ucap Maya sambil tersenyum.
"Apa kalian memperebutkan laki laki?" tanya Pak Kepala Sekolah.
"Apa kalian memperebutkan Evan?" tanya Pak Guru sambil menatap mereka bertiga.
"Apa benar yang dikatakan oleh guru kalian?"
"Kalian tetap tidak menjawabnya, berarti itu benar! baiklah kalian bertiga bapak hukum membersihkan halaman sekolah dan mengumpulkan sampah sampai bersih," ucap Pak guru.
"Baik Pak" ucap mereka bertiga.
"Ada murid baru pindahan dari sekolah lain yang akan masuk kemari!" ucap Pak Kepala Sekolah.
"Kelas berapa Pak?"
"Dia juga akan masuk ke kelasmu, dia murid laki laki, dia juga anak seorang produser yang sangat terkenal dan kaya."
"Permisi apa ini benar ruang kantor guru?"
"Nah itu dia murid baru kita! kemari masuklah!"
"Baik Pak."
Murid baru itu berjalan masuk ke dalam ruang guru, semua yang ada di sana tak berhenti menatap murid baru itu.
"Ini murid yang aku katakan namanya Rey," ucap Pak Kepala Sekolah.
"Apa kau seorang artis?' tanya Pak guru.
"Bukan Pak." jawab Rey.
"Wajahmu sangat tampan sekali, aku pikir kau adalah artis, baiklah Rey ikut saya ke ruang kelas! dan kalian bertiga cepat kerjakan semua hukuman kalian, jika sudah selesai baru kalian bertiga boleh masuk ke dalam kelas," ucap Pak guru.
"Baik Pak"
"Baiklah saya pergi dulu selesaikan semua hukuman kalian, Erica lain kali kau tidak boleh berkelahi lagi atau nanti ibumu akan marah jika mengetauinya," ucap Pak Kepala Sekolah.
"Baik Pak," jawab Erica.
Pak Kepala Sekolah kemudian pergi dari ruang guru.
Rey terus menatap Erica dan tersenyum padanya.
"Erica apa kau tidak ingat diriku?" tanya Rey sambil menatap Erica.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Erica.
"Tentu saja waktu itu kau pernah menolongku Erica."
"Mungkin kau salah orang, aku tidak mengenalmu," ucap Erica.
"Kalian bertiga cepat kerjakan hukuman kalian sekarang!" teriak Pak guru.
"Baik Pak"
Lalu Erica, Cindy, dan Putri keluar dari ruang kantor guru untuk mengerjakan hukumannya. Rey merasa sangat heran dengan Erica yang tak mengenalnya. Maya terus mentap Rey dan merasa pernah bertemu dengannya.
"Aku seperti mengenal laki laki yang bernama Rey ini, cuma aku lupa bertemu dengan dirinya dimana," ucap Maya sambil menatap Rey.
"Apa dia benar benar tidak mengingat siapa aku," ucap Rey bingung.
"Mari ke ruang kelas bersama bapak," ucap Pak guru.
"Baik Pak, maaf pak apa aku juga satu kelas dengan Erica?"
"Iya tentu kau akan satu kelas dengannya, apa kau kenal dengan Erica?"
"Iya aku mengenalnya, tapi sepertinya dia tidak mengingatku," ucap Rey.
"Nanti dia akan mengingatmu," ucap Pak guru.
" Mungkin saja aku berharap begitu," ucap Rey sambil berjalan mengikuti pak guru ke ruang kelas.
Erica merasa bingung dengan semua ucapan Rey padanya.
"Erica apa kau mengenal pemuda tampan tadi?" tanya Putri.
"Entahlah aku tidak pernah bertemu dengannya, tapi aku heran kenapa dia bilang jika aku pernah menolongnya," jawab Erica bingung.
"Wah, Erica sekarang ada yang tampannya bersaing dengan Evan di sekolah, kau kan sudah punya Evan lalu yang ini untukku ya," ucap Putri.
"Tentu saja, aku sudah punya pacar kenapa harus mendekati pemuda tadi."
"Ehm, akhirnya aku bisa mendapatkan pacar yang tampan seperti Evan," ucap Putri senang.
"Haah, apa dia akan mau denganmu jangan berkhayal di siang hari," ucap Cindy.
"Heem biar saja aku berkhayal yang penting tidak mengganggu punya orang lain seperti dirimu!"
"Dasar kau mau mencari masalah terus denganku!" teriak Cindy marah.
"Sudahlah Putri tak perlu berkelahi dan mencari ribut lagi dengan Cindy, kita selesaikan saja hukuman ini dengan cepat agar bisa cepat kembali ke dalam kelas," ucap Erica.
"Baik Erica," ucap Putri.
"Ehm, Erica apa kau butuh bantuanku?" tanya Maya.
"Tidak perlu ini semua adalah hukumanku jadi aku harus menyelesaikannya sendiri," bisik Erica pada Maya.
"Baiklah kalau begitu," ucap Maya.
Erica menyelesaikan semua hukuman yang di berikan oleh gurunya. Cindy masih merasa sangat marah dan kesal pada Erica dan Putri.