
Erica pulang bersama Kakaknya Evan, di dalam perjalanan pulang Kakaknya Evan bercerita tentang Evan dan juga dirinya.
"Erica apa kau sudah lama berpacaran dengan Evan?"
"Belum terlalu lama Kak."
"Evan dia orang yang sangat perhatian dan juga baik kepada orang yang sangat dia cintai! adikku dia tipe orang yang sangat setia! kau sangat beruntung bisa bersama dengannya, dia pasti akan menjagamu dengan sangat baik, dia juga bercita cita ingin menjadi polisi sepertiku."
"Benarkah Evan bercita cita ingin menjadi polisi? dia tidak pernah mengatakan itu padaku," ucap Erica.
"Dia memang tidak akan menceritakan masalah itu pada orang lain, nanti dia pasti akan memberitahumu semuanya."
"Jika itu memang cita citanya aku sangat mendukungnya, bukankah itu sesuatu yang sangat baik," ucap Erica.
"Tapi apa orang tuamu akan menyetujuinya, kau berasal dari keluarga yang kaya raya! apalagi kau adalah pewaris tunggal dari keluargamu."
"Ayah dan ibuku tidak pernah memandang seseorang hanya dari hartanya, mereka memandang orang dari sifatnya! aku juga mencintai Evan apa adanya," jawab Erica.
"Heem, syukurlah jika memang begitu! aku pun sangat berharap jika kalian akan selalu bersama sampai ke jenjang yang lebih serius nanti."
"Iya kak."
"Apa rumahmu jauh dari sini?"
"Sebentar lagi kita akan sampai kak."
Didalam perjalanan pulang Erica melihat seorang wanita yang sedang di kejar oleh penjahat yang membawa pisau. Lalu kakaknya Evan menghentikan mobil di depan penjahat itu.
"Tolong tolong aku" teriak wanita itu.
Kakaknya Evan kemudian turun dari mobil bersama Erica untuk menolong wanita itu.
"Hei kau kenapa menghentikan mobil di depanku!" teriak penjahat itu.
"Kenapa jika aku menghentikan mobil di depanmu!"
"Jadi kau ingin melawanku! baguslah bertambah banyak mangsaku malam ini!"
Erica mendekati wanita yang di kejar penjahat itu.
"Bu, apa anda baik baik saja?"
"Tolong saya dia ingin merampok saya!"
"Baiklah kami akan menolong anda," ucap Erica.
"Terimakasih nak," ucap Wanita itu.
"Kalian jangan banyak bicara serahkan semua harta yang kalian bawa padaku!" teriak penjahat itu.
"Ambil saja jika kau bisa!" teriak Kak Jenni.
"Sialan wanita ini harus di kasih pelajaran!" ucap Penjahat itu.
Penjahat itu berlari menuju Jenni dan ingin menusuknya, Jenni menendang pisau yang ada di tangannya lalu memukul wajah penjahat itu dengan tangannya.
"Buuuk baaak buuuk baaak" suara Jenni memukul penjahat itu.
"Rasakan kau! berani kau ingin merampok lagi!"
"Ampun jangan pukul saya lagi!" teriak Penjahat itu.
"Kau akan di tangkap karena kasus perampokan," ucap Kak Jenni sambil memborgol tangan penjahat itu.
"Apa kau seorang polisi?" tanya Penjahat itu.
"Betul aku seorang polisi! dan kau berani sekali ingin menusukku dengan pisau!" ucap Kak Jenni sambil memukul kepala penjahat itu.
"Terimakasih kalian sudah membantuku," ucap Wanita itu.
"Sama sama bu," ucap Kak Jenni.
"Wah Erica, dia sangat keren sekali! aku sangat menyukai cara dia menangkap penjahat itu," ucap Maya.
"Wajar saja karena dia seorang polisi wanita," ucap Erica sambil tersenyum.
"Bawa penjahat ini kekantor polisi dan langsung interogasi dia!" ucap Kak Jenni.
"Siap bu!" ucap Polisi yang membawa penjahat itu.
"Bu, anda bisa ikut langsung dengan mobil polisi ini mereka akan mengantarkan anda pulang kerumah dengan aman," ucap Kak Jenni.
"Terimakasih atas bantuannya, jika tidak ada kalian mungkin saya sudah di celakai oleh penjahat itu."
" Sama sama bu, lain kali lebih berhati hati di jalan."
"Baiklah," ucap Wanita itu sambil masuk ke dalam mobil polisi.
"Antarkan juga korban langsung kerumahnya dengan aman."
"Siap bu."
Kemudian polisi membawa penjahat itu dan juga mengantarkan korban pulang kerumahnya.
"Erica ayo aku akan mengantarmu pulang."
"Baik kak," ucap Erica sambil masuk ke dalam mobil.
Lalu Erica di antar kembali oleh Kakaknya Evan, setelah sampai di rumah Erica dia sangat terkejut melihat rumah Erica yang begitu besar dan mewah.
"Apa ini rumahmu Erica?"
"Iya kak, apa Kak Jenni mau mampir kerumahku?"
"Nanti lain kali aku akan mampir kerumahmu, sekarang aku masih banyak kerjaan di kantor."
"Baiklah, terimakasih karean telah mengantarkanku pulang Kak Jenni."
"Sama sama Erica."
Lalu Erica turun dari mobilnya Jenni, dan langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Ternyata dia memang benar benar sangat kaya raya, rumahnya seperti istana! Evan sangat beruntung bisa menjadi pacarnya," ucap Jenni sambil menjalankan mobilnya dan pergi dari rumah Erica menuju ke kantor polisi.
Erica langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Huuh, hari ini aku lelah sekali," ucap Erica sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Erica, Kakaknya Evan benar benar sangat keren tadi!" ucap Maya.
"Dia adalah polisi wanita terbaik dan juga dia seorang perwira polisi! di umur yang begitu muda dia sudah sangat berhasil dalam hidupnya," ucap Erica.
"Ooo pantas saja jika dia sangat hebat."
"Yang aku tahu dia juga sangat hebat dalam bela diri, Kak jenni juga baru saja pulang dari luar negeri mengikuti pelatihan polisi," ucap Erica.
"Ternyata kakak dan adik sama sama hebat dan berkualitas! orang tuanya pasti sangat bangga pada mereka," ucap Maya.
"Begitulah, Kak jenni juga wanita yang cantik menurutku! entah kenapa aku merasa nyaman jika di dekatnya, aku merasa dia seperti kakak kandungku saja," ucap Erica.
"Ehm, yang kepingin punya kakak."
"Kadang aku sangat iri melihat orang lain yang memiliki saudara, aku sejak kecil selalu saja sendiri! ayah dan ibu sibuk bekerja di luar rumah, dan aku hanya sendiri di rumah bersama pengasuhku dulu," ucap Erica sedih.
"Ehm, nanti jika kau sudah menikah dengan Evan buatlah anak yang sangat banyak agar kau tidak lagi merasa kesepian," ucap Maya tersenyum menatap Erica.
"Ah Maya apaan sih! kenapa berbicara seperti itu, perjalananku masih panjang! aku sebenarnya bercita cita ingin menjadi seorang dokter dan mengabdikan diri di rumah sakit! tapi ayah mungkin tidak akan menyetujuinya dia pasti akan memintaku untuk membantu menjalankan perusahaannya," ucap Erica.
"Jika bukan kau Erica, siapa lagi yang akan membantu ayahmu! bukankah kau anak dia satu satunya."
"Itulah maksudku aku tidak ada pilihan lain selain ikut menjalankan perusahaan bersama ayah dan ibuku," ucap Erica.
"Ternyata menjadi anak orang kaya itu ada enak dan tidak enaknya juga."
"Tentu saja Maya, tidak ada yang sempurna di dunia ini! intinya kita harus mensyukuri nikmat yang telah di berikan oleh Tuhan pada kita," ucap Erica.
"Tentu Erica," ucap Maya.
Melihat Kakaknya Evan melawan penjahat seorang diri membuat Erica dan Maya sangat terkesan dan kagum padanya. Erica merasa sangat nyaman ketika berada di dekat Jenni Kakaknya Evan.