
Setelah selesai mengadakan pertemuan Ibunya Tasya mendekati Nadira dan berbicara padanya.
"Nadira, perkenalkan aku Ibunya Tasya namaku Vera! panggil saja Bu vera," ucap Ibunya Tasya.
"Iya bu, salam kenal juga," ucap Nadira.
"Apa kau mengenal anakku Tasya?"
"Aku tidak begitu mengenalnya dengan baik tetapi aku tahu dengannya," jawab Nadira.
"Aku tidak menyangka selain anakku banyak wanita wanita lain menjadi korban Rio termasuk dirimu."
"Nasib Tasya sama denganku bu, hanya berbeda aku tak dibunuh oleh Rio! aku juga tak menyangka jika Rio dapat setega itu membunuh Tasya dan menguburnya dengan keadaan masih hidup," ucap Nadira sedih.
"Ibu sudah mengikhlaskan kematian Tasya, mungkin itu sudah takdirnya! ibu hanya ingin agar Rio mendapatkan hukuman yang setimpal atas semua perbuatannya," ucap Ibunya Tasya.
"Saya juga tidak berani melawan keluarganya Rio jika tidak ada Erica dan keluarganya bu! Bu Sandra sangat mengerikan dia dapat melakukan apapun demi anaknya," ucap Nadira.
"Untung saja kita bertemu orang baik seperti Erica dan keluarganya yang dapat menolong kita dan memperjuangkan kebenaran," ucap Ibunya Tasya.
"Pak Daniel dan Bu Rosa telah menolong diriku dan keluargaku, jadi aku harus membalasnya dengan membantu mereka untuk memenangkan kasus ini," ucap Nadira.
"Betul Nadira, dengan kita memenangkan kasus ini kita dapat memberikan pelajaran pada orang orang jahat itu," ucap Ibunya Tasya.
Intan melihat lbunya Tasya dan Nadira yang sedang berbicara, diapun berjalan mendekati mereka.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Intan sambil berjalan mendekati.
"Ah Intan, ibu hanya berbincang saja dengan Nadira," ucap Ibunya Tasya.
"Perkenalkan namaku Intan, aku teman dekatnya Tasya," ucap Intan.
"Salam kenal juga namaku Nadira."
"Apa dulu kau juga kuliah di kampus yang sama dengan kami?" tanya Intan.
"Betul, tapi semenjak putus dengan Rio aku pindah dari sana," ucap Nadira.
"Ooo pantas saja sepertinya wajahmu tidak begitu asing bagiku," ucap Intan.
"Apa kau juga mengenal Rio dengan baik Intan?" tanya Nadira penasaran.
"Tentu saja aku sangat mengenal laki laki bajingan itu! semenjak dia berpacaran dengan Tasya aku mulai menyelidiki Rio, dia sangat terkenal suka bergonta ganti pacar! hanya saja yang tidak kuketahui jika dia meniduri mereka semua dan juga termasuk Tasya yang sampai hamil," ucap Intan kesal.
"Akupun tertipu oleh mulut manisnya, mungkin Tasya sama sepertiku tertipu oleh Rio! sebenarnya kami tidak ada yang mau tidur dengannya," ucap Nadira.
"Maksudmu apa Nadira?" tanya Intan.
"Sebenarnya Rio mengajak kami berkencan dan memberikan obat perangsang pada minuman kami dan membuat kami tidak sadar jika berhubungan intim dengannya!" ucap Nadira.
"Benarkah itu!" ucap Intan terkejut.
"Setahuku begitu, karena itu juga terjadi padaku! dan seterusnya pun begitu sampai diriku hamil karena Rio," ucap Nadira sedih.
"Tasya apakah kau juga diberikan obat seperti Nadira?" tanya Maya.
"Coba aku ingat dulu! Ooo iya Maya aku memang tidak ingat pertama kali saat tidur dengan Rio! aku juga bingung saat sudah berada di kamar hotel bersama Rio waktu itu! benar memang Rio juga melakukan itu padaku," ucap Tasya.
"Berarti itu juga bukan sepenuhnya dirimu mau ditiduri olehnya?" tanya Maya.
"Iya Maya, sama seperti Erica waktu itu dia juga memberikan obat pada minuman Erica dan berniat menidurinya seperti kami!" ucap Tasya.
"Aku pikir itu kemauan dirimu sendiri tidur dengannya?"
"Aku tidak akan mungkin sebodoh itu memberikan kesucianku Maya!"
"Betul juga sih," ucap Maya.
"Makan saja tuh cinta! Heeh dasar ya kalau sudah cinta jangan pernah sampai jauh jauh pikirannya jadinya kan begitu Tasya!" ucap Maya.
"Tapi kan waktu itu aku tidak sadar Maya!"
"Ya ya baiklah, itu juga sudah terjadi yang penting sekarang kita harus mencari bukti lain untuk sidang besok!" ucap Maya.
"Baiklah Maya," ucap Tasya.
Setelah mendengar ucapan dari Nadira, Intan merasa sangat bersalah karena telah menyalahkan Tasya karena dia sampai hamil ternyata itu bukan kemauannya Tasya. Tetapi dia telah di jebak oleh Rio.
"Aku telah berprasangka buruk pada Tasya waktu itu, seharusnya aku menyelidikinya terlebih dahulu! kenapa aku malah membenci Tasya," ucap Intan sedih.
"Sudahlah Intan tak perlu bersedih, Tasya sudah tenang disana," ucap Ibunya Tasya.
"Intan kadang ada yang mengingat kejadiannya ada juga yang tidak karena pengaruh obat itu! mungkin Tasya tidak begitu mengingatnya jadi dia mengira jika itu memang kemauan dirinya ditiduri oleh Rio," ucap Nadira.
"Betul juga katamu Nadira! saat itu juga aku melihat wajahnya Tasya yang tampak bingung saat tahu dirinya hamil oleh Rio," ucap Intan.
"Karena merasa bingung jadi dia tidak berani menceritakan semuanya padamu maupun pada ibunya," ucap Nadira.
"Awas saja kau Rio! kau pasti akan mendapatkan hukuman yang berat atas semua perbuatanmu pada Tasya!" ucap Intan marah.
"Sebenarnya ibu juga merasa jika Tasya telah di jebak oleh Rio, hanya ibu tak punya bukti jika mengatakan itu semua! memang sepertinya Tasya sangat mencintai Rio, tapi dia tidak mungkin bodoh dengan melakukan itu!" ucap Ibunya Tasya.
"Benar bu, aku juga yakin jika Tasya juga di jebak sepertiku, Tasya juga pasti gadis yang sangat baik," ucap Nadira.
"Tasya aku juga berencana setelah mendatangi rumahnya Rio, bagaimana jika kita juga mengunjungi Rio di penjara dan memberikan sedikit pelajaran padanya sebelum sidang besok," ucap Maya tersenyum sinis.
"Iya Maya, aku juga ingin memberikan sedikit pelajaran padanya," ucap Tasya.
"Baiklah kita akan beraksi malam ini," ucap Maya.
"Baik Maya," ucap Tasya.
Sementara itu Evan berbicara pada Erica mengenai orang tuanya yang ingin berkenalan dengan Erica.
"Erica."
"Iya Evan ada apa?"
"Erica apa lusa nanti kau bisa datang kerumahku?" tanya Evan.
"Memangnya ada acara apa dirumahmu Evan?"
"Sebenarnya tidak ada acara apapun, hanya saja orang tuaku ingin bertemu denganmu," jawab Evan.
"Benarkah ayah dan ibumu ingin bertemu denganku?"
"Iya Erica, dan juga kakakku kebetulan lusa akan pulang dari luar negeri," ucap Evan.
"Apakah itu makan malam bersama Evan?" tanya Erica.
"Iya Erica, kita akan makan malam bersama dengan keluargaku dirumah," ucap Evan.
"Ehm, baiklah kalau begitu aku bisa pergi kerumahmu Evan," ucap Erica.
"Benarkah Erica kau mau?"
"Iya Evan, tentu saja aku mau mana mungkin aku bisa menolaknya."
"Baiklah kalau begitu aku akan memberitahu ayah dan ibuku jika kau bisa datang kerumah kami! nanti aku yang akan menjemputmu saat makan malam bersama," ucap Evan senang.
"Baiklah," ucap Evan.
Setelah mendengarkan semua kebenaran dari Nadira, Intan merasa sangat marah dan dendam pada Rio. Maya dan Tasya juga berniat akan memberikan Rio pelajaran sebelum sidang karena Maya juga sangat kesal setelah mendengar ucapan Nadira. Evan merasa sangat senang Erica bersedia diajak untuk makan malam bersama orang tuanya.