
Sementara itu Dian yang berada di dalam rumahnya telah bersiap siap untuk bertemu dengan kakaknya dan juga Irfan.
"Aku rasa sebentar lagi mereka akan sampai di sini, jadi aku harus segera bersiap siap, aku harus memancing mereka untuk mengatakan kasus kecelakaan yang menimpa orang tuanya Tuan Ruan dan juga tentang pembunuhan Maya yang telah mereka lakukan, maafkan aku kak, aku melakukan ini untuk kebaikan semuanya, aku sangat yakin kau melakukan semua kejahatan ini karena terpengaruhu oleh hantu jahat yang berada di dalam tubuhmu," ucap Dian di dalam hati.
Tak lama kemudian terdengar ada suara mobil di depan rumahnya Dian, lalu dia mengintip dari jendela rumahnya untuk melihat. Ternyata itu adalah kakaknya dan juga Irfan yang datang secara bersamaan, mereka langsung turun dari mobilnya. Bos besar itu datang bersama supirnya dan juga Monica asisten pribadinya.
"Aku kira kau tidak akan datang hari ini karena takut," ucap Bos besar itu.
"Tentu saja aku akan datang kemari, dan juga aku tidak begitu merasa takut," jawab Irfan.
"Baguslah jika kau merasa begitu, bukankah kita adalah patner," ucap Bos besar itu.
"Tentu saja kita adalah patner, jika salah satu di antara kita ada yang celaka maka yang lainnya pun akan ikut celaka," ucap Irfan.
"Aku tidak akan pernah celaka sampai kapanpun, karena aku akan mencelakai orang itu terlebih dahulu," ucap Bos besar itu sambil tersenyum.
"Senyumnya itu malah membuatku sangat takut seakan akan dia ingin melenyapkanku," ucap Irfan di dalam hati.
"Baiklah kalau begitu kita masuk sekarang, aku rasa adikku telah menunggu kita berdua, Monica kau berjaga di luar saja, jika ada sesuatu yang mencurigakan kau harus segera membereskannya," ucap Bos besar itu.
"Baik nyonya," ucap Monica.
"Ayo kita masuk sekarang," ucap Bos besar itu.
"Baiklah," ucap Irfan.
"Kenapa hatiku merasa sangat gelisah hari ini? apa akan terjadi sesuatu yang buruk hari ini padaku?" ucap Irfan di dalam hati.
Bos besar itu kemudian mengetuk pintu rumahnya Dian.
"Tok tok tok" Suara mengetuk pintu.
"Kreek" Suara membuka pintu.
"Selamat datang Kak Alena, terimakasih karena telah mau datang kemari," ucap Dian.
"Apa kabar adikku? tentu saja aku akan datang kemari untuk menemuimu, karena ini adalah permintaanmu," ucap Bos besar itu.
"Aku baik baik saja, selamat datang juga Tuan Irfan, silahkan masuk ke dalam," ucap Dian.
"Baik terimakasih," ucap Irfan.
"Bagaimana jika kau memanggilnya Irfan saja, karena aku tidak senang melihat adikku berada di bawah seseorang yang tidak pantas menurutku," ucap Bos besar itu.
"Tapi dia bukankah masih bekerja di rumah Rian sebagai pelayan jadi wajar saja dia memanggilku seperti itu," ucap Irfan.
"Mulai sekarang adikku tidak akan bekerja sebagai pelayan lagi di rumah itu, dia akan ikut denganku mulai sekarang, dan kau juga harus menghormatinya seperti menghormatiku," ucap Bos besar itu.
"Baiklah jika itu keinginanmu dia bisa memanggilku sesuka hatinya saja," ucap Irfan.
Dian mengajak mereka ke ruang tamu yang telah banyak di pasang alat penyadap dan juga kamera tersembunyi, sementara itu Maya dan yang lainnya telah melihat dan mendengar mereka dari kamera itu dan juga alat penyadap yang ada di sana.
"Mereka sudah datang di rumahnya Dian Tuan," ucap Bu Vira sambil mendengarkan dan melihat pada layar yang terhubung dengan rumahnya Dian itu.
"Akhirnya mereka semua datang, kita akan menangkap mereka semua hari ini," ucap Rian.
"Erica dan Adrian setelah mereka mengakui semua perbuatan mereka dan terekam di dalam kamera itu, kalian harus segera ke sana untuk melawan hantu jahat itu," ucap Maya.
"Baiklah Maya," ucap Erica.
Sementara itu Dian berencana akan memancing percakapan agar bisa menjebak kakaknya dan juga Irfan.
"Silahkan duduk," ucap Dian.
Bos besar dan Irfan kemudian duduk di kursi yang ada di ruang tamu itu.
"Sebenarnya apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?" tanya Bos besar itu.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu kak," jawab Dian.
"Apa ini tentang dia?" tanya Bos besar itu sambil menunjuk Irfan yang ada di sampingnya.
"Ini juga ada kaitan dengan dirinya," jawab Dian.
"Katakan saja langsung jangan berbelit belit," ucap Irfan.
"Apa kau ingin mengadukan laki laki ini padaku? apa dia sangat jahat padamu selama ini? katakan saja semuanya, bahkan jika kau ingin aku membunuhnya pasti akan ku kabulkan," ucap Bos besar itu.
"Waduh bahaya jika Dian benar benar marah dan mengadukanku bisa bisa aku memang akan di bunuh olehnya," ucap Irfan di dalam hati cemas.
"Memang dia kadang sangat menyebalkan dan membuatku kesal, tapi kakak tak perlu sampai membunuhnya," jawab Dian.
"Lalu apa yang kau inginkan dariku?"
"Ini tentang kasus kecelakaan orang tua dari Tuan Rian beberapa tahun yang lalu, apa kakak juga membantunya saat itu?" tanya Dian.
"Kenapa kau sangat ingin tahu hal itu?"
"Itu karena aku juga terlibat di dalamnya, karena waktu itu Irfan menyuruhku untuk merusak rem mobil yang di kendarai oleh orang tuanya Tuan Rian, dia bilang padaku jika hanya akan membuat mereka cedera saja dan tidak membunuhnya, tapi aku mendengar kabar jika mereka di tabrak oleh sebuah truk saat itu, dan truk itu sampai saat ini pengemudinya tidak di temukan, apa kakak benar benar terlibat dalam kasus kecelakaan itu?"
"Iya memang betul, aku terlibat dalam kecelakaan itu, Irfan datang menemui sebelum kecelakaan itu terjadi dia meminta bantuanku untuk membunuh kakaknya sendiri agar bisa merebut perusahaan miliknya, tapi kenyataannya walaupun kakaknya meninggal dunia dia tetap tak bisa merebut perusahaan itu dari Rian, dan orang yang menabrak orang tuanya Rian tidak ada di negara ini lagi, dia sudah kakak kirim keluar negeri, dan karena itu Irfa harus membayar mahal kakak karena mengerjakan pekerjaan kotor itu, tapi dia tidak mengatakan padaku jika kau ikut terlibat dalam kasus ini," ucap Bos besar itu sambil menatap Irfan.
"Aku tak mengatakan padamu karena aku pikir itu tidak penting, lagi pula saat itu aku belum mengetahui jika Dian adalah adikmu, jika aku tahu mana mungkin aku berani menyuruhnya untuk melakukan itu semua," ucap Irfan gemetar takut melihat bos besar itu.
"Awas saja kau jika menyakiti adikku lagi, aku benar benar akan membunuhmu," ucap Bos besar itu.
"Dan ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan pada kakak dan juga Irfan ini mengenai polisi wanita yang telah kalian bunuh satu tahun yang lalu," ucap Dian.
"Maksudmu polisi wanita yang bernama Maya itu?" tanya Irfan.
"Iya," jawab Dian.
"Kenapa kau menanyakan dia? apa kau sangat mengenalnya?" tanya Bos besar itu.
"Tentu aku mengenalnya karena dia adalah pacar dari Tuan Rian dan dia juga sangat sering berkunjung ke rumah Tuan Rian," jawab Dian.
"Dari mana kau tahu jika kami membunuhnya?" tanya Bos besar itu penasaran.
"Karena saat itu aku juga terlibat," jawab Dian.
"Maksudmu Irfan juga melibatkanmu dalam hal itu?" tanya Bos besar itu marah.
"Iya kak, Irfan menyuruhku memasukkan obat tidur di dalam minuman nona Maya saat itu, setelah dia tidak sadarkan diri Irfan dan juga Zio anak buah kakak membawa Maya ke dalam sebuah mobil, aku tahu karena saat itu bertanya pada Zio," jawab Dian.
"Irfan! berani sekali kau melibatkan adikku lagi dalam masalah kita!" teriak Bos besar itu marah.
"Maafkan aku, aku benar benar tidak tahu waktu itu jika dia adikmu jadi wajar saja jika aku menyuruhnya," ucap Irfan ketakutan.
Dian mencoba memancing percakapan tentang kasus kecelakaan orang tuanya Riana dan juga Maya, akhirnya Diam berhasil melakukannya dan membuat mereka semua mengakui jika mereka adalah dalang dari semua kasus itu selama ini.