
Setelah mereka sampai di gedung tua tempat Yoga biasanya bekerja, mereka semua langsung turun dari
mobil dan masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa tempat itu dan mencari penawar
racun di dalam sana.
“Kira kira dimana dia menyimpan penawar racun itu? Tidak mungkin dia menyimpan di sembarang
tempat,” ucap Jenni.
“Maya apa kau juga tahu dimana dia menyimpan penawar racun itu?” bisik Evan pada Maya.
“Tentu saja aku mengetahuinya,” jawab Maya yang masih merasuki adiknya Yoga.
“Dimana dia tersembunyinya?” tanya Evan.
“Ikuti saja aku, kita akan mendapatkannya,” jawab Maya.
Lalu Maya berjalan menuju ke ruangan milik Yoga dan mendekati meja kerja, kemudian dia
ke meja itu.
“Disini tidak,” ucap Maya.
“Ternyata di bawah meja ini ada sebuah brankas tersembunyi,” ucap Evan.
“Dia mengatakan jika menyimpannya disini,” ucap Maya.
“Bagaimana kau bisa membuat dia memberitahu semuanya, Kak Jenni dan yang lainnya memaksa
dirinya dan dia tidak mau sama sekali mengatakannya,” ucap Evan.
“Dengan sedikit mengancamnya saja, dia tipe orang yang merasa ketakutan jika diancam, aku
juga mendapatkan sedikit informasi tentang diriku darinya, dia memang hanya orang
bawahan saja, ada seseorang dibalik dirinya dan dia adalah orang yang telah
membunuhku, dia seorang wanita yang sangat misterius dan mengerikan.”Jawab Maya.
“Informasi apa yang kau dapatkan darinya?” tanya Evan penasaran.
“Nanti saja kita membahas itu, sekarang yang penting kita mendapatkan penawar racun ini dulu untuk
menyelamatkan Erica,” ucap Maya.
“Iya Maya baiklah, apa kau juga tahu cara membuka brankas ini?” tanya Evan.
“Tentu saja kodenya 280416,” jawab Maya sambil menekan kode itu di brankas.
Kemudian brankas itu terbuka lalu Evan dan Maya melihat banyak uang dan juga penawar racun yang
ada disana.
“Wah ternyata dia menyimpan banyak uang disini, apa ini penawar racun yang dikatakannya Maya?” tanya
Evan.
“Tentu saja ini penawar racunnya, jika dia berani membohongiku, aku akan melenyapkan dirinya,”
ucap Maya.
“Kau lebih menakutkan dari semua penjahat itu Maya,” ucap Evan.
“Tutup saja mulutmu! apa kau juga ingin kulenyapkan!” ucap Maya.
“Kenapa kau bilang itu padaku, padahal kita berteman,” ucap Evan.
“Tentu saja, aku hanya bercanda saja, ayo cepat ambil penawar itu dan bawa ke Erica,”
ucap Maya.
“Baiklah,” ucap Evan.
Evan mengambil beberapa botol kecil penawar dan masukkan ke dalam tas miliknya.
“Evan dimana kau?” teriak Jenni.
“Di ruangan ini kak!” teriak Evan.
Jenni, Riki, dan juga Heru masuk ke dalam ruangan itu.
“Aku telah menemukan penawar racunnya,” ucap Evan.
“Benarkah! Dimana kau temukan?” tanya jenni.
“Ada di bawah meja kerja Yoga, disini ada sebuah brankas rahasia, ada banyak penawar racun
yang tersimpan disini dan juga ada uang,” jawab Evan.
Lalu Jenni, Riki, dan juga Heru mendekati Evan dan adiknya Yoga dan melihat isi brankas itu.
“Ternyata dia menyimpan penawar racun dan uang disini,” ucap Riki.
“Kita harus membawa semua ini ke kantor polisi sebagai bukti kejahatan yang telah dia lakukan,”
ucap Heru.
“Tentu saja kalian harus mengambil semua bukti ini untuk kasus yang sedang kalian tangani,”
ucap Jenni.
“Ambi tas yang ada di kursi itu untuk memasukkan semua ini,” ucap Riki
“Baiklah,” ucap Heru.
“Evan, apa kau sudah mengambil penawar racunnya?” tanya Jenni.
“Sudah kak, aku sudah memasukkannya ke dalam tasku,” jawab Evan.
Riki dan Heru masukkan semua penawar racun dan uang itu ke dalam sebuah tas dan akan
bawa ke kantor polisi sebagai barang bukti kejahatan Yoga selama ini.
“Terima kasih kau telah membantu kami, jika kau tidak membawa kami kemari, pasti kami tidak akan
bisa menyelamatkan Erica,” ucap Jenni.
“Sama sama, sudah jadil kewajibanku menolong kalian,” ucap Maya yang masih berada di tubuh
adiknya Yoga.
“Kami harus segera kembali ke kota sekarang untuk memberikan penawar racun ini pada Erica,”
ucap Jenni.
“Sepertinya aku harus keluar dari tubuh anak ini sekarang,” ucap Maya di dalam hati.
“Tentu, kalian harus segera memberikan penawar itu,” ucap Riki.
Kemudian Maya keluar dari tubuh adiknya Yoga, lalu dia terjatuh dan tidak sadarkan diri saat
itu.
“Buuuuuuk” suara adiknya Yoga pingsan yang jatuh ke lantai.
“Hei, apa yang terjadi padamu? kenapa kamu tiba-tiba pingsan disini?” ucap Riki.
“Kenapa dia bisa pingsan?” ucap Heru heran.
“Mungkin dia sedang tidak sehat makanya jatuh pingsan,” ucap Evan.
“Pasti sekarang Maya sudah keluar dari tubuh gadis itu,” ucap Evan dalam hati.
“Lebih baik kalian bertemu langsung dengan terdekat untuk memastikan dia baik saja atau
tidak, kami tak bisa mengantarkannya, karena harus cepat memberikan penawar
racun ini pada Erica,” ucap Jenni.
“Baiklah, kalian pergi saja, kami akan membawa gadis ini kerumah sakit dan membawa semua bukti
ini ke kantor polisi dengan cepat,” ucap Riki.
“Terima kasih atas bantuan kalian, sampai jumpa lagi,” ucap Jenni.
“Sampai jumpa lagi, kalian harus berhati hati di jalan karena ini sudah malam,” ucap Heru.
“Tentu,” ucap Jenni.
Lalu Jenni dan Evan pergi dari gedung tua itu dan masuk ke dalam mobil kemudian langsung
menuju ke kota untuk ke rumah sakit.
“Kita harus cepat memberikan penawar racun ini pada Erica,” ucap Jenni.
“Tapi kakak jangan terlalu cepat membawa mobilnya, malah kita juga bisa masuk ke rumah sakit jika
terjadi kecelakaan karena kakak terlalu cepat dalam mengendarai mobil,” ucap Evan
khawatir.
“Tentu saja aku akan berhati hati dalam membawa mobil, aku juga tak ingin mati saat masih belum
menikah!”teriak Jenni.
“Baguslah jika kakak masih sadar,” ucap Evan.
“Huuh dasar kau ini, pasang saja sabuk pengamanmu dengan benar kita akan cepat sampai di rumah
sakit,” ucap Jenni.
Jenny mengendarai mobilnya dengan sangat kencang dan cepat.
“Apa dulu kakak bercita ingin menjadi seorang pembalab mobil?” ucap Evan sambil berpegangan
dengan sabuk pengamannya di dalam mobil.
“sepertinya begitu tapi ibu tidak mengizinkannya lalu kakak memilih menjadi seorang polisi
wanita dan ibu sangat menyukainy,” jawab Jenni.
“Pantas saja kakak selalu mengendarai mobil,” ucap Evan melihat Jenni yang
sangat cepat mengendarai mobilnya.
“Kau diam saja! dan jangan banyak bicara yang penting kita sampai di rumah sakit dengan cepat dan
selamat tanpa terjadi apapun,” ucap Jenni sambil tersenyum.
“Aku sangat suka dengan semangat polisi wanita satu ini, dia sangat berani dan tak mengenal rasa
takut sama sekali, jika dia menjadi rekanku saat aku masih menjadi polisi pasti
akan sangat seru,” ucap Maya sambil membocorkan Jenni.
Jenni dan Evan pergi menuju ke kota untuk kerumah sakit dan memberikan penawar racun yang mereka
dapatkan untuk Erica.Maya juga berada di dalam mobil itu untuk memastikan jika
Jenni dan Evan membawa penawar racun itu dengan selamat sampai Ke Erica.