
Jakarta.
Karin mengepak beberapa barang yang akan di bawa. Tak terlalu banyak, Ia hanya membawa barang-barang pentingnya saja. Lagipula ia juga tak suka menimbun barang yang menurutnya tak berguna. Setelah menyiapkan semuanya, Ia baru mandi dan bersiap untuk penerbangannya.
Luka hatinya memang belum sembuh, tapi yang sudah terjadi biarlah berlalu. Tak ada gunanya menangis dan meratapi terlalu dalam diwaktu yang sama. Sekarang ia harus memikirkan masa depannya, mencapai cita-cita dan membanggakan kedua orang tuanya.
"Jaga diri baik-baik, Papa dan Mama tidak bisa sering ke sana. Tapi Mama selau mendoakan yang terbaik untukmu" Mama Karin memeluk putrinya penuh kasih.
Ia rasanya tak rela jika harus melepas putrinya keluar negeri. Tapi Karin yang memang sudah memiliki niat tak henti-hentinya memohon dan membujuknya.
"Iya Ma, Terima kasih sudah mendukung Karin" kata Karin membalas pelukan ibunya dengan erat.
"Pasti. Mama Pasti mendukungmu. Jadi untuk itu, Bisakah Mama meminta sesuatu padamu?" kata Mama Karin menatap anaknya teduh.
"Apa itu Ma?"
"Mama hanya ingin kau tidak terjebak perasaan dimasa lalu" kata Mama Karin yang lebih tau bagaimana perasaan anaknya.
"Karin nggak apa-apa kok Ma, Mama tenang aja" kata Karin mengulas senyum tipis untuk menutupi perasaannya. Memang benar apa kata orang, Jika tidak ada orang yang lebih peka dari siapapun kecuali Ibu yang melahirkan kita.
"Mama tau, kamu pasti nggak akan ngaku. Tapi Mama hanya ingin mengatakan padamu kalau hidup itu tentang bertahan dan belajar menerima, atau pergi dan belajar melupakan. Sekuat apapun kamu menolak, Hal itu sudah kamu lalui dan akan menjadi cerita dimasa mendatang" Kata Mama Karin memberi nasehat bijak.
"Bagaimana kalau kenangan itu buruk? Apa kita juga harus mengingatnya?" tanya Karin menatap ibunya sendu.
"Melupakan memang hal sulit. Tapi kamu bisa berdamai...
"Berdamai?" sahut Karin sedikit tak percaya dengan perkataan Mamanya. Bagaimana ia bisa berdamai dengan keadaan yang membuat hidupnya hancur.
"Ya, Berdamai lah dengan dirimu dan perasaanmu. Mama yakin, Kamu akan menemukan kebahagiaanmu" kata Mama Karin mengulas senyum tipisnya.
Karin diam tak menyahut, Apakah ini memang saatnya ia berdamai dengan keadaan? Tapi kenapa rasanya begitu sulit. l
"Ayo, Papamu sudah menunggu sejak tadi" kata Mama Karin menarik lembut tangan Karin dan mengajaknya untuk segera berangkat karena tak ingin sampai ketinggalan pesawat.
"Hati-Hati dijalan ya" kata Mama Karin sebelum mobil yang ditumpangi anaknya berjalan meninggalkan halaman rumah.
"Bye Ma.." ucap Karin melambaikan tangannya dari jendela mobil. Ia lalu menghirup nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya.
Hanya selang beberapa menit dari mobil Karin yang pergi. Terlihat sebuah mobil lamborghini hitam yang memasuki gerbang rumah Karin. Mama Karin sedikit mengerutkan dahinya saat melihat seorang pria yang cukup asing baginya.
"Selamat Sore tante" ucap Dio mengambil tangan Mama Karin untuk bersalaman.
"Selamat Sore, Kamu siapa ya?" tanya Mama Karin yang memang tak pernah melihat Dio sebelumnya.
"Nama saya Dio tante, Saya teman sekolah Karin" kata Dio dengan sopan.
"Oh temennya Karin, Ada perlu apa?" tanya Mama Karin lagi.
"Ehm, Apa Karin ada tante, Ada yang mau saya sampai kan" kata Dio tersenyum canggung karena merasa sangat bersalah karena sikap baik Mama Karin padanya. Kalau saja beliau tau apa yang sudah diperbuatnya entah apa yang akan terjadi.
"Karin baru aja berangkat sama Papanya ke Bandara, Nak Dio nggak ketemu?" jelas Mama Karin.
"Tidak. Kalau boleh tau, Karin mau berangkat kemana tante?" tanya Dio sedikit was-was.
Ke Swiss? Karin akan pergi kesana? Sial! Dia benar-benar tak tau kalau wanita itu akan pergi sekarang Dan bagaimana Karin bisa pergi begitu saja tanpa memberinya kesempatan meminta maaf. Dia tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.
Setelah mengucapkan terimakasih, Dio langsung berpamitan untuk menyusul Karin. Dia mengendarai mobilnya dengan begitu kencang karena tak ingin terlambat.
*****
Bandara Soekarno-Hatta Jakarta.
Karin duduk memandang kartu boarding pass ditangannya. Pikirannya telah berkelana entah kemana saja, ada setitik rasa yang entah kenapa terus mengganggunya. Tapi Karin tak mengerti itu apa. Tak lama kemudian, terdengar suara Airport Announcement yang mengatakan kalau penumpang dimohon untuk melakukan Boarding karena pesawat akan segera berangkat.
Karin menghela nafas panjang lalu mengambil sesuatu yang sejak tadi ia masukan saku jaket. Ia menatap benda itu cukup ragu, tapi sudah tak ada pilihan lain. Ia segera menelan pil kecil itu tanpa menggunakan air. Karin harus memejamkan matanya saat bersusah payah menelan pil kontrasepsi itu.
Ya, dia memang sudah membeli kontrasepsi darurat untuk mencegah kehamilannya. Karin tau ini salah, tapi ia akan semakin merasa bersalah kalau sampai hamil dan membuat malu keluarganya.
"Selamat tinggal" bisik nya dalam hati seraya melangkah untuk melakukan boarding.
Disisi lain,
Dio langsung berlari begitu ia sampai di bandara. Ia menerobos banyaknya orang yang berlalu lalang. Matanya yang awas menatap setiap orang yang mungkin itu Karin. Ia berputar-putar namun masih belum menemukan Karin.
Dio sudah hampir frustasi sesaat matanya menatap wanita berbaju biru muda yang kini sedang mengantri di area boarding.
"Karin!" serunya bergegas ingin mendatangi wanita yang sejak tadi dicarinya.
Tapi langkahnya langsung dihadang oleh Sekuriti Bandara. "Maaf Tuan, Pengantar tidak boleh masuk"
"Lepaskan aku, Biarkan aku masuk" kata Dio melepaskan cekalan tangannya.
"Tidak bisa Tuan, Ini area terlarang. Sebaiknya anda kembali saja" kata Sekuriti itu lagi.
Dio semakin kesal karena Sekuriti itu terus melarangnya. Apalagi kini Karin sudah semakin menjauh, tambah suara pengumuman yang mengatakan kalau pesawat akan segera take off. Dio langsung menerobos masuk begitu saja, ia tak perduli sekuriti itu akan memarahinya.
"Hei! Kurang ajar Kau, Jangan lari" teriak Sekuriti itu kaget saat melihat Dio sudah berlari menuju tempat boarding.
Karin menyerahkan kartunya untuk pengecekan sebelum sayup-sayup ia mendengar seseorang meneriakkan namanya. Karin menoleh untuk mencari siapa yang memanggilnya, dan ia begitu kaget saat melihat Dio yang sudah berada dibelakangnya.
"Karin!" ucap Dio dengan nafas terengah.
"Ngapain Lo kesini?" tanya Karin ketus.
"Aku ingin menemui mu" kata Dio jujur saja.
"Kita tidak punya urusan kan" kata Karin masih dengan sikap dinginnya.
"Karin, Aku mohon. Aku benar-benar minta maaf dan aku ingin tanggung jawab. Tolong, jangan membuat keadaan ini semakin rumit" kata Dio menatap Karin dengan tatapan seriusnya.
"Justru Lo yang buat keadaan jadi rumit. Gue nggak pernah minta tanggung jawab dari Lo kan. Jadi Lo nggak perlu repot untuk ngelakuin hal itu. Mulai sekarang jangan pernah temuin gue lagi dan hiduplah di jalan masing-masing" kata Karin tegas namun begitu dingin.
Happy Reading
Tbc.