
Ternyata tak terasa waktu cepat berjalan, Sudah tiga minggu sejak kejadian itu dan Karin baru di izinkan pulang karena wanita itu baru benar-benar pulih. Selama tiga minggu di rumah sakit, banyak hal yang sudah dilaluinya dan ia juga sudah bisa belajar berbicara sedikit-sedikit.
Mengenai kakinya untuk saat ini belum ada perkembangan apapun meskipun Karin sudah sering melatihnya, tentu saja dengan di temani Dio. Suaminya itu selalu berada di sampingnya setiap waktu. Biasanya, Dio akan menemaninya waktu malam hari karena jika siang pria itu bekerja.
"Sudah?" tanya Karin saat melihat Dio baru saja datang setelah mengurus administrasi.
"Sudah, aku punya kabar baik untukmu" sahut Dio mengulas senyum tipisnya.
"Ka....bar...Apa?" Karin memang sudah cukup bisa berbicara jika hanya sekedar kata-kata pendek.
"Coba tebak?" kata Dio kini mendudukkan tubuhnya di samping Karin.
Karin hanya menggeleng pertanda ia tidak punya jawaban.
"Nggak tau? yah, Payah. gitu aja nyerah" kata Dio memasang wajah meledek membuat Karin mengerucutkan bibirnya.
"Langsung gitu wajahnya. Baiklah, aku akan memberitahumu, Kabar baiknya adalah, kamu sudah bisa pulang hari ini" kata Dio tersenyum sumringah.
"Be...na..r?" tanya Karin tak percaya karena sudah di izinkan pulang.
"Iya dong. Istriku ini kan hebat banget, makanya udah bisa pulang" kata Dio mengelingkan matanya menggoda membuat wajah Karin tersipu.
"Sini" kata Dio tiba-tiba berdiri disamping Karin dan mengambil sisir yang terletak di nakas. "Karena sekarang kau akan pulang, aku akan merapikan rambutmu" kata Dio lagi tau jika Karin selalu ingin terlihat cantik meskipun sedang sakit, karena ia beberapa kali ia melihat kalau Karin sering merapikan rambut atau sekedar memakai lip blam, padahal mau seperti apapun penampilan Karin, wanita itu selalu cantik.
"Eh?" Karin sedikit kaget saat Dio menyisir rambutnya, tapi ia langsung terdiam karena mendapatkan perlakuan manis dari suaminya ini.
Dio menyisir rambut Karin perlahan, sangat lembut seolah rambut Karin begitu berharga. Dio bukan hanya menyisir rambut Karin saja, ia juga menata rambut itu dengan kepang tunggal yang terlihat sangat rapi. Padahal ia tidak pernah melakukannya sebelumnya, tapi ia tak menyangka kalau ia bisa.
"Sudah" kata Dio lalu mengambil kaca kecil agar Karin bisa berkaca. Dia memeluk tubuh Karin dari belakang dan menyandarkan wajahnya di pundak Karin, menatap wajah mereka di kaca itu.
"Lihatlah, siapa perempuan cantik ini. Tentu saja istriku" kata Dio tersenyum manis membuat Karin bisa melihatnya dari kaca yang di pegang oleh Dio.
Karin tersenyum tipis namun juga ingin menangis, perlakuan Dio ini benar-benar menyentuh hatinya yang terdalam. Karin tidak tau lagi, apa yang sudah diperbuatnya hingga mendapatkan pria sesempurna Dio.
"Te...ri..ma..ka..sih" bisik Karin memalingkan wajahnya dan bertatapan tepat dengan wajah suaminya.
Dio hanya mengangguk dan tersenyum manis lalu mencium bibir Karin perlahan untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi saat merasakan bibir manis istrinya yang cukup lama tak dirasakannya membuat Dio hampir saja hilang kendali sebelum mendengar pintu ruang perawatan terbuka.
"Eh, maaf bos.." Angga langsung berbalik badan saat melihat Dio dan Karin berciuman. Ia sedikit meringis karena sudah mengganggu orang berciuman, rasanya pasti tak enak sekali, pikirnya.
Dio dan Karin segera melepaskan ciumannya, wajah Karin langsung merah dan malu namun tersenyum saat melihat wajah kesal Dio. Dio sangat kesal karena Angga datang di waktu yang tidak tepat.
"Ada apa?" kata Dio mengusap pelan bibirnya yang sedikit basah karena ciumannya dan Karin tadi.
"Aku hanya ingin mengatakan kalau mobil sudah siap" kata Angga masih dengan sikap membelakangi Dio dan Karin.
"Kenapa tersenyum terus? Mau aku cium lagi?" kata Dio sedikit sebal jika mengingat hal tadi.
Karin menggelengkan kepalanya namun masih tersenyum manis. Dio yang melihat hal itu menjadi gemas dan kembali mencium istrinya dengan cepat dan singkat membuat wanita itu kaget bukan kepalang.
Kini giliran Dio yang tersenyum manis, bersamaan dengan itu terlihat Dokter yang baru saja masuk untuk memeriksa Karin dan menjelaskan beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam masa penyembuhan ini.
Setelah semuanya beres, Dio membatu Karin duduk di kursi roda dan membawanya pulang. Karin menghirup udara sebanyak-banyaknya saat ia sampai di luar rumah sakit. Malam itu, semilir angin tampak cukup lembut menerpa tubuhnya, tapi Karin lega karena tidak lagi mencium bau obat-obatan yang membuat ia mual.
"Apakah sakit? lelah? Atau kau butuh sesuatu?" tanya Dio setelah Karin duduk didalam mobil, ia ingin membuat istrinya senyaman mungkin.
"Ti..dak...be..gi..ni..sud..ah..cu..kup" kata Karin perlahan lalu menyandarkan kepalanya di pundak Dio.
"Baiklah, kita akan pulang sekarang" kata Dio merangkul pundak Karin agar semakin nyaman berada di pelukannya.
Angga segera melajukan mobilnya saat melihat semuanya siap. Lalu lintas malam itu ternyata cukup ramai, banyak orang yang bejalan membawa sebuah lentera yang cukup banyak. Karin mengerutkan dahinya saat melihat hal itu.
"Itu...ap..a?" tanya Karin sedikit penasaran.
"Oh, itu festival lampion. Setiap tahun kan selalu di adakan" kata Dio ikut melihat orang-orang itu yang akan berkumpul di alun-alun kota.
"La..mpi..on?" seru Karin senang mendengar hal itu.
"Iya, Apa kau ingin melihatnya?" kata Dio membuat Karin langsung mengangguk cepat namun tiba-tiba sorot matanya berubah saat mengingat keadaannya.
"Tapi....ka..ki..." kata Karin dengan suara lemah.
Dio melihat kearah festival itu, lalu menatap wajah Karin yang tampak sedih, hatinya sakit jika melihat wajah istrinya seperti itu.
"Angga! Hentikan mobilnya, kita akan melihat festival lampion" kata Dio membuat Karin kaget.
"Aku....ti..dak...bi...sa..ber..jala...n..." kata Karin merasa tak percaya diri jika harus menunjukkan kondisinya di didepan publik.
"Karin, dengarkan aku. Kau mungkin tidak bisa berjalan sekarang. Tapi bukan berarti kau tidak bisa keluar. Aku akan menunjukkan padamu, kalau tidak ada bedanya saat kau bisa berjalan atau seperti saat ini" kata Dio memegang kedua pipi Karin dan berucap sangat lembut.
Karin kembali terdiam saat melihat mata Dio yang menatapnya sendu dan penuh haru, suaminya ini memang selalu bisa membuat hatinya menghangat.
"Sekarang kita akan keluar, tersenyumlah. Kau sangat cantik jika tersenyum" kata Dio sedikit merayu istrinya.
Karin mengangguk dan memberikan senyum manisnya pada Dio. Mulai sekarang ia harus bersemangat sembuh dan tak perlu bersedih atas keadaanya. Lagipula ia tak pernah kehilangan apapun, tapi karena hal ini, ia menemukan arti cinta yang sesungguhnya dari suaminya.
Happy Reading.
Tbc.