MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Malam Tahun Baru.



Malam Tahun baru menjadi waktu yang sering di nantikan setiap orang. Biasanya orang akan menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga atau teman. Tahun baru juga sangat identik dengan kembang api.


Di Vila tempat Karin menginap juga mengadakan acara menyambut tahun baru. Para wisatawan juga tampak ikut berkumpul di halaman tengah Vila yang cukup luas. Semua orang bebas melakukan apa saja, barbeque, pesta kembang api, wine dan semacamnya juga sudah di sediakan oleh pihak Vila ini.


Karin tampak sudah siap menggunakan Night gaun hitam yang membalut tubuh rampingnya.


"Udah siap?" tanya Nathan terlihat memasuki kamar Karin.


"Bisakah kau mengetuk pintu dulu?" kata Karin tak suka dengan sikap Nathan ini.


"Ya maaf, Ayo berangkat" kata Nathan menatap keseluruhan penampilan Karin yang malam ini begitu cantik dan seksi sekali pikirnya.


"Ya"


Karin berjalan terlebih dulu tapi Nathan dengan sigap menangkap tangannya. Karin hanya melirik malas, sudah biasa seperti itu pikirnya. Saat mereka keluar kamar, ternyata bersamaan dengan Cindy.


"Hai, Cindy... Mana Dio?" tanya Nathan saat melihat Cindy sendirian.


"Dio sakit, jadi tidak bisa ikut" kata Cindy melirik Karin tak suka.


Karin terdiam saat mendengar Dio sakit, Apa karena tadi Dio tidak memakai jaket dan kedinginan makanya sekarang pria itu sakit.


"Oh, Tapi sudah minum obat kan?" tanya Nathan sedikit perhatian dengan sepupunya.


"Sudah, Sekarang dia lagi tidur" kata Cindy sekenanya.


"Baiklah, Kau mau ikut ke pesta juga? Bareng aja" kata Nathan sedikit tersenyum.


"Iya, Aku juga nggak ada temen" kata Cindy membalas senyuman Nathan.


Karin sedikit mengerutkan dahinya saat melihat Cindy yang dengan santai pergi ke pesta, padahal sudah tau kalau kekasihnya sakit, kenapa tidak menjaganya? Bagaimana kalau Dio membutuhkan sesuatu atau apa.


Memikirkan itu, membuat Karin gusar sendiri. Ia juga tak mungkin melihat keadaan Dio sekarang.


"Mikirin apa?" tanya Nathan membuat Karin sedikit kaget.


"Oh tidak, Disini rame juga ya" kata Karin mengulas senyumnya.


"Iya, Nggak rugi kita ikut disini" kata Nathan ikut melihat suasana yang begitu ramai.


Lagi-lagi Karin tak menyahut. Ia memilih diam saja diantara ramainya orang yang begitu antusias menyambut tahun baru. Dia berada disana, tapi pikirannya melayang entah kemana.


Dor....Dor...Dor....


Suara kembang api yang diletuskan membuat Karin sedikit kaget. Ia lalu melihat jam tangannya yang memperlihatkan pukul 12 malam tepat. Kenapa ia tidak sadar.


"Karin! Sini.." kata Nathan tiba-tiba menarik tangannya membuat ia sedikit kaget. Tapi ia tak menolak saat di ajak berkumpul bersama yang lainnya.


"Minum Rin" Kata Cindy mendekati Karin dengan membawa wine di tangannya.


"Aku nggak biasa minum alkohol" kata Karin menolak saat Cindy memberikannya minuman.


"Alah cuma dikit aja Rin, Nggak bakalan mabuk juga" kata Cindy sedikit merayu.


"Sorry, Aku beneran nggak bisa" kata Karin lagi.


"Nggak seru banget sih" kata Cindy sedikit kesal karena gagal membujuk Karin.


"Kalau nggak mau yasudah Cin, Aku pesenin orange jus aja ya" kata Nathan ikut menimpali karena melihat Cindy yang tidak bisa membujuk Karin.


"Baiklah" kara Karin malas sebenarnya tapi tak enak juga kalau terus menolak.


Nathan tersenyum dan memanggil pelayan untuk memberikan pesanan Karin. Hanya butuh waktu beberapa menit orange Jus Karin datang.


"Iya makasih" kata Karin langsung saja meminum jus itu, tapi ia sedikit merasa aneh dengan rasanya.


"Kenapa?" tanya Nathan saat melihat ekspresi wajah Karin.


"Oh tidak.." kata Karin tersenyum tipis.


"Eh.... Kita cherss dulu dong buat Tahun Baru" kata Cindy.


Nathan, Karin dan yang lainnya mengikuti saja apa yang di inginkan Cindy." Selamat Tahun Baru....Chersssssss" ucap mereka semua kompak.


Malam semakin larut namun masih sangat ramai, Karin sudah menghabiskan satu gelas minumannya tapi ia malah merasa kehausan dan kepanasan. Padahal udara disana sangat dingin.


"Karin..." Karin langsung mengangkat wajahnya saat mendengar suara Nathan.


"Kau kenapa?" Tubuh Karin langsung bergetar saat Nathan menyentuh kedua lengannya. Ada apa ini? pikir Karin.


"Kau sakit?" Nathan kini menyentuh pipi Karin membuat jantung Karin berdetak tak karuan.


"Aku...Haus..." kata Karin menepis pelan tangan Nathan.


"Mau minum?" Nathan memberikannya satu gelas wine yang langsung di sambar begitu saja oleh Karin.


Karin langsung menegak habis minuman itu, tapi ia masih kepanasan. Kini malah kepalanya bertambah pusing sekali hingga pandangannya kabur.


"Karin, Apa kau baik-baik saja?" Nathan kembali mendekati Karin yang mulai mabuk sepertinya.


"Pergi....Aku mau ke kamar" kata Karin kembali menepis tangan Nathan.


Dengan sempoyongan, Ia berjalan untuk kembali ke kamar. Karin merasa sangat aneh dengan tubuhnya. Ini pasti ada yang tidak beres, Dia hanya minum orange jus, tapi kenapa bisa seperti ini. Belum lagi satu gelas wine yang di minumnya sepertinya mulai mengeluarkan efeknya karena ia benar-benar tak tahan dengan alkohol, meskipun sedikit ia bisa langsung mabuk.


"Karin...Tunggu" Nathan kembali mengikuti Karin dan sedikit menarik lengan wanita itu agar berhenti.


"Lepas..." kata Karin merasa tak bisa menahan dirinya lagi. Tubuhnya tiba-tiba merasa haus akan sentuhan.


Nathan tak mengatakan apapun, ia langsung menarik tubuh Karin dalam pelukannya. Karin memejamkan matanya saat Nathan memberikan ciuman di pundaknya yang terbuka. Tapi Karin masih sadar kalau ini salah, ia mendorong tubuh pria itu hingga pelukannya terlepas.


"Brengsek!" maki Karin tau kalau Nathan yang pasti mencampurkan sesuatu ke minumannya.


"Karin, Kenapa kau seperti ini? Aku akan membantumu" kata Nathan masih dengan suara lembutnya, ia kini kembali menarik Karin dalam rengkuhannya. Tanpa mengucapkan apapun, Nathan langsung mencium bibir Karin yang selama ini hanya bisa di bayangannya saja.


"Lepas...." Karin dengan cepat memalingkan wajahnya. Ia berusaha keras melawan rasa aneh dalam tubuhnya.


Nathan sedikit kesal, ia ingin memaksa Karin tapi tiba-tiba dari arah belakang seseorang memukul lehernya membuat ia langsung pingsan. Karin mencoba membuka matanya yang terasa berat dan melihat sosok Dio yang dengan wajah dinginnya.


"Dio..." ucap Karin lirih, bibirnya bahkan bergetar karena menahan dirinya.


Dio tak mengatakan apapun, ia langsung menggendong tubuh Karin dan mengajaknya pergi. Wajahnya masih begitu emosi karena ia baru saja di beritahu Angga apa yang sudah terjadi. Untung saja ia belum terlambat untuk membantu Karin.


"Dio.....Panas....gerah..." kata Karin benar-benar kepanasan sekali.


"Sialan!" maki Dio sepertinya tau obat apa yang di berikan Nathan kepada Karin.


Dengan tergesa, ia langsung membawa Karin ke kamar mandi dan mengguyur tubuh wanita itu berharap untuk mengurai efek obat itu. Tapi sepetinya dosis yang di berikan cukup banyak karena Karin masih merasa gerah setelah cukup lama berada di bawah guyuran shower.


Karin sudah tak memikirkan apapun lagi, ia segera membuka pakaiannya tapi Dio langsung mencegahnya.


"Karin, Jangan lakukan itu" kata Dio yang sudah ikut basah kuyup bersama Karin.


Happy Reading.


Tbc.