
Sedangkan disisi lain, Axel meraba sampingnya dan tak menemukan istrinya. Dengan mata menyipit karena temaramnya lampu kamar, ia melihat Bella yang baru keluar dari kamar mandi.
"Sayang..Ngapain?" ucapnya dengan suara parau.
"Pipis" sahut Bella singkat, lalu mendudukkan tubuhnya di ranjang, mengecek ponselnya untuk melihat jam, ia tentu harus hadir lebih awal di acara resepsi pernikahan sahabatnya.
"Masih pagi, tidur lagi sini" ajak Axel menarik lembut tangan istrinya.
"Apanya yang masih pagi, udah jam setengah tujuh By" sahut Bella setengah menggerutu tapi tak menolak saat Axel kembali memeluk tubuhnya.
"Dingin banget..." kata Axel mencium rambut istrinya yang menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya. "Sekali lagi aja..." bisik Axe menyusuri punggung istrinya untuk mencari pengait bra dan melepaskannya.
"Jangan lama-lama, nanti anak-anak keburu bangun, di luar juga udah terang" kata Bella membantu suaminya untuk meloloskan penghalang di antara mereka.
"Mancing aku bakalan cepet, bantuin sayang" bisik Axel menuntun tangan istrinya untuk berada di atasnya.
Bella tak banyak berkata, ia menuruti saja apa yang di inginkan suaminya. Ia menggerakkan tubuhnya dengan tangan di dada suaminya, ia juga memberikan kesempatan untuk Axel menikmati aktivitas favoritnya.
"By....Kamu aja, aku lemes" bisik Bella tak kuat jika menyambung untuk menjadi leader permainan.
"Curang ya, padahal harusnya aku yang di utamaain pagi ini" bisik Axel menyeringai saat melihat istrinya sudah telentang di sampingnya.
Wajah Bella memerah karena ucapan suaminya, tapi sedetik kemudian ia sudah memejamkan matanya menikmati sapuan manis di bibirnya. Ia pun mengulurkan tangannya untuk memeluk tubuh penuh peluh suaminya.
Axel pun kian tak terkendali dan mempercepat gerakannya. Sebentar lagi, ia rasanya ingin meledak, Tapi.....
"Mama!" suara Rendra terdengar dari luar pintu.
Tok Tok Tok Tok
"Papa!!!" kali ini suara Eril terdengar setelah ketukan pintu itu. Kekuatan kedua putranya itu tak diragukan lagi, sangat keras hingga membuat orang tuanya kaget.
"Aduh!" pekik Axel kalang kabut karena mendengar suara anaknya.
"Udah, Konsentrasi By" kata Bella segera meraih tangan suaminya dan menyentuhkan di dadanya.
Suara ketukan pintu itu semakin ramai dan Bella merasa harus segera menuntaskan keinginan suaminya kalau tidak ingin nanti malam terjaga karena ulah jahil suaminya.
"Sebentar lagi...." bisik Axel diantara nafas terengah dan mengatupkan mulutnya untuk menyamarkan geraman.
Beberapa saat kemudian, mulutnya sudah berdiam diri puncak dada istrinya seiring ledakan dalam dirinya.
"Udah kan?" kata Bella.
"Mama!!!" pekikan Eril kembali terdengar dari luar.
"Iya..Iya, sebentar lagi Mama buka pintunya" sahut Bella buru-buru bangkit dan menyingkirkan tubuh Axel yang masih menikmati sisa-sisa pelepasannya.
"Hubby buruan ke kamar mandi, cuci muka dulu" kata Bella terpincang-pincang mengenakan pakaiannya.
"Hah?" Axel tersentak kaget sesaat. "Aku mandi duluan..." kata Axel segera menyelamatkan diri.
"Tunggu, nggak usah mandi dulu By, kamu bantuin aku nyiapin anak-anak" kata Bella memutar handle pintu dan mendapati dua wajah kesal kedua putranya.
"Wah, gantengnya Mama udah bangun, kenapa pada cemberut begini" kata Bella menyapa kedua anaknya. Ia sempat melihat suaminya itu sudah berlari kedalam kamar mandi dengan membawa selembar handuk.
"Padahal disuruh jangan mandi dulu" sungut Bella berdecak sebal.
Rencana akan berangkat ke resepsi Karin adalah pukul delapan, tapi semuanya molor karena jam setengah sembilan ia masih sibuk mengancingkan kemeja Eril yang tidak bisa diam dari tadi.
Tapi diam-diam, Bella kembali terpesona dengan suaminya itu, padahal umur Axel sudah kepala tiga, tapi tak mengurangi ketampanan pria itu sama sekali. Malah menurut Bella, suaminya itu semakin tampan setiap harinya.
"Pakai nanya! Ya ngurus yang dua ini dulu" sungut Bella.
"Sini Eril sama Papa aja. Kakak udah siap kan?" kata Axel tersenyum tipis saat mendapati kekesalan isterinya.
"Udah Pa" sahut Rendra duduk tenang di kasurnya seraya merakit mainan.
"Dari tadi kek" kata Bella menyerahkan tugasnya pada sang suami.
"Yaudah, kamu mandi, tapi jangan dandan terlalu cantik" kata Axel mengedipkan matanya.
"Memangnya kapan aku nggak cantik?" kata Bella dengan sombongnya membuat Axel tertawa.
Pukul sembilan lebih lima belas menit, Bella terlihat turun dari kamarnya. Ia sudah sangat rapi dan cantik tentunya. Ia kemudian menatap suami dan kedua anaknya yang sudah memasang wajah bete.
"Ayo, sudah siap semua kan?" kata Bella mengecek ponselnya untuk melihat pesan yang di kirimkan Tiara. Sahabatnya itu mengirimkan spam chat yang mengomelinya karena belum datang.
"Ya" sahut Axel segera bangkit dan menyongsong keluarga kecilnya untuk berangkat.
"By, kayaknya aku ngelupain sesuatu deh" kata Bella tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mereka sampai di ambang pintu.
"Ngelupain apa?" tanya Axel.
Bella tersenyum tipis sebelum tiba-tiba mencium bibir suaminya. "Makasih Papa.." kata Bella sebelum melesat mendahului suaminya untuk masuk ke mobil.
Axel mematung sesaat karena tingkah tak terduga istrinya, tapi ia kemudian tertawa kecil seraya menggelengkan kepalanya.
"Selalu luar biasa..."
******
Jajaran papan bunga terlihat sudah memenuhi pelataran Hotel tempat acara resepsi pernikahan Dio dan Karin. Para tamu undangan disana pun sangat eksklusif mengingat bagaimana besarnya kedua keluarga yang bersatu ini.
Ballroom yang sangat luas itu sudah di hias dengan nuansa putih membuat kesan suci dan sakral.
Karin masih berada di dalam kamar dengan kedua sahabatnya yang memegang keranjang berisi bunga konfeti untuk ditaburkan saat memasuki lorong.
"Nggak nyangka banget Karin bakal nikah secepat ini. Inget nggak dulu waktu kita bikin perjanjian, kalau dari kita nggak boleh nikah sebelum kita bertiga juga menikah. Tapi sekarang, kalian berdua malah ninggalin aku sendirian" celetuk Tiara sedikit sebal karena dia belum menikah sendiri.
"Makanya jangan galak-galak kalau sama cowok, biar kamu cepet dapet pacar" sahut Bella pagi itu sudah melimpahkan tugas menjaga anaknya pada sang suami.
"Sabar Ra, nanti pasti akan ketemu kalau udah jodoh" kata Karin yang sudah siap dengan gaun pengantinnya yang sangat cantik. Wajahnya pun tak di ragukan lagi, Semua orang pasti tak ada yang akan bilang kalau Karin tidak cantik.
Kecantikan Karin itu bukan cantik yang cantik banget, tapi lebih ke manis dan enak di pandang. Apalagi jika tersenyum, akan susah untuk di lupakan.
"Udah siap semuanya kan?" ucap Elmira tampak mendatangi kamar putrinya bersama suaminya.
Karin mengangguk singkat, ia kemudian menatap Papanya yang kini mengulurkan tangan padanya. Karin tersenyum sedikit sebelum menyambut uluran tangan itu lalu melingkarkan tangannya di lengan sang Papa.
Raimond menatap putrinya sejenak lalu memberikan kecupan di kepalanya membuat mata Karin langsung berkaca-kaca.
"Let's start again"
Happy Reading.
Tbc.