
Masih di pusat perbelanjaan, Bella dan kedua sahabatnya masih asyik dengan kegiatanya. Yaitu keluar dari outlet satu ke outlet yang lainya. Rasanya mereka tak kenal lelah untuk mengahabur-haburkan uangnya. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Yang menandakan mereka sudah 2 jam lebih Disana.
"Hah, capek banget nih gue, kira-kira masih ada barang lain lagi yang kalian butuhi nggak" Bella menghentikan langkahnya sejenak, merasa pegal karena sedari tadi asyik berkeliling.
"Kayaknya udah enggak deh, Lo gimana Rin?" Tiara merasa barang belanjaannya sudah cukup bertanya pada Karin.
"Sama, gue udah semua" sahut Karin seadanya. "Gimana mau langsung pulang aja nih kita?" sambung Karin lagi.
"Jangan dulu dong, kita ngadem dulu kek, gue kemaren lihat ada minum baru yang lagi viral, kita coba yuk" Ajak Bella merasa belum rela berpisah dengan keduanya.
"Oh ya dimana tuh? boleh-boleh aja"
Tiara dan Karin mengiyakan saja ajakan Bella, toh mereka juga cukup haus. Bella menunjukan mereka sebuah caffe minimalis yang ternyata masih ada di gedung yang sama itu. Sepanjang jalan mereka asyik bercerita dan bercanda hingga ada sesuatu yang menarik perhatian mereka.
"Eh, Itu kan Dio" seru Karin yang pertama kali melihat cowok dengan setelan kaos berwarna putih dan celana panjang cream.
Seruan itu sontak membuat Bella dan Tiara melihat apa yang di maksud Karin. Mata Bella membesar melihat mantan kekasihnya itu ternyata juga ada Disana. Yang membuat mereka kaget adalah, ternyata Dio tak sendiri. Dia sedang jalan bersama seorang wanita yang sama dengan wanita yang kemarin Bella lihat di apartemennya.
Dari jaraknya berdiri saat ini, Bella bisa melihat dengan jelas saat Dio menggandeng mesra tangan wanita itu. Dari caranya saja Bella tau kalau mereka mempunyai hubungan spesial. Bella mengepalkan tangannya erat menahan sesak di hatinya. Bagaimana bisa seorang pria yang baru saja kemarin mengatakan masih mencintainya itu kini malah berjalan dengan orang lain?.
"Dasar cowok brengsek" umpatannya kesal. "Gue harus samperin mereka" Bella berniat melabrak kedua manusia tak tau malu itu.
"Eh Lo mau kemana?" Tiara mencoba menahan Bella yang sedang di kuasai emosinya itu.
"Lepas, Gue mau memberi pelajaran sama mereka karena udah berani bikin gue sakit hati" Tatapan mata Bella terlihat sangat tajam membuat Tiara dan Karin sedikit bergidik.
"Iya gue tau maksud Lo, tapi nggak gini caranya" sahut Karin merasa kurang senang dengan cara Bella.
"Udah kalian tenang aja, gue tau kok apa yang harus gue lakuin" Bella menatap kedua sahabatnya dengan senyum misterius.
****
Sebuah bangunan Ruko dengan ukuran yang tak terlalu luas menjadi tujuan Axel hari ini. Dia memutuskan untuk mengecek beberapa pekerjaan yang cukup lama ia tinggalkan. Ya memang seminggu sekali Axel datang kesana, karena di hari biasa Axel akan bekerja menjadi CEO di perusahaannya.
Di ruko itu Axel membangun sebuah perusahaan kecil miliknya. Uang sekolah dan bonus jika dia mendapatkan juara di tabungannya untuk modal Axel membuka usaha. Awalnya hanya sebuah usaha restoran kecil namun dengan kegigihannya kini dia sudah bisa membuka 3 cabang di wilayah yang berbeda. Dan ruko ini Axel jadikan sebagai kantor nya. Staffnya belum banyak, mungkin hanya berjumlah tiga orang saja. Tapi Axel sudah cukup senang dengan hasil usahanya.
Ayah Axel tak tau jika dirinya membangun usaha ini, karena Axel yakin jika ayahnya tau, ia pasti akan melarangnya. Axel langsung disambut hangat oleh seorang di bagian resepsionis begitu ia datang.
"Selamat pagi menjelang siang Tuan Axel" Sapa Hana dengan senyum manisnya.
"Pagi Hana, bagaimana kabar kamu" Axel memang cukup ramah dengan pegawai kantornya, karena ia tau mana wanita yang baik dengan wanita yang suka menggodanya.
"Baik, Tuan sendiri bagaimana? Kok tumben hari ini dateng bareng sama bapak" ucapan Hana membuat Axel mengerutkan dahinya.
"Bapak siapa yang kamu maksud?"
"Ya bapaknya Tuan Axel dong, itu orangnya ada di dalem ruangan " kata Hana lagi.
Mendengar perkataan Hana, Axel bergegas ke ruangannya yang di lantai dua. Hatinya sedikit was-was jika apa yang dipikirkannya benar. Dan ternyata yang dikatakan Hana benar, ayahnya sudah duduk menunggu di kursi kerjanya. Ayahnya terlihat duduk santai seraya membaca sebuah buku.
"Ayah" panggil Axel membuat Indra jaya mengangakat pandangannya.
"Axel, akhirnya kamu datang juga, ayah sudah hampir pulang lagi karena lama menunggu kamu" nada bicara ayahnya Terdengar santai namun membuat Axel di Liputi kekhwatiran.
Ya tentu dia khawatir karena bisnis yang selama ini ia pikir ayahnya tau itu ternyata salah. Dan dengan kedatangan pria itu kemari membuat kekhawatiran Axel meningkat.
"Ada apa ayah kesini?" tanya Axel tanpa basa basi.
Indra jaya hanya tersenyum, dia berjalan mengelilingi ruangan anaknya yang terasa cukup nyaman. "Tidak ada, ayah hanya ingin melihat hasil kerja kerasmu membohongi ayah selama ini"
"Apa sudah cukup basa basinya, Katakan saja apa yang ayah ingkinkan" sentak Axel merasa tak sabar.
"Santai anak muda, kenapa kamu terlihat panik" Kata Indra jaya lagi, kali ini menatap wajah putranya dengan seksama.
"Axel tau apa yang ayah pikirkan, jadi jangan coba-coba melakukannya ayah" Axel memang tipe orang yang tak suka ber tele-tele.
"Kamu cukup bagus untuk bisa menebak pikiran ayah, tapi itu tergantung kamu sendiri yang menentukan nak"
Axel mengepalkan tangannya erat, dia melirik ayahnya dengan tatapan benci. Kenapa tak bisa membiarkannya hidup tenang. "Cih, jadi ayah mengancamku" kata Axel merasa tak takut, sudah cukup selama ini dia mengalah.
"Hem, bisa di bilang begitu, kamu seharusnya tau bagaimana konsekuensinya jika kamu tak mau menuruti perkataan ayah" dengan santainya Indra jaya berkata tanpa memikirkan perasaan Axel sedikitpun.
Indrajaya berjalan mendekat ke arah putranya yang tampak menatap tajam padanya, tatapan mata yang persis seperti dirinya. "Kau pastinya tak mau kan jika usaha yang kau bangun susah payah ini akan hancur begitu saja, dan ya bagaimana jika ibumu tau kalau putra kesayangannya itu setiap malam selalu berganti wanita seperti berganti dasi?" Indrajaya tau apa yang bisa membuat anaknya itu luluh.
****
TBC