
H-2 Resepsi pernikahan, Bella semakin sibuk. Ia yang awalnya mau tak mau melakukan acara resepsi, malah berubah antusias saat diajak mertuanya memilih berbagai hal. Dari mulai dekorasi, gaun, catering, undangan, Semuanya ia turut andil. Bella benar-benar menciptakan pernikahan impiannya sendiri.
Axel masih sibuk dengan pekerjaannya, Padahal Bella sudah mewanti-wanti untuk mengambil cuti, Tapi Axel selalu saja menemukan seribu satu alasan untuk membantah. Sepertinya bekerja memang sudah menjadi hobi baru Axel, selain bercinta tentunya. Tapi sudah dua malam ini mereka tak melakukannya, Karena Bella tidur di rumah orang tuanya.
Tentu saja ibu mertuanya yang menyuruh mereka untuk tidur terpisah sementara waktu. Katanya sih dipingit sebelum menikah, Meskipun sedikit aneh, Bella menurut saja, Padahal mereka kan sudah menikah hampir enam bulan yang lalu.
"Apa ini tidak berlebihan? Kita kan sudah menikah, kenapa harus tinggal terpisah" protes Axel langsung menolak ide itu mentah-mentah.
"Apanya yang berlebihan. Itu memang udah tradisinya. Lagian kan cuma dua hari aja. Lusa kalian udah ketemu" kata Tamara menatap jengkel pada putranya.
"Kalau kamu nggak mau, biar ibu undur sekalian jadi bulan depan acaranya. Biar kamu lebih lama ketemunya, Mau?" Tamara harus sedikit mengancam agar Axel mau menurutinya. Ia tak perduli anaknya yang begitu kesal karena keputusannya.
H-1 pernikahan, Bella sudah berada di hotel tempat acara akan di gelar. Malam harinya ia sudah berkumpul bersama teman-teman dan para sepupunya untuk mengadakan pesta lajang. Yah. Itu semua ide dari Tiara, Dia bilang kalau sudah menikah mereka pasti jarang ngumpul. Apalagi sekarang ini, Sudah waktunya pendaftaran mahasiswa di kampus. Membuat jadwal mereka semakin padat.
Saat teman-temannya membicarakan tentang kelulusan, pendaftaran kampus dan keseruan merayakan kelulusan. Bella merasa hatinya sedikit tak enak. Meskipun sudah ikhlas menerima jalan takdirnya, tapi tetap saja keinginan seperti teman-temannya itu ada. Tapi ia menekan dalam-dalam keinginan itu. Ini sudah menjadi pilihannya.
"Karin nggak ikut?" tanya Bella saat melihat Tiara datang sendirian.
"Tau deh, katanya sih nyusul" sahut Tiara menghempaskan tubuhnya di samping Bella.
"Dia masih marah sama gue?" Sorot mata Bella berubah suram mengingat jika ia sudah membuat sahabatnya patah hati.
"Enggak. Lo jangan mikir gitu. Karin udah terima hubungan lo dan kak Axel. Cuma butuh waktu aja" kata Tiara menenangkan saat melihat wajah Bella berubah sendu.
"Dia pasti kecewa sama gue"
"Yah mau gimana lagi" Tiara mengangkat bahunya acuh. "By the way, Gue penasaran, gimana lo bisa kenal kak Axel?" tanya Tiara kali ini menatap lurus pada Bella.
"Nggak sengaja. Lo ingat waktu gue nggak pulang setelah putus sama Dio?" kata Bella sebenarnya cukup malu menceritakan pertemuan pertamanya dengan Axel.
"Ingat, Terus? Lo ketemu dimana?" cerca Tiara benar-benar penasaran. Ia sudah pernah menanyakan hal ini pada kakaknya. Tapi ternyata Kakaknya sama nggak taunya.
"Ketemu di club'" sahut Bella singkat saja.
"Ketemu di club terus lo saling jatuh cinta gitu?" kata Tiara merasa aneh.
"Ya enggak. Waktu itu gue mabuk dan yah gitu deh. Gue nggak perlu jelasin kan" kata Bella lagi.
"Terus kalian bercinta dan lo hamil gitu?" kata Tiara ingin memperjelas.
"Astaga Tiara! Mulut lo" seru Bella melirik kesal sahabatnya karena berucap terlalu frontal.
"Ehm, gimana ya? Untuk kasus gue agak aneh sih. Menurut gue, Axel itu orang yang paling gue benci di muka bumi ini. Bagi gue, dia itu orang yang udah menghancurkan hidup gue. Tapi waktu gue mau gugurin anak gue, Dia malah ngelarang gue. Gue sebelumnya berpikir kalau mungkin aja Axel nggak pernah menginginkan anak itu, tapi ternyata gue salah. Axel nggak pernah nyerah untuk ngeyakinin gue untuk melahirkan anak itu. Saat itu, gue mulai sadar kalau ternyata Axel nggak seburuk yang gue kira" kata Bella mengingat kilas balik bagaimana ia yang waktu itu begitu marah pada Axel. Bagaimana ia selalu memaki dan selalu berbicara membentak pada pria itu. Memikirkan hal itu Bella jadi geli sendiri, ternyata dia galak sekali dulu.
"Lo juga udah nerima gitu aja tentang masa lalunya gitu?" tanya Tiara yang tau bagaimana kisah mereka berdua. Bagaimanapun juga, Axel mempunyai masa lalu yang cukup tak menyenangkan untuk di bicarakan.
"Ya mungkin itu cukup sulit. Tapi entah kenapa dengan sisi buruknya itu, gue semakin jatuh cinta sama dia. Gue marah, tapi saat bangun tidur dan lihat wajahnya di samping gue, gue lupa akan kemarahan itu. Karena yang gue ingat, bagaimana saat gue nggak bersamanya, gue ingat perjuangan kita yang ingin bersama. Jadi menurutku mencintai Axel itu seperti kita makan sesuatu yang asam tapi entah kenapa kita malah semakin menyukainya dan ketagihan " jelas Bella tersenyum manis membayangkan wajah suaminya. Ah! Rasanya dia rindu sekali dengan suaminya itu.
Tiara ikut tersenyum mendengarkan apa yang Bella ucapkan. "Lo bener-bener udah berubah sekarang" ujar Tiara yang hafal betul bagaimana sifat sahabatnya ini. Nggak sabaran, rese, dan keras kepala, pokoknya Bella adalah sahabatnya yang paling menyebalkan.
"Lo pikir gue power ranger" kata Bella mencibir ucapan sahabatnya.
"Gue serius? Lo dikasih apa sama Kak Axel bisa jadi kayak gini?" kata Tiara.
"Dikasih cinta dan dipupuk dengan kasih sayang" kata Bella tertawa kecil.
****
Acara pesta lajang baru saja selesai setelah pukul 12 malam lebih. Semua temannya sudah kembali ke kamar masing masing begitu pun Bella dan Tiara. Malam itu Tiara akan menginap karena besok pagi-pagi ia juga akan di rias sebagai pager ayu di acara resepsi. Kamar Bella cukup jauh dari kamar yang dipakai untuk acara tadi. Bella harus melewati lorong yang cukup panjang agar sampai di kamarnya.
"Bel, Gue ke toilet dulu ya. Gue kebelet banget nih" ujar Tiara tiba-tiba berhenti.
"Nanti dikamar aja. Ini udah deket kok" kata Bella.
"Gue udah nggak tahan nih. Tadi ada toilet di samping lift, gue kesana aja" kata Tiara langsung melesat begitu saja. "Lo tungguin gue, Gue cuma sebentar" teriaknya lagi.
"Iya" sahut Bella sedikit tertawa melihat Tiara. Bella memutusakan untuk menunggu Tiara di samping lorong yang cukup dekat dengan Tiara, untuk bisa melihat sewaktu-waktu tiara keluar.
Tapi tiba-tiba tangannya ditarik masuk kedalam sebuah ruangan. Bella sangat kaget dan hampir berteriak, namun mulutnya langsung dibungkam. Bella mencoba berontak dengan sekuat tenaga, apalagi ruangan itu tampak sangat gelap membuatnya tak bisa melihat apapun. Kekuatan orang bertangan kekar itu sangat kuat membuat perlawanan Bella tak ada efeknya.
Happy Reading
TBC.
****
Hai guys, Author di titipin undangan nih sama babang Axel. Katanya sih disuruh kasih sama Readers setianya BMBM .. Jangan lupa pada dateng ya ... wkwkwkwk