
Karin sudah di pindahkan di sebuah kamar, perdarahannya belum berhenti membuat ia semakin lemas. Belum lagi punggungnya yang semakin nyeri saat ia di baringkan. Karin awalnya masih bisa menahan, tapi karena cukup lama di biarkan begitu saja, kesadarannya langsung hilang.
"Apakah dokternya masih lama?" tanya Ibu Nathan merasa tak sabar karena Karin sudah pingsan dengan darah yang terus mengalir.
Cindy hanya mengangkat bahu acuh, ia malah duduk santai di sofa seraya memainkan ponselnya.
"Dokternya sudah datang Nyonya" Ucap penjaga yang baru saja masuk, ia membawa seorang dokter wanita yang baru di panggilnya dari klinik terdekat.
"Baiklah, Sekarang tugasmu mengobati dia. Sepertinya dia mengalami pendarahan" jelas Ibu Nathan langsung.
Dokter itu mengangguk lalu mendekati Karin yang masih tak sadarkan diri, tapi ia kaget saat melihat luka-luka di punggung Karin yang seperti luka pada zaman penjajahan.
"Keadaannya gawat, Kita harus membawanya ke rumah sakit untuk menghentikan pendarahannya karena jika di teruskan seperti ini sangat berbahaya bagi pasien" jelas Dokter itu terlihat panik setelah memeriksa keadaan Karin. Bahkan saat ia meraba nadinya tadi terasa cukup lemah.
Ibu Nathan dan Cindy tampak saling pandang mendengar penjelasan dokter itu, Kalau membawa Karin keluar dari sini jelas tak mungkin karena mereka tidak ingin ambil resiko. Saat mereka berpikir untuk mencari jalan keluar tiba-tiba terdengar sesuatu yang sangat keras membuat mereka kaget. Belum selesai kekagetannya tiba-tiba Ayah Nathan masuk kedalam ruangan itu dengan terburu-buru.
"Ada apa ini?" tanya Ibu Nathan was-was saat melihat raut wajah suaminya yang terlihat panik.
"Tempat kita diserang, anak itu membawa banyak sekali anggota polisi khusus. Kita harus secepatnya pergi" kata Ayah Nathan panik sekali karena dia baru saja melihat beberapa anak buahnya sudah di lumpuhkan.
"Ha? Bagaimana bisa dia tau tempat ini?" kata Ibu Nathan tak kalah paniknya.
"Tidak tau, Ayo pergi sekarang, jangan sampai kita tertangkap" kata Ayah Nathan lagi.
Ibu Nathan mengangguk ia segera mengambil tasnya lalu menatap Cindy yang masih bergeming di tempatnya. "Cindy! Ayo kita keluar, apa kau ingin disini saja" ucap Ibu Nathan.
"Bagaimana dengan Karin? Kita harus membawanya juga" sahut Cindy merasa tak rela jika harus menyerah begitu saja.
"Bodoh! Untuk apa membawanya, biarkan saja dia disini, yang paling penting adalah keselamatan kita, apa kau ingin tertangkap dan masuk penjara" kata Ibu Nathan sedikit kesal dengan tingkah Cindy.
"Tidak bisa, Aku harus memastikan dia mati baru aku akan pergi" kata Cindy menatap Karin yang masih pingsan itu dengan sorot mata kebencian. Ia benar-benar belum puas jika wanita itu belum mati. Jika dia tak bisa bersatu dengan Nathan, maka Karin pun tak boleh bersatu dengan Dio.
"Sudah jangan urusi dia, Dia memang wanita gila" kata Ayah Nathan langsung menarik tangan istrinya dengan cepat lalu mengajaknya pergi meninggalkan ruangan itu.
Cindy hanya melirik sinis kepergian mereka, Ia lalu mendatangi Karin yang masih tak sadarkan diri. Sorot matanya berubah menjadi sangat kejam, ia segera mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi disimpannya di dalam saku baju. Sebuah suntikan yang berbentuk kecil.
"Karin, Aku tau kau sekarang sangat tersiksa bukan karena lukamu? Karena aku sangat berbaik hati padamu, aku akan membantumu keluar dari siksaan ini. Bersiaplah ke alam baka Karin" kata Cindy tersenyum manis lalu berubah tertawa seperti orang gila, ia ingin langsung menancapkan suntikan itu tapi tangannya di cekal oleh Dokter yang sejak tadi berada disana.
"Apa yang akan anda berikan? Ini tidak benar Nona" kata Dokter itu, Jiwa kedokterannya muncul dan ia merasa harus menolong wanita yang tak berdaya ini dari jeratan iblis yang berbentuk manusia ini.
"Lepaskan tanganmu! Kau cari mati denganku ya" bentak Cindy mendorong tubuh Dokter itu dengan keras.
******
Dio masuk kedalam rumah penyekapan itu bersama enam orang polisi. Tangannya sudah menggenggam pis tol yang sejak tadi disembunyikannya. Mereka berjalan mengendap-endap agar tak menimbulkan suara. Tapi saat mereka akan berbelok, ada dua orang yang muncul yaitu kedua orang tua Nathan yang kaget bukan kepalang saat melihat Dio disana.
"Jangan bergerak!" ucap salah polisi langsung mengacungkan senjatanya.
Kedua orang tua Nathan reflek langsung mengangkat tangannya, mereka tidak menyangka kalau rumah bagian belakang juga sudah di kepung. Dua orang polisi langsung meringkus kedua orang tua itu.
"Dimana istriku?" ucap Dio menatap paman dan Bibinya dengan sangat tajam. Wajahnya tampak begitu emosi dan sangat dingin.
"Aku tak akan memberitahumu" sahut Ayah Nathan menatap Dio tak kalah tajamnya. Ia juga sudah sangat membenci pria ini.
Dio yang mendengar itu langsung tersulut emosinya dan langsung melesatkan tembakan ke arah kaki Ayah Nathan, hanya tinggal beberapa centi saja tembakan itu pasti akan mengenai kakinya. Ibu Nathan langsung menjerit melihat hal itu.
"Percayalah, itu bukan tem bakan yang meleset. Jika kau mengatakan tidak tau lagi, aku pastikan peluru ini akan bersarang di kepalamu Paman" kata Dio sangat marah pada paman dan bibinya karena mereka sudah sangat kejam pada Karin.
"Di ada di atas Dio, Percayalah Kami tidak melakukan apapun pada istrimu. Cepatlah kau menyusulnya sebelum Cindy berbuat nekad" kata Ibu Nathan tak ingin sampai suaminya terluka. Ayah Nathan tampak kesal karena istrinya mengatakan dimana Karin, tapi ia juga hanya bisa diam saja.
Mendengar itu mata Dio langsung membesar, Ternyata kedua orang tua Nathan bekerja sama dengan Cindy. Tapi ia tak punya waktu untuk memikirkan hal itu, ia bergegas menuju ruangan atas untuk mencari istrinya.
Jantung Dio berdegup sangat kencang, ia sangat berharap kalau istrinya baik-baik saja. Dio menyusuri semua ruangan yang berada di lantai dua itu tapi ia belum menemukan tanda-tanda keberadaan istrinya, sampai ia tiba di sebuah ruangan yang memiliki balkon yang sangat luas dan ia melihat Cindy yang sedang bersama Karin.
"Karin!" ucap Dio kaget dan langsung mendekati mereka tapi ia seketika terhenti saat Cindy tiba-tiba menekan leher Karin dengan menggunakan lengannya.
"Jangan mendekat! Kalau kau sampai maju selangkah saja, aku pasti akan membunuhnya!" teriak Cindy terus menekan leher Karin yang sudah sadar namun keadaanya sangat lemah.
"Di..o" ucap Karin lirih. Tubuhnya sudah sangat tak sanggup tapi Cindy memaksanya untuk bangun dan menyeretnya hingga kesini.
"Jangan main-main Cindy, Aku tidak akan mengampuni jika kau melakukan itu" kata Dio merasa sakit sekali melihat Karin yang terluka seperti ini. Tapi ia juga tak ingin gegabah karena saat ini posisi mereka berdua berada di pinggir balkon, Ia bisa saja menembak Cindy tapi bagaimana jika Karin ikut tertembak karena saat ini Cindy menggunakan Karin sebagai tamengnya.
Happy Reading.
Tbc.
Tinggalkan jejak dong plis...
Like dan komen yaaa ...