MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Rencana Liburan.



Dio masih menatap punggung Karin yang sudah berjalan menjauh. Selama lima tahun ini adalah waktu yang sangat menyiksa bagi dirinya. Ia sudah mencoba melupakan wanita itu, tapi nyatanya tak semudah yang di bayangkan, Ia juga tak mengerti kenapa bisa seperti ini. Padahal waktu dulu Bella memutuskan dirinya, ia juga tak sampai se sakit ini.


Mungkin beberapa hari ia masih merasa tak terima dan sakit hati. Tapi ia bisa dengan mudah berpaling ke wanita lain sebagai pelariannya. Tapi kenapa setelah ia berhubungan dengan Karin, Dio rasanya tak berselera lagi dengan wanita manapun.


Setiap ingin menjalin hubungan dengan wanita, Dio merasa iba-tiba merasa sangat bersalah membuat Dio mengurungkan niatnya untuk berpacaran dengan wanita lain. Bukankah itu aneh? Tapi sekarang ia sadar kalau ternyata Karin sudah membelenggu hati dan jiwanya dengan rantai tak kasat mata hingga ia tak bisa berpaling dari wanita itu sampai sekarang.


"Sayang" Cindy terlihat baru saja datang langsung mencium pipi Dio sebelum duduk di sebelahnya.


"Cindy! Apa yang kau lakukan" seru Dio kaget saat Cindy melakukan hal itu, Ia menatap wanita itu dengan kesal.


"Melakukan apa?" kata Cindy bingung.


"Jangan pernah lagi menciumiku seperti itu" kata Dio dengan serius.


"Kau ini kenapa sih? Itu hanya ciuman Pipi, Kenapa tidak boleh? kita ini pacaran Dio, hal itu sudah wajar kan?" kata Cindy ikut kesal karena Dio melarang untuk menciumnya. Memangnya apa masalahnya?


"Tapi aku tidak suka" kata Dio merasa gusar sendiri.


"Apa maksudmu berbicara seperti itu? Kau sudah tidak menyukaiku?" kata Cindy menatap Dio dengan sedih.


"Bukan seperti itu, Aku hanya tidak...


"Maaf...lama" Karin tiba-tiba muncul dengan wajah yang sudah segar. Ia langsung mengambil duduk di samping Nathan.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Nathan terdengar penuh perhatian.


"Aku baik-baik saja" kata Karin mengulas senyum tipis menutupi perasaanya.


"Baiklah, Ingin langsung pulang? atau mau kemana?" tanya Nathan lagi.


"Kalian udah mau balik? Aku baru aja dateng, Nggak seru ah. Kita bahkan belum ngobrol" Cindy langsung menyela begitu saja.


"Kita udah dari tadi disini, Karin juga pasti capek baru aja pemotretan...


"Pemotretan? Karin jadi artis?" lagi-lagi Cindy langsung menyela. "Serius Rin?" Kini Cindy mengalihkan pandangannya pada Karin.


"Belum, Aku baru aja di terima kerja" kata Karin seadanya.


"Wah, selamat kalau gitu..Di terima di perusahan mana?" tanya Cindy sedikit kepo.


"Di perusahaan ku" Dio yang lebih dulu menyahut karena Karin diam saja.


"Serius di perusahaan kamu?" kata Cindy kini menatap kekasihnya penuh rasa ingin tau.


"Iya" kata Dio singkat.


"Kamu nggak cerita kalau di terima di perusahaan Dio?" kata Nathan menatap Karin.


"Kamu nggak tanya" kata Karin seadanya.


"Oh ya, Sebentar lagi kan tahun baru. Gimana kalau kita liburan bareng?" kata Cindy tiba-tiba teringat akan hal itu.


"Liburan kemana? Kayaknya seru, Aku sama Karin juga udah lama banget nggak liburan, terakhir liburan waktu kita masih di Swiss ya kalau nggak salah?" ujar Nathan melemparkan pandanganya kepada Karin lagi.


"Iya kayaknya" sahut Karin juga lupa kapan terakhir liburan.


"Enggak bisa" kata Dio langsung membuat Cindy cemberut.


"Kenapa sih? Paling liburan juga cuma dua sampai tiga hari, Susah banget ya ngeluangin waktu buat aku" kata Cindy merajuk.


"Aku sibuk, Lusa aku ada pemotretan di Lombok dan tiga hari aku disana" kata Dio datar, tak terpengaruh oleh tingkah Cindy yang merajuk itu, Dio sudah terbiasa dengan sikap Cindy yang ini.


"Ke Lombok? Kemana? Pemotretan yang sama Karin itu? Iya Rin?" cerca Cindy menatap Dio dan Karin bergantian.


"Iya, Ke Gunung Rinjani" kata Karin meskipun malas tetap menjawab untuk memuaskan keingintahuan Cindy.


"Aku ikut" kata Cindy membuat Dio sedikit kaget.


"Untuk apa? Kita mau bekerja disana..


"Aku tau, Aku juga pengen tau Gunung Rinjani itu kayak gimana" Cindy kini beralih menggelayuti lengan kekasihnya. "Boleh ya...please...Aku nggak akan ngerepotin kamu" kata Cindy menatap Dio penuh harap.


"Tapi kita bakalan naik Gunung, Emangnya kamu bisa?" tanya Dio sebenarnya tak senang dengan tingkah Cindy ini. Ia juga merasa kesal karena jika sampai Cindy ikut, ia tak bisa bersama Karin.


"Biarin ikut aja, Kalau nggak bisa naik Gunung kan bisa lihat tempat wisata yang lainnya. Di Lombok banyak tempat bagus, Aku juga pengen ikut, Kita sekalian ngerayain tahun baru disana, Kan pas banget tuh malam tahun baru, lusa kan berangkatnya?" Nathan tiba-tiba menyela membuat Dio meliriknya tak suka.


"Iya Sayang, Bener kata Nathan. Aku akan nunggu di hotel kalau kalian pemotretan" kata Cindy semakin semangat merayu kekasihnya.


"Kamu gimana?" tanya Dio pada Karin yang hanya diam saja.


"Whatever" Karin mengangkat bahunya acuh, Ia sama sekali tak perduli akan hal itu. Ia hanya ingin segera pulang lalu tidur untuk membuat hati dan pikirannya tenang.


Dio menghela nafas saat melihat Karin yang masih bersikap dingin padanya. Dengan berat hati, akhirnya ia mengangguk membuat Cindy kegirangan.


"Yeay.....Makasih Sayang...Aku cinta banget sama kamu" kata Cindy begitu senang dan langsung memeluk tubuh Dio dengan erat. Lagi-lagi Karin harus membuang muka agar tak melihat pemandangan yang membuat hatinya nyeri.


"Jangan seperti ini" kata Dio mencoba melepaskan tangan Cindy. "Lusa kita akan berangkat pagi jam 8, dan jangan sampai terlambat"


******


Karin sudah mempersiapkan semua keperluannya untuk mendaki Gunung. Ini adalah pengalaman pertamanya, dan ia tentu harus mempersiapkan segalanya dengan matang. Apalagi kegiatan ini termasuk kegiatan berisiko tinggi, Belum lagi cuaca yang pastinya sangat dingin membuat Karin membawa jaket yang tebal dan lumayan banyak.


Pukul enam pagi, Ia sudah siap dengan rapi dan siap untuk berangkat ke Bandara, Tapi ia mendapatkan telepon mendadak dari Nathan.


"Halo, Nathan?" ucapnya langsung.


"Halo Karin, Aku kayaknya nggak bisa ikut berangkat pagi Ini, Aku ada Operasi mendadak. Kamu nggak apa-apa kan berangkat sendiri. Nanti sore aku bakalan nyusul"


"Oh, Oke nggak apa-apa. Semangat operasinya" kata Karin lalu mematikan sambungan ponselnya dan langsung berangkat ke Bandara.


Tak sampai satu jam, Ia sudah berada di lounge Bandara. Disana sudah ada sepasang kekasih yang tampak duduk dengan tangan yang saling bertautan, Siapa lagi kalau bukan Dio dan Cindy.


"Hai Karin, Mana Nathan?" Cindy menyapa begitu melihat Karin datang. Dio pun langsung mengangkat wajahnya dari layar ponsel dan ikut menatap Karin.


"Nathan ada jadwal operasi mendadak, Dia nggak bisa berangkat bareng kita, Nanti sore nyusul" kata Karin seadanya, ia kemudian duduk di salah satu kursi yang agak jauh dari pasangan kekasih itu.


Happy Reading.


Tbc.