
Saat Bella tiba disekolah semua pasang mata tampak menatapnya. Bella hanya acuh, sudah terbiasa ditatap seperti itu. Tapi Bella merasa tatapan mereka berbeda dari biasanya. Tatapan mereka tampak sinis menghakimi. Bella mengerutkan dahinya berfikir ada apa dengan mereka? Lalu ia mendengar bisik-bisik sumbang mampir di telinganya.
"Iya nggak tau malu banget..."
"Padahal kelihatannya polos gitu.."
"Tapi anaknya siapa..."
"Nggak mungkin Dio, mereka udah putus.."
"Jangan-jangan hamil anak cowok lain makanya mereka putus..."
Bella sedikit kaget mendengar hal itu, Bagaimana temannya ini bisa tau? Apakah Siska sudah menyebarkan berita itu?. Bisik-bisik itu kian memanas membuat Bella sangat kesal. Ia segera mendatangi kelompok anak-anak yang menggunjingnya.
"Heh! Maksud lo apa ngomong gitu!" Bentak Bella dengan emosi.
"Apa? Lo nggak terima? Itu memang kenyataannya kan!" Seru Cheryl sang ketua geng yang tadi menggunjing Bella.
"Omong kosong! Ngomong kalau nggak ada bukti itu namanya fitnah!"
"Kenapa nggak punya bukti! Semua orang punya mata dan bisa lihat kalau emang lo tuh hamil!" seru Cheryl lagi tak kalah kerasnya membuat kini para murid berkumpul untuk menonton mereka.
"Gue nggak hamil!" Bantah Bella merasa takut jika semua orang tau.
"Halah! Ngaku lo, Terus kenapa lo tiap hari pakek jaket, buat nutupin perut lo kan!" kata Cheryl semakin membuat Bella tersudut. Apalagi tatapan temannya yang seolah mengintimidasi.
"Hai guys, temen kita ada yang mau jadi orang tua baru nih. Kasih selamat dong" teriak Cheryl sepertinya punya dendam tersendiri pada Bella membuatnya sengaja ingin menjatuhkan Bella
Teman-teman Bella mulai terpengaruh dengan perkataan Cheryl. Mereka mulai ribut menggunjing Bella dengan kata-kata yang menyakitkan.
"Bella Hamil.."
"Open Bo kali..."
"Orang tuanya Tajir ngapain dia open Bo..."
"Suruh keluar..."
"Bikin sial sekolah aja..."
"Backing nya kuat banget.."
"Bel..Linknya dong.."
"Bisa kali bel, one night stand.."
Bella menutup telinganya rapat tak ingin mendengar kata-kata menyakitkan itu. Ya Tuhan! Kenapa jadi seperti ini. Ternyata serapat apapun ia menyimpan rahasia, semuanya akan terbongkar juga. Benar kata pepatah sepandai-pandainya tupai melompat, ia pasti akan jatuh juga.
"Hei! Mau kemana lo!" Cheryl menarik tangan Bella saat tau kalau wanita itu akan pergi.
"Lo bener-bener keterlaluan, lepasin gue!" Bentak Bella mencoba melepaskan tangannya.
"Nggak akan sebelum lo buka jaket" kata Cheryl menyeriangi senang. Ia ingin sekali semua orang tau kalau Bella benar-benar hamil. Cheryl memberi kode kedua temannya untuk memegang tangan Bella.
"Jangan coba-coba" ancam Bella tak ingin semuanya terbongkar sekarang. Karin, Tiara dimana kalian. jeritnya dalam hati.
"Lo mau apa? Udah sini lo" kata teman Cheryl langsung memegang tangan Bella dengan kuat.
"Buka jaketnya sekarang!" perintah Cheryl.
Bella terus meronta untuk mempertahankan jaketnya. Ia menginjak kaki Cheryl saat wanita itu mendekatinya.
"Ah! Sialan!" umpat Cheryl begitu kesal.
Bella menggunakan kesempatan ini untuk kabur. Tapi ternyata teman Cheryl dengan cepat menghadangnya. Bella langsung mendorongnya hingga terjatuh dan Bella melanjutkan langkahnya.
Saat melihat Bella yang hendak pergi, ia sengaja memasang kakinya sedikit tinggi agar membuat wanita itu terjatuh. Bella yang terburu-buru tak melihat hingga ia tersandung dan terjatuh.
"Rasakan!" teman Cheryl tersenyum puas melihat Bella yang terjatuh.
Bella mengaduh kesakitan saat tubuhnya terjatuh dengan begitu keras. Namun bukan itu yang ia pikirkan, melainkan anaknya yang ada didalam perut. Karena sekarang perutnya terasa sangat sakit. Pandangannya kabur dan tubuhnya gemetar.
"Sakitt...." rintihnya memegang perutnya.
Cheryl dan temannya tampak tersenyum puas melihat Bella yang terjatuh. Tapi tiba-tiba wajahnya berubah kaget melihat Bella yang merintih dengan wajah pucat. Bukan itu saja yang membuatnya kaget tapi ada darah yang mengalir dari sela kaki Bella.
"Astaga! Bella, lo kenapa" teriakan itu terdengar dari seseorang yang baru saja datang. Yaitu Tiara dan Karin yang memang datang kesiangan. Ia kaget saat melihat sahabatnya terjatuh.
"Siapa yang ngelakuin ini?" Teriak Tiara begitu marah.
Namun semua orang tak ingin menjawab, karena mereka takut disalahkan.
"Tolong..." rintih Bella dengan suaranya yang lemah.
Karin dan Tiara langsung mendatangi Bella. Dan membantu sahabatnya itu bangun. Mereka begitu menyesal karena tidak ada disana saat Bella membutuhkan.
"Ra! Darah.. Ra!" teriak Karin begitu kaget melihat darah Bella membanjiri kaki Bella.
"Kita bawa ke rumah sakit sekarang!" Tiara tak kalah paniknya melihat hal itu.
"Hei go*lok! Bantuin dong, Lo nggak lihat Bella pingsan gini!" Maki Tiara pada para cowok yang hanya menonton saja.
Seperti sapi yang dicocok hidungnya, mereka langsung sigap mengangkat tubuh Bella untuk di bawa ke rumah sakit. Karin dan Tiara segera mengikuti, namun Tiara menghentikan langkahnya sejenak dan menatap tajam pada Cheryl.
"Kita belum selesai" ucap Tiara diiringi aura mengancam yang menekan.
Cheryl dan kedua temannya tampak semakin ketakutan. Apalagi mereka tau kalau keluarga Bella bukan orang sembarangan.
****
Bianca mulai bosan menunggu Axel yang tak kunjung datang. Ia sudah hampir menyerah saat orang yang dinantinya datang juga. Bianca tersenyum sumringah.
"Selamat pagi" ucapnya dengan ceria.
Axel sedikit kaget melihat Bianca yang ada di sana. Namun tatapannya tetap dingin.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk kesini" ucap Axel dingin sekali.
"Aku tidak perlu izin untuk masuk keruangan calon tunangan ku sendiri kan" sahut Bianca dengan santai duduk di sofa.
"Jangan bicara omong kosong! Cepat pergi dari sini, aku sedang sibuk dan tak ada waktu untuk meladeni mu" kata Axel bergeming ditempatnya. Ia tak mau merusak paginya dengan hal tak penting seperti ini.
"Oh ayolah. Aku kesini ingin mengajakmu fitting baju pertunangan. Kau tidak lupa kan?" kata Bianca seolah mengingatkan kalau Axel tak berhasil mengambil bukti yang ada ditangannya.
"Satu minggu lagi Axel, Apakah sudah bisa ditentukan siapa pemenangnya?" kata Bianca lagi.
"Lakukan sesukamu, Aku tak perduli. Silahkan pergi kalau sudah selesai" kata Axel benar-benar tak perduli. Ia segera duduk dan mulai bekerja membuat Bianca semakin kesal.
"Apa sudah siap dengan konsekuensinya?" kata Bianca lagi kesal karena Axel tak takut dengan ancamannya.
"Mau sampai kapan kau meneror aku? Hentikan kegilaan mu Bianca, karena sampai kapanpun aku tidak akan menuruti keinginan mu" kata Axel merasa Bianca sangat keras kepala.
"Aku nggak akan berhenti sebelum kau mau tunangan dengan aku. Buka matamu Axel, aku lakuin ini karena aku mencintaimu, apakah tak ada sedikit saja tempat untukku di hatimu" kata Bianca yang semula keras kini merendahkan suaranya.
"Kalau kau memang mencintaiku kau tidak akan melakukan hal seperti ini. Mungkin jika kau mengehentikan ini, aku akan merubah keputusanku"
Happy Reading
TBC