MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Suka Di Balik Duka.



Karin masih merasa lemas dan tak bertenaga, kepalanya pun masih terasa pusing sekali. Ia tidak tau kenapa bisa tiba-tiba seperti ini, padahal dirinya tadi baik-baik saja.


"Kamu kenapa bisa disini?" tanya Karin bingung dan kaget melihat Dio disana. Bukankah suaminya itu sedang berada di Kalimantan.


"Tiara yang ngasih tau aku, kamu sakit? Kenapa nggak bilang sama aku, maafkan aku" kata Dio mengelus lembut tangan Karin yang berada di genggamannya.


"Aku nggak apa-apa" kata Karin menarik tangannya pelan. Ia masih kesal jika mengingat sikap Dio yang menuduhnya selingkuh.


Dio mengulum bibirnya saat mendapatkan sikap dingin dari Karin. Salahnya memang, seharusnya ia tak keterlaluan sampai menuduh Karin berselingkuh seperti itu.


"Aku bener-bener minta maaf udah ngomong gitu sama kamu, Aku nggak bisa berpikir jernih, Maafin aku" kata Dio menunduk penuh penyesalan. Matanya menatap Karin sendu membuat Karin mengalihkan pandanganya.


Karin tak ingin terlena, ia tak ingin memaafkan Dio begitu saja. Biarkan saja pria itu terus merasa bersalah. Siapa suruh ngomong nggak di filter dulu, pikir Karin.


"Ngapain minta maaf? Bukannya kamu lebih percaya sama foto itu daripada aku" kata Karin dengan ketusnya.


"Maafin aku, aku salah karena udah nggak percaya sama kamu, Maafin aku Karin" kata Dio ingin meraih tangan Karin lagi, tapi wanita itu menghindar.


"Nggak, Aku masih marah sama Abang" kata Karin lagi.


"Sayang, aku benar-benar menyesal udah bilang gitu. Aku lagi ada masalah dan aku lihat istri aku dipeluk oleh pria lain, aku cemburu melihatnya. Aku tidak berjanji untuk tidak mengulangi hal ini lagi, karena selama aku mencintaimu aku akan selalu seperti itu Karin, maafkan aku" kata Dio lagi.


"Mau mencoba menggombal ya? Nggak ngaruh tuh" kata Karin masih mempertahankan sikapnya.


Dio menghela nafas panjang, istrinya ini tak pernah marah, tapi sekalinya marah akan susah di bujuk. Dio ingin berbicara lagi tapi di urungkan ketika seorang Dokter dan satu suster datang ke ruang rawat Karin. Untuk melakukan pemeriksaan darah.


"Dokter, Apakah saya sudah bisa pulang?" tanya Karin setelah prosedur pemeriksaan darah itu selesai.


"Oh, sudah Nona. Tapi kita tunggu hasilnya ini dulu ya, mungkin sekitar 30 menit" kata Dokter itu membuat Karin mengangguk.


Selama 30 menit menunggu hasil pemeriksaan itu keluar, Dio dan Karin hanya diam dan tak saling mengobrol.


"Kamu mau sesuatu?" tanya Dio tak tahan dengan aksi diam Karin.


"Enggak"


"Atau mau makanan? Minun? Ini udah malem, kamu udah makan belum?" tanya Dio lagi.


"Enggak" sahut Karin hanya melirik malas pada Dio.


"Atau mau aku cium?" tanya Dio sudah hilang akal rasanya karena Karin terus menolak.


"Ap..." Karin belum selesai mengucapkan perkataannya tapi Dio sudah lebih dulu menyambar bibir tipisnya. Karin tentu kaget dengan moving tak terduga Dio ini.


"Abang! Ini tempat umum!" kata Karin memberi Dio tatapan memperingatkan. Wajahnya tampak merah, antara kesal dan juga malu. Disana banyak sekali orang, mustahil kalau mereka tak melihat tingkah Dio tadi.


"Biarkan saja, Lagian kamu emang harus aku cium dulu baru bicara panjang" kata Dio tersenyum melihat wajah istrinya yang bersungut-sungut itu.


"Dasar!" seru Karin ingin memukul suami mesumnya ini, tapi Dio segera menangkapnya dan menciumnya dengan gemas.


"Maafin aku" kata Dio lagi dengan suara lembut. Karin terdiam, Dio ini memang menyebalkan sekali ya, hanya karena tatapan mata itu, hatinya sudah luluh, kekesalannya tadi langsung menguap begitu saja, apakah dia memaafkan Dio saja?


Dio mengangguk dan segera menggandeng tangan istrinya untuk masuk kedalam ruangan. Ia tak perduli Karin yang terus mencoba melepaskan tangannya itu, Dio hanya terus menggenggamnya erat namun tak menyakiti istrinya. Bahkan saat berada di dalam ruangan pun, Dio tak melepaskan genggaman itu barang sejenak.


"Bagaimana Dokter? Tidak ada masalah serius kan?" tanya Karin langsung. Ia merasa takut kalau ia terkena penyakit atau apa.


Dokter Welly mengangguk dan tersenyum. "Tidak ada hal serius Nona Karin, Mulai saat ini anda harus menjaga diri lebih baik lagi ya, perhatikan pola makan dan jangan banyak pikiran agar baby nya sehat sampai harinya nanti" kata Dokter Welly membuat Dio dan Karin terbengong sesaat, mereka berdua saling pandang.


"Maksud Dokter Baby? Apakah istri saya?" kata Dio langsung mencerna ucapan Dokter itu. Semburat bahagia tampak sudah menghiasi pelupuk matanya.


"Ya benar, Nona Karin hamil, menurut pemeriksaan usia kandungan Nona Karin sudah sembilan minggu, Selamat ya Nona" kata Dokter Welly mengangguk dan tersenyum pada Karin.


Dio dan Karin tak bisa menutupi rasa kagetnya, kaget namun bahagia secara bersamaan. Mata Karin bahkan sudah berkaca-kaca karena rasa haru mendengar kabar bahagia ini.


"Abang, aku bakalan jadi Ibu?" kata Karin menatap Dio yang sama terharunya itu.


Dio mengangguk dan dengan cepat langsung meraih Karin dalam pelukannya. Ia tak memikirkan apapun lagi, Ia bahkan tanpa malu langsung menciumi seluruh wajah Karin.


"Makasih...Makasih Sayang, Makasih... Kamu bakalan jadi Ibu terbaik" kata Dio tak bisa menggambarkan kebahagian yang membuncah itu. Akhirnya setelah penantian yang panjang, Mereka akan segera di karuniai seorang Anak, Anak mereka sendiri, buah cinta mereka berdua.


Karin mengangguk seraya terisak, ia juga merasa bahagia dan juga lega karena kehamilannya ini. Buah dari kesabaran mereka akhirnya mendapatkan hasil yang menakjubkan.


"I love you...Love you so much" kata Dio kembali memberi ciuman di dahi istrinya. Saat itulah ia baru sadar kalau mereka berdua masih berada di ruangan Dokter yang kini hanya senyam-senyum melihat tingkah keduanya.


Karin pun baru ingat dan seketika wajahnya memerah karena malu.


"Maaf Dokter" kata Karin tersenyum kikuk.


"Tidak masalah Nona Karin, Saya akan meresepkan vitamin untuk menguatkan kandungan Nona, Saya juga akan menambahkan vitamin agar kulit anda tidak kering selama masa kehamilan, Sekali lagi saya ucapkan selamat ya, Tuan Dio, Nona Karin" kata Dokter mengulurkan tangannya.


"Terimakasih Dokter" sahut Dio dan Karin bersamaan.


Setelah dari Rumah sakit, Dio tak henti- hentinya memeluk dan menciumi Karin. Ia juga menanyakan hal-hal yang mungkin Karin inginkan atau apa.


"Kamu beneran nggak mau apapun?" tanya Dio saat Karin menolak semua yang ia tawarkan.


"Enggak, Aku mau pulang, Ngantuk" kata Karin seadanya, ia benar-benar tak menginginkan apapun saat ini.


"Baiklah, pokoknya kalau kamu mau apapun langsung ngomong ke aku, Aku pasti bakalan kasih apa yang kamu mau" kata Dio lagi.


"Iya"


"Yaudah, kamu tiduran aja. Ini masih jauh dari rumah, nanti aku bangunin sampai rumah" kata Dio menatap Karin yang terlihat kelelahan itu.


"Iya, Tapi Aku masih marah ya sama Abang, jangan cari kesempatan" kata Karin melirik Dio tajam. Dio hanya menggaruk kepalanya saat Karin mengatakan hal itu, padahal ia sudah berencana akan memeluk istrinya saat tidur nanti, kalau sudah begini, gagal sudah rencananya itu.


Happy Reading.


Tbc.