MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Bersembunyi.



Aku tak pernah tahu bagaimana, Namun tiba-tiba saja, ada sesuatu selain rasa rindu yang merasuk di dada.


Sungguh aku sangat tak suka, terkadang sangat menyiksa, tapi kini aku tau kenyataannya.


Ada rasa cemburu yang menyisip halus dalam raga.


_________________________________


"Kenapa kau diam saja!" seru Karin cukup kesal karena Dio terlihat santai saja. Padahal dia sangat panik karena takut Cindy akan melihatnya disini. Hal itu tentu tak boleh terjadi.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Dio justru balik bertanya membuat Karin semakin jengkel.


"Cepat temui kekasihmu itu, jangan sampai di masuk dan melihat aku disini" kata Karin dengan nada memerintahnya.


"Sayang!!!" Suara Cindy kembali terdengar membuat kepanikan Karin meningkat.


"Dio! Cepat!" bentak Karin sedikit mendorong tubuh Dio yang ia rasa kini semakin tegap dan tinggi.


"Memangnya kenapa kalau Cindy melihat kita seperti ini? Kita tidak melakukan apapun" kata Dio bergeming di tempatnya.


"Kau jangan gila! Cepat temui dia sekarang" kata Karin melototi Dio membuat ekspresi wajahnya sangat lucu, tampak panik namun sangat imut. Dio suka sekali melihat wajah Karin yang seperti ini.


Ceklek.


Pintu kamar Dio terbuka dan secepat kilat Dio menarik tubuh Karin agar masuk ke dalam lemari bajunya. Jantung Karin seperti berhenti berdetak saat Dio melakukan itu, Ia kini sudah duduk di antara baju baju Dio yang tergantung, Ia menatap apa yang terjadi dari celah pintu lemari yang terbuka.


"Sial! Kenapa aku malah seperti wanita simpanan seperti ini" umpat Karin dalam hatinya.


Dio menatap Cindy yang masuk ke kamarnya, Wajahnya tampak berkerut tak suka karena Cindy sudah cukup lancang menurutnya.


"Ada apa kemari?" tanyanya langsung.


"Tentu saja untuk menemui mu, Apa aku tidak boleh menemui kekasihku sendiri" kata Cindy menatap Dio yang masih bertelanjang dada memperlihatkan otot tubuh dan perutnya yang sixpack. Tapi Cindy kaget saat melihat perban di perut Dio.


"Kenapa dengan perutmu?" tanya Cindy langsung melihat luka di perut Dio.


"Oh, Hanya luka biasa" kata Dio seadanya.


"Bagaimana bisa kau mendapatkan luka seperti ini?" tanya Cindy menatap wajah Dio yang segar sehabis mandi membuat jantungnya berdebar tak karuan.


"Ada orang tak sengaja melukaiku, Tapi ini sudah tidak apa-apa" kata Dio lagi.


"Baiklah, Aku kesini karena Mama mu menelpon, katanya kau tidak pulang semalam. Makanya aku langsung kesini" kata Cindy dengan suaranya yang lembut.


"Oh, Iya. Sudah itu saja?" Kata Dio tak terlalu menanggapi.


"Ya, Tapi aku juga merindukanmu" kata Cindy langsung memeluk tubuh Dio begitu saja. Rasanya ia sudah sangat lama tidak memeluk tubuh kekasihnya.


Dio sedikit kaget dengan tingkah Cindy ini, Sebenarnya ia ingin menolak, tapi entah kenapa ia malah membalas pelukan itu namun matanya kembali melirik celah lemarinya.


Karin tentu melihat hal itu, Ia menggigit bibirnya saat merasakan bagian dari tubuhnya terasa nyeri melihat kemesraan mereka. Dio dan Cindy berpelukan cukup lama membuat Karin semakin gusar di dalam sana, Ia merasa udara di dalam itu semakin menipis.


Cindy tersenyum tipis dalam pelukan Dio, ia mendongak dan wajah mereka semakin dekat sebelum...


Dugh!!


Mendengar suara yang cukup keras itu membuat pelukan mereka terlepas.


"Suara apa itu?" tanya Cindy bingung saat menyadari suara itu dari dalam lemari Dio.


"Mungkin tikus" kata Dio asal saja.


Karin sedikit geram karena Dio menyamakan dirinya dengan tikus.


"Ha? Bagaimana bisa ada tikus di lemarimu? Coba lihat" kata Cindy ingin membuka lemari tapi Dio lebih dulu menahannya.


"Kenapa?" Cindy menatap Dio bingung.


"Maksudku, Disini kan ada tikus. Nanti bagaimana kalau tikusnya menggigit mu" kata Dio.


"Ih, Dio! Aku takut" Kata Cindy bergidik dan kembali merapatkan tubuhnya.


"Kalau begitu kau tunggu di luar, Aku akan melihat mengusir tikusnya dulu" kata Dio mulai tak nyaman saat Cindy terus menempel padanya.


Cindy berpikir sejenak sebelum mengangguk. "Baiklah, Aku akan pergi tapi janji habis ini kita sarapan bareng ya, Belakangan ini kau sibuk sekali, kita jarang ada waktu bertemu" kata Cindy tersenyum manja pada Dio.


"Iya" sahut Dio menyetujui saja.


"Baiklah, Aku keluar dulu"


Dio mengangguk tapi ia tak menduga kalau Cindy akan mencium pipinya sebelum pergi. Dio merasa cukup kesal karena selama ini meskipun keduanya menjalin hubungan, sangat jarang bersentuhan fisik. Lagipula hubungan mereka bukan di landasi cinta, hubungan ini terjadi karena Ibunya yang memaksanya.


Setelah melihat Cindy keluar, Ia segera membuka lemari untuk melihat Karin. Ia melihat wajah wanita itu tampak merah, Apa dia kepanasan?.


"Beraninya kau mengatai ku tikus!" sembur Karin begitu melihat wajah Dio di depannya.


"Itu salahmu, Kenapa harus menimbulkan suara?" kata Dio biasa saja.


"Kau pikir aku tidak capek di dalam lemari terus, Di situ panas dan pengap. Tapi kau malah asik berpacaran" kata Karin begitu emosi rasanya jika mengingat apa yang sudah di lakukan Dio dan kekasihnya.


Dio hanya mengangkat bahunya acuh. "Aku akan ganti baju dulu, Setelah ini aku akan pergi. Kau mau tetap disini atau pulang itu terserahmu" kata Dio mengambil baju miliknya dan memakinya langsung.


"Aku akan pulang, Kau pikir aku mau tidur disini kalau bukan karena terpaksa" Karin mengertakkan giginya merasa Dio memang sejak tadi mengusirnya.


Dengan menahan emosinya, Karin segera masuk ke kamar mandi dan memakai bajunya yang setengah basah. Tapi ia tak perduli, Karin ingin secepatnya pergi dari tempat sialan ini.


*******


Dua minggu kemudian, Karin sudah tidak pernah bertemu Dio sama sekali. Ia pun jarang keluar rumah jika tidak ada urusan penting. Tapi siang ini, Karin ada jadwal interview kerja seelah lamaran menjadi bintang iklannya di acc.


Sebenarnya jika Karin ingin, Ia bisa mudah langsung menjadi model dengan bantuan Ayahnya. Tapi, Karin ingin dia merintis semuanya dari nol dan dari hasil kerja kerasnya sendiri. Jadilah ia memasukan lamaran di salah satu agensi yang tak terlalu besar tapi memiliki basic penggemar yang cukup terkenal di internet.


"Sudah mau berangkat?" tanya Mama Elmira saat melihat Karin yang sudah rapi.


"Iya, Mama doain Karin ya" kata Karin mengulas senyumnya.


"Pasti Mama do'ain. Berangkat sama siapa?" kata Mama Elmira.


"Bawa mobil sendiri, Nanti sore aku ada janji sama Nathan soalnya" kata Karin lagi.


"Oh, Nathan nggak pernah kesini?"


"Nathan sibuk Ma, Dia kan udah jadi Dokter sekarang. Aku berangkat ya Ma, Nanti takutnya telat" kata Karin mengambil tangan Mamanya untuk bersalaman.


"Hati-hati sayang" ucap Mama Elmira.


"Iya Ma" teriak Karin seraya berjalan menjauh.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, Karin tiba di sebuah gedung yang cukup besar. Di depannya ada logo banyak sekali perusahaan. Ia lalu membuka ponselnya untuk menelpon seseorang.


"Halo Tuan Angga? Saya Karin, Oh langsung ke lantai sembilan ya.. Baik-baik..


Karin membenarkan penampilan sebentar sebelum masuk ke gedung yang cukup ramai itu. Saat ia masuk ke dalam lift, Tak sengaja melihat punggung seseorang yang terasa familiar.


"Dio.." tanpa sadar batinnya menyebut nama itu.


Happy Reading.


Tbc.