
"Kamu ini kebiasaan deh, suka banget lupa makan! Untung disini temen kamu baik perhatian sama kamu! Gimana kalau nggak" Mama Anita mengomeli anaknya membuat Bella cemberut. "Tante ucapkan terimakasih ya sudah membantu Bella" Mama Anita menatap satu persatu wajah Tiara dan Karin, dia sedikit mengerutkan dahinya saat melihat seorang pria yang cukup asing.
"Dia siapa? Temen kamu juga?" Tanyanya menunjuk Axel yang ternyata masih berdiri di ambang pintu ruangan Bella.
Bella mendengus kecil menyadari tatapan ibunya. Kenapa masih di situ? Pikirnya. "Bukan, ia bukan temen....
"Dia Kak Axel Tante, dia temen kakak aku, Tadi kebetulan lagi disini juga, Kak Axel juga loh tadi yang bawa Bella kesini" Tiara langsung menyerobot sebelum Bella menyelesaikan bicaranya.
"Oh ya? Wah terimakasih ya nak Axel sudah membawa Bella kesini, Bella ngerepotin ya" Mama Anita tersenyum sungkan pada Axel.
"Bella Nggak ngerepotin Kok, siapa suruh dia mau bawa Bella disini" gerutu Bella pelan sekali.
"Iya Sama-Sama Tante, Nggak repot sama sekali" ucap Axel lugas.
"Pasti ngerepotin ini, Bella itu cerewet banget, Susah kalau ada maunya" Ceplos Mama Anita menggelengkan kepalanya.
"Ma!" Bella menyela tak terima karena Mamanya serasa mengumbar aibnya.
Axel hanya tersenyum sedikit membuat Bella semakin kesal saja. Berani sekali dia menertawakannku. Awas saja kau!
****
Kalau saja bukan karena kesibukan yang begitu padat. Harusnya Axel sudah membicarakan perjodohannya dengan Bianca dari hari kemarin. Ini sudah dua Minggu semenjak kejadian di puncak waktu lalu. Tapi Axel belum sama sekali mempunyai waktu luang untuk membahas masalah ini. Pekerjaannya selalu menumpuk, ditambah lagi kantornya sendiri yang sedikit mengalami penurunan penjualan.
Sungguh Axel begitu lelah dan pusing dibuatnya. Dia memijat pangkal hidungnya yang terasa begitu pegal. Barusaja dia kembali meeting dari luar untuk mencari investor baru di perusahaan miliknya. Ketukan pintu terdengar tak dihiraukannya. Tubuhnya benar benar lelah, hingga rasanya tak ingin melakukan apapun.
"Tuan Axel, Saya membawakan Kopi untuk anda" Itu suara Bianca yang terdengar mendekat ke arahnya.
Axel masih enggan membuka matanya, Sudah biasa Bianca melalukan hal ini. Namun kali ini ada yang aneh, Bianca memilih berjalan kebelakang kursi Axel dan memijat lembut bahu Axel membuat sang empunya terkejut, Karena tak biasanya Bianca seperti ini.
"Aku pijitin ya, Kamu kayaknya capek banget" Bianca berbisik lembut di telinga Axel, dia memang sengaja melakukannya, ini adalah cara terakhirnya untuk menggoda Axel. Karena sudah banyak cara ia lakukan, namun tak sedikitpun Axel meliriknya.
Akhir-Akhir ini Bianca sedikit mencari tau apa yang Axel lakukan. Ada informasi yang membuat dirinya sedikit terkejut saat mengetahui pria yang terkenal dingin itu adalah seorang pemain wanita yang sering bergonta ganti pasangan. Mendengar hal itu membuat Bianca sedikit menurunkan harga dirinya untuk mengumpankan tubuhnya. Setidaknya jika tak bisa menyentuh hatinya, paling tidak membuat Axel tergoda dengan tubuh moleknya.
"Atau kau ingin sesuatu yang lain?" Bianca menurunkan pijatannya, mengelus dada bidang Axel dengan gerakan lembutnya.
Axel masih diam membiarkan saja apa yang dilakukan Bianca. Ia ingin tau, sejauh mana wanita itu bertindak. "Maksudmu?" tanyanya dengan sengaja berpura-pura tak mengerti.
"Kau pasti tau maksudku"
"Kau mau menggodaku dengan tubuhmu?" Axel terkekeh sinis seraya menyingkirkan tangan Bianca dengan kasar. Dia lalu bangkit dari duduknya menatap Bianca dengan tajam.
"Ayolah Axel, Aku tau kau menginginkannya, Bukankah kau sudah biasa melakukannya?" Bianca menjawab dengan hati was was melihat tatapan Axel terasa menembus jantungnya.
"Apa kau pikir kau begitu layak untuk ku sentuh?" Axel tersenyum sinis, matanya menatap remeh kepada Bianca.
"Benarkah?"
Bianca mengangguk sebagai jawabannya. Axel menarik salah satu sudut bibirnya. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi Bianca yang begitu mulusnya. Tentu karena Bianca selalu merawatnya. Jari jempolnya mengusap pelan bibir Bianca yang terlihat penuh namun begitu menggoda. Axel mengakui Bianca wanita yang sempurna, tapi dia bisa mendapatkan wanita seperti ini lebih dari sepuluh setiap harinya. Jadi bagi Axel, Bianca terlalu biasa di matanya. Atau lebih tepatnya Axel menganggap semua wanita itu sama.
"Lakukanlah sesukamu, Aku rela untuk membuat kau percaya aku mencintaimu" ucap Bianca menahan desiran darahnya karena usapan tangan Axel.
"CK, Kau terlalu percaya diri Nona" Axel dengan kasar mendorong tubuh Bianca hingga wanita itu sedikit kehilangan keseimbangan. "Apa kau pikir, kau bisa merayuku dengan tubuhmu" Ucapan Axel membuat Bianca seperti di tampar.
"Kenapa kau lakukan ini, Bukankah kau senang melakukannya dengan para ja*ang itu. Lalu kenapa kau menolakku?" Teriak Bianca begitu marah, merasa harga dirinya kembali jatuh dengan sikap Axel.
"Setidaknya mereka lebih baik daripada kau! Wanita dengan sikap manis tapi ber hati busuk!"
"Jaga bicaramu Axel, Aku sudah cukup sabar menghadapi sikapmu selama ini. Apa kau pikir aku tidak bisa melaporkan hal ini kepada ayahmu? Kau tentu tau kan jika sampai hal itu terjadi?" Bianca menyeriangi senang, merasa punya senjata untuk membuat pria sombong di depannya ini tunduk.
"Kau sedang mengancamku?" Dengan gigi gemeletuk Axel menahan amarahnya. Kalau saja Bianca itu bukan wanita, bisa saja Axel langsung menerjangnya.
"Anggap saja begitu, Jadi sebaiknya kau menyerahlah, Karena bagaimanpun kau menolakku. Kau akan tetap menjadi milikku" uap Bianca lagi dengan senyum kemenangannya.
"Baiklah, lakukan saja semaumu" Ucap Axel dengan tenang membuat Bianca heran. "Tapi jangan salahkan aku jika foto te*anjangmu akan tersebar ke media sosial. Kau pasti tau apa akibatnya jika kedua orang tuamu tau, Putri kesayangannya tak lebih dari seorang pe*acur yang mengumpankan tubuhnya untuk para lelaki hidung belang" Jika Bianca bisa mengancamnya kenapa dia tidak?.
Bianca membesarkan matanya. "Apa maksudmu?" Tanya Bianca dengan terbata. Tak mungkin Axel tau tentang masa lalunya dulu.
"Kau tau jelas maksudku Bianca! Jadi sebaiknya kau pikirkan ulang idemu itu. Atau lebih tepatnya kau bisa menyuruh orang tuamu untuk membatalkan perjodohan Gila ini" Perkataan Axel terdengar tenang namun tersirat ancaman yang jelas.
Selama ini Axel memang sudah mengetahui semua hal tentang Bianca. Tentu saja, Axel bukan orang bodoh. Dia sudah tau wanita dengan tipe apa seperti Bianca itu. Jadi dia memerintahkan Bram untuk menyelediki latar belakang Bianca. Dan ada hal yang menarik untuk dia jadikan senjata jika suatu saat wanita itu berbuat ulah. Ternyata benar, Bianca itu tak se polos yang terlihat. Dia dulunya tenyata pernah memasuki dunia modeling, tapi karena persaingan yang begitu ketat. Bianca rela mengorbankan tubuhnya untuk mendapatkan hati produser Disana.
"Kenapa? Kenapa kau begitu membenciku, apa aku begitu tak berharganya dimatamu" Bianca langsung mengeluarkan jurus air mata buanyanya. Setidaknya dia tau, jika Axel cukup lemah melihat wanita yang menangis.
"Aku tidak pernah bilang aku membencimu, Aku hanya sedikit tak menyukai caramu dalam merebut hatiku. Bukankah seharusnya kau tau bahasa tubuhku yang selalu menghindarimu" Kata Axel datar saja.
Bianca menundukan wajahnya, menahan tangis yang sedari coba ia bendung. Apa memang dia yang begitu bodoh sampai tak menyadari jika Axel memang tak menginginkannya sejak dulu. Apa sudah tak ada sedikit saja harapan untuknya?.
*****
*Maaf untuk keterlambatan upnya beberapa hari ini ya kak.. Dikarenakan banyak urusan di rumah.. Terima kasih yang sudah mampir...
Jangan lupa like dan komennya ya kakak..
Happy Reading...
TBC*