MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Will Always Be With You.



Bella menumpahkan seluruh perasaanya di pelukan Tiara. Ia tak tau lagi harus berbuat seperti apa sekarang. Berita-berita tentang Axel membuat dadanya sesak sekali.


"Ra, Kenapa dia pikul masalah ini sendiri. Dia lagi kena masalah besar Ra" ucapnya dengan terisak.


"Axel nggak mau ngelibatin Lo dalam masalah ini Bel, Dia mau ngelindungin Lo"jawab Tiara.


"Gue pengen bantu dia Ra, Tapi gimana caranya? Gue pengen ngasih kekuatan buat dia" ujar Bella lagi.


"Mendingan nggak usah Bel, Axel pasti punya pertimbangan sendiri makanya dia milih jauhin Lo, Kasih dia waktu dulu"


"Tapi mau sampai kapan? Mau Namanya lebih hancur? Ra, Lo nggak ngerti gimana perasaan gue, Nama suami gue jadi bahan olokan diluar sana, apa gue mesti diem aja nunggu sampai ini meledak" cetus Bella cukup kesal karena Tiara tak mendukungnya.


"Bukan gitu Bella. Gue cuma mau lo sabar, Nanti kalau keadaan udah tenang, Lo baru bisa temuin Axel" Tiara mencoba menenangkan.


"Nggak bisa! Udah deh kalau lo nggak mau bantu gue, Kasih gue nomer kak Jofan. Gau mau hubungin dia" kata Bella kalau memang sudah punya tekad tak bisa dilarang.


Tiara sedikit menggerutu karena sikap kekeras kepalaan Bella. Ia akhirnya menghubungi Jofan untuk mencari keberadaan Axel.


"Jangan sekarang, Nanti aku kabari kalau udah nyantai, Sekarang masih rame" ucapan Jofan membuat Bella mengurungkan niat untuk menemui Axel.


Tapi apa yang diharapkannya tak pernah terjadi. Keadaan bukannya semakin tenang justru bertambah kacau. Rupanya kasus Skandal ini hanya pembukaan saja, Muncul berita lain yang membuat keyakinan Bella hampir goyah.


"Jangan percaya apa yang di tulis berita, Cukup fokus sama tujuan lo aja.." ucap Tiara kembali temannya dalam keadaan apapun.


*****


"Lo gila! Lo ngorbanin cewek yang lo sayangin demi masalah nggak penting ini? Seriously?" Jofan menggerutu sebal setelah tau apa yang di perbuat sahabatnya ini.


"Gue nggak mau di terlibat masalah yang gue alami. Udah cukup selama ini gue nyakitin dia" ujar Axel menghisap rokok seraya melihat berita-berita tentang dirinya di televisi.


"Tapi Nggak gini cara mainnya. Lo bisa membunuh diri lo sendiri kalau kayak gini terus" sergah Jofan tak habis pikir dengan apa yang Axel lakukan.


Axel tak menyahut, ia tau masalah ini pasti akan membunuhnya secara perlahan. Tapi apakah dia sudah mati? Tentu saja tidak, karena sejatinya ia masih mengimpikan banyak hal dengan orang tercintanya. Meskipun ia harus berdarah-darah, tapi ia berjanji tak akan menyakiti Bella lagi.


"Ini akibat karena Lo suka mainin cewek. Percuma Lo ganteng tapi kalau semua lubang lo masukin" desis Jofan sebal.


Axel hanya menyeringai, inilah kesalahan terbesarnya. Gejolak jiwa muda yang haus akan rasa ingin tau malah mengantarkannya ke jurang yang gelap dan mematikan.


"Lo pasti abis, Saran gue, turutin aja kemauan dia... " ucap Jofan lagi membuat Axel meliriknya malas.


"Enggak, Gue nggak akan nyerah gitu aja. Sebenarnya gue kesini bukan buat denger ceramah Lo, Gue mau minta bantuan sama Lo" ucap Axel kali ini menatap Jofan serius.


"Apa?"


"Bokapnya orang itu adalah salah satu rekan bisnis Lo, Dan gue yain kalau perusahaan Lo adalah penyumbang dana terbesar di perusahaan dia" kata Axel pelan namun tegas.


"Lalu?" Jofan sedikit mengeryit menebak apa yang di inginkan sahabatnya ini.


"Lo Gila? Perusahaan gue udah kerja sama lama, Main mutusin kontrak tentu bukan hal bagus. Lo harusnya lebih tau hal ini" sahut Jofan.


"Itu bukan hal sulit. Ada ribuan cara dan alasan untuk ngebuat hal itu mudah. Lagipula kehilangan satu rekan kerja seperti dia, nggak akan bikin perusahaan lo rugi" kata Axel dengan enteng.


"Oke, Gua bakal pikirin apa yang Lo mau. Jadi apa langkah Lo selanjutnya?" kata Jofan merasa hal yang di inginkan Axel tadi bukan prioritasnya.


Axel tersenyum licik mengingat percakapannya dengan Jofan minggu lalu. Kini ia sedang melihat Bianca yang ketakutan setengah mati karena ia menyuruhnya membuat pernyataan tentang Skandal yang dibuatnya adalah murni dia pelakunya.


"Apa nggak ada cara lain?" Bianca masih mencoba bernegosiasi. Ia takut jika melakukan hal ini. Selain namanya yang jelek, pasti juga nama keluarganya yang akan hancur.


"Kenapa? Apa kau mulai takut? Ini bahkan tidak ada seujung kuku dengan apa yang sudah kau lakukan. Cepat lakukan tugasmu, atau kau akan tau rasanya mati dimakan singa tadi" sergah Axel menatap Bianca tajam.


Mulut Bianca sudah hendak protes, Namun ia mengurungkan niatnya. Tubuhnya lalu di seret oleh anak buah Axel untuk segera duduk untuk melakukan dihadapan kamera yang sudah di persiapkan. Bianca cukup ragu, karena itu ia berarti sudah siap dengan apa yang akan terjadi.


"Tunggu apa lagi? Cepat lakukan! Jika singa tadi belum cukup membuat mu takut. Kalau begitu, Apa aku harus membuat peluru ini bersarang di tubuhmu dulu!" bentak Axel merasa tak sabar.


Bianca kembali bergidik mendengar ancaman Axel. Lengannya saja masih begitu sakit karena sulutan rokok yang Axel lakukan. Dengan berat hati, Bianca akhirnya mulai berbicara memberikan klarifikasi tentang kasus itu. Ia mengatakan dengan singkat padat dan jelas. Video rekaman itu pun langsung di unggah Bram di akun twitter resmi Bianca yang langsung diserbu orang yang haus akan berita.


"Sudah! Aku sudah melakukan apa yang kau mau. Sekarang lepaskan aku!" seru Bianca menahan emosinya.


"Kenapa terburu-buru? Kita bahkan belum melihat pertunjukkan yang sesungguhnya" kata Axel membuat Bianca tak mengerti.


"Apa maksudmu?"


Axel tersenyum licik. "Bram! Tolong bawa hadiah untuk Nona Bianca kesini. Sepertinya dia akan sangat senang saat melihatnya" ucap Axel dengan wajah mengejek membuat Bianca begitu geram.


"Baik Tuan" Bram mengangguk patuh dari segera keluar dari ruangan.


"Axel! Apalagi ini? Kau sudah berjanji untuk melepaskan ku setelah aku menuruti semua keinginanmu! Kau seorang pria, dan seorang pria sejati tidak akan pernah mengingkari janjinya" kata Bianca merasa dipermainkan.


"Aku memang berjanji ingin melepaskan mu. Tapi aku tidak berjanji untuk tidak melukai mu. Anggap saja ini hukuman kecil agar kau tak main-main denganku" kata Axel dingin sekali.


Mata Bianca membesar terkejut dengan apa yang diucapkan Axel. Bukan sampai di situ saja, Ia kembali terkejut melihat pria yang datang bersama Bram.


"Dia?"


"Mantan kekasihmu kan? Aku mengundangnya untuk kalian bernostalgia" kata Axel dengan seringai tipis.


Axel lalu menyambut tamu yang di undangnya. "Tuan Robert? Terima kasih sudah bersedia datang. Saya akan meninggalkan kalian berdua. Sepertinya wanita anda juga sudah sangat merindukan anda" kata Axel tersenyum manis pada Tuan Robert. Lalu melirik Bianca yang wajahnya mulai pucat.


Happy Reading


Tbc