MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Selamat Tinggal.



"Tidak, Ini hanya menyesakkan" kata Karin mengusap air matanya dengan keras.


"Katakanlah padaku untuk bertahan, maka aku akan bertahan untukmu" kata Dio memegang kedua pipi Karin agar menatap dirinya.


Ia menatap Karin dengan penuh perasaan dan sangat berharap. Mencoba meyakinkan Karin dengan segala perasaan yang di miliki. Perlahan matanya mulai berair. Brengsek memang, ia tak pernah menangis seumur hidupnya. Tapi ia benar-benar lemah jika berhadapan dengan Karin.


Karin menunduk, tangisnya semakin pecah. Ia ingin sekali mengatakan untuk bertahan dan ia ingin mengatakan kalau ia sangat takut kehilangan. Tapi tamparan kenyataan membuat ia tak berdaya.


Dio mengepalkan tangannya erat saat melihat Karin menangis, Ia tau betapa keras kepalanya Karin, jika sudah memutuskan tidak, ia tak akan merubah keputusannya.


Dio membuang pandangannya kemudian duduk untuk memakai bajunya kembali. Ia mendongakkan kepalanya untuk menghalau air mata yang terus berjatuhan. Ia menarik nafasnya sejenak.


"Tidak ada gunanya! Ini semua hanya akan menyakiti kita bersama. Baiklah. Karin, waktuku mencintaimu sudah selesai. Selamat tinggal" kata Dio langsung pergi meninggalkan Karin yang hanya bisa terdiam menatap punggung pria itu menjauh. Meninggalkannya dengan kesedihan.


Nyatanya sakitnya beribu kali lipat, sakit hingga menghujam jantungnya. Karin mengigit bibirnya menyamarkan isak tangisannya. Aroma tubuh Dio masih sangat terasa dan kehangatan itu masih bisa ia rasakan. Tapi ternyata semakin sakit hatinya.


Kenapa? Kenapa ia harus jatuh cinta pada pria yang sudah memiliki wanita lain? Kenapa harus jatuh cinta dengan seorang Dio?


Karin mencoba mencari jawabannya, namun tak berhasil menemukannya. Kepalanya terasa sakit karena terus menangis ditambah tubuhnya yang lelah membuat ia tertidur dengan air mata yang terus mengalir.


******


Pukul delapan pagi, semua orang sudah selesai berkemas dan bersiap untuk pulang. Karin beberapa kali melirik Dio yang tak pernah berbicara lagi padanya. Karin sangat sedih sekali, tapi ini semua sudah pilihannya.


"Udah beres semua kan? Rin, udah siap?" Angga bertanya pada Karin karena melihat wanita itu tampak pucat dan terlihat kelelahan.


"Sudah" kata Karin pelan, ia kembali menatap Dio, tapi pria itu benar-benar tak perduli dengannya lagi.


"Oke, Kita langsung pulang ya" kata Angga lagi.


Karin mengangguk, ia ingat kemarin saat Dio menjaganya dari belakang. Tapi kali ini, pria itu berjalan jauh di depannya. Air matanya terus mengalir namun segera di tepisnya dan bergegas mengikuti yang lain.


Sama dengan saat mendaki, turun dari gunung pun sama melelahkan nya. Karin beberapa kali harus berhenti karena kepalanya yang berdenyut pusing, tapi ia masih menahannya. Sakit kepalanya kian menjadi karena semalaman ia tak tidur membuat ia tanpa sadar malah tersandung dan jatuh.


"Karin!" Angga yang berada di belakang Karin dengan cepat membantu Karin untuk duduk dan melihat kondisinya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Angga.


"Enggak, Cuma lecet dikit aja" sahut Karin ingin menangis karena bukan Dio yang menolongnya.


"Mau aku bantu jalan?" kata Angga lagi.


"Nggak perlu Ngga, Aku masih bisa" kata Karin langsung bangkit untuk berdiri.


Dio hanya diam menatap apa yang terjadi, namun jangan di tanya bagaimana hatinya saat melihat Karin terjatuh seperti itu. Ia sudah ingin membantu, namun menahan dirinya untuk tidak menunjukkan rasa khawatirnya pada Karin.


"Cepatlah! Ini sudah hampir siang" ucapnya datar dan sangat dingin tanpa menatap wanita itu kemudian berjalan terlebih dulu.


Karin tak mengatakan apapun, ia menahan nyeri di hati dan kakinya untuk terus berjalan. Ia sudah cukup tertinggal jauh dengan Dio yang terlebih dulu berjalan. Angga masih setia menemaninya di belakang.


"Hati-hati Rin, Di depan jalannya sempit dan licin" kata Angga mengingatkannya.


Karin tak menggubris atau lebih tepatnya tak mendengar, karena pikirannya entah melayang kemana saja. Ia terus berjalan dengan melamun dan tiba-tiba ia kaget saat ia terpeleset.


"Karin! Karin!" Teriak Angga kaget saat melihat tubuh Karin yang terjun bebas ke jurang.


"Dio! Woiii.....Dio...Tolong" ia kembali berteriak namun rombongan mereka tadi sepertinya sudah jauh hingga tak bisa mendengar suaranya.


"Brengsek!" maki Angga kemudian berlari secepat mungkin untuk mengejar yang lainnya. Saat sudah melihat rombongannya, Angga langsung berteriak.


"Woi!!!! Karin jatuh Ke Jurang" kata Angga dengan keras hingga nafasnya terengah.


Semua orang tampak kaget mendengar itu, Apalagi Dio yang langsung berbalik arah dan mendatangi Angga.


"Karin! Karin kenapa?" ucap Dio sangat panik dan mengguncang lengan Angga dengan keras.


"Karin kepeleset dan jatuh ke jurang" kata Angga membuat Dio membesarkan matanya.


"Bagaimana bisa? Dimana dia sekarang?" kata Dio tak membuang waktunya, segera berlari ke tempat dimana Karin jatuh.


"Disana! Yang lain cari bantuan! Dan Yang lain ayo bantu nyari Karin" kata Angga memberi instruksi pada anak buah yang lain sebelum menyusul Dio yang sudah berlari terlebih dulu.


Dio tak akan bisa memaafkan dirinya kalau sampai terjadi sesuatu pada Karin. Seharusnya ia bisa menjaganya selama disini, bukan malah bersikap egois dengan mengacuhkan wanita itu. Perasannya campur aduk tak karuan sekarang.


"Dimana lokasinya?" bentak Dio saat melihat Angga datang.


"Di depan situ, Dia jatuh ke bawah" kata Angga menunjuk lokasi jatuhnya Karin.


"Aku akan turun ke bawah" kata Dio ingin melompat tapi tangannya langsung di tarik oleh Angga.


"Jangan gila! Kau bisa mati kalau gini caranya!" kata Angga merasa sahabatnya ini cukup gegabah.


"Aku nggak perduli, Aku harus nemuin Karin secepatnya sebelum dia kelamaan disana" bentak Dio menghempaskan tangan Angga.


"Kita bisa cari lewat jalan lain! Pasti ada jalan buat kedasar sana!" bentak Angga kembali' mencegah Dio.


Dio mengertakkan giginya menahan amarah, dengan emosi ia langung memukul rahang Angga dengan keras. "Jangan pernah menghalangiku!" teriaknya seraya melempar tasnya dan berjalan menuruni jurang tempat Karin jatuh tadi.


"Sialan!" umpat Angga saat merasakan nyeri di di wajahnya. Ia kemudian mengajak yang lain untuk mencari jalan yang lainnya.


Dio menuruni jurang itu sangat hati-hati karena licin dan cukup gelap karena matahari yang tak bisa menerobos masuk. Tapi disana masih sangat jelas, dan ia mengedarkan pandangannya keseluruhan yang hanya ada pohon-pohon.


"Karin?" panggilnya berharap ada jawaban, tapi hanya kicauan burung dan semilir angin yang menjawab.


Dio tak menyerah, ia kembali memutari hutan itu dan berharap bisa menemukan Karin. Ia tak perduli rasa lelah dan laparnya karena sejak pagi belum makan. Sampai malam hari ia belum bisa menemukan Karin dan tubuhnya sangat lelah sekali.


Dio menjatuhkan tubuhnya di tanah karena sudah tak kuat lagi, udara malam itu sangat dingin sekali dan dia hanya memikirkan Karin. Bagaimana keadaan wanita itu.


"Karin...Dimana kamu" ucapnya dengan tangis tak tertahankan.


Happy Reading.


Tbc.