MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Hai, Love



Ternyata untuk membuat Axel berhenti mengkonsumsi obat terlarang itu bukan hal mudah. Inilah alasan kenapa obat itu tidak boleh disalah gunakan, Apalagi untuk generasi muda jaman sekarang yang mungkin belum mengerti fungsi obat itu yang sebenarnya. Obat itu mungkin bisa membuat kita tenang tapi efek setelahnya sangat mengerikan.


Bella setiap hari harus menghadapi kemarahan Axel yang meledak-ledak karena mengalami depresi tidak bisa meminum obat itu lagi. Biasanya Axel akan tenang untuk beberapa waktu namun beberapa menit kemudian ia bisa menghancurkan apapun yang dilihatnya. Axel bahkan pernah mulai hilang kendali dan hampir membunuh dirinya sendiri.


Untung saja Bella segera membawanya ke rumah sakit tepat waktu. Jika telat sedikit saja, Entah apa yang akan terjadi.


Semua keluarganya dan Axel berkumpul untuk memberi dukungan saat Ia memberi tau keadaan sebenarnya. Ibu Tamara juga langsung syok melihat keadaan putranya. Ia tak menyangka anaknya bisa terjerumus dalam dunia gelap seperti. Ia menyesal karena tak terlalu memperhatikan tumbuh kembang Axel.


"Axel harus di bawa ke panti Rehabilitasi. Dia perlu penangan khusus sebelum semuanya terlambat" ucap Papa Nugraha yang kala itu ikut menemani dirinya.


"Apa Axel nggak akan ditangkap polisi Pa?" Tanya Bella yang sejujurnya lebih mengkhawatirkan hal itu. Karena setahunya orang yang menggunakan obat seperti itu pasti akan ditangkap polisi. Dan Bella tidak mau hal itu terjadi makanya ia lebih memilih merawat Axel sendiri.


"Ya menurut undang-undang negara kita memang akan akan hukuman untuk pengguna narkoba. Tapi kalau kita melapor atas kemauan sendiri mungkin bisa mengurai hukumannya" kata Papa Nugraha lagi seraya menghela nafas panjang. Ia merasa tak tega melihat putrinya yang terus terkena masalah seperti ini.


Dengan berat hati, Bella akhirnya menyetujui untuk mengirim Axel ke panti Rehabilitasi. Tega tak tega, Ia harus melakukannya. Ini semua demi kebaikan Axel. Dia ingin Axel sembuh dan tak ketergantungan obat itu terus.


"Sebenarnya aku nggak rela kamu tidur disini. Nanti pasti aku kangen banget. Tapi nggak apa-apa, Aku janji setiap hari akan jengukin kamu" ujarnya ketika ia mengantarkan Axel ke kamar Rehabilitasi.


Axel hanya bergeming. Memang sejak kejadian itu, Axel menjadi lebih pendiam dan muram. Tapi Bella tak menyerah untuk mengajaknya berbicara.


"Karena aku nggak bisa nemenin kamu disini. Sebagai gantinya aku bawain ini" Bella mengambil boneka beruang yang sengaja ia bawa tadi. Boneka beruang yang Axel berikan dari hasil permainan lempar gelang.


"Taraaaa.....!!! Aku udah kasih Nama dia Bible" ujar Bella tersenyum ceria.


"Bible, Temenin Kak Axel disini dulu ya, Aku mau pulang dulu. Kalau dia suka tidur malem kamu marahin aja, oke" Kata Bella tanpa sadar air matanya mulai menggenang karena Axel sama sekali tak merespon dirinya.


Ia cepat cepat mengusap air matanya sebelum jatuh. Ia lalu tersenyum pada Axel. "Aku mau pulang dulu, cepet sembuh ya. Aku nggak mau kamu lama-lama disini" ucapnya seraya bangkit. Bella menyempatkan untuk mencium bibir Axel sebentar sebelum benar-benar pergi.


****


AXEL POV


Kini ia sudah resmi menyandang gelar lelaki pesakitan tak berdaya yang menyedihkan. Setiap hari ia selalu melihat senyum Bella yang sabar mengurus dirinya yang setiap saat hilang kendali jika tidak minum obat. Ia sengaja menjauh karena tidak ingin menyakiti wanita itu. Namun nyatanya ia justru semakin membuat wanita itu sakit saat mengetahui dirinya yang seorang pecandu narkoba.


Untuk pertama kalinya ia membentak Bella dan ia melihat sepasang mata indah itu terkejut. Ia harap Bella akan membencinya dan akan pergi meninggalkannya. Tapi nyatanya wanita malah mengulurkan tangan dan menerima dirinya. Hal itu yang tanpa ampun berhasil menggerus harga diri, kepercayaan diri serta keyakinan ke titik terendah.


Ia berusaha keras menipu diri sendiri dengan mengabaikan Bella yang setiap hari menemuinya di panti rehabilitasi. Padahal ia sudah sangat rindu ingin memeluk tubuh mungil itu. Ia ingin mengelus pipinya yang selalu memerah karena godaan recehnya. Namun hal itu menguap begitu saja ketika kemarahan atas ketidak berdaya an diri membuat ia berkubang oleh rasa bersalah tak berkesudahan.


Selama tiga bulan berada di panti Rehabilitasi Bella tak pernah absen untuk menemuinya. Terkadang membawa hasil masakan barunya, Kadang hanya bercerita tentang kejadian yang dialami kemarin. Bella juga selalu mencium bibirnya saat berpamitan. Tapi suatu pagi, Ia sudah menunggu kedatangan Bella. Namun sampai hari hampir siang, Bella tidak muncul. Malah Papa Nugraha yang datang sore harinya membawa paper bag kecil.


"Ini dari Bella. Dia nggak bisa nemuin kamu hari ini, Soalnya lagi nggak enak badan. Kemarin kehujanan karena mobilnya mogok di jalan" ucapan Papa Nugraha membuat dirinya semakin merasa bersalah.


"Maaf" ujarnya tak berani menatap wajah sang mertua.


"Untuk apa meminta maaf kalau kamu ulangin lagi. Selama ini Papa sudah menahan diri tapi sepertinya kamu mulai ngelunjak. Apa kamu nggak kasihan lihat anak Papa yang harus bolak balik kesini tapi kamu sama sekali nggak ada usaha untuk sembuh" kata Papa Nugraha tegas.


"Jangan buat Papa menyesal karena sudah kasih kesempatan untuk kamu"


Kata kata Papa Nugraha seperti tamparan keras untuk dirinya. Tapi bukan itu saja yang mengganggu pikirannya. Sudah seminggu lebih Bella tak datang menemuinya. Padahal dia ingin memberi tahu kalau besok dia sudah bisa pulang karena dirinya dinyatakan sudah sembuh total.


Ia berpikir mungkin Bella benar-benar sudah muak dengan sikapnya. Lagipula apalagi yang diharapkan dari seorang mantan pecandu narkoba seperti dirinya. Bella bahkan bisa mendapatkan orang yang jauh lebih baik darinya. Meskipun ia masih sangat berharap kalau Bella mau kembali padanya.


Hari berlalu dengan cepat dan Bella benar-benar tak datang lagi menemuinya. Ia mengemasi barangnya dengan tidak bersemangat. Lalu pandangannya beralih pada Boneka beruang yang setiap malam menamainya.


Ia ikut tersenyum mengingat wajah Bella yang begitu senang saat ia mendapatkan boneka ini. Senyuman itu, Bisakah ia melihatnya lagi?.


Setelah mengemasi barangnya dan mengurus semua berkas kepulangannya. Ia langsung melangkah keluar, Namun langkahnya seketika terhenti melihat wanita cantik yang berdiri didepannya. Wanita itu menggunakan dress putih selutut yang tampak sangat cocok dengan tubuhnya. Kini wanita cantik itu melangkahkan kakinya mendekat kearahnya seraya mengembangkan senyum manis di bibirnya.


Sepanjang langkah wanita itu mendekat, Ia merasakan jantungnya berdetak kencang. Ia seperti jatuh cinta kembali. Tanpa sadar bibirnya terangkat melengkung membalas senyuman wanita itu.


"Hai, Love" ujar wanita itu mengulurkan satu tangkai bunga mawar putih yang sejak tadi di simpan ditangannya.


Ia terdiam sesaat melihat bunga itu, Ia tertawa kecil dan menerima nya membuat wanita itu tersenyum. Sedetik kemudian tubuh wanita itu sudah berada dalam pelukannya.


Happy Reading


TBC