MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Sesuatu Yang Mengusik Hati.



Setiap kehidupan rumah tangga pasti memiliki cerita yang berbeda. Terkadang ada yang memiliki kehidupan rumah tangga yang berliku-liku namun juga ada yang hidup bahagia bersama pasangannya. Sama halnya seperti kehidupan rumah tangga Dio dan Karin.


Mereka berdua memang hidup bahagia, tapi ada sesuatu yang cukup mengusik hati Karin, yaitu soal dirinya yang tak kunjung hamil. Meskipun Dio tak pernah menyinggung atau mempermasalahkannya, tapi sebagai seorang wanita, Karin merasa belum sempurna karena belum bisa memberikan anak pada suaminya.


Hari itu, Karin terlihat cukup tak tenang, ia beberapa kali melihat kalender yang ia lingkari. Ia sudah terlambat datang bulan selama satu bulan, dan hal itu membuat hatinya seperti di siram sesuatu yang menyejukkan. Tapi lagi-lagi ia harus kecewa karena beberapa hari kemudian ia datang bulan, siklus haidnya tidak teratur karena mungkin banyak sekali pikiran.


"Kenapa belum tidur?" Dio merebahkan dirinya di kasur lalu memeluk tubuh Karin yang tampak gusar sekali.


"Nggak bisa tidur, Abang udah selesai?" tanya Karin membenamkan wajahnya di dada suaminya.


"Udah, Kamu lagi mikirin apa?" kata Dio mengusap-usap lembut rambut Karin.


"Nggak lagi mikirin apa-apa, Aku pengen tidur meluk Abang aja" kata Karin tak ingin mengatakan apa yang membuatnya gusar.


"Kau tidak pandai berbohong Karin, Ada apa?" kata Dio sedikit menjauhkan wajah istrinya. Ia menatap mata Karin yang memandangnya sendu.


"Apa Abang nggak akan ninggalin aku?" tanya Karin merasa takut jika sampai Dio meninggalkannya.


"Apa yang kau katakan?" Dio menatap Karin tak mengerti.


"Ya, Abang tau sendiri, kalau aku nggak bisa hamil. Padahal Abang sudah sangat ingin punya anak" kata Karin lirih. Ia banyak mendengar cerita-cerita tentang istri yang di tinggalkan suaminya karena tidak bisa memberi keturunan. Hal itu tentu membuat Karin ketakutan.


"Kalau Abang memang sangat menginginkannya, Aku nggak apa-apa, kalau Abang mau menyewa rahim wanita lain" sambung Karin tak ingin bersikap egois. Meskipun itu artinya ia harus merelakan membagi suaminya dengan wanita lain, tapi itulah satu-satunya cara agar mereka memiliki anak.


Dio mengerutkan dahinya mendengar ucapan Karin. Ternyata masalah itu yang mengganggu pikiran istrinya.


"Apa maksudmu? Kau ingin aku meniduri wanita lain? Sebenarnya apa yang kau pikirkan Karin? Apa menurutmu aku bisa melakukannya?" kata Dio dengan suara sedikit meninggi. Ia langsung menarik dirinya untuk duduk.


"Tapi cuma itu satu-satunya cara agar Abang bisa mempunyai anak" kata Karin ikut pendudukan dirinya.


"Karin, dengarkan aku" kata Dio kini menatap Karin dengan serius.


"Aku memang menginginkan seorang anak, tapi bukan berarti aku harus mendapatkannya kan. Jangan memaksakan dirimu Karin, bukankah kita sudah berjanji untuk selalu bersama. Aku juga sudah mengatakan padamu untuk tidak membahas masalah ini. Lagipula kalau kau memang tidak bisa hamil, kita masih bisa memiliki anak, kita bisa mengadopsi anak dari panti asuhan" kata Dio menegangkan.


"Apa Abang yakin, Abang tidak menginginkan anak Abang sendiri?" kata Karin tau bagaimana Dio sangat menyukai anak-anak.


Karin ingat saat beberapa saat lalu mereka menjenguk anak Bella yang baru lahir, mata Dio selalu sendu jika melihat seorang anak kecil.


"Anak kita, Aku kan sudah bilang kalau kita bisa mengadopsi anak dari panti asuhan. Bukankah dengan begitu kita bisa memberikan kehidupan yang layak untuk mereka yang sudah di tinggalkan orang tuanya" kata Dio lagi.


Karin terdiam menatap suaminya. Bagaimana suaminya bisa bersikap seperti ini? Karin merasa bersalah karena sempat berpikiran bodoh untuk membuat Dio menyewa rahim orang lain.


"Maafkan aku" kata Karin memeluk tubuh suaminya dengan erat.


"Ya, tapi dengan satu syarat, kau tidak boleh membahas tentang anak lagi" kata Dio membalas pelukan itu tak kalah eratnya.


"Iya" sahut Karin mengangguk dalam pelukan suaminya.


Dio tersenyum tipis lalu mengurai pelukan istrinya, ia menatap dalam-dalam wajah Karin sebelum mencium bibir lembut istrinya. Perlahan ia mendorong tubuh Karin agar berbaring. Saat ciuman itu mulai panas, Karin segera menahan dada suaminya.


"Kenapa?" tanya Dio di antara nafas yang menderu.


"Maafkan aku" kata Karin merasa kasihan melihat wajah suaminya.


"Kenapa minta maaf, Itu bukan masalah. Aku aja bisa menahannya selama lima tahun, apalagi ini cuma seminggu doang kan?" kata Dio mecoba tersenyum meskipun kini sesuatu di bawah sana sudah bangkit sempurna.


"Darimana Abang tau kalau datang bulan itu seminggu?" tanya Karin menatap suaminya curiga.


"Apa yang kau pikirkan? Aku hanya mengingat jawdalmu setiap datang bulan tak lebih dari seminggu, dan ini udah hari ke lima, dua hari lagi persiapkan dirimu, aku pastikan tak akan membiarkanmu lolos" bisik Dio menyusuri telinga istrinya dengan gemas.


Karin tersenyum tipis seraya mengedikan pundaknya. "Abang mau aku pakai seragam warna apa?" kata Karin berbisik menggoda.


"Maunya nggak usah pakai baju aja, biar gampang" kata Dio semakin menenggelamkan wajahnya di leher istrinya.


"Abang geli ih" kata Karin mencoba melepaskan dirinya tapi Dio malah memeluknya erat.


"Diamlah sayang, kalau kau bergerak terus, aku pastikan akan membuatmu tidak tidur" kata Dio sontak membuat Karin terdiam saat merasakan sesuatu yang di sengaja di tekankan di pahanya.


"Maaf" kata Karin.


"Ya, sekarang tidurlah" kata Dio mencium kening Karin sebelum memejamkan matanya untuk menurunkan tegangan dalam dirinya. Tapi bukannya turun, tegangannya semakin tinggi karena berdekatan dengan istrinya.


Sialan!


******


Pagi pagi sekali, Karin sudah bangun karena mendengar ponselnya berdering. Matanya menyipit saat melihat siapa yang meneleponnya di pagi buta begini.


"Halo..." ucapnya dengan suara serak.


"Halo, Nak Karin. Ini Papa"


"Papa?" Karin mengerutkan dahinya saat mendengar suara orang asing. Ia lalu melihat lagi nomor ponsel yang menelepon. "Papa Abimanyu?" ucap Karin mengingat suara itu.


"Benar, Maaf Papa mengganggu pagi-pagi begini" suara Abimanyu terdengar sungkan.


"Eh, iya nggak ganggu kok. Ada apa Papa menelepon Karin?" tanya Karin membuka matanya lebih lebar, ia menyingkirkan tangan Dio yang menimpa perutnya.


"Papa ingin minta tolong padamu nak, Apakah kau bisa membantu?"


"Minta tolong apa Pa? Kalau Karin bisa, pasti Karin bantu" kata Karin menebak apa yang di inginkan mertuanya. Ia melirik Dio yang sedikit menggeliat dan kembali menarik tubuhnya untuk di peluk.


"Bisakah kau membujuk Dio untuk datang kesini, besok adalah ulang tahun Papa dan Papa ingin semua anak Papa berkumpul. Kemarin Papa sudah mencoba menghubunginya, tapi Dio tidak mengangkatnya"


Karin terdiam sesaat mendengar suara Papa berharap itu.


Happy Reading.


Tbc.