MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Rest Of My Life.



Festival lampion ini membuat jalanan menjadi terang benderang. Seluruh kota di hiasi lampion-lampion dengan berbagai bentuk dan sangat indah. Banyak orang yang berkumpul disana, kebanyakan dari mereka juga pasangan muda seperti mereka.


Dio mendorong kursi roda Karin untuk masuk ke alun-alun untuk melihat festival lampion itu. Selain itu, juga ada live musik yang tampak semakin memeriahkan acara itu.


Karin terlihat sangat antusias saat melihat kemeriahan itu, ia benar-benar merasa sangat senang, wajahnya tampak terus mengulas senyum manis.


"Apa kau senang?" tanya Dio yang sebenarnya tak memerlukan jawaban karena di lihat dari wajahnya saja, ia tau kalau Karin senang.


"Ya" kata Karin mengangguk pelan.


"Oh, ya. Aku baru ingat, tunggu disini sebentar ya" kata Dio membuat Karin mengerutkan dahinya.


"Ad....a..apa?" tanya Karin tak mengerti.


"Sudah, tunggu saja disini. Aku akan kembali nanti" kata Dio tersenyum tipis dan mengelus rambut Karin pelan sebelum meninggalkan wanita itu.


Karin hanya bisa memandang kepergian suaminya, ia sedikit penasaran kemana Dio akan pergi. Karin lalu melihat kembali banyaknya lampion yang berjajar indah. Tapi setelah cukup lama, Dio sama sekali belum kembali membuat Karin sedikit cemas. Hingga Karin teralihkan saat mendengar suara yang sangat di kenalnya dari atas panggung.


Karin kaget saat Dio yang sudah berada di atas panggung itu, Ia menutup mulutnya tak percaya. Apa yang suaminya itu lakukan? pikirnya.


"Selamat malam, Aku disini ingin membawakan sebuah lagu, saat aku mendengarkan lagu ini, aku merasa lagu ini di ciptakan khusus untuk wanita yang paling spesial dalam hidupku, Karin" kata Dio membuat seluruh penonton disana langsung riuh dan bertepuk tangan, Apalagi wajah Dio yang tak di ragukan lagi ketampanannya membuat para wanita disana histeris.


Karin semakin tak percaya dengan apa yang di dengarnya, ia terdiam saat Dio terus menatap dirinya dari atas panggung itu.


Dio memetik gitarnya pelan dengan mata yang tak lepas memandang wajah istrinya.


(Everyday I wake up next to an angel)


Setiap hari aku bangun di sebelah malaikat.


(More beautiful than words could say)


Lebih indah dari kata-kata yang bisa diucapkan.


(They said it wouldn't work but what did they know?)


Mereka bilang itu tidak akan berhasil tapi apa yang mereka tahu?.


('Cause years have passed and we're still here today)


Karena bertahun-tahun telah berlalu dan kita masih di sini hari ini.


(Never in my dreams did I think that this would happen to me)


Tidak pernah dalam mimpi saya, saya berpikir bahwa ini akan terjadi pada saya.


(As I stand here before my woman)


Saat aku berdiri di sini di depan wanitaku.


(I can't fight back the tears in my eyes)


Aku tidak bisa menahan air mata di mataku.


(Oh, how could I be so lucky)


Oh, bagaimana saya bisa sangat beruntung.


(I must've done something right)


Saya pasti telah melakukan sesuatu yang benar.


(And I promise to love her for the rest of my life)


Judul lagu: Rest of my life _Bruno Mars.


Air mata Karin sudah meleleh saat pertama kali mendengar lirik yang di nyanyikan Dio untuknya. Lagu itu benar-benar menyentuh hatinya.


Setelah Dio menyelesaikan lagunya, tepuk tangan langsung riuh karena merasa Dio terlihat sangat keren menyanyikan lagu untuk wanita yang dicintainya. Dio langsung turun dari panggung setelah menyelesaikan lagunya, ia mendatangi istrinya dengan membawa bunga mawar di tangannya.


"Untukmu" kata Dio berjongkok dan menyerahkan bunga itu untuk istrinya.


Karin menatap dalam-dalam wajah Dio, ia tak menerima bunga itu, tapi Karin langsung menghambur ke pelukan Dio dan menangis.


"Kok nangis sih, nggak seneng ya aku nyanyiin?" kata Dio mengusap pelan air mata istrinya tak peduli kini banyak orang yang melihat mereka karena penasaran sosok wanita yang dicintai pria keren yang baru saja bernyanyi.


"Se...ne..ng" kata Karin pelan.


"Kalau seneng senyum dong, lagu itu seperti isi hati ku ke kamu, Rest of my life" kata Dio terus memandang wajah istrinya seolah tak jemu-jemu.


Karin mengangguk karena tak bisa lagi menemukan kata yang cocok untuk suaminya ini. Dio memang selalu banyak kejutan dan selalu memiliki cara untuk membuat hatinya menghangat. Disaat keduanya masih menatap penuh cinta, bisik-bisik sumbang terdengar membuat keduanya cukup terganggu.


"Ih, Ceweknya cacat ternyata..."


"Kasihan banget ya, padahal cowoknya ganteng gitu..."


"Kalau aku jadi ceweknya sih malu .."


"Bener, kasihan.."


"Terpaksa kali..."


"Nggak sadar diri....."


Karin menundukkan wajahnya mendengar hal itu, tapi yang di bicarakan mereka itu benar, ia memang wanita yang tak berguna dan pastinya akan selalu menyusahkan Dio nantinya.


Dio langsung melirik mereka tajam, tangannya mengepal karena tak terima istrinya di hina seperti itu. "Kurang ajar" kata Dio mengeram dan ingin mendatangi para si mulut pedas itu, tapi Karin melarangnya.


"Jangan, kita pulang saja" Karin segera menuliskan kata itu di ponselnya.


"Biarkan aku memberi pelajaran pada mereka agar tidak seenaknya menghina orang" kata Dio masih dengan emosinya.


"Tidak perlu, mereka memang mengatakan hal yang benar" Karin menatap Dio dengan mata sendunya.


"Tapi aku...." Dio menghentikan ucapnya saat Karin menggelengkan kepalanya pertanda wanita itu tak ingin Dio melanjutkannya.


Dio mengangguk lalu mengajak Karin segera pulang karena malam juga semakin larut. Tapi Karin sedikit bingung saat melihat jalanan yang mereka lewati bukan ke Apartemen, tapi memasuki sebuah komplek perumahan elit di kota Jakarta.


"Ini rumah kita" ucap Dio saat melihat wajah ingin tau Karin saat mobil mereka sampai di sebuah rumah yang terlihat simple namun sangat elegan.


Karin masih memasang wajah bingungnya, bahkan sampai Dio mengajaknya masuk ke dalam. Ia masih terlalu syok karena Dio sudah membeli rumah baru. Saat mereka masuk, pertama kali yang di lihat Karin adalah foto pernikahan mereka yang terlihat sangat besar di pajang di ruang tamu.


"Mulai sekarang, kita akan tinggal disini. Kamu suka nggak?" tanya Dio.


"Suka" kata Karin menjawab jujur, ia memang sangat suka sekali dengan desain rumah itu.


"Baiklah, sekarang sudah sangat malam. Aku akan membantumu untuk bersih-bersih terus tidur" kata Dio tiba-tiba mengangkat tubuh Karin dari kursi roda membuat wanita itu kaget.


"Jangan memelototi ku seperti itu, aku hanya ingin menggendong mu, bukan untuk hal yang lain" kata Dio mengerlingkan matanya.


Karin tersenyum tipis dan membiarkan Dio membantu dirinya untuk mengganti baju sebelum beristirahat. Kini ia sudah berada di dalam dekapan hangat suaminya, dan mendengarkan irama jantung Dio sebagai lagu pengantar tidurnya yang indah.


Happy Reading.


Tbc.