
Dio terlihat berdiri di balkon kamarnya, sedikit menghirup udara malam setelah perdebatan tanpa ujung selesai. Dalam otaknya banyak sekali pemikiran yang entah kenapa membuatnya merasa cukup takut dan juga tak tenang. Dio merasa, hal ini pasti akan menjadi masalah dikemudian hari karena mengingat bagaimana ber ambisinya keluarga istri pertama Papanya itu.
Karin baru saja kembali dari kamar mandi setelah mencuci wajahnya karena akan tidur. Ia terdiam sesaat melihat Dio yang sedang berada disana. Perlahan ia mendekat hingga ia bisa mencium wangi khas Dio yang di terbangkan semilir angin malam.
"Sedang apa?" tanya Karin ikut berdiri disamping suaminya.
"Oh, Hanya melihat pemandangan malam" kata Dio tersenyum sedikit pada istrinya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" kata Karin bisa melihat sesuatu yang tak biasa dari tatapan mata Dio padanya.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Apa yang kau pikirkan sekarang? Kau sudah tau semuanya tentang aku Karin, Apa kau masih bisa menerimaku?" kata Dio sedikit mengepalkan tangannya karena merasa malu jika mengungkap jati dirinya.
"Kenapa kau mengatakan hal itu?" Karin mengerutkan dahinya mendengar ucapan Dio, ia menatap Dio yang kini sedang menahan dirinya.
"Ya, Kau tau kan sekarang kalau suamimu ini hanya anak hasil perselingkuhan, keluargaku...." Dio menghentikan bicaranya saat tiba-tiba Karin menyentuh bibirnya dengan telunjuknya.
"Jangan pernah berbicara seperti itu lagi Dio" kata Karin sepertinya tau apa yang dirasakan suaminya.
"Tapi itulah kenyataannya Karin, Aku tidak tau apa yang akan dilakukan keluargamu jika mereka tau tentang statusku" Hati Dio sakit sekali rasanya saat mengatakannya.
"Lalu, jika keluargaku tak setuju, apa kau akan meninggalkanku begitu?" kata Karin sedikit ketus.
"Bukan seperti itu, aku hanya...."
"Dio, Dio, Sepertinya kau harus tau satu hal. Ketika aku memutuskan menerimamu, itu artinya aku menerima segala yang kau miliki. Baik ataupun buruknya hidupmu aku pasti akan menerimanya Dio karena ketika kau menikahi ku, aku sudah menggantungkan semua harapan dan kepercayaan ku padamu" kata Karin dengan suaranya yang tegas membuat Dio bungkam.
"Karin...." Dio tak mampu lagi berucap, ia langsung memeluk tubuh kecil istrinya dengan erat. "Maafkan aku..." kata Dio menyesal karena hampir saja berpikiran bodoh.
"Aku tidak akan memaafkan mu jika kau bersikap seperti itu lagi" kata Karin masih ketus namun segera membalas pelukan suaminya.
"Aku hanya tak ingin statusku akan membuatmu malu nantinya" kata Dio kini menatap dalam-dalam mata istrinya.
"Kenapa harus malu? Kau tidak pernah salah dalam hal ini, aku juga yakin kau tidak mau berada dalam posisi seperti ini" kata Karin lagi.
"Terima kasih sudah menerimaku Karin" kata Dio mengelus lembut pipi istrinya.
Ia benar-benar beruntung bisa memiliki Karin. Ia tak tahu hati istrinya terbuat dari apa, yang jelas kini perasaan cintanya semakin meluap-luap ada wanita ini.
"Ya, lagipula bagaimana bisa kau berpikir akan meninggalkan aku, apa kau lupa kalau kau memintaku untuk tetap bersamamu?" kata Karin masih memasang wajah kesalnya.
"Maafkan aku" kata Dio memasang wajah bersalahnya.
"Dimaafkan" kata Karin membuat Dio lega.
Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan langsung mencium bibir istrinya dengan lembut dan lama-lama berubah menjadi lebih liar. Dio bahkan tak segan mengigit pelan bibir istrinya yang begitu manis.
Karin men de sah tertahan saat Dio mulai menurunkan ciumannya dan melepaskan semua penghalang di antara keduanya. Jari jemari Dio mulai menjelajahi jengkal demi jengkal kulit putih dan halus itu.
Dio melepaskan sejenak ciumannya dan menatap wajah Karin yang sudah merah pada yang sangat disukainya itu. Karin mengigit bibirnya membuat Dio tak bisa lagi menahannya.
"Kita pindah ke kamar" bisik Dio langsung meraih tubuh Karin yang sudah pasrah kedalam gendongannya dan segera melanjutkan segalanya dengan rasa yang tak terlukiskan.
Hari ini adalah hari dimana acara resepsi pernikahan Dio dan Karin akan di gelar. Kedua pasangan itu sudah berada di hotel sejak semalam. Karin juga sudah menyetel alarm agar tidak terlambat bangun, tapi keasikan mereka semalam membuat Karin tak mendengar suara alarmnya.
Ia baru terbangun saat merasakan sesuatu yang menggerayangi tubuhnya. Karin membuka matanya dan melihat Dio yang masih memejamkan matanya, tapi tangan pria itu sudah menyelinap di dalam bajunya.
"Jangan pura-pura tidur" bisik Karin pada suaminya membuat Dio tersenyum tipis.
"Aura pagi memang susah di tolak" kata Dio semakin merapatkan tubuhnya.
"Alesan aja, udah lepas. Aku mau mandi. Nanti Mama nungguin lagi, Acaranya jam 10 akan di mulai" kata Karin mencoba melepaskan dirinya.
"Masih ada waktu" bisik Dio sudah menggulingkan tubuhnya di atas sang istri.
"Dio ih, Jangan lama-lama tapi" kata Karin sedikit kaget dengan tingkah suaminya ini. Tapi ia juga tak bisa menolak kehangatan pagi selalu di berikan suaminya.
"Aku nggak bisa janji soal lama atau enggaknya, kamu tau sendiri gimana aku selama ini" kata Dio langsung mencium bibir Karin dengan panas dengan tergesa-gesa membuka kaki Karin agar bertekuk.
Dalam hati Karin membenarkan apa yang di katakan suaminya. Selama ini mereka tak pernah bercinta dalam waktu singkat. Entah bagaimana, tapi Dio selalu jauh lebih lama bertahan ketimbang dirinya.
"Dio....Akh....Aku nggak bisa kalau gini" kata Karin mengerang saat Dio sudah berada di bawah sana. Ia menjambak rambut suaminya agar menghentikannya tapi Dio malah menciumnya dengan kasar hingga menimbulkan suara bedecak.
"Dio...udah" kata Karin lagi tak sanggup menahan lebih lama.
Dio menuruti keinginan istrinya dan mengangkat wajahnya dari bagian favoritnya itu. Ia kemudian menarik kaki istrinya agar tergantung di ranjang dan melakukan penyatuan.
"Oh sh it!!! Dio! Pelan-pelan" Karin memaki saat merasakan gerakan Dio membuat seluruh ranjang bergetar.
"Katanya aku harus mempersingkat waktu" kata Dio terengah-engah.
Karin memejamkan matanya saat Dio melakukan gerakan lebih cepat, jemari kakinya sudah menekuk karena pelepasananya datang.
"Udah...."
"Really...Dio..." kata Karin memegangi tangan suaminya yang berada disamping kepalanya.
"Kembali ke rencana awal" kata Dio melepaskan penyatuannya sejenak dan mengambil salah satu bantal.
"Aku mau coba gaya progam memiliki anak segera" kata Dio lagi meletakkan bantal itu di bawah istrinya.
"Darimana kau tau cara ini?" tanya Karin saat melihat Dio sudah bersiap untuk menyerangnya kembali.
"Yang jelas bukan dari seorang wanita" kata Dio langsung mencium bibir istrinya dan kembali mengarahkan sesuatu ke tempatnya.
Beberapa saat kemudian Karin sudah merasa lelah dan lemas saat melihat bibir Dio setengah terbuka dan memejamkan matanya lalu menghujam dalam, dan melepaskan sesuatu berkali-kali di dalam sana.
"Semoga kamu segera hadir" batin Dio mencium perut bawah istrinya saat sudah menyelesaikan segalanya.
Happy Reading.
Tbc.