
Acara syukuran itu selesai setelah hari cukup siang. Semua orang sudah meninggalkan rumah Dio dan Karin. Sebenarnya Karin sudah meminta Mama Sofi atau kedua orang tuanya menginap, tapi ternyata masih ada acara lain yang harus di hadiri Papa dan Mamanya. Sedangkan Mama Sofi yang saat ini menjadi ketua yayasan sekolah amal juga acara lain malam itu.
Tapi masih ada orang lain yang berada disana, yaitu Tiara yang sejak tadi menunggu mobil jemputan nya belum datang.
"Belum bisa di hubungin juga?" tanya Karin menghampiri Tiara yang terlihat sekali sedang menahan kesal.
"Belum, Pasti nih ketiduran. Awas aja nanti, aku aduin Papa biar di pecat sekalian" kata Tiara benar-benar sebal dengan supirnya karena sudah berani membuatnya menunggu.
"Sabar dong, Siapa tau udah di jalan. Supir aku juga masih nganterin Mamanya Dio, Kamu tungguin deh di dalem, gimana?" kata Karin mencari solusi.
"Itu masalahnya, Aku nggak bisa nunggu Rin. Hari ini ada promo tas yang aku incer dari dulu, Aku nggak mau sampai telat" kata Tiara lagi. Ia memang masih hobi mengoleksi tas dan berbelanja hingga saat ini.
Karin terdiam sesaat, Ia lalu melihat suaminya yang terlihat keluar bersama Angga. Keduanya tampak mengobrol ringan.
"Yasudah, besok kamu atur aja tempatnya" kata Dio sebelum mereka sampai di depan pintu rumah.
"Siap, Aku balik dulu kalau gitu. Mau siapin berkasnya sekalian biar besok bisa langsung gass" kata Angga.
"Baiklah" kata Dio mengangguk singkat. Ia lalu menatap Istrinya yang sedang bersama Tiara di teras rumah.
"Tiara belum pulang?" tanya Dio mendekati istrinya.
"Belum, Supirnya nggak bisa di hubungin. Abang udah selesai bahas pekerjaan sama Angga?" tanya Karin melirik Angga yang kini berada di samping suaminya.
"Udah, Ini dia mau pulang" kata Dio seadanya.
"Pas banget, suruh anterin Tiara pulang aja" kata Karin menemukan ide cemerlang.
"Apa? Aku pulang sama dia? Ogah banget!" seru Tiara langsung menolak ide itu, ia melirik sinis pada Angga yang hanya mengangkat alisnya. Ia heran kenapa Tiara selalu memasang wajah bermusuhan kalau bersamanya.
"Cih, Kau pikir aku mau mengantar wanita sepertimu, Sudahlah Karin, Dio, aku pulang dulu, biarkan saja wanita ini disini sendirian" kata Angga cuek saja, ia malah berlalu pergi begitu saja menuju mobilnya.
"Kau yakin tidak ingin pulang bersama Angga? Bukannya kau ingin mengejar promo tas" kata Karin mengingatkan sahabatnya.
Mendengar itu mata Tiara membesar. "Astaga! Kau benar, aku harus dapetin tas itu segera" kata Tiara baru ingat kalau kini ia berkejaran dengan waktu.
"Lalu, tunggu apalagi? Buruan lah, Nanti keburu Angga pergi lagi" kata Karin menatap Angga yang sudah dekat dengan mobilnya.
"Ya, Aku pulang dulu kalau gitu, byee... Karin, Dio" kata Tiara memberikan cipika-cipiki sekilas pada Karin sebelum menyusul Angga.
Karin melempar pandang dengan Dio saat melihat Tiara yang kini tengah beradu mulut dengan Angga. Tapi sesaat kemudian Karin tersenyum manis.
"Kenapa tersenyum begitu?" tanya Dio tiba-tiba meraih tangan Karin lalu merengkuh pinggangnya.
"Angga sama Tiara kayaknya cocok" kata Karin menatap Dio yang menekuk wajahnya.
"Angga?"
"Ya, Kenapa tidak kita jodohkan saja. Angga tidak punya pacarkan?" kata Karin entah kenapa ingin sahabatnya segera memiliki pendamping hidup.
"Tidak tahu. Lagipula untuk memikirkan mereka. Kau harus ingat, yang harus kau pikirkan itu hanya empat hal" kata Dio tersenyum tipis.
"Empat hal? Apa itu?" Karin menatap Dio tak mengerti.
"Bisa aja" Karin mencubit gemas lengan suaminya.
"Loh, Serius ini. Kamu nggak boleh mikirin apapun selain aku" kata Dio mengedipkan matanya membuat Karin tergelak.
"Kalau itu tanpa Abang suruh, udah kepikiran terus" kata Karin balas menggoda suaminya.
"Udah pinter kalau gitu istriku ini" kata Dio terkekeh dan mencium pipi Karin sekilas.
"Harus dong, siapa dulu suaminya" kata Karin menahan malu, wajahnya bahkan sudah memerah menggemaskan. Ia ingin mengutip seperti kata yang tertulis di artikel yang pernah di baca. Salah satu cara memelihara cinta dan sparks dalam pernikahan adalah dengan ucapan terimakasih yang tulus dan sentuhan kecil namun bermakna.
Ucapan Karin itu membuat Dio semakin tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu hari ini capek nggak?" kata Dio sambil menyusuri telinganya.
"Ada tempat bagus buat di jadiin TKP" bisik Dio lagi diiringi hembusan nafas hangat di telinga Karin.
Karin tersenyum manis. "Boleh, Tapi aku mau di gendong" kata Karin memasang wajahnya yang manja dan menggoda.
"Siap, Laksanakan Nyonya" kata Dio langsung meletakkan tangannya di bawah lutut Karin lalu mengangkatnya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Karin pikir, Dio akan mengajaknya masuk kedalam kamar, tapi ternyata Karin salah. Dio mengajaknya masuk kedalam ruang gym, untuk apa pikirnya. Tapi sedetik kemudian matanya membesar saat dirinya masuk kedalam.
Ruangan itu sudah di sulap menjadi tempat yang sangat indah. Lampu ruangan itu di matikan di ganti dengan cahaya lilin. Selain itu, ada tenda kecil di dalam sana.
"Abang? Kamu nyiapin ini?" tanya Karin kaget.
"Ya, Aku ingin mengganti momen honeymoon kita yang gagal, Apakah kau suka?" kata Dio memandang lembut mata istrinya.
"Honeymoon?" Karin malah ingin tertawa mendengar ucapan suaminya. Padahal tanpa acara honeymoon pun, Dio akan tetap mengajaknya bergelut di ranjang. "Berarti, ini judulnya Ganti rugi Honeymoon gitu?" sambung Karin terkekeh kecil.
"Begitu juga boleh" kata Dio membawa Karin kedalam tenda kecil itu. Ia harus sedikit membungkuk untuk masuk kedalamnya.
Karin terdiam memandang mata Dio yang menatapnya tajam namun lembut. Terlihat sekali sedang di liputi gairah. Dio menatap dalam wajah Karin yang terlihat sangat cantik di bawah remangnya cahaya kamar, perlahan ia mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir manis istrinya.
Karin pun segera membalasnya dengan lembut. Ciuman itu semakin lama semakin panas dan menuntut. Dio pun tak segan untuk melepaskan seluruh pakaian keduanya hingga keduanya sama-sama tak menggunakan sehelai benang.
"Abang....." Karin sudah mulai men desah keasikan saat Dio melakukan sesuatu di bawah sana.
"Udah...." kata Karin menahan diri untuk tak membasahi suaminya.
Dio tak mengindahkan permintaan Karin, ia malah sengaja mencium bagian favoritnya itu dengan keras membuat de sahan Karin semakin liar. Hingga ia merasakan milik istrinya berdenyut dan ia menyudahi aksinya.
"Abang...Udah..." kata Karin dengan nafas tersengal.
Dio tersenyum tipis lalu mencium bibir istrinya dengan lembut. Perlahan ia mendorong miliknya kedalam lembah basah yang masih terasa legit dan ranum membuat le ngu han lolos dari mulutnya.
Beberapa saat saja de sa han keduanya saling bersahutan memenuhi ruangan. Mereka terus bergumul dengan panas, sepanas cuaca siang itu.
Happy Reading.
Tbc.