
Bella baru saja sampai di sekolah setelah berjalan cukup jauh dari jarak Axel mengantarnya tadi. Sebenarnya Axel ingin mengantarnya sampai ke depan sekolah. Tapi Bella menolak mentah-mentah ide itu. Ia tentu harus berhati-hati dalam bertindak. Meskipun ia sekarang harus mati-matian berjalan kaki dari halte sampai gerbang sekolah yang hampir di tutup.
"Pak! Tunggu Pak!" Teriak Bella mempercepat langkahnya. Hah! Ini adalah pertama kalinya ia berjalan kaki, kini bahkan rambutnya pasti sudah lepek karena keringat.
"Non Bella, kok tumben jalan kaki ?" Pak Muradi satpam di sekolah terlihat keheranan melihat Bella yang berjalan kaki.
"Ya" sahut Bella singkat, ia mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Mobilnya kemana Non? Biasanya naik sendiri gitu?" Pak Muradi ternyata masih kepo.
"Di bengkel, udah ya Pak Bella masuk dulu" kata Bella tak mau banyak bicara. Energinya sudah habis setelah jalan kaki. Ia sekarang hanya butuh minum.
*****
"Bella! Ya ampun, Gue kangen banget sama Lo" Tiara langsung berteriak kegirangan melihat kedatangan Bella di kelas. Ia bahkan langsung menubruk tubuh Bella.
"Ih, ngagetin aja sih" gerutu Bella sebal sedikit kaget karena pelukan Tiara. "Gue juga kangen banget sama lo" sambungnya balas memeluk tubuh sahabatnya erat.
"Eh, tunggu dulu? Lo kok bau keringet gini sih" Tiara mengernyitkan alisnya melihat penampilan Bella yang sebenarnya sudah rapi. Hanya saja berbeda dari biasanya yang selalu kinclong dan wangi.
"Alah kok malah bahas keringet , gue juga kangen tau sama Bella" cetus Karin sejak tadi menunggu giliran untuk melepas rindu dengan sahabatnya.
"Karin, gue juga kangen" Bella tak menghiraukan keheranan Tiara, ia berpelukan hangat dengan Karin seolah tak pernah bertemu seribu tahun.
Mereka asyik membicarakan ini itu sampai tak terasa bel sudah berbunyi menandakan pelajaran akan segera di mulai. Bella juga merasa senang bisa kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa.
*****
"Apa jadwalku hari ini?" Axel berjalan memasuki kantor dengan Bram yang setia disampingnya.
Semua karyawan menundukkan wajahnya untuk menyapanya. Tapi tak satupun Axel menggubrisnya. Ia memasang wajah dingin tanpa senyum sama sekali. Para Karyawan Indra Jaya Group memang sudah terbiasa akan sikap Axel yang terkesan sombong. Tapi para wanita juga tak menampik jika mereka begitu kagum dengan ketampanan Axel.
"Ih, Tuan Axel ganteng banget sih, gemes deh gue"
"Ya, tapi belagu banget"
"Nggak apa-apa, Gue makin suka sama sikapnya yang dingin, bikin penasaran"
"Apalagi kalau lagi ngelirik kita, Aduh beb, terasa menembus jantung nggak sih"
Kasak kusuk terdengar mengomentari Axel saat pemimpin mereka yang kini sudah hilang di balik pintu besi yang tertutup.
"Anda Nanti siang ada meeting bersama Tuan Robert, Dan sore Mengecek lokasi proyek pembangunan Mall baru yang ada di Tangerang Tuan" kata Bram menjelaskan secara rinci jadwal Axel hari ini.
"Baiklah, Berikan laporan kemarin kepadaku, aku akan menandatangani sekarang" kata Axel sebelum masuk ke ruangannya, ia sempat melirik meja kerja Bianca kosong. Kemana wanita itu? Tak biasanya jam segini belum datang. Pikirnya.
"Baik Tuan" Bram dengan sigap menjalan tugas yang Axel berikan.
Saat Axel masuk kedalam ruangan ia dibuat kaget dengan seseorang yang tiba-tiba menubruknya tanpa ampun hingga tubuhnya seketika membentur pintu yang ada di belakangnya. Axel begitu kaget dengan serangan ini, apalagi orang itu hendak mencium bibirnya membuat Axel mendorong tubuh orang itu hingga terjungkal kebelakang.
"Kau!" Axel menatap marah pada wanita yang kini sedang menatapnya dengan wajah pias.
Bianca sudah menyusun rencana ini matang-matang, ia pikir Axel pasti tak akan mampu menolaknya. Tapi...
"Apa yang kau lakukan!" Bentak Axel dengan suara menggelegar. Ia tak terpengaruh sama sekali pada tubuh Bianca yang di pamerkan padanya.
"Justru aku yang bertanya! Apa yang sudah kau lakukan!" Teriak Bianca juga begitu marah. Ia bangkit dari posisinya dan menatap tajam pada pria yang sudah menghinanya.
"Apa maksudmu? Katakan yang jelas!" Sungguh Axel tak suka Bianca berbicara bertele-tele.
"Kenapa kau membatalkan pertunangan kita! Kau ingin membuat aku dan keluargaku malu" Bianca sampai ingin menangis merasa putus asa dengan sikap Axel yang selalu merendahkan harga dirinya.
"Itu bukan urusanku! Bukankah seharusnya kau tau kalau aku tak pernah menginginkan perjodohan ini. Kau saja yang begitu bodoh mempermalukan dirimu sendiri"
Ucapan Axel semakin menambah luka di hati Bianca. Ia tak menyangka Axel bisa berkata kasar seperti itu Padanya. Padahal sejatinya ia sudah mencintai pria itu sejak saat pertama kali mereka bertemu.
"Kenapa kau begitu tega? Apa tak ada sedikit saja tempat untuk aku di hatimu" Bianca tak tau harus berbuat apalagi. Air matanya terus meleleh tanpa bisa di cegah.
"Sejujurnya aku tak pernah membencimu, tapi aku juga tak bisa bersikap lebih padamu. Itu karena aku tak mau memberikan harapan. Aku juga sudah pernah memperingatkan mu, Tapi apa yang kau lakukan? Bukannya mundur kau malah melakukan hal gila seperti ini"
"Itu semua karena aku mencintaimu" Sentak Bianca ingin Axel melihat jika sikapnya ini dia lakukan untuk menunjukkan rasa cintanya pada Axel.
"Cinta omong kosong! Itu hanya obsesi mu Bianca!!" Axel sudah begitu muak dengan Bianca yang tak mengerti apa yang di ucapkan. Apalagi menggunakan alasan cinta untuk hal yang di lakukan.
"Kenapa kau selalu menutup matamu! Kenapa kau tak pernah melihat aku sedikit saja! Sebenarnya apa yang wanita lain punya dan aku tak punya! Katakan! Apa yang aku tak punya sampai kau terus menolak ku"
"Hentikan omong kosong mu! Kau sungguh membuatku muak! Pergi dari ruangan ku sekarang!"
Kepala Axel rasanya ingin pecah mendengar suara Bianca. Emosinya sudah di ubun-ubun. Sedikit saja, Bianca memancing emosinya, ia pasti akan kehilangan kendali.
"Aku tidak mau! Sebelum kau menyetujui pertunangan kita" Bianca tak mau usahanya sia-sia. Ia menantang tatapan Axel yang berubah menyeramkan.
"Aku bilang pergi!!" Axel sudah tak bisa lagi mengontrol emosinya. Ia menendang kursi besi yang ada di depannya hingga kursi itu patah salah satu kakinya.
Bianca berteriak kaget, sikap Axel benar-benar diluar kendalinya. Ia menatap Axel yang kini matanya sudah memerah. Tangannya mengepal erat, hingga kuku jarinya menancap. Bianca bergidik melihat wajah Axel yang menyeramkan jika sedang marah. Ia segera mengambil blazer miliknya untuk menutupi tubuhnya yang hampir telanjang. Ia benar-benar tak habis pikir dengan kemarahan Axel yang membabi buta.
Axel membuang nafasnya kasar untuk menetralkan emosinya. Inilah sikap buruk Axel yang tak banyak orang tau. Ia bisa melampiaskan pada apa saja jika sedang marah, termasuk melukai dirinya sendiri pun pernah ia lakukan.
"Tuan, ini laporan..." Bram yang baru saja ingin memberikan laporan di buat tercengang melihat kondisi Ruangan Axel. Apa yang terjadi?
"Tuan Anda?" Tanya Bram sungkan saat melihat Axel yang memijat hidungnya yang terasa pegal.
"Berikan obatku"
*****
Jangan lupa pencet tombol like ya kak..
Happy Reading
TBC