
"Anda sudah menikah?"
"Ya, bahkan istri saya sekarang sedang hamil" kata Axel lagi. Ia merasa tak ada salahnya mengatakan hal itu. Lagipula ia memang sudah menikah dan istrinya sedang hamil.
"Maaf, Saya Tidak tau. Kalau begitu saya ucapakan selamat untuk kehamilan istri Anda" Kata Tuan Robert tersenyum kikuk pada Axel.
"Tidak masalah Tuan Robert, Karena memang tak semua orang harus tau apa yang terjadi dalam hidup saya"
"Ya, Baiklah. Silahkan nikmati pestanya. Saya permisi dulu"
Axel tak begitu menghiraukan. Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 8 malam lebih. Sepertinya ia harus pulang sekarang.
"Minum Tuan" Seorang pelayan mengangsurkan segelas orange jus pada Axel. Axel mengambilnya karena memang merasa cukup haus.
Axel tak tau jika minuman itu sudah dicampur sesuatu oleh seseorang yang kini tersenyum puas karena merasa mangsa sudah terperangkap.
****
Axel tak tau apa yang sudah terjadi. Kepalanya terasa begitu pusing dan pandangannya kabur. Tapi ia masih bisa merasakan kalau saat ini tubuhnya sedang di papah oleh dua orang. Tapi matanya terasa berat untuk di buka. Kemudian tubuhnya seolah dilempar ke kasur yang begitu empuk.
"Kau boleh pergi" ucap seorang wanita yang kini menatap tubuh Axel yang tergolek lemas di kasur.
Wanita itu tak lain adalah Bianca yang kini tersenyum puas karena rencana ayahnya berhasil. Bianca tak tau apa yang Ayahnya campurkan ke minuman Axel. Tapi yang jelas ia harus memanfaatkan keadaan ini sebaik mungkin.
Bianca mendekati Axel untuk mengecek kesadaran pria itu. Ia membisikan kata kata di telinganya dan Axel hanya menggeliat membuat Bianca semakin senang. Ia memutuskan untuk membuka kemeja Axel beserta celananya.
Bianca begitu terpesona dengan tubuh Axel yang begitu mulus menandakan pria itu rajin merawatnya. Apalagi tubuh Axel yang begitu kekar membuat Bianca tanpa sadar menelan ludahnya. Bianca tak membuang waktunya, ia melepaskan bajunya sendiri hingga dia telanjang bulat.
Bianca segera menggunakan keahliannya untuk membangunkan bagian tubuh Axel yang tertidur. Ia sudah cukup handal dalam hal ini. Tapi di alam bawah sadarnya pun Axel seolah masih menolak dirinya. Pria itu memang mengerang kenikmatan, tapi tangannya mendorong kepalanya untuk menjauh.
Bianca begitu emosi, ia mendudukkan tubuhnya di atas pria itu. Tapi Axel malah mendorong tubuhnya dengan kakinya. Axel membuka matanya sekuat tenaga. Ia bisa melihat Bianca yang kini menatap marah pada dirinya. Tapi dia yang harusnya lebih marah karena wanita itu telah menjebaknya.
"Dasar wanita murahan" ucap Axel menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing yang mendera.
"Cih, kau juga munafik! Kau menginginkanku kan" Bianca kembali mendekatkan tubuhnya untuk di pamerkan ke Axel.
"Pergi! Aku tak sudi melihat dirimu" sekuat tenaga Axel mendorong Bianca dengan kekuatan yang tersisa. Selain itu dia harus secepatnya pergi sebelum obat yang ia rasakan semakin menguasai dirinya.
"Brengsek" umpatnya merasa semakin marah menyadari jika obat itu adalah obat perangsang.
"Ayolah Axel, kenapa kau selalu menolakku, Aku akan memuaskan mu" Bianca kembali mendekati Axel, ia sengaja menggesekkan tubuhnya pada Axel karena ia tau jika obat itu sudah mulai bekerja.
Darah Axel langsung berdesir merasakan benda lembut yang menyentuh punggungnya. Tapi dia tak boleh terlena.
"Jangan menguji kesabaran ku!!" Axel kembali naik pitam, dia kembali mendorong tubuh Bianca dengan kekuatan yang cukup kuat dari sebelumnya.
Axel tak memperdulikan apapun lagi, ia segera memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai dan segera memakainya dengan gerakan cepat. Dengan terhuyung huyung, Axel meninggalkan Bianca yang kini menatap marah kepergiannya.
"Argh!!!... Sial sial" Bianca memukul kasur untuk melampiaskan emosinya. Ia menyentuh bagian bawahnya yang sudah basah. Ia tak pernah merasa sehina ini.
"Aku pasti akan membalasmu Axel"
Axel segera menelpon Bram untuk menjemputnya. Ia merasa sudah tak mampu lagi menahan hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Nafasnya kian memburu, Kepalanya pun terasa begitu pusing seolah sebuah palu tengah memukulinya.
"Tuan Axel, Apa yang terjadi?" Bram di buat kaget dengan keadaan Tuannya.
"Antar aku pulang" Kata Axel tak mau banyak bicara.
"Baik Tuan" Bram dengan sigap membantu Axel untuk masuk kedalam mobil. Setelah itu ia segera mengantarkan Axel pulang ke Apartemen. Karena Bram sudah hafal jika Bosnya jarang sekali pulang ke rumah utama.
****
Terkadang perkataan tak sesuai dengan ekspektasi. Bella memang mengatakan tak mau memikirkan Axel, Tapi tidak dengan hatinya yang seolah mencari sosok tersebut. Ia merasa tak tenang jika belum melihat wajah pria itu. Padahal ia sudah menampik untuk tak mau memikirkannya.
Akhirnya Bella memutuskan menonton televisi yang ada di ruang tengah sembari menunggu Axel pulang.
"Dia kemana sih" gerutu Bella merasa sudah cukup lama ia menonton televisi. Namun belum ada tanda-tanda Axel pulang.
"Awas aja nanti, gue disuruh tinggal disini tapi dia malah seenaknya ninggalin gue sendirian" Bella benar-benar kesal. Ia paling tak suka jika harus menunggu.
Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam. Itu artinya sudah hampir tiga jam ia menunggu. Terdengar pintu yang di ketuk dari luar membuat Bella melonjak kaget. Siapa yang datang malam malam begini? Pikir Bella. Apa mungkin itu Axel? Tapi kenapa tidak langsung masuk saja?.
Suara ketukan pintu itu kembali terdengar, malah semakin keras hampir seperti gedoran. Dengan memberanikan diri, Bella berjalan ke arah pintu. Ia mengintip sedikit dari celah kecil. Namun seketika matanya membesar saat melihat siapa orang yang datang. Bella bergegas membuka pintunya.
"Astaga! Kau kenapa?" Bella tak menutupi rasa terkejutnya melihat pria yang di tunggunya sejak tadi datang dengan penampilan cukup acak-acakan.
"Tidak apa-apa, ayo masuk, ini sudah malam" ucap Axel dengan wajah memerah penuh keringat.
"Kau mabuk" tuduh Bella menatap kesal pada Axel. Ia bisa mencium bau alkohol dari mulut Axel.
Axel tak menjawab, ia melihat Bella dengan mata memerah seolah ingin menerkamnya hidup-hidup. Tapi Axel masih punya akal sehat untuk tak melakukan hal itu.
"Aku ingin mandi" ucap Axel singkat, ia ingin segera masuk ke kamar Tapi Bella malah mencegahnya.
Jantung Axel berdetak semakin kencang. Saat merasakan tangan Bella menyentuh tubuhnya. Apa wanita itu tidak tau jika ia mati-matian menahan gejolak hasratnya.
"Enak aja, Kemana aja dari tadi? Aku sendirian di disini udah kaya orang bego" Bella tentu tak ingin kehilangan momen untuk meluapkan kekesalannya.
"Bella, Maaf" Ucap Axel merasa sudah tak kuat lagi menahan dirinya. Ditambah pakaian Bella yang seolah memanggilnya.
"Maaf Apa? Aku nggak butuh...
Bella tak jadi meneruskan perkataanya karena Axel langsung membungkam mulutnya dengan ciuman. Bukan ciuman lembut seperti biasa. Tapi Axel menciumnya dengan penuh gairah, tangan pria itu bahkan ikut bekerja memberi sentuhan pada tubuh Bella hingga membuat dirinya meremang.
****
Happy Reading
TBC