MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Kehidupan Cinta Yang Manis.



Karin sudah selesai mengurus semua persiapan resepsinya yang akan di adakan dua hari lagi. Kenapa terlalu cepat? alasannya karena minggu depan mereka akan berangkat ke Kalimantan untuk kembali mengadakan acara resepsi sesuai keinginan Papanya Dio.


"Kamu nggak pulang ke rumah Mama Aja dulu, Dio belum jemput kan?" kata Elmira saat keduanya baru saja selesai melakukan fitting baju pengantin.


"Lain kali aja Ma, Dio udah otw kok, mungkin bentar lagi sampai" kata Karin baru saja mengecek ponsel dan suaminya itu mengatakan sudah dalam perjalanan.


"Oh, Mama tinggal dulu nggak apa-apa? Soalnya tadi Papa kamu minta di beliin soto langganannya kalau pulang" kata Elmira lagi.


"Ya, Salam buat Papa ya Ma" kata Karin ber cipika-cipiki dengan Mamanya.


Elmira mengangguk dan melambaikan tangannya sebelum masuk kedalam mobilnya. Setelah Mamanya pergi, Karin memutuskan menunggu di depan IndoApril yang berada di samping butik, sepertinya satu cup es krim coklat enek di cuaca terik seperti ini, pikirnya.


Karin segera mengambil beberapa es krim yang diinginkannya, ia juga membeli roti untuk mengganjal perutnya. Entahlah, dua hari ini ia sering merasa kelaparan, padahal Karin termasuk orang yang cukup ketat soal makanan karena sudah kebiasaannya yang ingin memiliki tubuh ideal.


"Eh....Sorry...Sorry" kata Karin saat tak sengaja menabrak wanita lain hingga belanjaan yang di bawa tumpah semua.


Karin segera membantu memunguti barang itu tapi wanita itu mencegahnya. "Tidak perlu, tidak perlu, saya bisa sendiri" kata wanita itu terlihat tergesa-gesa.


Karin mengerutkan dahinya bingung karena sikap wanita itu cukup aneh menurutnya. Ia juga tak bisa melihat wajahnya karena wanita itu menggunakan masker dan topi. Karin mengangkat bahunya cuek, ia lalu melihat ponselnya yang bergetar.


"Halo? oh udah sampai? Aku lagi di indoApril, langsung kesini aja" kata Karin pada suaminya yang menelpon.


Karin segera keluar setelah membayar semuanya, bersamaan itu Dio juga terlihat baru keluar dari mobilnya. Karin mengulas senyum manisnya pada Dio yang siang itu terlihat semakin keren dengan kaca mata hitamnya.


"Kirain masih di butik tadi" kata Dio mendatangj istrinya.


"Enggak, aku lagi beli es krim sama makanan, kamu udah makan belum?" tanya Karin.


"Belum, mau makan siang bareng kamu aja" kata Dio seadanya.


"Kita makan disini dulu deh, Aku tadi juga beli roti" kata Karin mengajak Dio untuk duduk di kursi depan IndoApril.


"Makan roti dulu nggak apa-apa kan? Aku udah laper banget soalnya" kata Karin membuka sandwich yang di belinya untuk Dio.


"Terserah apa aja, Semua yang darimu aku pasti suka" kata Dio mengedipkan matanya menggoda.


"Pinter banget kalau di suruh gitu, Pantesan dari dulu banyak cewek-cewek yang menyukaimu" kata Karin mencibir perkataan Dio.


"Ya, tapi aku hanya menyukaimu" kata Dio lagi membuat Karin tersipu dan mencubit pelan tangan pria itu.


"Jangan merayuku, cepat habiskan makananmu" kata Karin berpura-pura kesal.


Dio tersenyum dan memakan roti miliknya, ia menatap Karin yang kini memakan eskrimnya.


"Apa kau mau?" tanya Karin saat Dio menatap dirinya terus.


"Aku tidak suka es krim" kata Dio singkat.


"Oh, ya? Ini enak loh" kata Karin terdengar manja dan menikmati es krimnya hingga sedikit ada yang menempel di sudut bibirnya.


"Sini, aku coba" kata Dio membuat Karin memberikan es krimnya tapi ternyata Dio tidak mengambilnya, ia malah menarik lengan Karin dan mencium bibir Karin yang ada sisa es krimnya.


"Ehm... ternyata memang enak" kata Dio tersenyum manis saat melihat wajah bengong istrinya.


"Biarkan saja, kita tidak mengenal mereka" kata Dio santai saja.


Karin mencibir tingkah suaminya yang memang tidak tau tempat itu. Dio hanya tersenyum lalu ia merasakan ponselnya yang bergetar. Dio segera membukanya dan wajahnya terlihat berkerut.


"Ada apa?" tanya Karin yang melihat perubahan eskpresi suaminya.


"Kita harus pulang, Papa barusan kirim pesan katanya udah nunggu di Apartemen" kata Dio menatap istrinya.


"Oh, Baiklah" kata Karin sedikit kaget dan segera menghabiskan es krim nya.


Karena cuaca siang itu cukup panas, Karin cukup kegerahan duduk di depan IndoApril itu, ia segera mengambil ikat rambut untuk mengikat rambutnya yang tergerai dan memperlihatkan leher jenjangnya yang indah. Anak-anak rambut yang tak ikut terikat malah membuat Karin terlihat sangat cantik.


"Sudah, Ayo" kata Karin bangkit dari duduknya dan berjalan mendahului Dio tapi sedetik kemudian dia mematung saat tiba-tiba Dio merengkuh pinggangnya dari belakang.


"Jangan pernah mengikat rambutmu seperti ini di depan banyak orang, terutama pria" bisik Dio membuat Karin melihat suaminya itu.


"Kau cukup posesif juga ya jadi suami" kata Karin tertawa kecil.


"Biar, kau tidak tau saja seberapa menggodanya dirimu" kata Dio lalu menarik ikat rambut Karin hingga terlepas.


"Hei, Aku kepanasan, kenapa kau lepas?" kata Karin memprotes.


"Begini lebih baik, daripada aku yang kepanasan" kata Dio merangkul pundak kecil istrinya lalu mencium dahinya dengan lembut sebelum mengajaknya pulang.


Karin hanya tersenyum manis di dalam dekapan suaminya, ia benar-benar merasa memiliki kehidupan cinta yang sangat manis.


Tanpa mereka sadari ada seorang wanita yang kini menatap keduanya dengan penuh kebencian. Wanita itu tak lain adalah Cindy yang kini harus hidup dalam persembunyian karena rasa takut akan di penjara.


Saat tadi ia berbelanja, ia tak menyangka jika bisa bertemu Karin disini. Ia sungguh membenci wanita itu karena bagi Cindy semua masalah yang tercipta ini adalah wanita itu sumbernya.


Kalau saja Karin tidak hadir di kehidupan mereka, ia pasti masih bisa berhubungan dengan Dio dan Nathan pun tak akan melakukan hal seperti ini dan harus mendekam di penjara.


Kini saat Cindy melihat bagaimana bahagianya Dio dan Karin membuat kebencian itu semakin menjadi. Ia tak rela jika mereka berdua bahagia sedangkan dia hidup dalam rasa ketakutan seperti ini.


"Aku tak akan membiarkan kalian berdua bahagia. Karin, aku pasti akan menghancurkan mu" kata Cindy mengepalkan tangannya erat. Giginya gemeletuk menahan amarah. Dan sorot matanya tampak kebencian yang nyata.


*****


"Kamu tau nggak persamaan kamu sama es krim?" kata Dio saat keduanya keluar dari lift Apartemen, ia terus saja menggandeng tangan istrinya.


"Nggak tau dan nggak mau tau" kata Karin melirik suaminya malas.


"Beneran? Padahal persamaannya kelihatan banget loh" kata Dio mengedipkan matanya.


"Apa memangnya?" tanya Karin sedikit penasaran.


"Kalian berdua itu sama-sama manis mau seperti apapun keadaannya" kata Dio kembali membuat Karin tersipu. Padahal ia sudah terbiasa mendengar gombalan receh suaminya, tapi tetap saja ia masih malu dan baper.


Happy Reading.


Tbc.