MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Pria Itu Lagi?



Bella masih melamun sebelum kedua sahabatnya datang untuk mengajak mereka pergi. Dia masih sibuk memikirkan perkataan nenek tua tadi. Apa dia hamil? Tapi mana mungkin dia bisa hamil saat dia hanya melakukan hal itu satu kali. Rasanya mustahil jika itu terjadi. Tapi Bella tak mau ambil pusing. Toh Nenek tadi juga mengidap gangguan mental, Jadi perkataannya pun ngelantur.


"Woy! Bengong aja Lo, ayo cepetan! Udah mendung nih" Sentak Tiara membuat Bella tersadar.


Cuaca disana memang sedang tidak cukup baik, padahal sekarang masih pukul 11 siang. Tapi awan hitam tampak sudah menghiasi, Angin pun berhembus begitu kencang.


"Ya, sepertinya akan turun hujan" kata Bella seraya bangkit dari duduknya.


Mereka beriringan menuju camp yang sebelumnya. Setelah berpamitan mereka memutuskan untuk pulang. Sedangkan Bella dan kedua sahabatnya tetap ke rencana awal. Yaitu menikmati jagung rebus di puncak. Tapi sepertinya siang itu hujan tak bisa menahan dirinya untuk turun lebih lama lagi. Karena begitu mobil Bella keluar dari camp, Hujan deras langsung menyambutnya.


"Untung kita udah di dalem mobil. Kalau nggak, bisa basah kuyup kita" ucap Karin menatap hujan dari jendela mobil.


"Tapi ini Deres banget sih, Kita mau lanjut aja? Kok gue ngeri ya" Tiara merasa tak tenang jika dalam perjalanan hujan seperti ini.


"Ya lanjut pastinya, Kanan kiri kita hutan, Mau berhenti dimana?" Bella melihat situasinya tak mendukung untuk mereka berhenti.


"Nanti mungkin di depan kayaknya ada penginapan deh seingat gue tadi, mending kita berteduh disana dulu. Gue bener-bener nggak tenang. Sumpah! Gimana kalau ada pohon tumbang di mobil kita, Anginnya gede gini"


"Eh Maemunah! Kenapa omongan Lo gitu, Jangan bikin kita panik dong" Karin menatap sebal pada Tiara yang membuatnya bergidik membayangkan perkataannya.


"Ada benernya juga kata Tiara! Oke, Nanti kita berhenti di penginapan yang dia maksud aja" Bella memutuskan untuk mengikuti saran Tiara. Dia sendiri juga cukup takut melihat cuaca yang buruk seperti ini.


Kali ini Nasib baik tak berpihak kepadanya ternyata. Karena sebelum dia sampai di penginapan mobilnya mendadak mogok. Entah kenapa, Padahal Papanya tak pernah absen untuk menservice nya. Tapi kenapa malah mogok di situasi genting seperti ini.


"Kenapa pak?" Bella sedikit kaget melihat mobilnya yang berhenti mendadak. Tiara dan Karin juga ikut saling pandang.


"Aduh Non, Kayaknya mogok ini, coba bapak lihat dulu" kata Pak Hasan supir Bella mengambil payung dari belakang jok. Dia bergegas keluar untuk memeriksa keadaan.


"Kenapa malah mogok di waktu seperti ini" keluh Karin merasa lemas karena situasi yang di hadapi.


"Tau nih, Padahal waktu di pakek bokap fine fine aja, Eh ini malah mogok" Bella menggerutu sebal.


Hingga beberapa menit berlalu, pak Hasan kembali dan mengatakan dia tak mengerti tentang masalah mesin. Hal itu sontak saja membuat mereka bertiga mendengus, kenapa nggak bilang daritadi, pikirnya.


"Coba Lo hubungin Dio Bel, siapa tau dia masih disini" Kata Tiara menemukan ide di kepalanya.


"Dio? Ogah banget gue, Nomernya udah masuk daftar blok, jadi nggak mungkin gue hubungin dia" Bella langsung menolak mentah mentah ide itu.


"Yaelah Bel, cuma satu kali ini doang" Karin mencoba membujuk Bella, menurutnya Dio satu satunya orang yang bisa membantu mereka, mengingat saat ini Dio kemungkinan masih ada di kota ini.


"Nggak! Lo aja yang hubungin dia, kan Lo berdua punya nomernya" Bella tetap kekeh pada pendiriannya, Baginya menghubungi Dio sama saja seperti menjilat ludah sendiri.


"Sekali ini Bel. Please, turunin sedikit gengsi Lo buat kita. Nggak mungkin kan kita disini nunggu Sampek ada mukjizat dari Tuhan" Karin masih tak menyerah ternyata.


"Enggak! Mendingan gue disini Sampek malem daripada minta tolong sama dia" kata Bella melirik tajam pada Karin. Dia paling tidak suka di paksa.


Karin hanya bisa membuang nafas kasar. Temenan sama Bella itu harus punya stok kesabaran yang banyak. Bella yang menyebalkan, tak mau diatur. Entah kenapa mereka bisa bertahan begitu lamanya dengan sikap Bella itu. Jika Bella sudah memutuskan, baik Karin maupun Tiara tak akan ada yang bisa merubahnya.


"Siapa tuh? Jangan-jangan orang jahat lagi" Karin melihat hal ini seperti ada di film-film. Seorang dicegat di tengah deras hujan, Apa jangan-jangan itu Mafia?. Oh big No! Mereka pasti dalam bahaya. Pikir Karin.


"Mana gue tau, tapi kita harus tenang, Dan jangan Sampek keluar dari mobil pokoknya" Bella pun merasa takut jika hal buruk terjadi. Tuhan menyesal sekali tadi dia tak mau mendengarkan saran temannya untuk menghubungi Dio.


"Ra, Lo kok diem aja sih, Lo nggak takut gitu?" Karin merasa heran karena Tiara terlihat santai saja.


"Ngapain juga gue harus khawatir, Orang itu mobil kakak gue" kata Tiara dengan tersenyum puasnya, merasa bangga karena telah menemukan jalan keluar.


"Ha? Seriusan? Gimana bisa kak Jofan ada disini?" tanya Bella dengan wajah tak percaya.


"Ya seriuslah, itu lihat" Tiara menunjuk seorang pria yang tampak keluar dari mobil dengan menggunakan payung. Ternyata memang Jofan orang itu.


"Lo kok bisa nyuruh kakak Lo kesini? Emang dia darimana? Nggak mungkin kan dia jauh jauh Datang dari Jakarta buat nyamperin Lo" kata Karin merasa penasaran.


Tiara pun menceritakan bagaimana caranya dia bisa menyuruh kakaknya itu datang menjemputnya. Jadi setelah tadi Bella menolak untuk menghubungi Dio, Tiara hendak menelponnya sendiri namun dia tak sengaja melihat story' kakaknya yang ternyata sedang berjalan jalan dengan di puncak. Melihat hal itu Tiara langsung saja menghubungi kakaknya lewat chat dan mengatakan situasinya.


Untunglah Kakaknya itu tak keberatan untuk menjemput mereka. Kalau tidak, entah sampai kapan dia ada disana.


"Kakak!" Tiara menurunkan kaca mobilnya untuk berbicara pada Jofan. Dia bersorak girang melihat wajah Kakaknya.


"Gimana kamu bisa ada disini?" Tanya Jofan menatap semua orang yang ada didalam.


"Bisa nggak introgasinya Nanti, Kita udah capek banget nih nunggu dari tadi" protes Tiara merasa waktunya tak tepat untuk berbicara. Apalagi suasananya begitu berisik.


Jofan mengangguk setuju dengan perkataan adiknya. "Yaudah kalian langsung ke mobil, Nanti biar supirnya Bella bawa mobilnya sendiri, kebetulan kakak tadi sudah memanggil tukang bengkel untuk kesini, mungkin sebentar lagi sampai" kata Jofan lagi.


Tanpa di suruh dua kali, Mereka langsung bergegas turun untuk pindah ke mobil Jofan. Dan kebetulan juga saat itu Jofan memilih menggunakan minibus jadi muat untuk mereka semua. Tapi ternyata di dalam mobil itu bukan hanya ada Tunangan Kak Jofan saja. Melainkan ada sosok pria lain yang sudah menunggu di kursi.


"*Pria itu lagi?" Batin Bella merasa lemas karena melihat wajah pria yang tak lain adalah Axel. Namun entah mengapa dia merasa sedikit senang bisa melihat wajah itu lagi. Eh tapi tunggu dulu? Senang, Hell No Bella stop it!


*****


Jangan lupa like dan koment ya Kak..


Happy Reading..


TBC


_Axel Leander*



_Bella Ayunda