
"Abang mau bawa aku kemana?"
Setelah pulang dari perkebunan kelapa sawit, Dio tidak mengajak Karin untuk langsung pulang ke hotel. Ia mengajak istrinya ke suatu tempat yang cukup jauh dari sana. Karin bertanya penasaran, tapi Dio yang penuh kejutan itu tentu tak ingin memberitahunya.
"Tutup matamu Nyonya, Kau akan segera tau" kata Dio tersenyum tipis. Ia mengambil kain untuk menutup mata Karin.
"Kenapa harus menutup mata segala?" tanya Karin bukannya menutup mata tapi malah membuka matanya lebar-lebar.
"Dasar keras kepala" cetus Dio dengan lembut memutar tubuh istrinya dan memasangkan kain itu untuk menutupi mata Karin.
Setengah menggerutu, Karin akhirnya mau saat Dio menutup matanya. Tak lama setelah itu, ia merasakan mobil mereka berhenti dan Dio mengajaknya turun.
"Abang! Kita dimana sih ini?" tanya Karin benar-benar ingin tahu. Ia bisa mendengar suara deburan ombak dan semilir angin menerpa tubuhnya.
Dio hanya tersenyum lalu meraih lembut bahu istrinya untuk di ajak masuk kedalam sebuah bangunan yang terlihat sederhana tapi memiliki kesan yang indah. Dio membuka penutup mata Karin ketika mereka sudah di dalam.
"Bukalah matamu" bisik Dio merengkuh tubuh istrinya dari belakang.
Perlahan Karin membuka matanya, sedikit demi sedikit melihat apa yang disuguhkan di depan matanya. Sesaat kemudian matanya membelalak kaget dan takjub saat melihat ruangan yang bernuansa temaram dengan banyaknya bunga yang di setiap sudutnya, selain itu ada meja kecil di tengah ruangan. Lalu di tangga yang menghubungkan ke lantai atas juga bertaburan bunga yang sangat banyak.
"Abang? ini?" kata Karin masih dengan wajah kagetnya.
"Apa kau suka? Ini hari spesial kita" kata Dio tersenyum manis.
"Hari spesial?" Karin menatap suaminya tak mengerti.
"Sudah ku tebak, kau pasti lupa, sekarang ayo kita makan dulu. Setelah ini aku akan menunjukkan sesuatu padamu" kata Dio membimbing Karin untuk duduk di kursinya.
"Sesuatu apa? Apakah aku sudah pernah melihatnya?" tebak Karin sepertinya tau apa yang akan di tunjukkan suaminya.
Dio tertawa kecil. "Nggak kesitu arahnya" kata Dio mencubit pelan pipi Karin.
Karin hanya tersenyum, ia segera menghabiskan makan malamnya dan setelah selesai Dio tiba-tiba langsung meraihnya dalam gendongan lalu mengajaknya menaiki tangga yang bertaburan kelopak bunga.
"Abang" panggil Karin menatap wajah tampan suaminya. Ia mengingat bagaimana pertemuan mereka pertama kali setelah ia pergi ke luar negeri.
"Ya?" sahut Dio melirik Karin seraya membawa langkahnya menapaki satu-persatu anak tangga.
"Aku berat ya?" kata Karin tersenyum.
"Sangat berat" sahut Dio langsung membuat Karin memukul dadanya. Ia sudah tau kalau Dio pasti akan menjawab seperti itu.
"Kalau begitu turunkan aku, kau pasti lelah" kata Karin.
"Tidak, aku masih kuat menggendong mu, dan aku akan selalu melakukannya selama aku mampu. Karena disaat aku tua nanti, aku sudah tidak bisa melakukan hal ini lagi untukmu. Tapi percayalah meskipun tubuhku tak kuat lagi menggendong mu, masih ada tanganku yang akan selalu menggandeng mu" kata Dio menghentikan langkahnya sejenak dan memandang wajah cantik istrinya dalam-dalam.
Sebutir air mata langsung lolos dari mata Karin mendengar ucapan Dio. Ia benar-benar sangat bahagia dan bersyukur memiliki pria indah ini.
"Kita akan selalu bersama Abang, Aku mau kita menciptakan banyak kenangan bahagia kita bersama agar kita akan selalu mengingatnya saat kita tua nanti" kata Karin tersenyum dan juga menangis secara bersamaan.
Dio membawa Karin masuk kedalam kamar yang juga di hias dengan berbagai bunga. Tangan Dio terulur untuk mengusap air mata istrinya lalu memberikan sebuket bunga Juliet rose kepada Karin.
Bunga itu memiliki warna yang lembut dan mempunyai pesona yang luar biasa. Karin menerima bunga itu dengan senyum merekah, ia menciumnya namun matanya terus memandang Dio.
"Terima kasih" kata Karin langsung memeluk tubuh suaminya. Ia memejamkan matanya untuk menghirup bau tubuh suaminya yang khas.
"Sama-sama" sahut Dio balas memeluk tubuh istrinya.
Mereka berpelukan cukup lama lalu mendengar sesuatu yang keras dari luar. Seperti sebuah petasan.
"Apa itu?" tanya Karin.
"Ayo kita lihat" kata Dio menarik tangan Karin menuju balkon kamar.
Karin kembali di buat kaget saat melihat kembang api yang bermunculan di langit, tapi yang lebih membuatnya kaget adalah, kembamg api itu bertuliskan.
I LOVE YOU KARIN
"Abang? ini bagus sekali" Karin sampai tak bisa berkata-kata karena sangking takjubnya.
"Happy Anniversary yang ke satu tahun sayang" bisik Dio membuat Karin langsung menoleh.
"Aniv?" Karin kaget mendengar itu, ia lalu mengingat sekarang tanggal berapa, dan ternyata hari ini memang hari ulang tahun pernikahannya.
"Bagaimana bisa kau melupakannya Nyonya?" kata Dio mempererat pelukannya pada istrinya.
"So sorry, Aku beneran nggak inget" kata Karin menyesal. Ia tak menyangka suaminya bisa sangat hafal hari pernikahan mereka. Bahkan bisa menyiapkan kejutan seindah ini.
"Its okey, Kemarilah. Apa kau tidak ingin memberiku sebuah pelukan?" kata Dio tersenyum lebar dan merentangkan tangannya.
Karin balas tersenyum dan segera masuk kedalam pelukan suaminya. Dio pun langsung mencium kepala istrinya penuh kasih.
"Karin, ini adalah hari dimana kita menggabungkan cinta kita, dimana kita berjanji untuk tidak pernah meninggalkan satu sama lain. Dan di hari pernikahan kita ini, aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu, aku mencintaimu, sudah itu saja" kata Dio menggenggam lembut tangan istrinya. Ia menatap dalam mata indah wanita yang mendampinginya setahun ini.
Karin terdiam menatap mata Dio yang dipenuhi oleh rasa cinta yang membuncah itu. Ternyata sudah satu tahun mereka bersama, semua berlalu dengan sekejap mata dan setiap hari selalu dipenuhi oleh rasa cinta.
"How did I get so lucky to have you? ( Bagiamana aku bisa seberuntung ini dalam memilikimu?" kata Karin menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Mengingat bagaimana suaminya yang selalu menemaninya dalam kondisi terburuk sekalipun.
"I'm luckier to have you sweetheart ( Aku yang lebih beruntung memilikimu sayang )"kata Dio mencium kedua tangan Karin lalu keningnya dan terakhir mencium lembut bibir istrinya dengan penuh perasaan yang menggebu.
Ciuman mereka semakin dalam dan panas, Dio segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk kedalam untuk mengulangi hal indah yang berbeda dari malam sebelum-sebelumnya.
******
Sementara itu, di balik kejutan romantis yang Dio berikan pada Karin, ada dua orang yang paling sibuk karena harus mempersiapkan segalanya yang serba mendadak ini. Siapa lagi kalau bukan Angga?. Dia harus yang dibuat kalang kabut karena perintah Dio yang ingin semuanya siap dalam sehari.
Happy Reading.
Tbc.