
Axel membantu Bella duduk di kursi roda. Sebenarnya hal itu belum boleh, tapi karena Bella terus memohon dan meyakinkan kalau dirinya baik-baik saja. Axel jadi tak tega memutus harapan istrinya untuk melihat anak mereka. Dokter pun mengatakan selama Bella baik-baik saja, itu tidak apa-apa.
"Apakah ada yang sakit?" tanya Axel dengan wajah cemasnya, tapi tak sanggup untuk mencegah keinginan istrinya ini.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku juga sudah minum obat" kata Bella tersenyum manis, padahal perutnya sangat ketat dan perih, kepalanya pun terasa sangat pusing. Tapi Bella menahannya demi bisa bertemu anaknya.
"Baiklah, katakan padaku kalau ada yang sakit" kata Axel lalu mendorong kursi roda istrinya ke ruangan NICU. Disana sudah ada dua orang perawat dan dokter yang berjaga.
"Nona Bella, Putra anda ada di tengah sana" kata Perawat menunjuk bagian tengah. Memang bukan hanya ada satu bayi disana.
"Putra? Axel, anak kita laki-laki" kata Bella menatap penuh keharuan anaknya yang lebih kecil di banding yang lain. Di badannya tertancap kabel dan selang oksigen yang lebih besar dari tubuhnya. Bella merasa miris saat melihat itu.
"Iya" sahut Axel tersenyum haru menatap putranya yang tertidur. Entahalah, atau memang tak bergerak. Ikini sudah menyandang predikat baru, seorang Ayah.
Suasana tampak hening, Bella memegang kaca pembatas yang terasa dingin. Ia ingin sekali menyentuh anaknya dan melihat anaknya dengan jelas, tapi itu belum bisa karena jarak mereka yang jauh.
"Selamat Sore, Tuan Axel, Nona Bella" terlihat seorang Dokter menghampiri mereka membuat Bella langsung melihat ke arahnya begitupun Axel.
"Selamat sore Dokter" sahut Bella mengulas senyum tipis.
"Saya Dokter spesialis yang menangani putra anda. Apakah anda ingin melihatnya kedalam?" ujar Dokter itu membuat Bella dan Axel saling pandang.
"Bolehkah?" tanya Bella tak percaya.
"Saya izinkan. Putra anda pasti juga ingin sekali bertemu Ayah dan Ibunya. Silahkan" kata Dokter itu memimpin jalan duluan.
Bella melempar senyum sumringahnya. Axel pun ikut bahagia bisa di izinkan melihat anaknya. Ia mendorong kursi roda Bella masuk ke dalam ruangan. Jantung Bella terasa berdetak tak karuan ingin sekali melihat anaknya. Semakin dekat, semakin semangat pula dirinya. Ada rasa senang yang tak bisa di gambarkan oleh Bella.
Bella berhenti tepat di depan anaknya. Menatap dalam-dalam anaknya yang bertubuh kecil, tangannya tampak masih sedikit keriput tapi rambutnya sangat hitam dan lebat. Persis seperti rambut Axel. Air mata Bella tampak menggenang di sudut matanya. Axel hanya diam menatap sendu istrinya.
"Keadaan putra anda belum mengalami kemajuan, tapi sampai saat ini semuanya stabil. Anda boleh menyentuhnya" kata Dokter itu membuat Bella kembali menatapnya.
"Bolehkah?"
"Iya, silahkan. Saya permisi dulu" kata Dokter itu memberi ruang kepada kedua orang tua baru itu.
"Hei, Sayang..ini Mama" ucap Bella memasukan tangannya kedalam inkubator yang terasa hangat. Ia tersenyum namun menangis saat bisa menyentuh tangan anaknya. Ia ingin sekali menciumi tangan itu namun tidak bisa. "Maafkan Mama sudah membuatmu lahir lebih cepat, tapi percayalah. Mama dan Papa sangat menyayangimu meskipun belum melihatmu" kata Bella dengan suara lembut membuat Axel tersentuh, ia mencubit hidungnya untuk menyamarkan tangisnya.
"Gyanendra Xavier Sky, Mama dan Papa memberimu nama itu yang berarti Anugerah dari Tuhan yang cerah seperti langit. Kau memang anugerah terindah untuk Mama dan Papa, Kau segalanya bagi kami sekarang" kata Bella tersenyum penuh keharuan, tangganya tak henti memberi usapan pada jari anaknya yang mungil.
Bella kembai terdiam, dia terus menatap anaknya yang masih tak bergerak. Bella yakin jika semenit saja ia meninggalkan Rendra. ia pasti akan sangat merindukannya.
Axel yang di belakang Bella pun hanya diam memandang makhluk kecil yang langsung membuatnya jatuh cinta. Axel sudah bersumpah dalam hatinya ia akan memberikan segalanya untuk anaknya.
Bella tiba-tiba merasa kaget saat merasakan genggaman anaknya begitu kuat. Ia menatap Axel yang juga menatapnya, apakah mereka berhalusinasi. Genggaman itu semakin lama semakin kuat dan tubuh mungil itu bergerak gerak. Perlahan membuka matanya yang sipit.
Bella melihat hal itu tak percaya. Ia terus menatapnya lalu kemudian bayi kecil itu menangis pelan dan berubah kencang. Bella terharu saat mendengar suara anaknya pertama kali. Tapi ia juga cemas melihat anaknya yang menangis, apakah anaknya kesakitan atau bagaimana.
"Dokter, kenapa anak saya menangis?" tanya Axel saat Dokter spesialis datang kembali.
"Iya sangat kuat dokter, Apakah anak saya baik-baik saja" kata Bella.
"Ini pertanda bagus Nona, dari kemarin dia belum menangis. Sepertinya putra kecil anda memang ingin bertemu orang tuanya" kata Dokter itu membuat Bella dan Axel tersenyum penuh kelegaan dan kebahagiaan.
****
Dua minggu kemudian, Bella sudah di izinkan pulang. Lukanya memang belum sembuh total, tapi Bella sudah lumayan membaik. Rendra pun sudah mengejar ketertinggalan berat badannya dan kini berubah menjadi bayi montok yang menggemaskan. Bella terus menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang.
Sesampainya di rumah, Axel membatu istrinya turun dari mobil. Ia melemparkan senyum manisnya dan di balas senyum indah oleh istrinya. Axel lalu merangkul pinggang istrinya untuk masuk kedalam rumah. Bella sedikit membenarkan penutup kepala Rendra saat anaknya itu menggeliat karena cahaya matahari yang menerpa kulit putihnya.
"Selamat datang" ucap Ibu Tamara dan Mama Anita bersamaan.
"Apakah dia terus tidur?" tanya Mama Anita ingin melihat cucu pertamanya bangun.
"Ya, mungkin terlalu nyaman di gendong makanya terus tidur" kata Bella dengan semangat mengatakannya. Axel sudah duduk disamping istrinya.
"Sini, biar ibu gendong" kata Ibu Tamara ingin sekali menimang cucunya. Ia mengulurkan tangannya, dan Bella langsung menyerahkannya.
Perlahan mata Rendra terbuka dan tangannya menggapai-gapai wajah Tamara membuat Tamara begitu senang. Ia menatap mata cucunya yang sangat mirip dengan mata Axel.
"Wah, dia sangat tampan sekali. Ayah. Lihat dia sangat mirip dengan Axel waktu kecil" kata Tamara dengan hebohnya.
"Iya, Siapa namanya" tanya Ayah Indrajaya.
"Gyanendra Xavier Sky Leander" sahut Axel langsung.
"Nama yang bagus" kata Ayah Indrajaya ikut memandang cucunya. Cucu pertama yang seharusnya menyandang nama keluarganya. Tapi IndraJaya memang yang menyuruh Axel untuk menggunakan namanya sendiri.
Itu artinya dia ingin Axel berdiri sendiri tanpa menyandang nama keluarganya. Maksudnya ia ingin anaknya menunjukkan siapa dirinya sendiri. Itulah sebabnya Axel memberikan nama tengahnya sebagai marga keluarga.
"Apakah dia tidak mirip denganku?" tanya Bella pada malam hari ketika membuai anaknya lekat-lekat.
"Menurutmu?" kata Axel tersenyum tipis saat menyadari jika anaknya memang versi kecil dirinya yang sebenarnya.
"Ini tidak adil, Aku yang mengandungnya kenapa dia mirip denganmu?" kata Bella bersungut-sungut saat mengatakannya.
"Itu artinya genku lebih kuat Nyonya" kata Axel tertawa pelan membuat Bella mencubit pelan lengan suaminya. Tapi Axel malah menarik tangan Bella dan menciumnya. "Terimakasih sudah memberiku hadiah terindah dalam hidupku Bella, Sudahkah aku mengatakan kalau aku beruntung memilikimu?" kata Axel menatap Bella penuh cinta.
"Kau sudah ratusan kali mengatakannya" kata Bella tertawa kecil karena Axel memang sering mengucapkan kata-kata itu. "Tapi aku tak akan bosan mendengarnya" sambung Bella lagi.
"Dan aku tak akan bosan mengatakannya" kata Axel mencium kening istrinya seraya mengucap syukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk berkumpul bersama keluarganya.
Happy Reading.
Tbc.
Hayo likenya yang kelewatan lo ya 😆😆😆