
"Eh gimana? Lo udah bisa nge hubungin Bella belum?" Tanya Karin pada Tiara.
Dua sahabat itu tampak begitu bingung dan juga khawatir karena sejak semalam mereka pun tak bisa menghubungi Bella. Apalagi semalam Tante Anita (Mama Bella) menghubungi mereka untuk mencari keberadaan anaknya.
"Zonk, Nomernya masih nggak aktif" Ucap Tiara dengan wajah ditekuknya menandakan dia juga kebingungan.
"Aduh, gimana dong! Kemana sih perginya si Bella, nggak biasanya banget dia kayak gini, Untung semalem Tante Anita percaya waktu gue bilang Bella nginep di tempat gue"
"Lo udah tanya ke Dio kenapa Bella tiba-tiba pergi gitu aja?"
"Udah, tapi dia nggak mau ngaku! Gue yakin pasti ada sesuatu yang terjadi dan Dio nggak ingin kita tau"
Karin dan Tiara memang sudah curiga dengan sikap Dio yang seperti menyembunyikan sesuatu. Bahkan dari gelagatnya Dio seperti menghindari mereka berdua saat disekolah tadi.
Ting
Suara pesan masuk membuat keduanya membuyarkan lamunannya. Ternyata dari Bella.
Gue nggak Papa, thanks Lo berdua udah bantuin gue bohong ke nyokap.
"Ah, lega gue akhirnya ada kabar juga tuh bocah" ucap Karin merasa beban di hatinya terangkat.
"Iya, eh tapi Lo nggak penasaran dia kemana semalem?" tanya Tiara..
****
Cedda Caffe
Tampak dalam satu meja, empat orang pria tengah berkumpul. Mereka terdengar asik membicarakan aktivitas masing-masing. Mereka tak lain adalah Axel dan ketiga sahabatnya.
"Wah, Wah, jadi dari kita udah ada yang jadi bos sekarang" ucap pria yang memiliki perawakan tinggi dengan kulit kuning Langsat. Wajahnya terlihat manis apalagi jika tersenyum. Dia adalah Jofan.
"Iya nih, Pulang dari luar negeri tau-tau udah jadi bos aja" sahut Indra ikut menggoda sahabatnya.
"Bolehlah kita di traktir sekali-kali pak CEO" Raffi ikut menimpali. Dari mereka berempat Raffi lah satu-satunya yang dari keluarga sederhana. Sedangkan Jofan dan Indra, orang tuanya sama-sama memiliki perusahan sendiri.
Axel hanya tersenyum sedikit mendengar godaan dari sahabatnya itu.
"Gimana rasanya jadi CEO?" tanya Indra menatap Axel yang terlihat santai saja.
"Ya biasa Aja, nggak ada yang spesial buat gue" jawab Axel dengan entengnya karena memang itulah yang dia rasakan.
"Lebay banget sih Lo, kayak apa aja beban berat" cetus Jofan merasa pertanyaan sahabatnya begitu konyol.
"Haha, Ya nggak berat juga sih, gue ngerasa nggak bebas aja gitu, Semua tingkah laku gue dia atur, nggak kaya Lo semua bisa kayak gini" ucap Axel terdengar santai namun terselip nada putus asa di dalamnya.
Ya memang, dia terlahir menjadi pewaris perusahaan keluarganya. Axel sebagai satu-satunya anak lelaki di keluarga Indra Jaya harus mau mengambil alih sesuatu yang sudah menjadi hak mutlak baginya.
Di umurnya yang 23 tahun, dia sudah menyelesaikan studynya di luar negeri. Dia memang lulus dua tahun lebih cepat dari sahabatnya. Dulu dirinya menolak untuk kuliah di luar negeri, karena waktu itu Axel tengah menjalin hubungan dengan seorang wanita yang menjadi tambatan hatinya. Mereka bahkan sudah merencanakan akan memasuki universitas yang sama.
Namun itu sepertinya hanya mimpi baginya. Karena begitu lulus, Ayahnya langsung mengirimnya ke Amerika untuk sekolah bisnis. Axel benar-benar tak terima waktu itu, tapi Ayahnya selalu bisa membuat dirinya tahkluk akan ucapanya. Akhirnya dengan menahan kerinduannya, Axel bisa menyelesaikan semuanya dan pulang ketanah air. Tapi lagi-lagi nasib tak berpihak padanya.
Wanita yang siang malam ia impikan akan menjadi pendampingnya itu ternyata sudah di pinang oleh orang lain. Hati Axel begitu hancur waktu itu, dia menjadikan minuman sebagai pelarian. Namun seiringnya waktu minuman pun tak cukup untuk memulihkan sakit hatinya hingga dia menjadi penjelajah wanita.
"Udahlah terima nasib aja, lagian ada hikmahnya juga, Lo jadi banyak duit sekarang" ucap Raffi merasa tak ambil pusing dengan hal lainnya.
"Yang ada di otak Lo itu cuma duit aja yang dipikirin, Sono kerja supaya Lo dapet duit" sentak Indra
"Sabarlah, gue lagi usaha, gue lagi cari kerja yang nggak harus ngeluarin keringet tapi punya banyak duit"
"Tuyul noh ada"
Raffi dan Indra memang sangat suka berdebat, tapi hal itulah yang membuat hubungan mereka semakin Dekat.
"Udah, berisik Lo berdua! Nih gue mau ngasih undangan buat Lo semua" ucap Jofan mengangsurkan undangan yang terlihat begitu cantik.
"Undangan apaan nih?" Raffi langsung menyerobot salah satu undangan. "Wah, gila Lo mau tunangan, anj*Ng langsung gas aja Lo" ceplos Raffi yang cukup kaget melihat tulisan di dalam undangan itu.
"Seriusan?" tanya Indra yang cukup kaget mendengar kabar ini. "Lo kok diem-diem langsung tunangan, udah hamil duluan ya" Indra menatap Jofan dengan pandangan menuduh.
"Sorry ya, gue anti main begituan" bantah Jofan tak terima. "Sebenarnya ini udah gue rencanain jauh-jauh hari tapi baru ada momen aja buat ngasih tau kalian" sambungnya tersenyum senang.
"Congrats bro, akhirnya Lo selangkah lebih maju" ucap Axel ikut bahagia melihat sahabatnya bahagia.
"Thanks, Lo semua Dateng ya awas kalau nggak" ancam Jofan menatap ketiga sahabatnya.
****
TBC