
Sesampainya di rumah sakit, Dio tak membuang waktunya, ia langsung berlari agar istrinya segera mendapatkan penanganan. Dio tak ingin sampai sesuatu terjadi pada dua orang tercintanya itu. Dio bernafas lega saat kandungan istrinya baik-baik saja, tapi meskipun begitu, Karin harus bad rest selama satu bulan penuh dan sebisa mungkin jangan sampai mengalami hal seperti ini.
Kondisi psikis Karin ternyata cukup mengkhawatirkan karena ia sudah mengalami hal seperti ini berkali-kali. Bahkan pernah lebih parah dari apa yang di lalui malam ini.
"Kamu udah bangun?" tanya Dio saat melihat istrinya sudah siuman, ia membantu Karin untuk duduk.
"Minum dulu" kata Dio mengambilkan air untuk istrinya. Karin mengangguk dan menghabiskan hampir setengah botol.
"Kamu nggak apa-apa kan? Ada yang sakit nggak?" kata Dio memandang istrinya dengan khawatir. Ia mengecek seluruh keadaan istrinya, rahangnya langsung mengeras saat melihat leher Karin yang terlihat membiru dan ada bekas kuku disana.
"Kau benar-benar ba ji ngan Elvan" Dio mengeram marah dan semakin yakin ingin membunuh pria itu.
"Aku baik-baik saja Abang, Cuma agak pusing, Aku mau pulang" kata Karin menyentuh tangan Dio untuk mencoba meredam amarah pria itu.
"Kamu belum bisa pulang dulu, Kata dokter harus istirahat total, Dan rumah kita..." Dio tak jadi melanjutkan ucapannya karena tak ingin Karin sampai kepikiran.
"Apa mereka akan datang lagi?" kata Karin masih sangat takut jika mengingat bagaimana Elvan dan anak buahnya menyerang rumah mereka.
"Nggak, Aku nggak akan biarkan hal itu terjadi. Kamu jangan takut lagi, aku juga udah nempatin polisi di depan ruangan kita, kamu aman sekarang" kata Dio menarik Karin kedalam dadanya.
"Abang" kata Karin menatap suaminya ragu.
"Ya?" sahut Dio balas menatap Karin yang memandangnya dengan mata sendu.
"Apa Abang masih mau mempertahankan perkebunan itu?" kata Karin membuat Dio mengerutkan dahinya.
"Kenapa?"
"Aku takut Abang, Aku takut Elvan akan menyerang kita lagi, Aku hanya ingin kita berdua hidup tenang tanpa kekhawatiran seperti ini. Aku minta sama Abang, tolong lepaskan saja" kata Karin tanpa sadar langsung menangis karena tak sanggup mematahkan harapan suaminya.
Karin tau bagaimana kuatnya keinginan Dio untuk mempertahankan perkebunan itu, tapi Karin merasa kalau Elvan tak akan menyerah untuk mendapatkan apa yang dia mau, Karin benar-benar hidup tenang.
Dio menggigit bibirnya, Ia sebenarnya memang masih berambisi untuk mempertahankan lahan perkebunan itu, tapi Karin benar, mereka tak akan bisa hidup tenang jika Elvan masih terus seperti ini.
"Aku akan melepaskannya, Aku pasti akan melepaskannya" kata Dio mengangguk seraya kembali memeluk tubuh Karin. Ia harus merelakan ini semua, sekarang yang terpenting adalah anak dan istrinya.
*****
Semilir angin tampak berhembus cukup kencang menerbangkan anak-anak rambut Karin yang terurai panjang. Ia sedang berdiri di tepi pantai menunggu Dio membelikannya air kepala muda. Perutnya tampak sudah begitu besar karena kehamilannya yang sudah tua.
Setelah Karin meminta Dio untuk melepaskan segalanya, Dio benar-benar melepaskan semua urusannya dengan Elvan. Ia juga memberikan seluruh hak warisannya ke berbagai panti asuhan dan akan di gunakan untuk membangun sekolah gratis di desa-desa yang cukup terpencil, sedangkan untuk perusahaan, Dio menyerahkan kepada orang kepercayaan Papa Abimanyu tapi Dio tetap menjadi pemiliknya.
Hampir dua bulan Dio dan Karin memilih tinggal di sebuah kota kecil yang berada di pulau Sumatra, Dio mengajak Karin kesana untuk mencari suasana baru dan mengistirahatkan diri sejenak dari hiruk pikuk kota Jakarta.
"Sudah dapat?" kata Karin tersenyum manis saat melihat Dio kembali dengan membawa air kepala dan sebuah makanan ringan.
"Ya, Hari ini sangat ramai sekali, Aku sampai lelah mengantri" kata Dio mengadu.
Berada cukup lama disana, membuat kulit Dio menjadi sedikit kecoklatan, gayanya pun tak lagi rapi seperti di kantor, Dio kini lebih sering menggunakan kaos oblong dan celana pendeknya. Meskipun begitu, Dio malah terlihat semakin tampan jika seperti itu.
"Iya, kau harus menghabiskannya ya, Aku juga membelikan mu ini, Kau bilang kau suka?" kata Dio mengajak Karin untuk duduk di bawah pohon kepala.
"Apa ini? Aku sudah tidak menyukainya, Anak mu bosan memakan ini terus" kata Karin melirik roti kering yang di bawakan Dio.
"Sekarang sudah ganti lagi seleranya?" kata Dio membuat Karin tertawa.
"Iya, Mungkin dia bosan karena Papinya selalu membawakan itu" kata Karin lagi.
"Jangan memfitnah anakku Nyonya, bilang saja kau yang bosan" kata Dio mencubit pipi Karin dengan gemas.
"Hahaha, iya benar. Aku bosan makan roti, Aku mau makan sea food yang ada di ujung sana" kata Karin kembali tertawa.
"Tapi kata Dokter roti ini bagus untuk ibu hamil" kata Dio mengulurkan tangannya untuk mengelus perut besar istrinya.
"Ya tapi tidak setiap hari juga" kata Karin.
Dio hanya tersenyum tipis. "Anakku sedang apa hari ini? Apakah dia nakal?" kata Dio terus mengelus perut Karin untuk menunggu tendangan ajaib dari mahluk kecil tambatan hatinya itu.
"Nakal? Tentu saja tidak, justru Papinya yang nakal, suka banget gangguin Maminya kalau malem" kata Karin mencibir kelakuan suaminya yang selalu tak pernah berubah.
Dio semakin tersenyum lebar dan tak membatah karena memang itulah dirinya, Padahal ia sudah mencoba mengerem keinginannya, tapi jika berhadapan dengan istri cantiknya, siapa yang tahan? Tapi ia juga mengerti untuk selalu berhati-hati.
"Kalau aku habis lahiran nanti, Abang harus puasa empat puluh hari" kata Karin tersenyum jahil. Ia tak bisa membayangkan kalau suami mesumnya ini harus tak berpuasa untuk tidak menyentuh dirinya.
"Gampang itu mah, Makanya aku harus cari bekal yang banyak buat nanti" kata Dio mengerlingkan matanya.
"Bisa aja"
"Ya, kamu katanya mau sea food, kita cari sekarang aja, ini juga udah mau sore" kata Dio melihat jam ditangannya yang menunjukkan pukul setengah tiga sore.
"Iya, aku juga laper banget" kata Karin mengulurkan tangannya pada Dio agar membantunya berdiri.
"Hari ini kita jalan kaki aja pulangnya, kata Dokter kamu harus sering berjalan-jalan agar kaki kamu nggak bengkak" kata Dio menggandeng tangan istrinya.
"Iya aku tau Abang" sahut Karin melirik Dio malas.
Suaminya ini memang menjadi orang yang paling protektif selama masa kehamilannya, Dio selalu memastikan Karin melakukan semua yang Dokter perintahkan, selalu mengingatkan meminum susu dan vitaminnya tepat waktu. Bahkan Dio sudah menyiapkan seluruh perlengkapan untuk Karin lahir nanti di dalam mobil, benar-benar suami siaga sekali.
Happy Reading.
Tbc.