
"Apa yang ingin kamu katakan?" Axel menatap dalam mata Bella yang kini menatapnya dengan serius.
Bella menghela nafas sebentar. "Ini tentang pernikahan kita"
"Lalu?"
"Gue mau pernikahan ini batal" kata Bella tegas, seolah perkataannya adalah perintah yang tak bisa di bantah.
"Apa maksudmu? Kamu ingin anak kita lahir tanpa ada ikatan di antara kedua orang tuanya" Axel benar-benar bingung dengan sikap Bella. Kenapa wanita itu terus saja menolaknya. Apa Bella tidak tau jika ribuan wanita di luaran sana berebut ingin menjadi istrinya. Tapi wanita ini?
"Itu memang kenyataannya! Antara kita nggak ada hubungan apapun, Kita hanya orang asing yang tak sengaja bersingunggan! Dan anak ini hadir karena kesalahan"
"Cukup Bella! Aku sudah cukup menahan diriku selama ini, Apa kamu tidak bisa menahannya sampai 9 bulan, Aku akan menceraikanmu setelah anak itu lahir! Kau akan bebas, Dan aku tak akan mengganggumu lagi! Jadi biarkan anak itu terlahir secara sah dimata hukum dan agama Kita!" Bentak Axel dengan suara keras. Dia menahan kekesalannya dengan mengepalkan tangannya dengan erat. Apakah dia begitu buruk di mata Bella? Hingga wanita itu tak menginginkannya.
"Dan setelah itu gue akan jadi janda! Gue udah bilang sama Lo kalau status gue akan berpengaruh sama masa depan gue" sahut Bella tak kalah kerasnya.
"Maka aku tidak akan pernah menceraikanmu Jika itu yang kau takutkan!" kata Axel secara implusif dan langsung mendapatkan pelototan dari Bella.
"Lo gila!" Bella rasanya ingin mengumpat dengan keras di depan wajah Axel. "Kita nggak saling cinta, gimana bisa
"Cinta itu tidak penting, Yang terpenting aku akan tanggung jawab atas kehidupan kalian" Axel memang tak pernah lagi mempercayai kata cinta, Baginya cinta hanya omong kosong belaka. Karena cinta akan selalu satu paket dengan sakit hati.
"Tapi bagiku itu penting! Akh...." Bella terlihat meringis menahan sakit yang tiba-tiba menyerang perutnya. Mungkin karena sedari tadi dirinya berbicara dengan keras membuat perutnya kram.
"Kamu kenapa?" wajah Axel yang tadinya keras kini mulai mengendur melihat Bella yang kesakitan.
"Sakit! Aw..." Bella tak bisa menahan rasa sakit yang tiba tiba melandanya.
Axel langsung bergerak cepat, dia mendekati Bella yang terus memegangi perut bawahnya. "Kita ke dokter sekarang" kata Axel ingin membopong tubuh Bella, tapi dia melarangnya.
"Nggak mau!" Kata Bella menggelengkan kepalanya, dia tak mau jika harus di bawa ke rumah sakit. Karena Bella tau, jika kesana pasti Axel akan mengabari orang tuanya.
"Tapi kamu sakit" kata Axel tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
"Nanti juga ilang" kata Bella benar benar menahan dengan sekuat tenaga, wajahnya terlihat memunculkan beberapa titik keringat.
Axel menghembuskan nafas panjang. Bella ini memang sangat keras kepala, jadi tak ada gunanya jika ia memaksanya.
"Baiklah, kamu tiduran dulu, aku ambilkan minum" Dengan Cekatan Axel menata beberapa bantal di sofa. Ingin membantu Bella namun wanita itu menolaknya.
"Nggak usah, gue bisa sendiri" tolak Bella langsung, dia tak mau pria itu aji mumpung memegang tubuhnya dalam keadaan lemah seperti ini.
"Oke" Axel mengangkat tangan menyerah karena terus mendapat penolakan dari Bella. Dia berlalu pergi untuk mengambilkan minum.
Bella sendiri memilih memejamkan matanya rapat untuk mengurangi rasa sakit yang melanda. Dia cukup heran dengan tubuhnya yang mudah lemas, Apa memang bawaan orang hamil seperti ini? Padahal ini baru tiga bulan, Bagaimana dia bisa menahannya selama 9 bulan?.
"Dasar Axel sialan! Enak banget nyuruh gue nahan sakit kayak gini terus? Dia enak nggak bawa bawa anak, sedangkan gue?" Batin Bella mengerutu sebal mengingat ucapan Axel.
"Sekarang kemana lagi tuh anak! Udah tau gue sakit, malah di tinggalin" Bella rasanya ingin sekali berteriak namun mulutnya terkunci.
****
"Minum dulu Bel" Ujarnya menyodorkan segelas air putih yang tadi di bawanya dari dapur.
Bella membuka matanya, dia sempat melirik Axel sebelum bangkit untuk menerima gelas yang Axel berikan. Mulutnya ingin bertanya tentang kemana pria itu pergi, tapi dia memilih diam dan menghabiskan minumnya.
"Lumayan"
"Kamu udah makan?"
"Belum, Gue nggak selera makan" jawab Bella seadanya.
"Kamu harus makan, ini udah kelewat jam sarapaan, mau aku beliin apa?" Axel mulai khawatir mendengar ucapan Bella, ini sudah jam 9 pagi tapi wanita itu belum makan apapun.
"Gue udah bilang gue nggak berselera" kembali ke mode awal, ternyata udah lemes masih punya kekuatan menyebalkan.
"Tapi kamu harus makan, Apalagi kamu lagi hamil" ucapan Axel kali ini terdengar sangat lembut, Bella yang mendengarnya bisa merasakan perhatian dan kasih sayang dalam ucapannya.
"Yaudah! Gue mau sate Madura yang pedes, terus potongan dagingnya kecil kecil, Sama nggak usah pakek irisan bawang" Bella menahan senyumnya, Jiwa usilnya tiba tiba muncul di permukaan. Mumpung si pria brengsek itu mau beliin dia makanan kan. Dia kerjain aja sekalian. Mumet mumet deh Lo nyari sate pagi-pagi begini.
"Sate? Yang bener aja kamu, Mana ada tukang sate dijam segini?" kata Axel tentu bingung dimana ada yang jualan sate pagi pagi begini.
"Ya mana gue tau, Anak Lo maunya makan itu" ceplos Bella tanpa sadar mulai menggunakan kata "Anak" untuk membuat Axel menuruti keinginannya.
"Kamu ngidam?" Axel memang sempat membaca beberapa artikel tentang kehamilan. Yang ternyata identik dengan ngidam. Apa Bella mengalami masa itu?
"Nggak tau, cuma pengen aja" jawab Bella asal saja.
"Yaudah, kamu tunggu dulu! Aku hubungi Bram buat cariin pesenan kamu" kata Axel hendak bangkit dari duduknya tapi Bella mencegahnya.
"Eh, Bram itu siapa? Kok Lo malah nyuruh orang lain sih? Gue kan maunya Lo yang beli" Bella tentu tak ingin jika Axel meleparkan tugasnya untuk orang lain. Gagal rencanannya kalau begini caranya.
"Kalau aku tinggal, kamu disini sendirian" kata Axel bingung jika harus meninggalkan Bella sendirian di Apartemennya.
"Gue nggak apa-apa, Udah deh Lo cepetan berangkat! Gue laper nih" kata Bella dengan cepat.
"Katanya tadi nggak berselera" goda Axel tersenyum mengejek.
"Eh, Ini tuh maksud gue, anak Lo yang laper" sahut Bella kembali menggunakan anaknya sebagai senjata.
Senyum Axel kian lebar, dia memberanikan diri untuk mengelus perut Bella yang masih rata membuat Bella terkejut namun tak menolaknya.
"Tuh lihat, Mama kamu udah jadiin kamu kambing hitam, sabar ya" kata Axel berbicara seraya mengusap pelan perut Bella.
Darah Bella berdesir mendengar Axel menyebutnya Mama, Apakah dia akan bisa menjadi Mama? . Dia menatap wajah Axel yang menatap perutnya dengan teduh. Hatinya tiba tiba bergetar karena elusan tangan Axel di perutnya. Axel saja sudah begitu mencintai anaknya, sedangkan dia yang mengandungnya kenapa malah begitu ingin menyingkirkannya. Ya Tuhan, Bella baru sadar kalau dirinya begitu egois. Membenci Makhluk yang tak berdosa ini.
Air mata Bella tiba-tiba meleleh menyadari bagaimana sikapnya yang begitu buruk. Axel yang melihat itu cukup kaget karena Bella tiba-tiba menangis.
"Kamu kenapa? Sakit lagi" tanya Axel takut Bella mengalami kram lagi di perutnya.
Bella menggelengkan kepalanya. "Gue egois, Gue.. nggak seharusnya membenci anak ini,.. dia nggak salah.."
"Stt... Kamu nggak salah! Ini semua salah aku, Aku minta maaf.." Axel yang tau apa yang di rasakan Bella memeluk tubuh mungil yang bergetar itu.
Happy Reading
TBC