
"Karin?" kata Dio yang merasa Karin sejak tadi menghindarinya. Wanita itu tidak mau menatapnya sama sekali. Dio mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Karin.
Mendapatkan kehangatan dari tangan Dio membuat Karin tak bisa mengabaikan pria itu. Karin lalu melihat Dio, air matanya spontan langsung turun tak bisa di cegah.
"Karin, Ada apa?" tanya Dio melihat Karin lembut.
"Aku....ya..a" kata Karin terbata, ia merasa sangat sulit sekali menjawab pertanyaan itu. Ada banyak sekali kata yang ingin di ungkapkan, tapi kenapa rasanya susah sekali.
Suasana kembali canggung, Semua orang menatap Karin yang tampak mengerutkan dahinya. Raimond lalu melirik Dokter yang berada tidak jauh darinya, seolah meminta mejelaskan apa yang terjadi pada putrinya karena ia tak sanggup.
"Ini adalah salah satu efek racun pada diri anda Nona Karin, Untuk sementara ini, anda mungkin akan kesulitan bicara dan kaki anda mengalami kelumpuhan" kata Dokter membuat Karin kaget dan langsung menangis begitu saja.
Karin menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Mamanya. Hatinya sakit sekali mendengarnya, Lalu apa yang akan di lakukan jika berbicara pun ia tidak bisa, bahkan ia sudah tidak bisa lagi berjalan. Kini ia hanya manusia yang tidak berguna, kenapa Tuhan memberikannya hidup jika seperti ini.
Dio menggigit bibirnya saat melihat tangis Karin yang sangat melukainya, ia mengeratkan genggamannya pada Karin membuat wanita itu teralihkan dari pelukan sang Mama dan melihatnya.
"Hei, Karin. Tidak apa-apa, Ini semua tidak akan merubah apapun. Tuhan sudah mengabulkan permintaanku untuk membuatmu kembali padaku. Kau bisa berbicara atau tidak, itu bukan masalah untukku. Aku sangat bersyukur kau bisa kembali bersamaku, Karin, itu sudah lebih dari cukup untukku. Lagipula, kita masih bisa berbicara, kau bisa menulisnya atau bagaimana" kata Dio menundukkan sedikit tubuhnya, mensejajarkan dengan mata indah istrinya yang hanya bisa terpaku.
"Karin, percayalah padaku. Aku menikahi mu bukan karena kata-katamu, Aku menikah mu bukan karena kau bisa berjalan di sisiku atau tidak. Aku menikahi mu karena dirimu Karin, Aku menikah mu karena aku ingin kau terus bersamaku" kata Dio menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Kau tau Karin, Kau itu wanita yang sangat hebat, kau mampu berjuang disana sendirian. Karin, aku ingin mengucapkan terimakasih padamu. Terima kasih sudah berjuang untukku dan terima kasih sudah kembali padaku" kata Dio mencium tangan Karin yang di genggamnya lalu mencium dahi Karin dengan hangat membuat tangis Karin semakin pecah dan histeris.
Ia sangat terharu dengan kata-kata yang di ucapkan Dio padanya. Mendengar ketulusan dari setiap kata yang terucap membuat hati Karin tenang.
Mama Elmira pun ikut tersentuh mendengar ucapan menantunya yang memberikan cinta yang begitu besar pada putrinya. Raimond pun ikut mencubit hidungnya menyamarkan rasa haru karena kata-kata Dio.
"Nak Dio benar, Mau Karin bisa berbicara atau tidak, bisa berjalan atau tidak. Mama tidak peduli, Karin tetap putri Mama yang paling cantik dan saat ini Karin sudah berada di samping Mama. Terima kasih sayang, kamu sudah kembali kepada Mama dan Papa" kata Elmira mengusap air matanya lalu memberikan pelukan hangat pada anaknya.
"Terimakasih anak Papa" kata Raimond tersenyum sedikit dan mengelus lembut kepala anaknya.
"Te...Pa..eh" Kata Karin sangat susah sekali mengeluarkan kata-kata.
"Tidak usah di paksa, kau baru saja sembuh. Kita bisa belajar menggunakan alat komunikasi lain. Untuk sekarang, istirahat dulu ya" kata Dio tak ingin Karin memforsir dirinya, wanita itu juga baru saja sembuh.
"Ya" kata Karin masih bisa mengeluarkan kata-kata itu karena cukup mudah.
"Baiklah, Mama dan Papa, akan pulang sebentar untuk mengganti baju, Karin mau apa? Biar nanti Mama bawakan?" kata Elmira tau jika menantinya butuh waktu berdua.
Karin menggelengkan kepalanya pertanda ia tak menginginkan apapun.
"Baiklah, Mama pulang dulu kalau begitu, Nak Dio kabari Mama kalau ada apapun" kata Elmira kembali memberikan pelukan hangat pada putrinya sebelum pergi.
"Iya Ma" kata Dio mengangguk pasti.
Sepeninggal orang tua Karin, Dio mendudukkan tubuhnya di kursi samping ranjang dan menatap Karin yang sejak tadi terus menatapnya.
"Kenapa menatapku terus? Kangen atau bagaimana?" kata Dio menggoda istrinya.
Karin memasang wajah mengkerut karena ke Dio yang ke ge-eran. Ia ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak bisa.
"Ingin apa? Kau bisa menulisnya disini" kata Dio lagi.
"Kamu belum tidur?" Karin menuliskan itu, ia menebak kalau suaminya ini pasti belum tidur beberapa hari karena mata pria itu tampak cekung dan wajahnya cukup pucat.
Dio segera membacanya. "Oh, Aku pasti tidur nanti, sekarang kau yang istirahat dulu, pasti lelah kan?" kata Dio tersenyum tipis tapi Karin menggeleng.
"Nggak mau tidur?" tanya Dio dan Karin mengangguk.
"Baiklah, Aku akan menemanimu, Atau mau makan? Aku suapi ya" kata Dio baru ingat kalau istrinya belum makan apapun.
Lagi-lagi Karin menggeleng membuat Dio bingung, Dio mengerutkan wajahnya lalu tiba-tiba mencium bibir Karin membuat wanita itu kaget dan Dio hanya tersenyum manis.
"Kenapa mencium ku?" Karin tampak protes dan memasang wajah sebal.
"Sengaja, Kamu di tawarin apa-apa nggak mau, Berarti minta aku cium kan?" kata Dio tertawa kecil dan langsung mendapatkan cubitan di dari Karin. Dio segera menangkap tangan Karin lalu menciumnya.
"Karin, berjanjilah untuk selalu baik-baik saja. Aku sangat mencintaimu" kata Dio menatap Karin penuh perasaan.
"Ya," sahut Karin tersenyum tipis.
"Baiklah, Karena kau belum tidur, kita bisa berlatih berbicara, Bagaimana? Kau bisa mencoba dari hal yang mudah dulu" kata Dio dengan mata berbinar.
Karin mengangguk setuju, ia juga ingin segera bisa berbicara lagi.
"Baiklah, Kata pertama yang harus kau ucapkan adalah nama panggilan untukku" kata Dio tersenyum manis dan menaik turunkan alisnya.
"Di..." Karin mencobanya tapi ia cukup kesusahan.
"Jangan namaku, kita sudah menikah, jadi kau harus memanggilku, Sayang" kata Dio tertawa menggoda.
Karin mengerucutkan bibirnya mendengar godaan Dio.
"Kalau tidak mau Sayang, Abang aja kalau gitu, Abang Dio" kata Dio tersenyum geli mendengar panggilan itu untuknya.
Perkataan Dio kali ini membuat Karin tersenyum. Dio memintanya memanggil Abang? tapi lucu juga sih, pikir Karin.
"A...b...a...ng" Kata Karin berhasil mengucapkan kata itu meskipun terbata-bata.
"Wah! Langsung bisa, Pinter banget sih istriku ini, aku kasih hadiah ya karena udah bisa panggil abang" kata Dio bersorak girang lalu kembali memberi ciuman di pipi Karin tak perduli wanita itu protes atau tidak.
"Oke next...Kita ganti kata selanjutnya, Nanti kalau berhasil lagi aku kasih hadiah" kata Dio semakin tertawa melihat wajah Karin yang bersungut-sungut karena merasa suaminya ini hanya mencari kesempatan.
Tapi Karin tetap mau mengikuti apa yang di ucapkan Dio, ia berlatih mengucapkan kata-kata yang mudah dulu, dan jika berhasil, Dio akan menciumnya, Yah, menang banyak kan dia. pikir Karin.
Happy Reading.
Tbc.