
Gunung Rinjani memiliki ketinggian 3.726 mdpl dan masuk ke dalam salah satu gunung tertinggi di Indonesia. Pada siang hari, suhu di puncak Rinjani bisa mencapai 4°C dan jika di malam hari suhu turun menjadi -5°C. Dengan suhu serendah itu, pendaki Gunung sering mengalami Hipotermia yang membuat tubuh sangat kedinginan.
Angga rasanya ingin gila karena belum bisa menemukan Karin tapi Dio juga malah hilang entah kemana. Tim yang di bawa juga cukup kesusahan karena sudah malam dan kabut sangat tebal. Di tambah tubuh mereka yang dingin membuat mereka memutuskan menghentikan pencarian karena rasa lelah dan medan yang tidak memungkinkan.
"Semoga mereka masih bisa bertahan" batin Angga dengan perasaan tak karuan.
Di sisi lain, Dio merasa ada seseorang yang menyentuh pipinya dengan lembut. Ia membuka matanya dan sedikit kaget saat melihat Karin yang tersenyum manis padanya. Dio menegakkan tubuhnya.
"Karin" ucapnya senang bisa melihat wanitanya.
Tapi Dio heran karena Karin tak mengatakan apapun padanya, wanita itu hanya tersenyum dan menatapnya. Dio ingin langsung memeluknya tapi ia kaget saat tiba-tiba Karin tidak ada di depannya.
"Karin! Karin!" ucap nya bangkit dari duduknya dan mencari-cari Karin.
"Karin! Jangan pergi Karin!" teriaknya seperti orang gila karena tak bisa menemukan Karin.
"Karin!" Teriak Dio seketika terbangun dari tidurnya dan kaget saat menyadari mimpi yang baru di alaminya.
Dio mengatur nafasnya yang tiba-tiba sesak, Ia menatap sekitarnya yang sudah gelap. Tubuhnya menggigil karena rasa dingin yang mendera. Dio segera mencari ponselnya untuk mengaktifkan senter agar bisa menerangi jalannya. Ia harus menemukan Karin bagaimanapun caranya.
"Kamu dimana sayang" batinnya kalut. Di malam yang dingin seperti ini, mustahil orang bisa bertahan karena dia sendiri sangat kedinginan.
Tapi Dio tak menyerah, ia kembali berjalan menyusuri hutan yang gelap dengan cahaya senternya. Melawan rasa dingin yang menggerogoti tubuhnya. Ia menajamkan penglihatannya berharap bisa menemukan Karin.
Dio beberapa kali jatuh tapi ia langsung bangkit lagi, ia tak ingin berhenti sampai menemukan Karin.
"Dio....." ia seperti mendengar suara orang berbisik dengan lembut di iringi hembusan angin yang dingin dari arah kanannya.
Entah kenapa instingnya mengatakan kalau Karin berada disana, Ia langsung mempercepat jalannya, menghalau dedaunan yang menghalanginya. Ia terus berjalan tak kenal lelah sampai ia melihat tubuh seseorang tergeletak di antara dua pohon yang mengapit tubuh itu.
"Karin!" Ucapnya kaget namun juga senang karena bisa menemukan wanitanya.
Dio langsung mendatangi sosok itu dan melihat kalau itu memang benar-benar Karin yang masih tak sadarkan diri. Dio segera menarik tubuh Karin dari jepitan pohon itu.
"Karin! Bangun Sayang" ucapnya menepuk-nepuk pipi Karin yang dingin, sangat dingin seperti membeku.
"Karin!" ucapnya lagi namun tak ada respon membuat tangis Dio pecah.
Dio memeluk erat tubuh Karin yang sudah seperti mayat. Kaku dan sangat dingin. "Bangunlah!!!! Aku datang untukmu, Bangun Rin" ucap Dio menciumi wajah Karin berharap wanita itu akan bangun.
"Bangun Rin! Maafin Aku" ucapnya lagi semakin tak mengontrol suara tangisnya yang pilu dan menyesakkan. Wajahnya sudah basah karena air matanya yang terus mengalir.
"Sayang....Bangun.." ucapnya lagi dengan suara lirihnya. Ia terus menangis putus asa karena Karin masih tak sadarkan diri.
Karin membuka matanya perlahan-lahan, wajahnya sudah ikut basah karena air mata Dio. Tangannya perlahan terulur untuk bisa menyentuh wajah prianya.
"D...i..o" ucapnya sangat lemah.
Dio mengangkat wajahnya saat mendengar suara Karin. Ia tersenyum namun juga menangis. "Karin, Kamu udah bangun.....Maafin aku....Maafin aku..." ucapnya kembali memeluk tubuh Karin dengan erat dan mencium wanita itu berkali kali.
"Bertahanlah sayang..." kata Dio mengeratkan pelukannya berharap bisa memberi kehangatan pada Karin.
Karin menggelengkan kepalanya, ia sudah tak tahan. Lengannya juga sepertinya terluka cukup parah membuat ia tak bisa lagi menahannya.
"Maafkan aku...." ucap Karin ingin menyerah saja.
"Jangan...jangan minta maaf...Kau tidak salah apapun...Bertahanlah untukku Karin... Aku tidak akan membiarkanmu pergi" kata Dio dengan suara yang keras, tau jika Karin sudah sangat kedinginan.
Dengan tenaga yang tersisa, Dio langsung menggendong tubuh Karin dan membawanya pergi mencari tempat yang menurut Dio bisa di gunakan untuk mengurangi rasa dingin ini. Saat mencari Karin tadi, ia sempat melihat ada gua yang cukup besar, ia langsung membawa Karin kesana.
Dio merebahkan Karin dengan perlahan, ia kemudian mencari ranting kayu untuk membuat Api ini unggun yang akan membantu menghangatkan tubuh mereka nanti. Dio merasa lega karena di saku jaketnya ternyata ada korek api miliknya.
Setelah api unggun menyala, Dio bisa melihat dengan jelas kondisi Karin yang ternyata terluka cukup parah.
"Karin....." Dio langsung membuka syal miliknya dan mengikatnya di lengan Karin yang terluka.
Karin kembali membuka matanya, ia menatap Dio dengan perasaan haru karena akhirnya ia bisa melihat kembali wajah itu.
"Dio..." ucap Karin merentangkan tangannya yang langsung disambut oleh Dio.
"Maafkan Aku....." ucap Dio kembali menangis karena bisa melihat Karin membuka matanya. Ia memeluk Karin dengan erat seperti 1000 tahun tak bertemu. Rasanya Dio tadi sudah ingin mati karena tak bisa menemukan Karin.
"Jangan menangis" kata Karin mengusap pelan air mata Dio.
"Ini tangis bahagia" Dio mengambil tangan Karin dan menciuminya dengan penuh perasaan.
"Maaf" ucap Karin menudukkan wajahnya.
"Hei, kau tidak salah, kenapa minta maaf. Aku yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa menjagamu. Maafkan aku" kata Dio membantu Karin yang ingin duduk.
Karin diam dan kembali memeluk tubuh Dio yang juga memeluknya tak kalah erat.
"Kau tau, Aku sangat takut kehilangan mu. Aku mohon...Jangan pergi lagi Karin" ucap Dio menatap Karin lembut namun serius.
"Tapi kau-----" Karin menghentikan ucapannya karena Dio mencium bibirnya dengan lembut.
"Berjanjilah untuk tidak pergi dariku, Kita harus menghadapi ini bersama. Karin, Aku sangat mencintai mu. Kau percaya itu kan?" kata Dio menatap lurus mata Karin yang bergerak-gerak menatapnya.
"Iya..." kata Karin mengangguk. Nyatanya sekuat apapun dia mencoba menolak, ia tetap tak bjsa. Hal itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri dan juga Dio. Saat tadi dirinya berada di antara hidup dan mati, hal yang paling di inginkan ternyata hanya ingin kembali kepada pria ini.
Dio tersenyum lega, ia mengeratkan pelukannya kepada tubuh Karin.
"Mulai sekarang jangan ada lagi pemikiran bodoh mu untuk pergi meninggalkan ku. Sejauh dan sekuat apapun kau ingin lari dariku. Aku akan mencari mu sampai kemana pun , karena kau sudah terikat denganku seumur hidupmu. Kau akan selamanya menjadi milikku, Karin" kata Dio begitu serius. Ia sudah berjanji dalam hatinya, tak akan melepaskan Karin apapun yang terjadi.
Happy Reading.
Tbc.