
Keadaan Rafael sudah membaik dan ia sudah di izinkan pulang. Pengacara Ayahnya sudah menembusnya dengan jaminan membuat ia bisa bebas dengan mudah.
"Kau sungguh membuatku malu!" kata Ayah Rafael saat melihat anaknya yang babak belur kembali pulang.
"Apa? Bukankah ini ajaran yang kau lakukan padaku Ayah" kata Rafael menekan kata Ayah dalam nada bicaranya.
"Berhentilah bermain-main Rafael! Apa kau ingin Ayahmu ini cepat mati" kata Ayah Rafael begitu emosi karena putranya ini selalu saja melakukan tindakan yang akan membuatnya jantungan.
"Ya semoga, Agar bisa menyusul ibu dan aku akan bebas tanpa ada yang mengaturku" kata Rafael memang tak begitu perduli dengan ayahnya. Ia memilih keluar dari rumah daripada mendengar ocehan Ayahnya.
"Rafael! Tunggu!" Teriak Ayah Rafael namun tak begitu di perdulikannya.
Rafael segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia masih begitu emosi dengan apa yang sudah terjadi, Selama hidupnya tak ada seorang pun wanita yang menolaknya, Ia merasa sangat tertantang ingin menaklukan Bella tapi sialnya ia kembali gagal.
Rafael yang terus melamun tak sadar saat ia berbelok ada sebuah mobil pick up yang datang dari arah berlawan. Ia sangat kaget dan membanting stir ke kiri hingga mobilnya terperosok ke jurang.
Dam!!
Suara dentuman terdengar begitu keras memekakkan telinga. Tubuh Rafael terlempar jatuh sebelum mobil itu terjun bebas ke jurang, tapi kepalanya menghantam aspal dengan keras membuat ia kehilangan kesadaran.
****
Rafael terbangun saat merasakan siraman air dingin di wajahnya. Ia membuka matanya yang terasa berat, Kepalanya begitu pusing dan seluruh tubuhnya seperti remuk tak bertenaga. Ia lalu menatap tangannya yang terborgol dengan ranjang. Kenapa ia bisa disini? Seingatnya ia tadi terjatuh karena mengalami kecelakaan.
Rafael mencoba menggerakan tangannya . Ia terus mencoba melepaskan borgol itu hingga ia kelelahan sendiri, tangannya pun terasa nyeri karena terus bergerak.
"Sudah sadar?" Rafael menoleh saat mendengar suara yang cukup familiar di telinganya.
"Kau! Mau apa kau kesini!" Teriak Rafael begitu emosi saat melihat Axel.
Gara-gara pria ini, semua rencananya hancur. Padahal sedikit lagi saja ia akan mendapatkan Bella. Dan wanita itu akan menjadi miliknya, seutuhnya.
Axel datang dengan wajah dinginnya yang tak tertebak. Di Ruangan itu sudah ada Bram dan dua pengawal pribadinya. Ia menatap Rafael dengan tatapan tajam menusuk.
"Jangan membuang-buang energi mu, Karena kau tak akan bisa lepas" kata Axel berjalan mendekati Rafael yang terus menggerakkan tangannya agar borgol itu terlepas.
"Brengsek! Dasar pengecut, Kau menyerang ku dalam keadaan seperti ini!" maki Rafael begitu marah, matanya menatap Axel seolah ingin membunuh pria itu.
"Kau pikir aku perduli? Rafael, Aku sudah memperingatkan mu untuk menjauhi istriku! Tapi kau malah melecehkannya!" Teriak Axel begitu emosi menekan lengan Rafael yang terluka dengan sangat keras.
"Arghh!!!" Rafael berteriak keras merasakan sakit yang luar biasa hingga terasa sampai di ubun-ubun nyerinya. "Lepaskan aku! Jika ayahku tau, Kau pasti akan tau akibatnya Axel" Teriaknya lagi.
"Akibat apa? Kau bahkan tak bisa apa-apa sekarang! Kau mau memanggil Ayahmu? lakukanlah jika kau masih bisa melihatnya" kata Axel menarik tangan Rafael dan memelintirnya membuat pria itu kembali menjerit.
"Sayangnya aku kesini bukan untuk bernegosiasi denganmu! Bram! Buka borgolnya" Perintah Axel merasa kurang lengkap kesenangannya saat melihat Rafael hanya berbaring saja.
Bram mengangguk dan memberikan gestur pada dua pengawal itu untuk memegang Rafael. Tapi Rafael tak hilang akal, Ia menggunakan kesempatan ini untuk berlari dan menyerang Axel. Axel sedikit kaget namun ia dengan sigap mengahalau serangan itu.
"Axel! Aku akan membunuhmu!" Teriak Rafael menendang perut Axel hingga pria itu terhuyung kebelakang.
"Kurang ajar!" Umpat Axel semakin marah, ia langsung balas melibas Axel dengan tendangannya tapi Rafael mengelak ia mengambil kursi yang ada disana. Ia ingin menghantamkan kursi itu ke kepala Axel.
Tapi Axel menahannya dengan kedua tangan dan mendorongnya kebelakang membuat Rafael yang masih lemah terhuyung kebelakang. Axel menarik rambut Rafael agar pria itu berdiri.
"Ternyata hanya begini saja kekuatanmu Rafael! Kau benar-benar salah karena sudah melawanku! Kemarin kau menyentuh istriku dengan tanganmu yang hina ini kan? Bagaimana kalau ku buat kedua tanganmu ini kehilangan jarinya?" kata Axel dengan bengisnya.
"Kau gila! Jangan lakukan hal itu! Axel, Aku mohon.." kata Rafael mendadak pias mendengar ucapan Axel.
"Kau takut Rafael? Tenang saja, Tak akan ku buat kematian mu mudah, Hingga kau tak akan tahan akan rasa sakitnya dan kau akan memohon padaku untuk di bunuh saja" kata Axel tak lagi berkompromi.
"Axel.. aku minta maaf... Aku tidak akan mengganggu kalian lagi, Tolong Axel ini hanya kesalahpahaman kecil..." Rafael begitu panik saat menyadari jika Axel tak main-main dengan ucapannya.
Tapi Axel seolah tuli, Ia segera malah menendang tubuh Rafael dengan keras. "Bram! Patahkan jarinya sekarang juga!" Perintah Axel pada Bram yang selalu sigap dengan tugasnya.
Axel menikmati sekali saat melihat Bram dan kedua pengawal itu memaksa Rafael. Ia menatap hal itu seolah seperti tontonan biasa padahal jeritan Rafael begitu menggema di ruangan pengap itu. Axel seolah tak puas setelah melihat Rafael kehilangan jari tangannya, Ia kembali berjalan mendekati Rafael yang masih sadar namun sangat lemas dan terus merintih kesakitan.
"Ingatlah Baik-baik hari ini Rafael, Dan ingatlah wajahku saat kau sudah sampai di alam baka" bisik Axel mengambil pisau kecil disaku jasnya dan mengiris lipatan tangan Rafael yang langsung mengucurkan darah.
Axel tau jika lipatan itu ada arteri besar yang jika ia melukainya akan terus mengeluarkan darah. Dan jika hal itu di biarkan terus menerus maka Rafael akan kehilangan darah perlahan lahan. Axel memang sengaja melakukan hal itu, Ia ingin Rafael antara hidup dan mati.
"Bram! Kau tau kan apa yang harus kau lakukan" kata Axel menatap Asistennya dengan tatapan tau sama tau.
"Baik Tuan" sahut Bram mantap. Ia sudah terbiasa melakukan hal seperti ini.
Axel segera berjalan keluar dari ruangan itu, Ia harus secepatnya pulang karena Bella pasti sudah menunggunya. Tapi ia merasakan ponselnya bergetar.
My Pretty Wife Calling
Axel menghela nafas sejenak sebelum mengangkat panggilan itu.
"Halo?" ucapnya dengan suara lembut mendayu berbeda sekali saat tadi ia berada di ruangan. Axel berubah menjadi kucing imut rumahan padahal ia baru saja melakukan kekejaman gila seperti singa yang kelaparan.
Happy Reading.
Tbc.