MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Hujan Kala Itu.



Bukan, Bukan aku bermaksud jahat.


Menjeratmu agar terjebak.


Tapi kaulah yang sudah merubah diriku.


-----------------------------------------------


Dio masih berdiri di bawah guyuran hujan, semua lawannya tampak sudah tumbang dan mereka kini sudah berlari pergi. Dio melihat bajunya yang merah karena darahnya. Sepertinya penjahat itu melukainya cukup dalam, tapi ia masih bisa menahannya.


Dio lalu berjalan ke mobil Karin dan mengetuk kaca mobilnya. Karin segera membukanya, melihat Dio yang basah kuyup.


"Mereka sudah pergi, Kau sudah bisa pulang" kata Dio sedikit berteriak karena hujan cukup deras.


"Iya, Apa kau baik-baik saja?" tanya Karin sedikit cemas.


"Aku baik, pergilah. Ini sudah sangat larut" kata Dio lagi. Ia kemudian berjalan ke arah mobilnya sendiri.


Karin terdiam saat melihat Dio yang pergi begitu saja, entah kenapa perasaannya tak enak. Ia menoleh ke belakang melihat Dio yang berjalan membungkuk dengan memegang perut, Kini pria itu tampak berhenti dengan berpegangan pada tiang lampu. Sepertinya dugaannya benar, kalau pria itu memang tidak baik-baik saja.


Karin memutuskan turun dan menerobos hujan yang lebat untuk menyusul Dio. Ia langsung menarik pundak pria itu membuat tubuhnya berbalik. Karin tak bisa menutupi rasa kagetnya saat melihat baju Dio yang merah karena darahnya.


"Dio, Kau terluka?" ucap Karin semakin cemas.


"Apa yang kau lakukan disini? Aku tidak apa-apa, pulanglah. Ini sudah sangat malam" kata Dio terdengar sedikit kesal, namun ia meringis saat perutnya semakin sakit.


"Kau tidak baik-baik saja, Perutmu berdarah. Aku...aku akan mengantarkan mu pulang" kata Karin benar-benar khawatir, lagipula Dio terluka karena menolong dirinya.


"Aku bisa pulang sendiri, tidak perlu mencemaskan ku" kata Dio membuat Karin kesal.


"Aku tidak mencemaskan mu! Aku hanya menolong mu karena tidak ingin berhutang budi padamu" Kata Karin langsung menarik tangan Dio dan merangkul kan di lehernya.


Dio tak menjawab karena rasa sakit di perutnya semakin kuat, ia membiarkan saja Karin memapah dirinya yang memang cukup lemah saat ini. Karin membuka pintu mobilnya dan membantu Dio duduk dengan perlahan, Ia memandang wajah pria itu yang cukup pucat dengan bibir yang membiru.


Setelah Dio duduk dengan sempurna, Karin langsung ikut masuk dan menjalankan mobilnya untuk mencari rumah sakit terdekat. Selama hampir dua jam ia menunggu di luar ruangan. Tubuhnya sudah menggigil karena bajunya yang basah dan udara yang sangat dingin malam itu.


Tak lama pintu perawatan terbuka menampakkan Dokter dan sosok Dio yang kaget melihat Karin yang masih ada disana, Ia pikir wanita itu sudah pulang setelah mengantarnya. Karin yang melihat Dio keluar langsung bangkit.


"Bagaimana?" tanya Karin langsung.


"Lukanya cukup dalam tapi tidak terkena organ vital, Aku sudah menjahit 16 jahitan. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan, hanya harus kontrol 3 hari lagi" kata Dokter itu menjelaskan.


Karin sedikit lega mendengarnya. "Baiklah, Aku sudah mengurus administrasinya, Sekarang aku akan mengantarmu pulang" kata Karin pada Dio setelah Dokter itu pergi.


"Kenapa kau belum pulang?" tanya Dio menyipitkan matanya.


"Bisakah kau berhenti bertanya? Aku sudah sangat lelah, sekarang katakan kemana aku akan mengantar mu?" kata Karin sudah tak memiliki tenaga rasanya, tubuhnya sudah sangat kedinginan dan mengantuk tentunya karena ini sudah jam tiga pagi.


"Antar aku ke apartemenku saja, Tidak jauh dari sini" kata Dio berjalan mendahului Karin. "Biar aku saja yang membawa mobilnya" sambungnya lagi.


"Bukannya perutmu sakit?" tanya Karin.


Lagi-lagi Karin tak menyahut, Ia hanya diam di sepanjang perjalanan mereka. Tapi ia teringat sesuatu.


"Kenapa kau bisa ada disana? Rasanya sangat tidak mungkin jika itu kebetulan" kata Karin melirik Dio yang fokus menyetir.


"Memang tidak, Aku sengaja mengikuti mu" kata Dio datar tanpa menoleh pada Karin.


"Lalu apa maksudmu mengikuti ku? Atau mungkin para penjahat tadi memang orang suruhan mu?" kata Karin entah kenapa berpikir seperti itu.


Perkataan Karin itu langsung membuat Dio menoleh dan menatap tajam pada wanita disampingnya. Karin yang ditatap seperti itu mengerutkan dahinya, Apakah dia salah bicara?


"Aku pikir kau wanita yang cerdas, Tapi sayang sekali kau tidak bisa menganalisa dengan tepat. Kalau para penjahat itu orang suruhanku, aku tentu hanya akan menyuruhnya menakuti, lalu berpura-pura melawanku dan pergi begitu saja. Untuk apa aku harus menahan sakit dan di jahit 16 jahitan yang pastinya akan meninggalkan bekas. Kau kira aku rela melakukannya hanya untuk dirimu? Pikiranmu terlalu sempit"


Dio sedikit geram karena merasa tidak rela di tuduh melakukan hal murahan seperti itu untuk menarik perhatian Karin, Ia tak perlu melakukannya karena Dio yakin kalau wanita itu sudah masuk perangkapnya. Hanya saja Karin belum menyadarinya.


Karin terdiam, ia memutar otaknya merasa perkataan Dio ada benarnya. Luka enam belas jahitan pasti cukup lebar, pasti akan membekas dan terlihat jika bertelanjang dada. Ada rasa tak enak saat menyadari jika Dio memang tak seperhatian itu padanya.


"Apa kau ingin langsung pulang?" tanya Dio saat mobilnya hampir dekat dengan Apartemennya.


"Ya" sahut Karin singkat.


"Ini sudah jam tiga pagi, hujannya juga masih lebat. Sebaiknya kau menginap saja di apartemenku" kata Dio membuat Karin langsung menoleh.


"Aku langsung pulang, Rumahku sudah dekat" kata Karin terdengar acuh, Lagipula menginap di Apartemen Dio sama saja memasukan dirinya ke kadang buaya.


"Sebentar lagi pagi, Setidaknya tunggulah sampai matahari terbit kau bisa langsung pulang" kata Dio sedikit melembutkan suaranya. Ia cukup khawatir jika Karin pulang sendirian.


Karin kembali terdiam, ia juga sebenarnya takut jika pulang sendiri. Bagaimana kalau ada penjahat seperti tadi.


"Apa kau yakin tidak akan melakukan apapun padaku?" ucapnya sedikit ragu karena pria ini membawa trauma tersendiri baginya.


"Tenang saja, Aku tidak akan berbuat hal buruk padamu, Atau kalau memang tidak nyaman, aku bisa mengantar mu ke hotel. Di depan ada hotel yang cukup dekat" kata Dio dengan wajahnya yang serius.


"Tidak perlu, lagipula hanya tinggal dua jam. Aku menginap di Apartemen saja" kata Karin.


"Baiklah" sahut Dio mengangguk.


Setibanya di gedung Apartemennya, Dio langsung masuk setelah memasukan password pintunya. Karin beberapa kali mengusap lengannya yang terbuka, ia sangat kedinginan saat ini.


"Masuklah" kata Dio membuka pintunya lebar agar Karin masuk.


"Iya" sahut Karin langsung masuk kedalam. Pandanganya menyapu keseluruhan Apartemen Dio yang terlihat sangat rapi.


"Kau mau berdiri di situ saja?" seruan Dio membuat Karin sedikit kaget, Ia menatap Dio yang sudah berjalan di dekat tangga.


Karin tak menyahut, perlahan ia mendekat dan mengikuti Dio yang naik ke lantai dua. Ternyata Dio membawanya ke kamar. Karin baru sadar kalau mereka hanya berdua disini, ia merasa gugup entah karena apa.


Happy Reading.


Tbc.