
Setelah membersihkan dirinya, Dio kembali keruangan itu, tapi ia sedikit kaget saat melihat sudah banyak sekali polisi yang bersiap.
"Ada Apa ini?" tanya Dio tak mengerti.
"Mata-mata yang mengintai rumah Nathan melaporkan kalau kedua orang tua Nathan semalam sudah pulang setelah cukup larut, dan pagi ini mereka kembali pergi, mereka sudah mengikutinya" kata Angga tampak senang karena mendapatkan petunjuk penting.
"Lalu, bagaimana hasilnya?" tanya Dio juga tampak sangat lega mendengar kabar ini.
"Kami sudah menyiapkan segalanya Tuan Dio, dalam 1jam kita akan segera berangkat untuk melakukan penyergapan sesuai dengan apa yang sudah di rencanakan" kata Jendral Martin langsung memerintah anak buahnya.
"Siap, Jendral" kata prajurit serempak, setelah mengatakan itu, mereka segera bersiap untuk melakukan tugasnya.
Jenderal Martin pun segera bersiap-siap memakai semua atribut yang dibutuhkannya. Dio yang sejak tadi berada disana merasa harus melakukan sesuatu juga.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Dio.
"Tunggulah disini Tuan Dio, Serahkan semua pada kami, kami pastikan akan membawa Nona Karin kembali" kata Jendral Martin sibuk memasang alat pelindung di tubuhnya.
"Aku ikut, aku ingin menjemput istriku" kata Dio tegas. Ia tak ingin hanya menunggu disini, dia bisa gila jika melewati setiap detik dengan tidak kepastian.
"Maaf Tuan, permintaan anda di tolak. Kita tidak bisa mengambil resiko jika penculik itu akan melukai anda juga" kata Jendral Martin tak setuju.
"Biarkan dia ikut" mendengar suara berat yang sangat tegas itu membuat semua orang menoleh.
Dio kaget saat melihat Axel ada disana, pria itu tampak berjalan masuk dengan wajah datarnya dan aura berwibawa yang kuat. Axel sengaja datang pagi itu karena Bram melaporkan kalau belum ada perkembangan apapun dari semalam.
"Selamat Pagi Tuan Axel" sapa Jendral Martin sedikit mengangguk hormat pada Axel.
"Ya, biarkan saja Dio ikut, kau bisa memerintahkan pasukan khusus untuk menjaganya" kata Axel lagi sedikit memberikan senyum tipisnya.
"Baiklah, tapi beliau juga harus menggunakan baju khusus. Karena kita tidak tau seperti apa musuh yang akan kita hadapi. Keselamatan Tuan Dio dan Nona Karin tetap prioritas kami" kata Jendral Martin tak kalah tegasnya.
Axel mengangguk lalu menatap Dio yang wajahnya sudah sangat tegang, para anggota polisi disana segera membantu Dio ikut memakai alat pelindung pada tubuh Dio, mereka juga memasangkan rompi anti peluru pada Dio.
"Axel, terima kasih sekali lagi atas bantuanmu" kata Dio sebelum pergi.
"Berhentilah berterimakasih padaku, Fokus saja pada tujuanmu. Dan aku rasa, kau akan membutuhkan ini nanti" kata Axel kembali melakukan hal tak terduga, Ia mengeluarkan pis tol dari dalam jasnya lalu menggenggam kan ke tangan Dio.
"Kau bisa menggunakannya kan?" kata Axel menatap Dio dengan senyum tipisnya.
Dio mengangguk mantap, tak sia-sia ia selama ini diam-diam mengambil pelatihan mene mbak. Setalah mengecek pis tol itu, Dio segera menyelipkannya pada holster dada yang dipasangkan padanya. Dio lalu menggunakan jasnya kembali, tampak tak menyembunyikan apapun di dalam jasnya.
Karin, tunggulah aku sebentar lagi, bertahanlah. batin Dio saat ia sudah bersiap untuk menjemput isterinya.
******
Cindy tampak tak senang karena ia belum puas melihat Karin menderita. Ia dengan kasar merebut ikat pinggang penjaga itu.
"Kalau kau tidak mau, biar aku sendiri yang mencambuk wanita ini" ucap Cindy tersenyum sinis. Wajahnya tampak sangat bengis.
"Hentikan!" Terdengar suara dari belakang membuat Cindy yang bersiap mencambuk Karin berhenti lalu menatap kedua orang tua Nathan yang baru saja datang.
"Apa yang kau lakukan! Aku sudah menyuruhmu untuk membiarkannya dulu, kenapa kau melakukan ini!" ucap Ibu Nathan terlihat sangat marah dengan Cindy.
"Aku hanya memberinya sedikit hukuman" kata Cindy enteng saja.
"Ck, Kalian sungguh menggangu" kata Cindy kesal karena ia tak bisa lagi memberi pelajaran pada Karin.
Ibu Nathan hanya melirik Cindy dengan sinis. Ia lalu melihat dua penjaga yang membantu melepaskan ikatan Karin, tapi mereka dibuat kaget saat melihat sesuatu yang berbeda. Yaitu ada darah yang mengalir di sela kaki Karin.
"Nyonya, Nona ini sepertinya mengalami pendarahan" ucap salah satu penjaga sangat kaget.
Semua orang pun kaget melihat Karin yang masih sadar namun hanya merintih kesakitan.
"Sial! Jangan-jangan dia hamil" umpat Cindy kesal.
"Lalu bagaimana ini Nyonya? Dia bisa mati jika terus di biarkan seperti ini" kata penjaga lagi.
"Itu lebih bagus, kita tidak perlu repot membunuhnya, dia akan mati sendiri nantinya" kata Cindy tersenyum puas, ingin segera melihat wanita yang menjadi batu sandungannya ini mati.
"Tidak, tidak, kita harus membawanya ke rumah sakit" kata Ibu Nathan merasa hari nuraninya tersentuh karena melihat Karin.
"Kau ingin cari mati, jika kita membawa wanita ini keluar dari sini semua pasti akan lebih runyam, benar kata Cindy. Biarkan saja dia seperti ini" Ayah Nathan langsung menyela saat mendengar ide istrinya.
Karin terus mendesis kesakitan, dia hanya bisa mengeluarkan air mata dengan matanya yang tertutup, darah terus membahasi kakinya, rasa sakit itu kini menjalar keseluruhan perutnya hingga nyerinya tak tertahankan.
"Sakit....Tolong..." kata Karin dengan bibirnya yang pucat dan bergetar menatap sayu pada ketiga orang yang kini hanya diam menatapnya seolah benar-benar menyaksikan kematiannya secara perlahan-lahan.
Ibu Nathan yang melihat itu tak tega. "Panggilkan dokter untuk dia!" perintahnya tegas.
******
Dio sudah sampai di tempat penyekapan Karin, mobil mereka berada cukup jauh dari lokasi itu. Ia belum di izinkan masuk karena para anggota polisi lain masih mengintai. Mereka tak ingin gegabah karena saat ini Karin berada di cengkeraman mereka.
Sama seperti tadi, Dio menunggu dengan tak tenang, ia sangat khawatir dan entah kenapa perasaannya tak enak.
"Lapor Jenderal, 107 melaporkan sepertinya ada masalah di dalam. Menurut anggota kita yang menyusup, Nona Karin terluka parah hingga harus di panggilkan Dokter" ucap salah satu anggota polisi tegas membuat Dio kaget bukan kepalang.
"Bagaimana keadaan istriku? Apa yang terjadi dengannya, kita harus segera masuk" kata Dio antara emosi dan cemas menjadi satu.
Mendengar istrinya terluka membuat hati Dio nyeri membayangkan apa yang sudah dialami istrinya. Ia menyesal karena sudah terlambat.
"Aku harus masuk, aku tidak bisa menunggu lagi" kata Dio menatap Jendral Martin dengan tajam.
Jendral Martin tampak mengangguk. Ia segera mengambil alat komunikasinya. "Lumpuhkan!" perintahnya langsung.
"Tuan Dio, kita akan menyusup melalui pintu belakang, Persiapkan diri anda" kata Jendral Martin menatap Dio yang langsung mengangguk mantap.
Happy Reading.
Tbc.
Mohon maaf karena ada kekeliruan bab ya... Sebenarnya udah aku hapus tapi nggak tau kenapa malah muncul lagi...
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa...
Like dan komen...