
Sidang gugatan itu terjadi selama hampir seharian karena semua orang saling bantah dan membela dirinya. Karena situasi tidak kondusif, akhirnya sidang itu di tunda dan akan di adakan tertutup. Sepulang dari sidang itu, Dio merasa mulai putus harapan karena para warga itu sudah mempunyai bukti yang kuat.
"Kita kayaknya bakalan kalah Ngga" ucap Dio menyandarkan tubuhnya di sandaran mobil. Hari ini benar-benar melelahkan sekali.
"Kalau kita kalah nanti, Kita masih bisa banding ke Mahkamah Agung bos, Mungkin disana kita masih punya kesempatan" kata Angga sedikit menyemangati bosnya.
"Ya semoga, Kita langsung pulang saja hari ini. Udah tiga hari Karin di rumah orang tuanya sendirian" kata Dio merasa sudah sangat merindukan istrinya itu.
Saat berada jauh dengan Karin seperti ini, Dio baru merasa menyesal karena sudah bersikap kasar pada istrinya waktu itu. Seharusnya ia bisa bersikap dewasa dan tak menuduh Karin hal seperti itu. Lagipula apa yang sebenarnya di pikirkan, Hanya karena sebuah kiriman foto dari orang yang tak di kenal, ia menuduh istrinya sendiri selingkuh. Padahal seharusnya ia tau kalau Karin bukanlah orang yang seperti itu.
Setelah pesawatnya mendarat di Jakarta, Dio terburu-buru pulang, ia ingin segera bertemu dengan istrinya dan memeluk tubuh mungil itu segera.
"Uncle Dio!" Terdengar suara anak kecil memanggil namanya membuat Dio seketika mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam mobil.
Dio langsung menoleh dan ia mengerutkan dahinya saat melihat Bella bersama salah satu anaknya. Dio tak begitu mengenalinya karena wajah Rendra dan Eril begitu mirip, besarnya pun hampir sama.
"Bella? Sedang apa kau disini?" tanyanya saat Bella mendekat kearahnya.
"Aku lagi jemput Axel, mungkin beberapa menit lagi pesawatnya landing, Kamu sendiri darimana?" kata Bella seadanya.
"Aku dari Kalimantan"
"Oh, semoga masalah kamu cepat selesai ya" kata Bella lagi.
"Terimakasih. Aku duluan kalau gitu" kata Dio berpamitan.
"Ya, salam ya buat Karin. Sekalian sampaikan terimakasih, kemarin Rendra sama Eril udah di ajak jalan-jalan" kata Bella membuat Dio mengerutkan dahinya lebih dalam.
"Karin pergi sama anak-anak kamu kemarin?" tanya Dio kaget dan mengingat apa yang di katakan Karin waktu itu, tapi ia tak mempercayainya.
"Iya, Mereka seneng banget loh" kata Bella lagi.
"Aku juga di belikan mainan Uncle, Mainannya bagusss banget...Aku suka...Aunty Karin baik, Bilangin makasih juga ya Uncle" Eril ikut menyahut dengan mengembangkan senyum cerianya.
Dio mengangguk singkat dan mengelus rambut Eril sebentar sebelum ia berpamitan lagi. Ia kini semakin merasa bersalah karena sudah menuduh dan bersikap keterlaluan. Padahal Karin sudah mengatakan yang sebenarnya. Tapi ia lebih percaya pada foto yang sama sekali belum pasti kejelasannya.
"Lebih cepat ngga" ucap Dio tak sabar saat melihat kemacetan yang membuat lalu lintas tersendat.
"Iya, Kamu hubungin Karin dulu aja, dia ada dirumah orang tuanya atau dimana?" kata Angga menatap Dio yang memasang wajah tak sabar itu.
Dio mengangguk dan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Karin, tapi setelah cukup lama panggilan itu tidak di angkat. Kemana istrinya itu sampai tidak mengangkat teleponnya, Apakah Karin tidur? Tapi ini masih jam setengah tujuh sore.
"Gimana? Kita ke rumah kamu atau ke rumah Orang tua Karin?" tanya Angga.
"Karin nggak ngangkat telepon dari aku" kata Dio masih mencoba menghubungi Karin, hingga panggilan entah keberapa kalinya akhirnya panggilan itu di angkat.
"Halo, Karin...Akhirnya kamu angkat juga" kata Dio bernafas lega.
"Halo, Dio? Ini aku Tiara"
"Tiara?" Dio kaget mendengar hal itu, kenapa Tiara yang mengangkat telepon Karin. Angga langsung menatap Dio mendengar nama pacarnya di sebut.
"Bagaimana bisa ponsel Karin ada bersamamu? Karin dimana?" tanya Dio entah kenapa merasa tak enak perasaannya.
Dio membesarkan matanya, jantungnya seperti di remas hingga terasa nyeri saat mendengar istrinya pingsan.
"Aku akan segera kesana, Angga! Kita ke rumah sakit Medika sekarang!"
******
Dio setengah berlari menyusul lorong-lorong panjang rumah sakit untuk menemukan istrinya. Pikirannya campur aduk tak karuan. Antara takut dan cemas menjadi satu.
"Dio! Sini" Tiara sedikit berteriak saat melihat Dio dan Angga yang celingukan di ujung lorong.
"Tiara! Bagaimana keadaan Karin? Kenapa semua ini bisa terjadi?" Dio langsung mencerca Tiara setelah sampai di hadapan wanita itu.
"Aku sama Karin tadi lagi makan di restoran, lalu Karin pamit ke toilet, tapi cukup lama tidak kembali, aku langsung mengeceknya dan ternyata Karin pingsan disana" kata Tiara menjelaskan dengan suara paniknya. Ia juga kaget saat melihat Karin tiba-tiba pingsan, padahal mereka tadi masih baik-baik saja.
"Apakah dia sakit?" kata Dio lirih. Lagi-lagi penyesalan itu menyergap dirinya, ia ingat kalau beberapa bulan terakhir ia jarang memperhatikan istrinya itu. Ia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.
"Belum tau, dia masih di periksa" kata Tiara lagi. Ia menatap Angga yang juga menatapnya. Wajah pria itu juga sama lelahnya seperti Dio.
"Baiklah, Kalian bisa pulang dulu kalau ingin. Aku yang akan menjaga Karin, ini juga sudah malam" kata Dio tak ingin merepotkan Tiara dan Angga lagi, ia tau kalau mereka juga butuh istirahat.
"Tidak apa-apa Dio, kita bakalan nunggu Karin siuman dulu" kata Tiara.
"Tidak perlu, Orang tuamu pasti sudah menunggumu di rumah, Nanti aku pasti akan mengabari kalian" sahut Dio lagi.
Tiara dan Angga tampak saling pandang sejenak, kalau Dio sudah berkata seperti itu mereka tak bisa membatah.
"Baiklah, kita akan pulang dulu, Kabari kalau ada apa-apa" kata Tiara.
"Ya, terimakasih sudah mengantar Karin kesini" kata Dio sedikit senyum.
Tiara hanya mengangguk dan tersenyum tipis, ia kemudian berpamitan untuk pulang bersama Angga. Tak selang berapa lama, pintu ruang perawatan Karin terbuka membuat Dio segera mendatanginya.
"Keluarga pasien?" kata Dokter.
"Ya, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" tanya Dio langsung.
"Keadaannya stabil, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Nona Karin juga sudah siuman, Setelah ini Nona Karin akan melakukan pemeriksaan darah agar kita tau kenapa penyebab Nona Karin pingsan" kata Dokter membuat Dio mengerutkan dahinya.
"Apakah istri saya baik-baik saja? Kenapa harus di tes darah?" tanya Dio tak mengerti. Apakah istrinya terkena penyakit atau bagaimana.
"Beliau baik-baik saja Tuan, Saya hanya ingin mendapatkan hasil yang akurat, maka dari itu kita perlu melakukan tes darah pada Nona Karin" kata Dokter itu tersenyum tipisnya.
Setelah berbasa-basi sejenak, Dio kemudian masuk kedalam ruang perawatan Karin.
"Sayang...Bagaimana keadaanmu?" kata Dio melangkahkan kakinya mendekat ke arah Karin, ia segera meraih tangan Karin dan menciumnya. Ia tak tega saat melihat istrinya berbaring lemah dengan wajah pucatnya itu.
Happy Reading.
Tbc.