MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Waktu Penentu.



"Aku tidak main-main Dio, sekali saja kau mendekat, aku pasti akan membunuh wanita ini" teriak Cindy terus menekan leher Karin.


Dio mengertakkan giginya ia benci sekali situasi ini, ia lalu melirik para anggota polisi lain yang kini ikut mengepung Cindy.


"Jangan coba-coba mendekat! Letakkan senjata kalian!" teriak Cindy marah dan panik menjadi satu saat melihat banyaknya polisi yang mengepung mereka.


"Menyerah lah Nona Cindy, Tempat ini sudah di kepung. Jika anda mau bekerja sama dengan kami, mungkin hukuman anda akan di ringankan" kata Jendral Martin ikut membujuk.


"Tidak! Tidak! Kalau kalian ingin membunuhku silahkan, Tapi aku pasti akan membawa wanita ini mati bersamaku" kata Cindy menyeringai.


"Cindy! Kau sudah kehilangan akalmu!" Teriak Dio sangat keras.


"Ya, aku sudah kehilangan semuanya Dio! Tau kah kau saat kau menolakku dulu, Kau mengatakan tidak bisa mencintaiku dan kau lebih memilih wanita ini. Pernahkah kau berpikir bagaimana sakitnya aku waktu itu? Kau tidak pernah tau Dio! Sekarang aku juga harus kehilangan Nathan! Dan itu semua gara-gara kalian!" teriak Cindy sangat histeris dan terus menekan leher Karin dengan keras.


"Itu semua akibat dari kesalahan kalian sendiri! Sekarang hentikan kegilaan ini atau aku pastikan kau akan menyesal!" kata Dio sudah tak sabar melihat Karin yang sangat lemah tapi harus dipaksa berdiri terus oleh Cindy.


"Memangnya kau mau melakukan apa Ha? Mau membunuhku? Lakukanlah Dio, Lakukanlah!" kata Cindy menantang Dio. Ia tau kalau pria di depannya ini hanya menggertak saja, karena selama ia mengenal Dio, pria itu bukan tipe orang yang suka bermain kasar dengan wanita.


Dorr!!!!!


Suara tem bakan melesat cepat dan memekakkan telinga. Nafas Karin seolah terhenti saat tiba-tiba darah langsung mucrat mengenai wajahnya. Dio melesatkan tem bakan tepat di kepala Cindy. Ia sudah tak bisa lagi berkompromi, lebih baik wanita ini mati daripada akan terus menjadi masalah baginya nanti. pikir Dio.


Mata Cindy terbelalak dan menatap Dio dengan penuh amarah namun juga tak berdaya. Sesaat sebelum kematiannya tiba, ia masih menancapkan suntikan yang sejak tadi di bawanya ke pundak Karin sebelum tubuhnya tumbang melewati balkon dan terjun kebawah tanpa bisa di cegah.


"Siapkan mobil untuk Nona Karin!" perintah Jendral Martin langsung tau apa yang di butuhkan.


Dio langsung meraih tubuh Karin saat Cindy sudah melepaskannya. Dio tak bisa menutupi rasa kagetnya saat melihat punggung Karin yang terluka dan kaki wanita itu yang masih menyisakan darah yang mengering.


"Karin! Karin! Aku datang Karin, bangunlah" kata Dio sudah ingin menangis saat melihat Karin seperti ini. Entah apa yang di lakukan para iblis itu hingga istrinya mendapatkan luka separah ini.


Karin membuka matanya diantara rasa sakit yang mendera. "Terimakasih sudah datang" ucapnya lirih mencoba tersenyum tapi gagal karena rasa sakit itu kian menjadi.


"Tuan Dio Mobil sudah siap, kita harus segera membawa Nona Karin ke rumah sakit karena Cindy telah menyuntikan racun berbahaya pada Karin" kata Jendral Martin baru saja mendapatkan laporan dari Dokter yang tadi menangani Karin, wanita itu baru saja siuman karena tadi Cindy juga melukainya.


Mendengar itu Dio langsung menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke mobil. Ia bahkan setengah berlari karena ingin istrinya mendapatkan pertolongan. Ketakutan sangat jelas di mata Dio, Ia pastikan akan membalas perbuatan para penjahat itu.


*****


Entah sudah berapa lama Dio dan kedua orang tua Karin menunggu di depan ruang perawatan Karin. Detik demi detik berlalu namun belum ada satupun Dokter yang keluar dari sana. Dio sejak tadi terus menundukkan wajahnya, ia merasa sangat bersalah karena sudah terlambat menyelamatkan istrinya.


"Dokter, Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Dio langsung tak membuang waktunya.


"Keadaan pasien saat ini masih dalam masih kritis. Beliau mengalami pendarahan hebat dan kami tidak bisa menyelamatkan janin yang di kandungnya" kata Dokter itu sangat menyesal.


Dio kaget mendengar ucapan Dokter itu, Janin? Apa itu artinya Karin hamil? Tapi sekarang bagaimana bisa mereka kehilangan anak mereka bahkan sebelum mereka tau kalau dia ada.


Mama Elmira langsung menangis di pelukan suaminya, ia sangat terpukul mendengar keadaan putrinya.


"Selain itu Tuan...." Dokter kembali melanjutkan ucapannya membuat ketiga orang itu melihatnya kembali.


"Ada apa Dokter? Istri saya baik-baik saja kan?" tanya Dio entah kenapa semakin merasa tak enak saat melihat wajah ragu Dokter itu.


"Tubuh Nona Karin sudah terpapar oleh racun yang sepertinya sengaja di suntikkan ke dalam tubuhnya. Racun itu sangat berbahaya dan penyebarannya sangat cepat. Kami sudah mencoba menghentikannya, tapi maafkan kami Tuan" kata Dokter itu menundukkan kepala tanda penyesalannya.


"Racun apa Dokter? Apa efeknya pada anak saya?" tanya Raimond mewakili Dio yang tampak sangat syok mendengar kabar ini.


"Racun ini sangat langka, Dan efek racun itu bisa bermacam-macam. Kita akan mengetahui efek racun itu saat Nona Karin siuman nanti. Dalam 24 jam ini adalah masa kritis untuk Nona Karin, dan jika beliau bisa melewatinya maka besar kemungkinan beliau akan sembuh" jelas Dokter itu lagi.


Dio mengigit bibirnya, menatap dokter itu dengan wajah suramnya. Perlahan matanya tampak memerah namun juga basah. Ia menggenggam tangannya erat seolah melampiaskan seluruh rasa sakit batinnya pada fisiknya. 24 jam ini adalah waktu penentu untuk istrinya.


******


Jam terus bergulir, semakin lama semakin naik, matahari pun sudah berganti dengan sinar rembulan malam. Membiarkan hari berselimutkan gelap, segelap hati Dio sekarang.


Dio berdiri di depan kaca pembatas antara dirinya dan Karin saat ini, Dio hanya bisa menatap nanar, wanitanya sedang berjuang sendiri di antara garis kehidupan dan kematian. Malam sudah sangat larut, tapi Dio tak beranjak dari sana. Kedua orang tuanya dan Karin sudah beristirahat karena hari ini sangat melelahkan sekali.


"Selamat malam Tuan Dio" Dio sedikit kaget saat melihat seorang Dokter wanita yang tadi menangani Karin.


"Ada apa?" ucap Dio serak dan mengusap air matanya yang entah sejak kapan menggenangi matanya.


"Sebenarnya 24 jam ini, Nona Karin tidak bisa di jenguk oleh siapapun. Tapi selama 8 jam ini keadaan Nona Karin stabil dan saya rasa Nona Karin ingin bertemu dengan anda. Saya yakin jika anda ada disana, Nona Karin akan lebih bersemangat. Dan siapa tau Nona Karin nanti akan siuman" kata Dokter itu yang daritadi melihat cinta yang mendalam terbesit hanya dari tatapan mata Dio.


Happy Reading.


Tbc.