
Karin beberapa kali membernarkan penampilannya, padahal sebenarnya sudah sangat rapi dan cantik. Tapi dia tetap merasa kurang percaya diri. Perasaannya pun campur aduk tak karuan.
"Mikirin apa sih istriku ini, sampai di panggil nggak denger?" suara Dio terdengar mendekat disusul kehangatan yang menempel di punggungnya.
"Oh tidak, Sudah siap?" kata Karin tersenyum tipis menutupi kemelut hatinya.
"Kalau kamu ragu nggak usah kesana nggak apa-apa. Kita bisa lain kali kesananya" kata Dio sepertinya tau apa yang Karin rasakan.
Karin terdiam menatap wajah Dio di kaca. Jujur saja hatinya tak tenang karena Dio akan mengajaknya untuk bertemu Axel. Bukan, bukan dia masih menyukai pria itu. Tapi ia lebih khawatir jika suaminya bertemu Bella, bagaimanapun juga wanita itu pernah menjadi pemilik hati suaminya.
"Eh, Apa ini?" kata Karin sedikit kaget saat Dio tiba-tiba memasukan sesuatu ke jari manisnya.
"Cincin?" mata Karin membesar saat melihat keindahan cincin itu. Tak terlalu mewah, tapi sangat sederhana dengan batu berlian berwarna soft pink dan sangat pas di jarinya.
"Maaf ya, kemarin aku sampek lupa belum ngasih ini. Cincin ini dulu aku pesan waktu kuliah di Jerman. The vivid pink batu berlian ini hanya ada beberapa di dunia. Warna merah mudanya ini termasuk jenis berlian langka dan hanya bisa di temukan di pertambangan Koffefontein Afrika Selatan" kata Dio membuat Karin semakin memandang takjub cincin itu.
"Suka nggak? Aku nggak nyangka bisa pas banget di jari manis kamu" kata Dio lagi.
"Suka, Ini sangat bagus Dio. Kau bilang memesan cincin ini waktu kuliah dulu? Bukankah itu sangat lama?" kata Karin mengerutkan dahinya.
Dio tersenyum tipis lalu menarik lembut lengan Karin agar menatapnya. "Sebenarnya, aku sengaja memesan ini untukmu. Aku tidak tau apa yang saat itu aku pikirkan, yang jelas sejak malam itu, hanya kau yang mengisi pikiran dan hatiku" kata Dio menatap sendu istrinya.
"Bagaimana kalau waktu itu aku sudah menikah atau dengan kondisi tidak bisa bersamamu?" kata Karin.
"Entahlah, Aku selalu berpikir walaupun kau sudah menikah atau kau tidak ingin menikah denganku, Aku akan tetap menunggu mu sampai aku bisa mendapatkan mu. Aku selalu menunggu kabarmu setiap saat, dan kalaupun kau sudah menikah aku akan menunggumu bercerai atau menjadi janda" kata Dio tertawa kecil tapi dia memang serius dengan perkataannya.
Karin tersenyum tipis merasa kata-kata Dio menghangatkan hatinya. Sekarang Karin yakin, kalau pria ini benar-benar mencintainya.
"Kalau aku tidak bercerai dan tidak jadi janda, Apa yang akan kau lakukan?" kata Karin ingin menggoda suaminya.
"Ya tidak apa-apa, Kan aku sudah bilang akan selalu menunggumu"
"Gombal banget"
"Aku serius Karin, Percayalah hanya kau wanita yang aku inginkan dari dulu, Seperti kataku kemarin, kau adalah My One and Only" kata Dio kini lebih serius dari sebelumnya.
"Iya, Aku percaya kok. Serius banget sih" kata Karin semakin merekah senyumnya. Ia menekan kening Dio yang berkerut dengan gemas.
Dio ikut merekahkan senyumnya lalu mengambil tangan Karin dan menciumnya.
"Ya sudah, Aku akan ganti baju dulu. Kita kerumah Axel kapan-kapan saja" kata Dio mengelus lembut pipi Karin sebelum beranjak, Tapi Karin menahan tangannya.
"Sekarang tidak apa-apa" kata Karin menatap Dio.
"Kau yakin?" kata Dio tak ingin Karin merasa tak nyaman nantinya. Ia juga sebenarnya sudah tak mempunyai perasaan apapun pada Bella, tapi ia juga tak ingin membuat Karin merasa tak enak hatinya.
Karin menghela nafas sejenak sebelum mengangguk. Lagipula untuk apa di harus cemas seperti ini, Dio itu kan sudah mejadi suaminya dan sudah sah menjadi miliknya. Jadi dia yang paling berhak atas suaminya kan.
"Percayalah padaku, Kau satu-satunya wanita yang aku cintai saat ini dan seterusnya, Karin"
******
Mereka tiba di rumah Bella yang terlihat begitu mewah dan megah. Dio turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk istrinya, ia mengulurkan tangannya yang langsung di sambut anggun oleh Karin.
"Tenang saja, jangan terlalu khawatir" bisik Dio melingkarkan tangannya di pinggang Karin.
"Iya" sahut Karin tersenyum tipis.
Mereka berdua langsung mengetuk pintu rumah yang terlihat sangat besar itu. Mendengar sahutan dari dalam membuat Karin tanpa sadar meremas pelan tangan Dio membuat pria itu melihat ke arahnya.
Ceklek
Bella membuka pintu rumahnya, wajahnya kaget saat melihat siapa yang datang.
"Karin!" ucap Bella tak menyembunyikan nada senang dalam suaranya.
"Hai, Bel" kata Karin tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya tapi Bella langsung menubruk tubuhnya dengan erat.
"Nyebelin banget sih, Aku marah tau sama kamu" kata Bella tanpa sadar matanya sudah berair karena perasaan bahagianya bisa bertemu sahabatnya kembali setelah sekian lama.
"Maaf" kata Karin juga menangis karena pertemuan ini. Ia merasa sangat bersalah karena sudah menjauhi sahabatnya ini.
"Di maafkan" kata Bella tersenyum kecil dan mengusap air matanya begitu juga Karin.
Dio hanya diam melihat kedua sahabat itu berpelukan, tapi ia tak melepaskan genggaman tangannya barang sedikit pun pada Karin.
"Sayang, Siapa yang dateng?" Axel terlihat menyusul istrinya karena cukup lama belum kembali. Raut wajahnya tampak berkerut saat melihat Dio dan Karin.
"Karin By...Eh, masuk dulu. Nggak enak banget ngobrol disini. Nggak usah sungkan-sungkan" kata Bella mengerlingkan matanya lalu mengajak keduanya masuk ke dalam rumah.
Kini mereka berempat sudah duduk di kursi ruang tengah, Axel masih diam dengan wajah berkerutnya, matanya sejak tadi terus menatap tajam ada sosok Dio yang mengulum bibirnya. Suasananya sangat canggung sekali.
"Jadi, Kapan mau nikah? Di tunggu loh undangannya" kata Bella memulai percakapan untuk memutus situasi canggung itu.
"Kita sudah menikah" sahut Dio dengan suara beratnya membuat Karin menatapnya.
"Ha? Seriusan? Jahat banget sih Rin nggak ngundang kita" kata Bella kaget mendengarnya.
"Baru menikah secara hukum dan agama Bel, belum resepsi" kata Karin seadanya.
"Oh ..." Bella mengangguk-angguk.
Suasana kembali canggung sebelum terdengar suara berisik dari arah ruang tamu. Terlihat Rendra dan Eril berlarian menuju ruang tengah membuat semua orang menatap mereka.
"Aku menang!" Rendra tersenyum puas saat berhasil sampai di ruang tengah lebih dulu.
"Ini tidak adil, Kakak curang, Aku tadi belum lari tapi kakak sudah lari duluan" seru Eril yang selalu tak mau kalah.
"Hei, Hei, Kenapa malah bertengkar, Rendra dan Eril sini dulu, Ayo, kenalan sama Uncle dan Aunty" kata Bella beranjak berdiri menyambut kedua anaknya yang baru pulang sekolah.
Happy Reading.
Tbc.