
Bella tak akan pernah melupakan apa yang dialaminya malam itu. Ia akan selalu mengingat setiap kesakitan yang dirasakannya. Ia juga berharap tak akan bertemu lagi dengan pria itu. Tapi ketika terbangun, Orang yang pertama kali dia lihat adalah dia.
"Hei..Sudah Bangun?" suara Pria itu terdengar begitu lembut tapi Bella seolah tak terpengaruh sama sekali.
"Pergi....Gue nggak mau lihat lo!" teriaknya benar-benar sudah muak dengan pria itu.
"Bella, aku minta maaf" kata Axel menatap sendu pada Bella yang menatap penuh amarah padanya.
"Gue bilang pergi! Gue nggak mau lihat lo!" teriak Bella lebih keras dari sebelumnya.
Bayang-bayang kejadian semalam masih teringat jelas diingatan nya. Bagaimana dia berteriak dan memohon namun tak menghentikan pria itu sama sekali. Bella ingin sekali menangis jika mengingatnya.
"Bella, aku mohon jangan seperti ini" kata Axel begitu sakit dengan penolakan Bella. Ia mendekati Bella yang langsung beringsut memundurkan tubuhnya.
"Jangan mendekat! Jangan mendekat! Gue benci sama lo.." Teriak Bella semakin histeris.
"Sttt.. Bella sayang. Tenang dulu nak"
Melihat menantunya histeris Tamara mengambil inisiatif untuk memeluknya. Ia mencoba menenangkan Bella. Entah apa yang dilakukan putranya hingga Bella sampai seperti ini. Ia memberi kode pada Axel supaya pergi. Meskipun enggan, Axel mau menuruti perintah ibunya. Lagipula Bella tak ingin melihat dirinya.
"Udah Sayang, Axel udah pergi. Kamu tenang dulu ya? belum sarapan kan? Mau makan apa? Biar ibu belikan" kata Tamara menahan rasa ingin taunya. Ia ingin mengalihkan perhatian Bella. Ia menatap mata Bella yang sembab karena sejak semalam ia menangis.
****
Setelah penolakan Bella di rumah sakit waktu lalu. Kini Bella tak ingin lagi tinggal di Apartemen. Karena Orang tuanya belum kembali, Akhirnya Bella di ajak Tamara tinggal dirumahnya. Bella sebenarnya enggan sekali, tapi karena Tamara terus memaksa, akhirnya ia menyetujuinya.
Sudah tiga hari ini Bella tinggal dikediaman Indra Jaya. Bella cukup senang karena Ibu mertuanya memperlakukannya sangat baik, layaknya anak sendiri. Bella menghabiskan waktunya untuk menemani Ibu mertuanya berkebun. Selain itu ia tak melakukan apapun karena selalu dilarang dengan alasan kecapekan. Padahal Bella merasa tubuhnya baik-baik saja.
Selama itu pula, tak pernah sekalipun Bella bertemu dengan Axel. Pria itu bagai hilang di telan bumi. Baguslah, pikir Bella. Ia memang tak ingin melihat wajahnya. Namun, ada sedikit rasa yang menyelinap dihatinya yang seolah mencarinya. Kadang Bella bingung sendiri dengan perasaanya. Ia benci tapi juga rindu.
"Bella sayang" Tamara terlihat datang ke kamar Bella membawa segelas susu.
"Ya?" Bella sedikit kaget melihat ibu Tamara.
"Kamu belum minum susu kan tadi?" ucap Tamara tersenyum sedikit.
Ia kini berubah menjadi ibu yang over protektif pada Bella. Ia selalu memastikan Bella minum vitamin dan susu di waktu yang tepat. Ia juga selalu memberikan makanan yang bergizi agar sehat untuk kehamilan menantunya.
"Astaga! Maaf, Bella merepotkan ibu" kata Bella tak enak hati.
"Tidak apa-apa sayang, Ibu nggak merasa di repotkan kok" ucap Tamara begitu luwes, ia ingin Bella tak canggung jika berbicara padanya.
"Gimana? Udah enakan?" tanya Tamara setelah Bella menghabiskan susunya.
"Bella baik-baik saja kok Bu" kata Bella tersenyum tipis. "Mungkin besok, Bella sudah masuk sekolah" sambungnya lagi.
"Oh ya? Belum ujian ya?" Tamara baru ingat kalau menantunya masih sekolah.
"Belum, mungkin dua minggu lagi" jawab Bella seadanya.
Tamara terdiam menatap menantunya. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi takut jika Bella tak ingin mendengarnya.
"Ehm, Bella" Tamara mendudukkan tubuhnya di samping Bella.
"Ya bu?" Bella menatap ibu mertuanya.
"Bella, Sebelumnya ibu tidak ingin tau apa masalahmu dengan Axel. Tapi bolehkah ibu bertanya sesuatu?" ucap Tamara pelan.
"Apa itu?"
"Bagaimana perasaanmu pada Axel?" tanya Tamara.
"Tidak tau" jawab Bella jujur saja.
"Semuanya begitu mendadak. Kami tak pernah mengenal sebelumnya. Jadi jika Ibu bertanya bagaimana perasaanku? Aku tidak tau Bu. Karena jujur saja aku merasa takut" sambung Bella entah mengapa ingin sekali bercerita.
"Takut?" ujar Tamara mengerutkan dahinya.
"Ya, aku takut Bu. Karena bagaimanapun juga, Aku dan Axel akan berpisah setelah anak ini lahir" kata Bella merasa sakit sekali mengatakannya.
"Berpisah?" Tamara cukup kaget dengan apa yang di dengar.
"Ya, memang itu kesepakatannya. Axel akan membawa anak ini pergi.." kata Bella menundukkan wajahnya . Menatap perutnya yang sudah terlihat.
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Maksud ibu?" tanya Bella bingung.
"Apakah kau akan diam saja anakmu dibawa pergi Axel? Setelah kau bersusah payah melahirkannya, dan kau akan memberikannya pada orang lain? Apa kau ingin anakmu memanggil Mama pada orang lain?" tutur Tamara membuat Bella diam.
"Mungkin itu lebih baik. Karena Axel juga tidak mencintaiku" kata Bella sebenarnya sangat tak rela. Namun untuk tetap tinggal pun untuk apa jika Axel tak mencintainya?
"Darimana kamu tau Axel tidak mencintaimu?"
"Dia sendiri yang mengatakan" kata Bella ingat jelas pagi dimana Axel menegaskan perasaanya padahal semalam mereka baru saja bercinta dengan begitu panas. Tapi Axel dengan tega meremukkan harapan yang telah ia susun.
"Dan kau percaya?" Tamara menggelengkan kepalanya menilai Bella ini begitu polos. Dia saja tau kalau putranya itu sudah mencintai Bella, hanya saja Axel masih mencampur adukkan perasaanya.
"Kamu tau Bella, antara Cinta dan Benci itu bedanya sangat tipis. Mungkin hanya sebatas benang. Karena cinta dan benci akan menyisakan kenangan sendiri dalam ingatan kita. Ibu sangat mengenal Axel melebihi siapapun" kata Tamara lagi.
"Dari kecil, Axel selalu menjadi anak yang baik. Dia selalu mengikuti apa yang Ayahnya inginkan. Mungkin hal itu yang membuatnya tertekan hingga mempengaruhi sikapnya saat dewasa. Axel tumbuh menjadi anak yang kaku dan dingin. Padahal waktu kecil, anaknya paling ceria waktu sekolah" Kata Tamara berubah suram mengingat apa yang terjadi pada putranya. Apalagi belakangan ini ia tau kalau Axel sangat banyak sekali masalah.
"Bella, mungkin itu juga yang membuat Axel tak bisa mengekspresikan perasaanya. Apalagi lelaki sering menunjukkan cintanya lewat perbuatan. Mungkin kau belum menyadarinya. Tapi ibu yakin, kalau Axel sangat mencintaimu" kata Tamara menggenggam tangan Bella seolah mengatakan untuk percaya padanya.
"Kenapa ibu begitu yakin?" tanya Bella tak percaya Axel mencintainya.
"Tidak ada alasan untuk ibu tidak yakin" sahut Tamara tersenyum sedikit.
"Kalau dia mencintaiku, dia tak mungkin meninggalkanku begitu saja disini bersama ibu. Dia juga tidak minta maaf padaku" kata Bella kesal jika ingat tak menunjukkan itikad baik untuk membujuknya.
"Jadi kamu sudah merindukannya?" goda Tamara melihat wajah kesal Bella.
"Eh, bukan begitu maksudku. Kenapa dia tidak ada niatan untuk berbaikan. itu saja" elak Bella dengan wajah memerah.
Tamara hanya tersenyum tipis melihat menantunya yang salah tingkah. Sesaat kemudian ia pamit karena malam sudah cukup larut.
Bella masih terjaga setelah Ibu Tamara meninggalkannya. Ia masih memikirkan perkataan ibu Tamara tentang Axel yang mencintainya. Disisi lain ia ingin sekali percaya, namun mengingat apa yang dilakukannya membuat Bella kesal juga. Tapi ia juga ingin sekali bertemu.
Well, definisi nyata dari Benci tapi Rindu?
HAPPY READING
TBC.
Bonus Foto Bella dan Axel