MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Kejutan Ulang Tahun



"Aku disini"


Terdengar suara Dio berada di belakang Bella. Ia hampir saja kembali berteriak saat tiba-tiba lilin yang entah kapan adanya di sana menyala. Di ikuti Dio yang berjalan dari sampingnya membawa kue tart mini berwarna pink.


"Happy Birthday to you.. Happy Birthday to you..Happy Birthday...Happy Birthday...Happy Birthday to you.."


Bella menutup mulutnya saat Dio menyanyikan lagu untuknya. Ia tak menyangka Dio menyiapkan kejutan seperti ini. Bella menatap Dio yang kini tersenyum manis padanya.


"Kau tak ingin meniup lilinnya?" kata Dio lembut sekali.


Bella mengangguk mengiyakan meniup lilin ulang tahunnya setelah berdoa dalam hati. Dio tersenyum senang.


"Masih ada lagi yang ingin aku tunjukan padamu" kata Dio lagi.


"Apalagi Dio?" kata Bella tak tau harus bersikap bagaimana.


Jujur saja dirinya merasa senang mendapatkan perlakuan manis dari Dio. Tapi kenapa dirinya tidak bahagia?


"Tutup matamu dulu"


Bella menurut saja saat Dio menutup matanya dengan kain. Lalu ia diarahkan ke bagian samping restoran yang ada taman kecilnya.


"Dio, Ini kita dimana?" tanya Bella merasa sedikit takut.


"Sebentar lagi kau akan tau" kata Dio misterius.


Saat sudah sampai, penutup mata Bella di buka dan seketika...


"Surprise........!!!" Teriakan seseorang yang sangat ia kenal terdengar.


Bella kembali terkejut hingga mulutnya menganga melihat Tiara dan Karin, oh bukan. Jug a teman satu kelasnya semua ada disini. Yang membuat Bella lebih kaget adalah, Taman kecil itu sudah di hias dengan begitu cantik.


"Kalian!" ucapnya antara kaget bercampur kesal.


"Hbd ya Bel, Makin tua lo" kata Tiara terkekeh senang.


"Dasar! Lo berdua yang ngerencanain ini!" cibirnya merasa cukup kesal juga. Pantaslah, sejak tadi kedua sahabatnya ini hanya diam saja seolah tak terjadi apapun. Ternyata mereka sudah menyiapkan kejutan ini.


"Ya awalnya, Tapi kalau bukan karena bantuan Dio, tau deh jadi apa nggak. By the Way. Hbd ya Bel, doa terbaik buat lo" kata Karin memberikan pelukan hangat untuk sahabatnya.


"Thanks ya.. Meskipun lo berdua udah buat gue kesel karena nggak bilang-bilang mau buat kejutan kek gini" kata Bella lagi.


"Kalau ngomong dulu ya namanya bukan Surprise dong namanya" cibir Tiara.


"Kayaknya ada yang mau balikan nih" sahut Karin melirik Dio dengan matanya.


"Apaan sih, Lo berdua sekongkol sama dia" sergah Bella.


"Sekongkol untuk kebaikan lo nggak apa-apa kali" kata Karin lagi.


Bella hanya diam saja tak menanggapi. Andai saja Dio dulu tak mengkhianatinya malam itu. Pastilah dia sekarang menjadi wanita yang paling bahagia. Tapi sayang sekali, terkadang realita tak seindah ekspetasi.


"Bella! Ayo potong kue dulu" teriak Tiara yang kini sudah di atas panggung kecil yang sudah di sediakan.


Bella mengangguk mengikuti saja, Setelah acara potong kue, dilanjutkan dengan acara game korek api bergilir. Jadi mereka akan menyanyikan lagu dengan korek yang terus dijalankan. Saat lagu selesai maka siapa yang terakhir memegang korek api akan dikenai hukuman atau menjawab pertanyaan.


Beberapa putaran akhirnya korek api itu jatuh di tangan Bella membuat dia sedikit kaget.


"Bella! Ayo milih apa lo" teriak Karin yang tepat berada di sebelahnya.


"Jawab jujur aja gue" kata Bella tak mau kena hukuman dengan meminum satu gelas wine.


"Aku yang akan ngasih pertanyaan" sahut Dio langsung. Bella mengangkat bahunya mempersilahkan saja.


"Siapa orang yang lo cintai saat ini?" Dio menatap lurus mata Bella yang sedikit kaget dengan pertanyaannya.


"Aku hanya bertanya, Dan lo tinggal jawab" kata Dio lagi.


"Mending gue minum aja daripada jawab pertanyaan lo yang nggak penting" kata Bella dengan ketusnya. Ia langsung menyambar satu gelas wine yang ada di depannya.


Seketika saja tenggorokannya langsung panas, dan ia lupa sekarang sedang hamil. Bagaimana dengan anaknya. Apakah tidak apa-apa. Tiba-tiba Bella merasa cemas.


Dan apa yang di cemaskan nya pun terjadi setelah beberapa saat kemudian perutnya mual dan ingin muntah. Bella langsung ke toilet dan memuntahkan segala isi perutnya.


l"Lo kenapa muntah-muntah?" Terdengar suara Siska teman satu kelasnya yang ternyata juga berada di toilet.


"Nggak apa-apa" kata Bella singkat.


"Ck, Bella..Bella.. Lo pikir gue nggak tau, Udah berapa bulan?" kata Siska tersenyum sinis.


"Maksud lo apa?" seru Bella menutupi rasa kagetnya.


"Gue nggak nyangka, cewek se pinter lo bisa ngelakuin hal kayak gitu juga" kata Siska menatap Bella dari atas sampai bawah.


"Gue nggak ngerti apa yang lo bahas" Kata Bella hendak berlalu namun ucapan Siska selanjutnya menghentikannya.


"Nggak usah pura-pura polos, Udah kelihatan lagi, Saran aja, mending lo tutupin pakek jaket atau apa. Itu pun kalau nggak ketahuan" kata Siska sebelum pergi meninggalkan Bella yang terdiam.


Bella merasa takut mendengar ucapan Siska. Bagaimana Siska bisa tau kalau dia sedang hamil? Apa memang sudah terlalu kentara?


****


Axel menggoyangkan gelas brandi yang ada ditangannya. Menatap pantulan wajahnya yang terlihat begitu menyedihkan. Setelah pulang dari sekolah Bella tadi, dia langsung pulang dan sudah menghabiskan entah berapa botol minuman. Namun tak membuatnya mabuk sama sekali.


Axel ingin mencoba melupakan sesuatu yang membuat hatinya nyeri. Tapi kenapa susah sekali? Apalagi ia baru saja mendapat kabar yang tak menyenangkan dari anak buahnya. Ia memang memerintah orang untuk mengikuti Bella. Selain untuk menjaga wanita itu, ia juga cukup penasaran kemana perginya wanita itu hingga selarut ini belum pulang. Ternyata wanita itu sedang merayakan ulang tahunnya.


Sampai pukul sepuluh malam Axel menunggu kedatangan Bella dengan terus menghabiskan minuman yang tersisa.


****


Bella pulang ke rumah sudah cukup larut karena keseruan dengan teman-temannya. Dia melirik ruang tengah yang masih menyala lampunya. Menandakan kalau Axel belum tidur. Bella sedikit was was jika pria itu marah karena ia pulang terlalu larut. Tapi apa perdulinya? Ia juga tak pernah mempermasalahkan jika Axel pulang larut atau tak pulang sekalipun.


"Darimana saja kau!" suara Axel terdengar begitu dingin membuat Bella sedikit bergidik.


Bella melirik Axel yang duduk santai di sofa tunggal, lalu pandangannya beralih pada botol botol alkohol yang berserakan. Bella berdecih, selalu saja mabuk, pikirnya.


"Bukan urusanmu!" sahut Bella dengan ketusnya. Ia memilih mengabaikan Axel yang kini sedang berjalan kearahnya.


"Jelas itu urusanku, karena kau istriku" kata Axel tak suka dengan jawaban Bella.


"Istrimu? Apakah itu tidak terdengar lucu? Kau mengatakannya seolah kita ini sebuah keluarga harmonis" kata Bella terkekeh kecil.


"Meskipun hubungan kita tidak seperti orang lainnya, Bukan berarti kau bisa dengan seenaknya berkencan dengan kekasihmu di luar sana" kata Axel masih kesal jika mengingat hal menyakitkan sore tadi.


Bella sedikit kaget mendengar ucapan Axel, bagaimana Axel bisa tau, pikirnya.


"Kenapa tidak bisa? Itu urusan pribadiku, kau tak berhak ikut campur" kata Bella tegas. Ia sudah malas meladeni Axel.


"Aku berhak!" seru Axel semakin tak suka Bella terus membantahnya. Ia mencekal tangan Bella yang hendak pergi meninggalkannya.


"Aku berhak atas dirimu selama pernikahan kita masih sah. Seberapa pun kau menolak, aku tetaplah suamimu" kata Axel mencengkram lengan Bella yang kecil.


"Kau memang suamiku, tapi bukan berarti kau bisa bersikap seenaknya padaku. Aku harap anak ini segera lahir agar aku bisa cepat pergi dari sini! Kau sungguh membuatku muak!" bentak Bella meringis kesakitan karena cengkraman tangan Axel yang begitu erat.


Happy Reading


TBC