MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Misi Penyelamatan 2.



Karin seperti kehilangan setengah nyawanya. Tatapan matanya tampak kosong dan menerawang jauh. Padahal ia sedang bersama Nathan yang mengajaknya melakukan fitting baju pengantin. Tentu saja karena paksaan pria itu membuat ia mau di ajak pergi, Karin benar-benar sangat takut jika Nathan akan mencelakai Dio lagi jika ia menolak.


Nathan mengajak Karin ke sebuah butik terkenal, Ia langsung di berikan pilihan berbagai model baju.


"Pilihlah, mana yang kau suka?" kata Nathan dengan suaranya yang lembut pada Karin.


"Tidak! Kau saja yang pilih" kata Karin ketus. Ia tak ada niat untuk memilih gaun pengantin itu.


Nathan mengerutkan dahinya, ia tak berbicara apapun dan segera memilih model pakaian lalu menyuruh Karin mencobanya.


"Aku tidak mau" kata Karin lagi.


"Terus saja melawanku, kau tau...."


Karin menahan emosinya saat lagi-lagi Nathan menggunakan ancaman itu. Nathan menyeringai saat melihat Karin yang begitu patuh. Ia kemudian duduk di sofa sembari menunggu Karin.


Pintu kamar pas terbuka membuat Nathan menoleh. Seketika matanya membesar saat melihat tampilan Karin yang begitu cantik menggunakan gaun pengantin. Gaun itu sangat pas di tubuh Karin, memiliki belahan dada yang rendah membuat Nathan menelan ludahnya. Nathan kemudian bangkit dan mendatangi Karin.


"Sudah kan? Apalagi yang kau inginkan?" kata Karin sudah ingin pergi dari sini.


Nathan tersenyum lalu mendorong Karin agar kembali masuk kedalam kamar pas. Karin tampak takut saat melihat tatapan Nathan.


"Kau memang sangat cantik Karin, tidak salah aku memilih mu menjadi istriku" kata Nathan memegang wajah Karin dengan lembut.


"Lepaskan tanganmu!" sentak Karin menepis tangan Nathan.


Nathan melirik Karin tajam, ia tak suka dengan sikap Karin ia. Dengan gerakan cepat, ia menarik pinggang Karin dan membuat jarak mereka sangat dekat.


"Lepas!" bentak Karin kaget dengan apa yang dilakukan Nathan.


"Kau tau, semakin kau menolak ku semakin aku menginginkanmu. Bersiaplah, aku pasti akan menghabisi mu di malam pertama kita nanti" bisik Nathan mencium telinga dengan nafsu. Ia memejamkan matanya saat mencium bau harum dari tubuh Karin yang membuat ia hilang akal rasanya.


"Kau gila!" seru Karin mendorong tubuh Nathan dengan keras.


"Apa kau baru tau kalau calon suami mu ini gila dan kau akan tau seberapa gilanya aku karena mencintaimu" kata Nathan tersenyum sinis lalu tiba-tiba tanpa Karin duga, Nathan mendorong tubuh Karin ke tembok lalu memegang kedua pipinya dan mencium bibir Karin dengan panas.


Karin kaget dengan hal itu, Ia mencoba menggerakkan kepalanya untuk menghindari ciuman itu, tapi Nathan sudah memegang kepalanya. Karin tak rela bibirnya di cium oleh Nathan, Ia menggunakan tangannya untuk memukuli dada Nathan tapi hal itu sia-sia. Nathan semakin menciumnya dengan kasar membuat air mata Karin tak tertahankan.


Nathan tak perduli dengan segala perlawanan yang Karin lakukan. Ia benar-benar sudah di buat mabuk kepayang oleh wanita ini. Nathan semakin gila saat bisa merasakan bibir Karin yang manis hingga membuat gai rahnya semakin terpancing. Saat ia ingin melakukan hal lebih, ponselnya berdering membuat ia menghentikan kesenangannya itu.


Nathan melirik Karin yang terus menangis dengan tatapan mata kosongnya. Nathan tak perduli, ia segera membuka ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya. Wajahnya tampak berkerut.


"Cepat ganti bajumu, Setelah ini aku akan mengantarmu pulang" kata Nathan sebelum keluar kamar pas itu.


Karin tak menyahut, air matanya terus saja mengalir. Siapapun tolong katakan padanya kalau ini hanya mimpi buruknya.


Dio tampak bingung saat mendengar ucapan Jenderal polisi itu. Darimana Papanya tau kalau dia di sekap? Bukankah Papanya itu berada di Kalimantan?.


"Lapor Komandan, Misi penyelematan selesai" kata Jenderal polisi itu melaporkan pada atasannya.


Ternyata semua yang terjadi disana sudah terekam dan terkoneksi di tempat Ayah Dio berada. Mereka bagai melihat film aksi yang menegangkan, tapi setelah semuanya selesai. Ayah Dio tampak sangat lega.


"Apa yang akan kalian lakukan sekarang?" tanya Dio merasa misi ini tak selesai sampai disini saja.


"Yang pasti kami harus mengamankan anda dulu, Setelah ini kami akan menjebak Tuan Nathan agar tak bisa berkutik lagi. Tuan Dio, sepertinya tangan anda memerlukan penanganan segera. Serahkan ini semua pada kami" kata Jenderal polisi itu lagi. Dio hanya mengangguk pelan karena kepalanya juga masih sakit.


"Dari kalian, Siapa ketua kelompok disini?" tanya Jenderal polisi itu menatap satu persatu anak buah Nathan.


Mendengar ucapan polisi itu dari mereka semua tampak menunjuk satu orang yang berperawakan paling besar.


"Baiklah, sekarang telepon atasanmu dan katakan bahwa ada masalah. Tuan Dio mengalami kejang-kejang dan suruh dia datang kemari untuk melihat keadaanya" kata Jenderal polisi itu dengan aura dingin yang mengancam membuat ketua kelompok itu takut hingga wajahnya pucat.


Ketua kelompok itu segera mengeluarkan ponselnya yang langsung di sahut kasar oleh bawahan polisi. Ia segera membantu mencari nomer Nathan dan menghubunginya lalu mendekatkan ponselnya ke bibir pria itu.


"Tuan Nathan" ucap ketua kelompok itu dengan bibir gemetar menatap Jenderal polisi yang menatapnya begitu menyeramkan.


"Ada apa kau meneleponku? Kau sungguh mengganggu" sahut Nathan kesal karena gara-gara telepon sialan ini, ia jadi menghentikan kesenangannya mencium bibir Karin tadi.


"Ini darurat Tuan, tiba-tiba Tuan Dio kejang-kejang. Saya bingung harus melakukan apa" kata Ketua kelompok itu terdengar panik.


Bukan panik karena pintar bersandiwara, tapi ia panik karena melihat moncong pis tol yang kini sedang di arahkan tepat di pelipisnya. Hal itu tentu membuat kepanikannya meningkat, karena satu kali muntahan peluru itu pasti akan membuatnya mati seketika.


"Kejang-kejang?" kata Nathan kaget mendengar hal itu. Apa itu karena pukulan kepalanya kemarin. Sial! Kalau Dio mati pasti akan sangat menyusahkan nya. pikir Nathan.


"Benar Tuan, Apa kami harus membawanya ke dokter?" kata ketua kelompok itu membaca tulisan di ponsel yang ditunjukkan jenderal polisi itu.


"Kau bodoh atau bagaimana. Bisa jadi dia hanya pura-pura dan akan melarikan diri saat di bawa ke Dokter nanti. Apa obat yang aku berikan semalam tidak ada efeknya" kata Nathan mulai kesal.


"Tidak ada Tuan, Saya juga sudah mencoba menyadarkannya tapi tidak bisa. Apa kita habisi saja dia?" kata ketua kelompok itu kembali mengikuti instruksi polisi.


"Jangan gila! Biarkan saja seperti itu dulu" kata Nathan membentak kesal.


"Lalu bagaimana Tuan? Kami sudah memukulinya tapi ia tetap saja kejang dan tidak bisa bangun" kata Ketua kelompok lagi.


"Bodoh! Apa yang kau lakukan! Jangan memukulinya lagi. Dia bisa mati nanti. Baiklah, aku akan kesana segera" kata Nathan semakin emosi. Ia tentu tak boleh membiarkan Dio mati. Sebenarnya ia juga tak ada niat untuk membunuh Dio.


Happy Reading.


Tbc.