
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, hari demi hari berlalu berganti bulan yang baru. Saat itu adalah di akhir pergantian bulan ketika Dio berpamitan kepada istrinya untuk menghadiri sidang kasasi di Mahkamah Agung karena pengajuan bandingnya di terima. Ya, dirinya memang kalah dalam persidangan di Kalimantan beberapa saat lalu.
"Abang udah siap?" tanya Karin seraya membantu Dio memasang dasinya.
"Siap, semoga hasilnya sesuai harapan kita Sayang, Aku bener-bener nggak rela kalau lahan itu di ambil oleh mereka karena aku tau sendiri kalau Papa bangun usaha ini dari nol, Aku nggak mau hasil kerja keras Papa akan sia-sia" kata Dio sudah bertekad untuk membersihkan nama Papanya bagaimanapun caranya.
"Amin, Aku juga berharap masalah ini cepat selesai" kata Karin menghela nafas. Selama berbulan-bulan masalah ini belum menemukan titik terang membuat Karin mulai resah karena sepertinya Elvan belum menyerah.
Apalagi dua bulan lalu, Dio memenangkan tuntutan yang Elvan tunjukkan pada suaminya itu. Dio sudah tidak terbukti bersalah atas tuduhan pemalsuan warisan itu. Tapi Karin bukannya lega, ia malah semakin khawatir dengan ini semua.
"Kamu nggak usah mikirin ini, Aku pasti akan usahain yang terbaik. Kamu cukup jaga kesehatan kamu dan anak kita" kata Dio dibalas anggukan oleh Karin.
"Iya, Anak kita sehat banget tau Abang, lihat aja nih, Aku jadi gendut gini" kata Karin membuat Dio tersenyum tipis.
"Kamu enggak gendut, Kamu malah cantik" kata Dio mengelus rambut istrinya penuh kasih.
Ia memang mengatakan yang sebenarnya, di usia kehamilan yang tujuh bulan, tubuh Karin semakin membengkak dimana-mana. Nafsu makannya pun kian bertambah seiring bertambahnya usia kehamilan Karin. Bahkan setiap malam, ia sering kali mencari makanan membuat Dio tak pernah absen untuk membawakan istrinya aneka makanan jika pulang kerja.
"Bohong banget, Abang lihat nggak, Aku udah kayak balon gini" kata Karin mengerucutkan bibirnya membuat pipinya yang chubby semakin mengembung.
Dio tertawa kecil dan mencubit gemas pipi istrinya itu. "Enggak, kamu masih cantik banget, Aku lebih suka kamu begini, makin seksi" bisik Dio menggoda istrinya.
"Apaan sih, Udah sana berangkat. Nanti kalau pulang bawain cimol ya Abang" kata Karin.
"Siap, Tapi bukannya kamu mau ke Dokter ya?" tanya Dio mengingat.
"Besok aja, Aku kalau sore suka mageran" kata Karin memang malas sekali keluar rumah akhir-akhir ini.
"Baiklah, besok aku akan mengantar mu, Aku berangkat dulu" kata Dio mencium kening Karin lalu berpindah ke perut buncit istrinya. Dio berlama-lama saat mencium perut Karin karena ia sangat senang saat merasakan tendangan ajaib anaknya.
*****
Pukul lima sore, Karin sudah menyiapkan segala masakan untuk makan malam. Ia tinggal membersihkan dirinya untuk menyambut suaminya pulang. Karin sering mematut dirinya di cermin kamar mandi saat ia ingin mandi, mengukur besar perutnya hampir setiap hari.
"Mami udah nggak sabar nunggu kamu lahir" ucap Karin mengelus perutnya penuh kasih.
Dua bulan lagi akan segera bertemu anak mereka, Dio dan Karin sudah tak sabar menantikan hari itu tiba. Mereka berharap semuanya akan di beri kelancaran sampai anak mereka lahir nanti.
Setelah membersihkan dirinya, Karin merias dirinya, ia sekarang lebih senang memakai make up tipis setiap harinya, selain itu ia juga selalu melakukan perawatan rutin dan ingin selalu wangi jika bersama suaminya. Kehamilan Karin yang ini membuat ia menjadi lebih pintar berdandan. Kata Mama Elmira sih anaknya perempuan, tapi Karin belum tau karena ia dan Dio sengaja merahasiakan jenis kelamin anak mereka.
Saat sedang asyik merias dirinya, Karin di kejutkan oleh suara keras seperti benda di pecahkan. Karin kaget mendengarnya, sekarang suara itu kian menjadi, bahkan lebih parah. Karin segera keluar dari kamarnya untuk mengecek apa yang terjadi.
Dan seketika matanya membesar saat melihat puluhan orang telah menyerang rumahnya.
Prang!!!!!!
Suara meja kaca yang di balik dengan keras membuat Karin semakin ketakutan.
"DIO! KELUAR KAU!!! BRAKKK......!!!" terlihat Elvan disana membanting foto pernikahan Dio dan Karin dengan keras. Wajahnya tampak memerah karena amarah.
"Hancurkan semuanya! Jangan sampai ada yang tersisa" perintah Elvan pada anak buahnya. Saat melakukan itu sudut matanya tak sengaja menangkap sosok Karin yang berdiri mematung di atas tangga.
"Karin...." ucap Elvan menyeringai saat melihat Karin disana. Ia segera melangkahkan kakinya untuk mendatangi wanita itu.
Karin langsung tersadar saat melihat Elvan berjalan ke arahnya, ia segera berlari masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya rapat. Dengan rasa panik dan ketakutan yang melanda, Karin segera mencari ponselnya untuk menghubungi Dio.
DAK DAK DAK DAK
"KARIN! BUKA PINTUNYA!" terdengar teriakan Elvan yang sangat keras dari luar membuat Karin hampir saja menjatuhkan ponselnya.
DAK DAK DAK DAK
Gedoran itu semakin keras membuat Karin sangat takut hingga air matanya meleleh. Ia menggenggam ponselnya dengan erat.
"Halo...Karin..." sahut Dio di seberang sana.
"Ha....halo....Abang...." Karin mendadak kesulitan berbicara karena sangat ketakutan. Elvan terus menggedor kamarnya dengan keras.
"Ada apa? Kamu kenapa?" tanya Dio langsung tau jika ada yang tidak beres saat mendengar suara Karin yang berbeda dari biasanya.
"Rumah kita...."
BRAKKKKKKK!!!!
Pintu kamar Karin terbuka dengan paksa membuat Karin kaget dan langsung menjatuhkan ponselnya. Dio yang di seberang sana pun panik saat mendengar teriakan istrinya.
"Mau apa kau?" teriak Karin mundur ke belakang, ia menatap sekelilingnya mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melawan Elvan nantinya.
Elvan justru tersenyum melihat wajah Karin yang ketakutan itu. "Karin, lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" kata Elvan berjalan perlahan-lahan ke arah Karin seperti serigala yang memindai mangsa.
"Stop!!! Jangan mendekat Elvan!" Teriak Karin sebisa mungkin menjauh dari Elvan. Tapi ia tak bisa leluasa bergerak karena ia hamil.
"Bekerja samalah denganku Karin, Aku janji tak akan melukai mu" kata Elvan.
"Tidak! Pergi dari sini! Kau ba ji ngan Elvan, Aku akan melaporkan mu ke polisi" kata Karin justru membuat Elvan tertawa.
"Kau mau melaporkanku bagaimana? Kau saja belum tentu lolos dari sini" kata Elvan dengan tenang mengeluarkan pis tol di balik jasnya, ia sengaja memamerkan benda itu untuk menakuti Karin.
"Kau memang gila! Sebenarnya apa mau mu? Dio itu saudara mu, kenapa kau melakukan ini" kata Karin bergidik saat melihat benda itu. Ia memegang benda itu.
"Kau semakin cantik sekarang" kata Elvan tak menggubris perkataan Karin, ia justru mengatakan hal nyeleneh dan tersenyum manis pada Karin.
Happy Reading.
Tbc.